Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
Reiga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa payahnya Zidane bermain tenis. Selama latihan saja Hana sudah dibuat pontang-panting. Saking gemasnya, Reiga ingin menggantikan Zidane di sana. Kepala Tristan tiba-tiba condong kepadanya. Berbisik. "Lu pasti kesel banget kan liat teknik-nya Zidane, Rei? Sumpah ini lebih bagus dari yang kemarin-kemarin. Takjub sih gue, liat Hana bisa sesabar itu menghadapi kebegoan Zidane," ujar Tristan.
Reiga menoleh dan tersenyum.
"Bawaannya pengen nampolin bolak-balik ya, Tan," sahut Reiga.
"Bener!" timpal Tristan.
Reiga tertawa.
"Kasian banget cewek gue. Biar gue yang urus," ucap Reiga kemudian berdiri.
"Iya. Lu urus deh tuh si kampret, gue sama Brandon udah angkat tangan ngajarin dia," curhat Tristan dengan raut wajah frustasi.
Reiga memberikan jempol kanan pada Tristan.
Setelahnya Reiga berjalan ke lapangan. Hana menatap kedatangan Reiga bak Lois Lane yang menyambut kehadiran Superman. Reiga tersenyum jahil lalu meraih kepala Hana dan mengecupnya. Tristan, Zidane, dan Brandon terkesiap. Baru kali ini lihat Reiga seringan itu melakukan physical touch di depan mereka.
"Buset! Main cipok, Tan!" pekik Brandon kaget.
"Si Anying berkembangnya pesat amat. Lu foto nggak, Ndon?! Mau gue sebar di grup," ujar Tristan.
"Sialnya kagak," jawab Brandon.
"Slow aja. Gue yakin bakal ada cipokan kedua. Mungkin lebih boom!" semangat Tristan.
Brandon tergelak.
"Lu mau ngalahin Spatch! Apa gimana sih, Tan?" ledek Brandon.
"Jarang-jarang, Cuk si Reiga cipok cewek! Sampai gue kira tuh syaraf nafsu yang ada di bibir udah mati fungsi buat berkembang biak," ujar Tristan.
Brandon malah terpingkal.
"Si gelo! Komentar lu ada-ada aja!" ucap Brandon masih tertawa sambil memegangi perutnya.
Tawa itu menular pada Tristan.
"Lo liat noh si Zidane! Makin nelangsa lihat tontonan 18+ dari Reiga," ledek Tristan semakin membuat tawa Brandon menggelegar.
"Enggak ada sopan santunnya lo, Rei. Main cipok aja," protes Zidane.
Reiga masih merangkul Hana. "Lu main yang bener dong, Dane. Kasian cewek gue," ujar Reiga.
"Lu juga jangan asal main cium sama ngerangkul Hana di depan jomblo ngenes kayak gue dong! Bikin tambah down aja," sahut Zidane membuat mereka semua tertawa.
Reiga kemudian mulai melatih teknik-teknis dasar tenis pada Zidane. Hana melihatnya sembari duduk bersama Tristan dan Brandon. Kagum dengan sabar serta telatennya Reiga mengajari Zidane yang benar-benar menguras sabar. Padahal Tristan dan Syein bilang, Zidane tuh jago olahraga, apalagi basket.
"Dane, sekarang lu anggap gue ini Arnold ya," ujar Reiga berjalan ke sisi net yang satunya.
Zidane tercengang.
"Ha? Buset! Jangan elu kek! Tristan kek kalau nggak Brandon," tolak Zidane yang diacuhkan Reiga yang sudah bersiap di sisi lapangan yang satunya.
Tristan dan Brandon terpingkal. "Emang Reiga sejago itu ya?"
"Bukan jago lagi, Han. Cowok lu itu pernah ikut PON sama kejurnas," jawab Tristan.
Hana tercengang.
"He can do it everything. Jago olahraga. Ganteng. Kaya. Baik. Ramah. Pinter. Cuma satu kekurangan cowok lo...." Hana menunggu lanjutan kalimat Tristan. "Dia nggak percaya cinta," ucapnya.
Iya ya.
Benar juga.
Reiga tidak percaya cinta sejati. Terus kenapa Reiga mengajaknya pacaran? Dengan rangkaian kalimat indah yang meluluhkan jiwa. Tiba-tiba ada perasaan mengganjal dalam diri Hana. Rasa tidak enak yang kadung menyebar bagai air yang tumpah di meja dan belum sempat dilap.
Hana memandang jauh kearah Reiga yang tengah menyemangati Zidane agar segera bangkit. "Arnold nggak sejago elu, Nyet!" protes Zidane.
"Ayo, Dane! Lo bisa!" ucap Reiga sambil tersenyum.
Ah, Hana jadi kepikiran kan. Pasti ada penjelasannya. Alasan dibalik Reiga mengajaknya pacaran dengan kalimat penuh pemujaan begitu. Dengan tetap tidak percaya cinta sejati.
*
Berkat desakan ketiga temannya yang minta traktiran alias pajak jadian. Mereka semua berakhir di Wolfgang Steakhouse yang ada di SCBD. "Duduk di mana nih, Guys?" tanya Brandon.
"Niyo udah lu kabarin belum, Dane," ujar Tristan malah bertanya pada Zidane dibelakangnya ketimbang menanggapi pertanyaan Brandon.
"Udah. Lagi OTW. Sendirian. Katanya abis berantem sama Sam," jawab Zidane yang ditanggapi Tristan dengan senyum. Hana tak menanggapinya. Sam memang suka cari gegara dengan Niyo. Dari dulu.
Saking bucin dan sabarnya Niyo aja menghadapi Sam makanya bisa awet pacaran.
"Bentar, lagi dicari sama waitress-nya," jawab Reiga yang memakai kuasanya untuk dapat tempat tanpa reservasi sebelumnya.
Tidak perlu lama, mereka sudah dapat meja dan diantarkan menuju mejanya.
"Rama?" celetuk Zidane.
Langkah mereka terhenti di samping sebuah meja yang memang tengah diduduki Rama dengan seorang perempuan yang tak asing. Muka Rama berubah kaget. Panik.
"Lu bukannya masih di London, Ram?" tanya Tristan dengan senyum menyebalkan yang sudah auto membuat Rama menyipitkan mata kesal. Emosi pria itu sontak naik.
Reiga tersenyum. Ia tahu ini akan terjadi. Hana menangkap momen senyuman Reiga. Ah, pasti kejadian ini udah Reiga lihat kan? Hana menduga begitu. Lalu matanya menyorot perempuan yang juga dikenalinya.
"Andriyani Krisa!?" pekik Hana dengan muka ramah dan badan yang menyeruak keluar dari barisan. Bahkan sampai melepaskan genggaman tangan Reiga. Perempuan yang disebut Krisa itu sontak memperhatikan wajah Hana.
"Adrianne Hana!!!" pekiknya senang. Berdiri lalu berpelukan dengan Hana.
Kelima pria itu menatap mereka bingung.
Menunggu penjelasan dua wanita yang tengah reunian.
"Long time no see, bitch!" sapa Krisa.
Hana tertawa.
"Udah berani keluar dari London?????" ledek balik Hana.
Krisa tertawa. "Sialan!" sahutnya.
Hana melirik kearah Rama yang langsung mendengus sebal karena jelas malam ini dia akan menjadi bulan-bulanan teman satu genk-nya. Syukurlah, Syein masih di London.
Reiga meraih tangan kanan Hana lalu digenggamnya dan dikecupnya lembut. Hana terkesiap. Raut wajah kagetnya itu sungguh kentara. Dia memang sedang bengong tadi. Kebiasaannya kalau overthinking.
"Kalau bengong terus bisa kesurupan loh, Han?" canda Reiga.
Hana langsung menyipitkan mata.
"Aku selalu menolak tawaran main film horor.
Tapi sekarang malah pacaran sama manusia yang bisa lihat hantu dan hobinya ngeledekin aku.
Sungguh plot twist yang membagongkan," gerutu Hana.
Reiga tertawa.
"Aku suka aja gangguin kamu," aku Reiga.
"Dih! Nyebelin!" ujar Hana berusaha menarik tangannya dari genggaman Reiga namun pria itu menahannya.
"Lagi pikirin apa sih? Dari tadi bengong aja," tanya Reiga penasaran karena untuk pertama kalinya Reiga merasa kehilangan kemampuan membaca pikiran. Atau memang Hana sedang tidak memikirkan apapun?
"Dunia yang ternyata kecil sekali," jawab Hana membicarakan gebetan Rama yang ternyata Krisa. Teman kuliahnya di Paris. Bestie terbaiknya Sam juga yang mana mereka suka menghabiskan momen
win-win solution semasa kuliah.
Reiga tersenyum lebar. Hana menatap Reiga.
"Kamu pasti udah tahu kan kalau kita bakal ketemu Rama dan Krisa di sana? Tadi aku lihat kamu nggak kaget," tebak Hana.
"Hmm," Reiga pun mengakuinya.
"Sejak Brandon ngajak ke Wolfgang,
pemandangan itu muncul, makanya aku iyain aja. Kapan lagi lihat Rama bangkit dari kuburnya," tambah Reiga.
"Bangkit dari kuburnya? Maksudnya?" tanya Hana.
"Kasih tahu nggak ya?" ledek Reiga.
Hana langsung cemberut.
"Aku toyor ya," ancam Hana gemas.
Reiga terkekeh.
"Aku lebih tua dari kamu loh, Han," ucapnya.
"Tapi kita lahir di tahun yang sama," sergah Hana.
Tawa Reiga kembali berderai.
"Susah banget sih kalahin kesayangan aku yang punya skill debat tingkat dewa ini," ujar Reiga.
Kesayangan aku? Yah, jadi overthinking lagi kan. Hana kembali ingat alasannya bengong. Namun cepat-cepat disembunyikannya agar tak sempat dibaca Reiga. Hana tidak pernah menyangka bahwa ia harus menggunakan kecerdasannya sedemikian rupa karena tidak pernah kepikiran akan pacaran dengan manusia yang bisa baca pikiran.
"Takdir," ujar Hana asal.
Reiga tersenyum lebar.
"Takdir ya? Indah banget takdir aku kali ini," gumam Reiga.
Hana memasang wajah bertanya sesaat.
"Jadi maksudnya apa?" Hana, si manusia kenapa mulai meneror Reiga tanpa ampun.
Reiga tersenyum. Sepertinya ia tidak punya pilihan selain memberitahu Hana. Punya kemampuan aneh saja sudah diberitahukan olehnya.
"Rama itu selama ini pacaran sama satu orang cewek yang bernama Naila. Lama. Awet. Dari SMA. Sayangnya mereka beda kasta, Han. Dan Ayahnya Rama, Om Haris nggak pernah setuju sama hubungan mereka. Singkat cerita. Rama putus, terpaksa, biar Om Haris nggak ganggu keluarganya Naila. Sialnya, selepas putus dari Rama, Naila malah jadian sama Syein."
"Syein!?" potong Hana kaget.
"Iya. Syein!" ujar Reiga.
"Kok bisa!?" Hana kaget kalau Syein dan Rama bisa suka sama perempuan yang sama.
"Syein itu sebenarnya udah kenal duluan sama Naila. Tapi Naila sukanya sama Rama. Padahal demi Naila, Syein atheis sama cewek lain..."
"Syein si playboy bisa atheis?" Hana sekali lagi memotong cerita Reiga saking kagetnya.
Hana memang baru mengenal Syein, tapi karakter Hana dan Syein yang sama-sama manusia supel itu membuat mereka mudah akrab dan menjadi teman ghibah satu frekuensi seperti hal-nya teman lama.
"Hmm..."
"Terus??"
"Singkat cerita dalam sebuah business trip ke London karena basisnya Radiputro grup memang di UK. Rama ketemu sama Krisa secara nggak sengaja gara-gara Rex," jawab Reiga.
"Rex?"
Reiga mengangguk.
"Anjing Alaskan malamute punya Rama,"
"Hmm... Rama punya anjing," ucap Hana.
Reiga mengangguk.
"Terus?"
"Biar diterusin Krisa ya. Malam ini kamu bakal ditelepon sama dia. She will tell you everything tanpa kamu perlu bilang terus kayak sama aku sekarang," jawab Reiga.
Hana tercengang lalu mendengus.
"Nggak seru dan nggak jelas!" tukas Hana.
Reiga mengecup tangan Hana lagi. Ia mengulum senyum.
"Cerita sedih orang kok masuk kategori seru atau nggak sih, Han?" gumam Reiga.
"Kok bisa sedih?"
Tuh kan! Jadi muncul pertanyaan lagi dari Hana.
Reiga tidak berniat menjawab apapun dan hanya tersenyum.
"Rei," panggil Hana.
"Hmm."
"Kenapa cuma kasih tahu aku?"
Tentu Hana bertanya mengenai kemampuan anehnya.
"Kenapa ya?"
"Serius sedikit kenapa sih, Rei!" sebal Hana.
Reiga terkekeh.
"Kamu punya enam sahabat yang sangat amat sayang kamu. Yang setia kawan banget. Kenapa bisa malah kasih tahu aku yang baru kamu kenal ketimbang mereka?" tanya Hana lagi.
"Nggak tahu. Pengen aja. Tanpa alasan khusus," jawab Reiga tenang.
Hana mencibir.
"Cukup gila sih!" ujar Hana. "Terus kalau kita putus, aku dendam sama kamu dan menyebarkan semua kemampuan kamu ini, gimana hayo?!!" ujar Hana.
arti. Reiga menoleh sesaat. Menatap Hana penuh
"Then you will break my heart," jawabnya dengan makna yang berbeda.
Hana terhenyak.
"Kita bakal putus ya?" tanya Hana dengan suara tercekat.
Reiga tidak menjawab. Raut wajahnya datar.
"Reiiiiiii, jawab!" desak Hana.
"Kadang ada hal yang memang seharusnya nggak kita ketahui sebelum waktunya, Han," jawab Reiga diplomatis tanpa menatap Hana.
Namun jawaban Reiga justru menimbulkan spekulasi bermuatan negatif pada diri Hana sekarang. Dan Reiga pun menyadari hal itu.
"Kita putus kan?" tanya Hana lagi.
Kali ini kedua matanya berkaca. Refleksi dari sakit hatinya yang entah darimana. Hana bingung sendiri mengapa hatinya sudah mulai sakit. Seakan dugaannya benar.
Reiga tetap diam.
Hana berdecak.
"Sekarang aku paham kenapa kamu tetap deketin aku, tetap ajakin aku pacaran, dengan kamu yang tetap nggak percaya sama cinta sejati. Kamu cuma nggak mau melewatkan kesempatan ini kan!? Kamu nggak mau rugi! Yang kamu pikirin cuma kebahagiaan kamu doang! Keinginan kamu! Kamu nggak pikirin efek semua ini buat aku, Reishard!" Hana terengah setelah mengomel panjang.
Reiga tetap diam. Tak sanggup berkata.
Memangnya apa yang bisa dikatakannya sebagai tanggapan? Apa ia harus mengiyakan semua tebakan Hana yang nyaris benar dan membiarkan Hana sakit hati karena iya yang dikatakannya? Atau Reiga harus berkata 'nggak, Han' seperti yang dikehendaki hatinya namun dia sendiri tak sanggup membohongi diri sendiri.
Reiga sama bingungnya dengan Hana. Sama sakitnya. Karena dia belum pernah sesayang ini sama perempuan. Bahkan saat dengan Cyila, Reiga masih cukup waras untuk menghitung duka nestapa yang akan berdampak padanya.
Tapi dengan Hana?
Jiwanya belum pernah setakut ini? Bagai Dalton di film insidious the last chapter yang menggambar the red door dan membawanya pada ingatan masa lalu tentang ayahnya dan makhluk merah yang menawannya dulu. Reiga kini tengah membuka 'pintu merah' terlarang miliknya. Andai saja yang ditemuinya hantu. Maka itu akan satu juta kali lebih meringankan baginya. Sialnya bukan!
Ini tentang Mama-nya.
Tentang cinta besarnya yang tak pernah habis untuk perempuan yang selalu mendorongnya menjauh setiap kali ia mendekat. Tentang orang yang selalu diharapkannya memeluk dan hadir di masa kebingungan dan hilang arahnya meski orang itu adalah pelaku yang sama yang menyebabkannya bingung dan hilang arah.
Apa boleh se-ironis ini hidupnya?
Reiga hanya bisa perlahan menarik napas lalu menghelanya. Pelan dan perlahan agar Hana tidak perlu memergokinya. Perempuan ini pintar. Tidak seperti perempuan kebanyakan yang memilih menikmati perasaan masa kini dan mengesampingkan masa lalu. Hana cukup logis dan realistis. Ia kuat atas pendiriannya dan pandai menilai situasi. Sekalipun Hana pernah mengejar cinta Arnold selama 4 tahun tanpa jaminan. Namun semua itu dilakukannya atas mau-nya. Bukan keinginan orang lain. Dan kini Hana pun berhenti juga atas mau-nya.
"Aku benar kan?? Jawab, Reiga!" Hana kian meninggikan suaranya.
Apa Reiga menjawabnya?
Tentu tidak. Reiga begitu serius menyetir seakan mereka tengah lomba rally dan tidak boleh kehilangan fokus sedikitpun. Reiga sudah tahu, bahwa beginilah ceritanya kalau berurusan sama yang namanya cinta.
Cinta memang buta. Juga tanpa logika. Lebih dari itu, Reiga mengenal cinta bagai sebuah palu godam. Penghancur hati. Pemberi harapan palsu. Telah lama Reiga menguburnya dibalik pintu merah miliknya. Berharap selamanya cinta itu akan di sana. Tanpa perlu digubris atau diusik. Selamanya.
Sialnya lagi!
Ya.
Entah ini bisa dianggap sial atau bukan.
Pertemuannya dengan Hana membuat Reiga sendiri yang mendobrak pintu itu. Reiga tidak bisa menahan dirinya pada Hana. Cinta yang dirasakannya mirip dengan cinta yang dikuburnya dibalik pintu merah.
Sintingnya, bahkan sampai detik terakhir Hana menyinggungnya barusan. Reiga tidak pernah menyesali keputusannya tetap ngotot menginginkan Hana.
Emang cinta sialan!
"Brengsek!" pekik Hana emosi.
Gadis itu sudah masa bodo dengan airmatanya yang mengalir sendiri.
"Semua cowok itu emang brengsek!" lanjut Hana.
"Nggak kamu. Nggak Arnold! Bisanya cuma manfaatin aku doang. Egois! Nggak punya hati!"
marah Hana.
Reiga diam.
Ia memilih diam.
Hana sudah menarik tangannya dari genggaman Reiga dan kali ini Reiga pun tidak menahannya. Hana terhenyak. Rasanya jantung nyelos entah kemana. Jadi beneran putus, Hana bergumam dengan suara tercekat dalam kepalanya yang tentu bisa didengar Reiga. Hana sudah tidak peduli. Ia terdiam dalam sakit hati yang tak terperi. Yang membungkamnya.
Ferrari Reiga sudah sampai di depan rumah Hana. Perjalanan yang awalnya terasa sangat lama itu tetiba menjadi sangat singkat dan mencekam bagi keduanya.
"Kamu jahat banget sih sama aku," lirih Hana seraya menatap Reiga yang bahkan tidak sanggup menatap balik Hana.
"Kenapa harus ajakin aku pacaran, Reishard!? Kenapa harus bikin aku sayang sama kamu!? Kenapa harus kasih aku semua rahasia sinting kamu!? Kenapa harus kenalin aku ke semua sahabat kamu!? Kenapa harus mempertemukan aku sama Papa kamu!? Do you do it in purpose!?" pekik Hana.
"Is it fun for you? A sweet memories? Saat yang kamu ciptakan buat aku adalah neraka!?" ucap Hana setengah berteriak.
"Kamu lebih brengsek dari Arnold! Kamu kejam, nggak berperasaan, dan super egois!" tambah Hana menumpahkan semua emosi dalam dirinya yang meletus tanpa bisa ditahannya.
Airmata Hana mengalir tanpa bisa ditahannya. Reiga dalam diamnya pun mulai sakit melihatnya meski hanya dari ujung mata kirinya.
"Kamu nyakitin aku, Rei," ucap Hana pelan dalam isaknya.
"Kenapa harus giniin aku? Kenapa harus aku?
Kamu jahat banget sama aku. Ja-hat banget...," Hana tak lagi berteriak. Ia tercekat.
Sekali lagi Hana memandangi Reiga. Berharap pria itu mengatakan sesuatu dan tidak hanya diam menatap Hana tertusuk sembilu. Namun hasilnya nihil. Hana berdecak, sinis akan dirinya sendiri yang begitu naif dan tolol. Sekali lagi, ia memang penuh kebodohan.
Hana membuka pintu Ferrari Reiga. Memutus sendiri tali pengharapannya.
"Kamu nggak usah datang ke premiere film aku..." tandas Hana dingin tanpa menoleh kearah Reiga. "... Jadi kalau kita putus, aku nggak perlu repot klarifikasi sama wartawan tentang hubungan aku sama seorang konglomerat bernama Reiga Rahardian Reishard," lanjut Hana lalu keluar dari mobil dan menutup pintunya. Berjalan masuk ke dalam rumah setelah menyeka airmatanya sendiri.
Reiga melihatnya dari dalam mobil. Mematung.
*
"Kamu nggak usah datang ke premiere film aku..."
Reiga berdecak dengan wajah sinis setiap kali kalimat penghabisan Hana terputar dalam kepalanya. Bukan sinis pada Hana. Tapi sinis pada dirinya sendiri. Yang begitu jumawa. Yang lupa diri. Syukurlah, ia telah keluar dari rumah Papa-nya. Karena dalam keadaan merana seperti ini, Reiga tidak akan sanggup menyembunyikan apapun dari Rahardian. Dan sungguh keadaannya sekarang sama sekali tidak layak untuk dilihat siapapun. Apalagi kalau sampai dilihat Papa-nya.
"Siri, play the stupid Reiga still exist playlist,"
ucapnya sendiri. Terdengarlah lantunan suara Glen Fredly menyanyikan lagu Kembali ke Awal.
Jangan paksakan bila rindu hilang makna
Mencari serpihan rasa percaya yang sirna
Tuk kembali ke awal
Ia memejamkan mata seraya menyenderkan punggungnya pada sofa. Sengaja mendongakkan kepalanya agar rembesan airmata sialan itu tidak mengalir turun lewat ujung kedua matanya.
Cinta sialan!
Reiga terus mengumpat dalam pikirannya.
Berikan ku alasan
Untuk tetap bersamamu
Setelah lelah berharap
Lirik lagu itu seakan menyentil Reiga. Dia yang telah lelah berharap dan menolak untuk kembali berharap.
"This is not fun for me too, Han...," ucapnya pelan dan lirih.
"Even,. I don't ever have a purpose on it. I just ..." Reiga tak sanggup berkata. Ia menutupi matanya yang sudah memejam dengan lengan kanannya.
"I just can't help my self about you. Aku mau kamu. Aku kira dengan berada di samping kamu, semua akan cukup membahagiakan buat aku. But i was wrong...."
Reiga mengatur napasnya.
"You are right. Aku memang brengsek dan egois. Dan asal kamu tahu, aku jauh lebih sakit lihat kamu nangis kayak tadi karena kenekatan aku. Kebodohan aku..."
"Dan aku rasa meminta maaf nggak akan pernah cukup," ucap Reiga terisak sendiri.
Jalan kita memang penuh liku
Berharap kepastian kan ada
Tuk kembali ke awal (tuk kembali ke awal)
Hana melemparkan tubuhnya sendiri ke atas kasur. Terisak akan sesak didadanya. Ingin rasanya ia mengumpat Reiga sebagaimana ia mengumpat Arnold. Tapi jiwanya membelot. Hana begitu sayang dengan Reiga. Sampai tidak sanggup mencaci apalagi membenci pria itu. Kedua tangannya menutupi muka. Dering handphone-nya berbunyi. Itu pasti Krisa.
Hana tidak sanggup mengangkatnya. Ia terengah tersedu sendiri. Sakit yang dibuat Reiga bukan main. Hana sampai heran mengapa bisa sesakit ini. Pria itu belum lama dihidupnya. Tapi yang dirasanya sekarang bagaikan ditinggal menikah dadakan.
"I hate you, Reishard!" pekiknya meski pernyataan kebencian itu hanya sampai dimulutnya saja.