Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Menembus Batas Domain Dalam
Fajar belum sepenuhnya menyingsing di langit Kunlun ketika sebuah Kapal Udara Spiritual kelas VVIP—Perahu Awan Sembilan Naga—lepas landas dari puncak tertinggi Kota Seribu Tebing. Kapal layar yang ditenagai oleh ratusan Batu Spiritual Tingkat Menengah ini adalah aset paling berharga dari Paviliun Bintang Jatuh, yang kini direkuisisi penuh oleh Arya Permana.
Di geladak depan kapal, Arya berdiri menatap ke arah utara. Angin kencang di ketinggian sepuluh ribu kaki mengibarkan trench coat hitamnya, namun tubuhnya setenang gunung es.
Elena berdiri di belakang kemudi formasi kapal, memfokuskan energi Qi-nya untuk mempertahankan kecepatan maksimal. "Tuan, kita akan segera mendekati Tabir Pemisah Domain. Itu adalah sabuk badai miasma beracun dan turbulensi spasial yang memisahkan batas luar Kunlun dari Domain Dalam. Biasanya, kapal dagang membutuhkan izin khusus dan formasi pemecah badai dari sekte besar untuk lewat."
Arya mengaktifkan Mata Dewa-nya. Pupilnya memancarkan cahaya keemasan redup. Jauh di ufuk depan, ia melihat sebuah dinding awan hitam raksasa yang membentang dari tanah hingga ke stratosfer. Petir berwarna ungu berderak di dalam pusaran badai tersebut.
"Miasma beracun hanyalah gas dengan kepadatan molekul yang berbeda. Turbulensi spasial adalah hasil dari benturan dua lempeng gravitasi yang tidak stabil," analisis Arya secara logis. "Meminta izin untuk melewati fenomena alam adalah kebiasaan para birokrat yang tidak efisien. Terus melaju dengan kecepatan penuh, Elena. Jangan ubah arah."
Elena menelan ludah, namun kesetiaannya absolut. "Siap, Tuan!"
Kapal udara itu melesat lurus ke arah dinding badai bagaikan ngengat yang menuju nyala api. Tepat ketika hidung kapal menyentuh badai miasma yang korosif, Arya mengambil satu langkah ke depan geladak.
Ia tidak menggunakan perisai pelindung konvensional. Menggunakan Qi Pembentuk Fondasi Puncak Kesempurnaan-nya, Arya melepaskan gelombang energi tipis berbentuk kerucut (aerodinamis) tepat di depan kapal. Gelombang Qi ini beresonansi pada frekuensi yang berlawanan dengan badai tersebut.
Wusssss!
Alih-alih menabrak badai, awan hitam beracun dan petir ungu itu terbelah dengan mulus, mengalir melewati sisi kapal seolah menghindari Arya. Prinsip membelah resistensi angin yang diterapkan secara sempurna ke dalam dunia kultivasi. Kapal meluncur masuk menembus Tabir Pemisah tanpa sedikit pun guncangan.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, mereka berhasil keluar dari sabuk badai.
Pemandangan di balik tabir itu langsung berubah drastis. Domain Dalam Kunlun memiliki langit yang lebih cerah, namun kepadatan Qi di udaranya sepuluh kali lipat lebih pekat daripada Domain Luar. Tumbuhan raksasa bermutasi tumbuh di mana-mana, dan pegunungan melayang di udara, ditopang oleh magnetisme batu spiritual kuno.
Namun, tujuan Arya bukanlah menikmati pemandangan fantasi tersebut. Matanya tertuju pada sebuah gunung tunggal yang terletak di ujung cakrawala. Gunung itu tidak memiliki puncak yang tertutup salju, melainkan batu-batu berwarna merah darah yang memancarkan aura kematian yang sangat kental. Awan di sekeliling puncaknya berputar perlahan, membentuk pusaran merah kehitaman.
"Puncak Darah," gumam Arya. "Markas besar Kuil Kegelapan."
Saat kapal semakin dekat, Mata Dewa Arya menangkap sebuah anomali struktural yang mengerikan. Gunung itu tidak memancarkan aura kematian karena sifat alaminya; gunung itu telah diukir menjadi sebuah Formasi Pengorbanan raksasa. Ratusan ribu garis rune membelah tebing-tebingnya, dialiri oleh darah segar yang terus mendidih.
"Tuan..." suara Elena bergetar. Sebagai pembunuh bayaran, ia terbiasa dengan kematian, namun pemandangan Puncak Darah memicu insting teror primitif di otaknya. "Aura di tempat ini... ini bukan markas biasa. Ini adalah altar ritual. Kepadatan Yin-nya bisa membekukan jiwa orang hidup."
"Ritual berskala pegunungan," mata Arya menyipit tipis. "Mereka tidak sedang bertahan. Mereka sedang mencoba membangkitkan sesuatu, atau memanggil sesuatu dari dimensi lain. Kalkulasi logisku menyatakan bahwa ritual sebesar ini membutuhkan katalis berenergi masif. Sebuah artefak atau... sisa jiwa."
Memori tentang Penerbangan 777 dan peringatan Bramantya tentang Kunci Dimensi Naga melintas di benaknya.
"Parkirkan kapal di tebing luar. Sisanya kita tempuh dengan berjalan kaki," perintah Arya.
Mereka mendarat diam-diam di hutan cemara hitam di kaki gunung. Begitu kaki Arya menyentuh tanah, indera keenamnya langsung mendeteksi puluhan fluktuasi Qi yang membaur dengan bayangan pohon.
Wusss! Wusss! Wusss!
Tanpa peringatan, puluhan anak panah yang terbuat dari tulang hitam melesat dari segala arah, menargetkan titik buta Arya dan Elena. Anak panah itu dilumuri racun pembusuk jiwa.
Namun, sebelum panah-panah itu menyentuh mereka, Arya menghentakkan kakinya.
[Medan Gravitasi Tirani] diaktifkan dalam radius sepuluh meter dengan gravitasi terbalik. Anak-anak panah itu tiba-tiba berhenti di udara, kehilangan momentumnya, dan hancur menjadi serbuk tulang karena ditarik oleh gravitasi bumi yang difokuskan secara presisi.
Dari balik pepohonan, dua puluh sosok berjubah hitam pekat—Mirip dengan Sang Bayangan yang pernah Arya hadapi di Ibukota—melompat keluar. Mereka adalah Pengawal Eksekusi Kuil Kegelapan, semuanya berada di Ranah Pembentuk Fondasi Tahap Akhir!
"Tikus dari luar berani menginjak Puncak Darah! Ritual Tuan Besar Agung tidak boleh diganggu!" desis salah satu pengawal, suaranya seperti ular berbisa.
"Elena, hemat staminamu," perintah Arya tenang. Ia berjalan maju, tangannya santai di dalam saku mantel.
"Membunuh kalian secara manual terlalu tidak efisien," gumam Arya. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan.
Alih-alih meninju, Arya menjentikkan jarinya, dan seketika itu juga mengompresi udara di sekitar dua puluh pengawal tersebut menggunakan Qi murninya, menciptakan area Vacuum (Hampa Udara) absolut.
Di ranah fana atau kultivasi, oksigen dan Qi tetap membutuhkan ruang untuk mengalir. Dengan menghilangkan ruang tersebut secara paksa, paru-paru dan Dantian para pengawal itu langsung mengalami dekompresi brutal.
Bruk! Bruk! Bruk!
Dua puluh pakar elit itu jatuh berlutut secara bersamaan, mencengkeram tenggorokan mereka. Mata mereka melotot. Mereka tidak bisa bernapas, tidak bisa mengalirkan Qi, dan tidak bisa berteriak. Hanya dalam hitungan detik, pembuluh darah di otak mereka pecah secara serentak. Kematian massal tanpa satupun luka luar.
"Hukum termodinamika dan tekanan udara. Ilmu pengetahuan selalu menang atas mistisisme yang buta," Arya menurunkan tangannya dengan wajah tanpa emosi.
Namun, sebelum tubuh terakhir membentur tanah, tepuk tangan lambat bergema dari arah tebing batu merah di depan mereka.
Prok... Prok... Prok...
Seorang pria tinggi ramping melangkah keluar dari balik kabut merah. Pria itu mengenakan jubah pendeta berwarna merah darah dengan sulaman tengkorak emas. Wajahnya sangat pucat, dan bibirnya semerah darah segar. Aura di sekelilingnya berderak hebat, memancarkan tekanan dari Ranah Inti Emas Tahap Menengah.
Ia adalah Imam Darah Kuil Kegelapan.
"Luar biasa," pria itu menyeringai, memperlihatkan taring yang runcing. "Penguasa baru Kota Seribu Tebing. Kami sudah mendapat laporan tentang iblis yang membantai utusan Sekte Pedang Petir. Aku tidak menyangka iblis itu ternyata adalah sisa-sisa dari darah Keluarga Permana yang selamat dari Penerbangan 777."
Arya menghentikan langkahnya. Matanya yang gelap menatap langsung ke dalam jiwa sang Imam Darah.
"Kalian yang menjatuhkan pesawat itu," ucap Arya, bukan sebagai pertanyaan, melainkan pernyataan fakta yang dingin.
"Tentu saja," Imam Darah tertawa melengking. "Orang tuamu sangat keras kepala, Arya Permana! Mereka menolak menyerahkan serpihan Kunci Dimensi Naga yang diwariskan dalam garis keturunan fana kalian. Kami harus meledakkan mereka di udara, mengumpulkan sisa esensi jiwa mereka, dan menempatkannya di Altar Puncak Darah ini!"
Mendengar konfirmasi itu, suhu di sekitar Arya anjlok melewati titik beku absolut. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Tidak ada teriakan histeris. Yang ada hanyalah keheningan dari seorang predator puncak yang telah mengunci targetnya.
"Sisa esensi jiwa orang tuaku ada di altar itu?" tanya Arya datar.
"Benar! Dan saat ini, Tuan Besar Agung sedang menyerapnya untuk menembus Ranah Grandmaster Tertinggi dan membuka gerbang dimensi! Ritualnya hampir selesai. Kau terlambat, anak malang. Kau datang hanya untuk mati bersama—"
WUSSS!
Imam Darah bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Arya telah melesat, memecahkan kecepatan suara tiga kali lipat. Tanah vulkanik di bawah kaki Arya hancur menjadi kawah selebar sepuluh meter hanya dari tolakan langkah pertamanya.
Di mata Imam Darah, Arya seolah berteleportasi dan langsung muncul tepat berhadapan wajah dengannya.
"Kalkulasi waktumu sangat cacat," bisik Arya di telinga Imam Darah.
Tangan kiri Arya meluncur seperti kilat, mencengkeram leher Imam Darah, mengangkat pakar Inti Emas Tahap Menengah itu dari tanah seolah mengangkat boneka jerami. Pertahanan Qi merah darah milik Imam itu hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan jari-jari Arya yang dilapisi Qi Puncak Fondasi.
"H-Hentikannn!" Imam Darah meronta panik, Inti Emasnya mendadak lumpuh akibat tekanan cengkeraman Arya di titik saraf lehernya.
"Kalian menggunakan jiwa keluargaku sebagai baterai," mata hitam Arya berkilat dengan aura naga sejati. "Hari ini, aku akan membongkar altar kotor kalian bata demi bata, dan menjadikan seluruh Kuil Kegelapan sebagai pupuk bagi pegunungan ini."