Novelette
Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.
Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.
Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.
Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.
Kim membawa pesan yang sulit dipercaya
Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.
Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 | Dua Ratu di Puncak
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...
Suasana di gerbang sekolah pagi itu kembali menjadi sorotan, namun kali ini bukan hanya Iris yang menjadi pusat perhatian. Sebuah mobil sedan mewah terbaru berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan gerbang. Pintu mobil terbuka, dan sosok Siska keluar dari dalamnya dengan gerakan yang anggun namun memancarkan aura yang sangat dingin dan berwibawa.
Perubahan pada diri Siska terlihat sangat drastis. Tubuhnya yang tadinya biasa saja kini terlihat lebih tinggi, jenjang, dan proporsional seolah telah disempurnakan secara alami. Kulitnya menjadi sangat putih bersih dan halus, sementara wajahnya yang cantik kini tampak semakin tajam, sempurna, dan mempesona, bahkan bisa disandingkan dengan kecantikan Iris. Bedanya, jika kecantikan Iris terlihat hangat dan bersahabat, kecantikan Siska justru terlihat dingin, tajam, dan sedikit menakutkan.
"Eh, itu Siska kan? Kok berubah jadi secantik dan setinggi itu? Apa dia juga ikut program perawatan rahasia sama kayak Iris?" bisik salah satu siswa takjub.
"Wah, dia sekarang pakai mobil merek terbaru yang harganya miliaran rupiah. Ayahnya pasti baru saja sukses besar ya," tambah yang lain.
Saat berjalan menyusuri koridor, Sandra dan anak buahnya yang dulunya berani mengganggu atau berbicara kasar pada Siska, kini justru menundukkan kepala dan menyingkir memberi jalan. Sandra yang biasanya berlagak sok kuat, kini terlihat menahan rasa takut yang mendalam setiap kali menatap mata Siska yang tajam dan kosong. Ada aura menekan yang dipancarkan oleh Siska yang membuat nyali Sandra ciut seketika.
"Se... selamat pagi, Nona Siska," ucap Sandra terbata-bata dengan kepala tertunduk.
Siska hanya menatap sekilas ke arah Sandra tanpa ekspresi sedikitpun, lalu berjalan melewatinya begitu saja tanpa menyapa atau berhenti. Bagi Siska, Sandra hanyalah antek kecil yang tidak lagi berarti apa-apa baginya.
Melihat perubahan sikap Sandra yang drastis, para siswa lain semakin yakin bahwa ada sesuatu yang besar di balik perubahan diri Siska kali ini.
................
Beberapa hari berlalu, saatnya tiba bagi seluruh siswa untuk menghadapi Ujian Tengah Semester. Di dalam kelas yang hening, suasana terasa tegang. Para siswa sibuk mengerutkan kening, menggigit ujung pulpen, atau menggaruk kepala saat kesulitan menjawab soal-soal yang tergolong sulit itu.
Namun, pemandangan yang berbeda terlihat di dua sudut ruangan. Iris duduk di bangkunya dengan tenang. Tangannya bergerak lincah menuliskan jawaban demi jawaban di atas kertas lembar ujian dengan sangat cepat namun rapi. Berkat pengetahuan luas yang ia miliki dari fitur 'Salin & Tempel', semua soal yang dianggap sulit oleh teman-temannya terasa sangat mudah dan biasa saja baginya.
Tidak jauh dari situ, Siska juga duduk dengan sikap tubuh yang santai namun kaku. Matanya melirik soal-soal di depannya sekilas, lalu tangannya bergerak menuliskan jawaban-jawaban yang tepat dan akurat tanpa ragu sedikitpun. Sistem di dalam tubuhnya telah mengunduh semua basis data pengetahuan yang dibutuhkan, sehingga menyelesaikan soal ujian sekolah hanyalah hal yang sangat remeh dan sepele baginya.
Di tengah-tengah keheningan itu, Bayu yang duduk di depan Iris sesekali menoleh ke belakang dengan wajah bingung. Ia melihat Iris yang sudah selesai mengerjakan setengah halaman, lalu menoleh ke arah Siska yang juga tampak santai seolah sedang mengerjakan tugas harian biasa.
"Wah, apa mereka berdua manusia super ya? Soalnya susah begini kok dikerjakan dengan santainya," gumam Bayu dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tak lama kemudian, bel tanda waktu ujian habis berbunyi. Para guru segera mengumpulkan lembar jawaban para siswa.
Keesokan harinya, hasil ujian pun dibagikan. Nama Iris dan Siska terpampang di urutan teratas dengan nilai yang sama persis, yaitu 100 atau sempurna di semua mata pelajaran.
Suasana kelas seketika riuh.
"Apa? Nilai mereka berdua sama-sama sempurna? Itu tidak mungkin!"
"Wah, Iris dan Siska sekarang jadi dua siswi jenius sekaligus tercantik di sekolah ini ya?"
"Bayu, lihat deh sahabatmu itu, hebat banget sih!" seru teman-teman sekelasnya.
Bayu yang memegang kertas hasil ujiannya sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa kecut. "Dasar manusia-manusia aneh. Baru saja kemarin jadi cantik, hari ini langsung jadi jenius pula. Kapan giliranku ya?" ledek Bayu sambil tersenyum tipis melihat Iris.
Namun, di sisi lain, Iris sendiri justru merasa heran dan bingung. Ia menatap ke arah Siska yang duduk di bangkunya dengan wajah datar tanpa ekspresi, tidak terlihat bangga maupun senang sedikitpun meski mendapatkan nilai sempurna.
"Aneh... Dulu Siska adalah tipe siswa yang rata-rata bahkan sering kesulitan mengerjakan soal. Tapi kenapa tiba-tiba dia bisa menjawab semua soal sulit itu dengan mudah? Dan perubahan fisik serta sifatnya yang drastis itu... Ada sesuatu yang tidak beres," batin Iris curiga.
Karena rasa penasaran dan was-was, Iris diam-diam mengaktifkan fitur andalannya.
Kling!
[Analisis Status Diaktifkan.]
[Target: Siska.]
[Memindai... Mohon tunggu.]
[Hasil Analisis:]
- Kondisi Fisik: Normal, Sehat, Optimal.
- Struktur Tubuh: Tidak ditemukan benda asing atau energi aneh.
- Kondisi Psikologis: Perubahan kepribadian drastis (Dari Ekstrovert menjadi Introvert & Dingin).
- Kesimpulan: Tidak ditemukan kelainan fisik atau indikasi bahaya yang nyata.
M seeing hasil analisis yang menyatakan normal, Iris semakin bingung. "Tidak ditemukan hal yang aneh? Tapi kenapa perubahannya terasa sangat berbeda dari biasanya? Apakah aku hanya terlalu curiga saja?" gumam Iris pelan sambil menghentikan fiturnya.
................
Di tempat yang berbeda, di lantai paling atas gedung Aegis Corporation yang megah, Stella sedang duduk santai di kursi kebesarannya sambil menatap layar monitor besar di depannya yang menampilkan data pemindaian energi di seluruh kota.
Tiba-tiba, sebuah sinyal kecil namun spesifik muncul di layar itu. Mata Stella yang tadinya redup seketika menyala bersinar.
"Hoh? Sinyal ini... Frekuensi ini... Tidak salah lagi, ini adalah tanda keberadaan unit Cybernite lainnya. Sumbernya berasal dari daerah pemukiman... Sekolah menengah atas?" gumam Stella sambil tersenyum tipis.
Stella teringat pada percobaan portal pertamanya yang gagal dan menghasilkan pecahan energi yang menyebar. Ternyata, salah satu pecahan itu tidak sia-sia dan berhasil menemukan inang yang cocok.
"Pantas saja mesin pencari tidak menemukan jejaknya. Ternyata dia sudah berintegrasi dengan inang dan menyatu sempurna. Bagus sekali... Ini berarti eksperimenku tidak sepenuhnya gagal. Setidaknya aku punya satu mata-mata tambahan yang bergerak di luar sana tanpa diketahui siapapun," ucap Stella dengan nada puas.
"Teruslah berkembang... Jadilah batu loncatan yang berguna untuk rencanaku selanjutnya," gumam Stella pelan diakhiri dengan tawa dinginnya.
................
Sementara itu, di kota Surabaya yang terkenal dengan keramaian dan kulinernya, Kim sedang berjalan menyusuri lorong-lorong di pusat kota maupun daerah pinggiran dengan wajah serius. Ia mengenakan pakaian kasual yang rapi agar tidak menarik perhatian orang banyak.
Sesuai data yang ia miliki, Kim sedang mencari sosok seorang jenius muda di bidang teknologi dan peretasan yang memiliki nama panggilan atau inisial 'Falcon'. Menurut informasi yang ia kumpulkan, sosok ini tinggal dan beroperasi di kota Surabaya.
Namun, setelah berkelana dan melakukan penyelidikan dari satu tempat ke tempat lain selama seharian penuh, Kim tidak menemukan jejak sedikitpun dari sosok tersebut. Seolah-olah nama itu hanyalah legenda urban yang tidak nyata atau orang tersebut telah menghapus semua jejak keberadaannya dengan sangat sempurna.
"Aneh... Berdasarkan data jejak digital yang tersisa, aktivitasnya berhenti mendadak di wilayah ini. Namun, tidak ada satu pun warga atau pihak berwenang yang mengenali ciri-ciri fisiknya atau mengetahui keberadaannya saat ini. Apakah dia sudah pindah? Atau... ada pihak lain yang lebih dulu menemukannya?" gumam Kim sambil menatap langit senja di atas kota Surabaya dengan tatapan berpikir.
Meskipun gagal menemukan targetnya hari ini, Kim tidak putus asa. Ia tahu bahwa tugasnya belum selesai, dan pencarian ini harus terus dilakukan demi keamanan dan persiapan menghadapi ancaman di masa depan.
"Baiklah, sepertinya aku harus mencari petunjuk dari sumber lain. Kembali saja dulu," ujar Kim pelan, lalu berjalan menjauh dari sana.
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...