NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reno Bergabung

​Reno terbangun dalam kepungan rasa sakit yang menusuk. Bau khas rumah sakit–campuran antara karbol dan udara beku dari AC–langsung menyambut indranya. Ia mencoba menggerakkan bahunya, namun rasa ngilu yang tajam segera menjalar ke seluruh tulang rusuknya. Kakinya dibalut gips, hidungnya terbebat, dan hampir separuh tubuhnya terbungkus perban.

​Ia memejamkan mata, membiarkan ingatannya terseret kembali ke lapangan basket SMA Global Nusantara. Ia bukan meringis karena kalah, melainkan karena ia baru saja menyadari bahwa dunia yang ia ketahui selama ini hanyalah permukaan yang sangat dangkal.

​Sore itu, udara di lapangan basket terasa berat dan statis. Ratusan siswa berkerumun, menciptakan dinding manusia yang menyesakkan. Sorakan penyemangat untuk Reno mengguncang langit-langit sekolah, sebuah penghormatan untuk sang raja yang belum pernah terkalahkan.

​Di tengah lapangan, Reno telah melepaskan seragamnya. Tubuhnya yang atletis dan penuh bekas luka latihan menunjukkan bahwa ia adalah seorang petarung yang lahir dari disiplin keras. Di hadapannya, Satya Wijaya berdiri tenang dengan tangan kiri di saku, sementara tangan kanannya menggenggam tongkat naga peraknya seolah benda itu adalah perpanjangan dari jiwanya sendiri.

​"Maju," ucap Satya datar.

​Reno tidak banyak bicara. Ia melesat dengan kecepatan yang menakjubkan. Ia tidak menggunakan teknik murahan; gerakannya adalah perpaduan antara kematangan Ju-jitsu dan ledakan Muay Thai. Sebuah tendangan melingkar mengincar leher Satya, serangan yang seharusnya bisa membuat orang biasa pingsan seketika.

​Wush!

​Satya hanya memiringkan kepala. Namun, yang membuat Satya terkejut, untuk pertama kalinya ia tersenyum tulus di balik kacamata hitamnya adalah serangan lanjutan Reno. Belum sempat tendangan pertamanya tuntas, Reno sudah mengubah momentumnya menjadi serangan siku yang mengincar ulu hati Satya.

​TAK!

​Satya terpaksa mengangkat tongkatnya untuk menangkis. Benturan itu menciptakan suara yang solid. Satya merasakan getaran tenaga Reno yang murni dan terlatih.

​"Lumayan," gumam Satya di sela pertarungan.

"Tidak percuma, aku masuk sekolah ini, kau bisa menjadi panglimaku."

​Pujian itu justru membuat Reno semakin beringas. Ia melancarkan kombinasi pukulan yang sangat rapat. Kiri, kanan, bawah, lalu sebuah flying knee yang hampir saja mengenai dagu Satya. Selama lima menit pertama, Satya benar-benar dipaksa untuk bergerak. Ratusan siswa yang menonton mulai ternganga; mereka belum pernah melihat seseorang bisa bertahan dari serangan membabi-buta Reno dengan begitu anggun.

​Satya sudah memutuskan Reno adalah aset berharga. Seorang penguasa tidak akan bisa membangun imperium jika ia harus mencuci tangannya sendiri di setiap genangan darah. Ia butuh tangan kanan.

​"Sekarang... giliranku."

​Tiba-tiba, aura Satya berubah. Jika tadi ia hanya menghindar, kini ia mulai masuk ke dalam "ruang" Reno. Saat Reno melayangkan pukulan straight kanan, Satya tidak menghindar ke samping, melainkan maju selangkah, menempelkan tubuhnya pada Reno.

​Dengan satu gerakan halus yang tak terbaca, Satya memutar tongkatnya, mengunci lengan Reno di balik punggungnya sendiri. Reno mencoba berontak dengan kekuatan penuh, namun ia merasa seolah sedang melawan jepitan hidrolik besi.

​KRAK!

​Satya tidak bermaksud mematahkan tulang Reno sepenuhnya, ia hanya menggeser sendi bahunya–sebuah pengingat akan perbedaan level mereka. Reno mengerang, namun insting petarungnya tetap menyala; ia mencoba menendang kaki Satya. Di saat itulah, Satya menjatuhkan Reno dengan satu sapuan tongkat yang presisi ke arah tulang kering dan lutut.

​BRUUGH

​Reno terhempas ke lantai semen dengan keras. Hidungnya menghantam lantai, menyemburkan darah segar. Sorakan ratusan siswa yang tadinya riuh rendah, seketika membeku. Senyap. Benar-benar senyap hingga suara tetesan darah Reno yang jatuh ke beton seolah bisa terdengar.

​Satya tidak melanjutkan serangannya. Ia justru berjongkok di samping Reno yang terkapar tak berdaya. Ia melepaskan kacamata hitamnya sejenak, menampilkan mata yang terpejam namun di ambang batas kesadarannya, ia melihat sepasang mata memancarkan cahaya hitam.

​"Reno... kau sudah cukup membuktikan. Bergabunglah denganku."

​Reno terengah-engah, matanya perih terkena cipratan darah dari pelipisnya. Ia meludahi Satya. Ludah itu melayang mengenai kacamata Satya.

​"Harga dirimu sangat tinggi" lanjut Satya sembari memasang kembali kacamatanya. Satya berdiri membelakangi Reno, tongkatnya menunjuk ke atas, dengan gerakan cepat menghantam rahang Reno yang seketika pingsan.

​Satya berdiri, mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai. Dung! Suara itu seolah memecahkan kebekuan ratusan siswa di sana. Tanpa berkata apa-apa lagi, Satya berjalan membelah kerumunan siswa yang kini menunduk dalam-dalam, memberikan jalan layaknya pada seorang kaisar baru.

 

Suasana kamar VIP nomor 404 itu begitu hening, hanya desis mesin oksigen dan detak jam dinding yang mengisi udara. Reno terbaring kaku, menatap langit-langit putih dengan pikiran yang berkecamuk. Hingga tiba-tiba, bunyi ketukan tongkat yang sangat ia kenali terdengar dari koridor.

​Tuk. Tuk. Tuk.

​Pintu bergeser perlahan. Satya melangkah masuk dengan keanggunan yang tidak pada tempatnya di sebuah rumah sakit. Ia masih mengenakan kacamata hitam, namun kali ini ia tidak membawa hawa kematian, melainkan ketenangan yang jauh lebih mengintimidasi.

​Satya berjalan lurus tanpa ragu, berhenti tepat di samping ranjang Reno seolah ia bisa melihat dengan jelas di mana posisi kepala lawannya itu berada.

​"Bagaimana rasanya, Reno?" Satya membuka suara, nadanya rendah namun memenuhi ruangan. "Sakit yang kau rasakan itu adalah pengingat bahwa kau masih hidup. Dan hanya orang hidup yang punya kesempatan untuk memilih takdirnya."

​Reno mencoba menoleh, meringis saat lehernya yang terbebat gips terasa kaku. "Lu... mau apa ke sini? Mau pamer kemenangan?" suaranya parau, pecah oleh sisa-sisa sesak di dadanya.

​Satya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. Ia meletakkan tongkat naga peraknya di pinggiran ranjang, lalu duduk di kursi kayu di samping Reno.

​"Kemenangan itu membosankan, Reno. Aku sudah tahu hasilnya sebelum aku mengayunkan tongkat di lapangan kemarin," ujar Satya tenang. "Aku ke sini karena aku menghargai rasa sakitmu. Jarang ada orang yang bisa menerima serangan ulu hatiku dan masih bisa bangun dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Kau punya bakat petarung."

​Reno terdiam. Harga dirinya yang hancur kemarin perlahan-lahan mulai tertutup oleh rasa penasaran yang aneh.

​"Aku punya banyak uang untuk membeli pelayan, Reno. Aku punya kuasa untuk membuat orang berlutut hanya dengan satu telepon," Satya memajukan tubuhnya, hawa dingin dari tubuhnya mulai menyelimuti Reno. "Tapi aku tidak butuh pelayan yang berlutut karena takut. Aku butuh seseorang untuk menjadi tangan kananku... seorang raja harus mempunyai jendral."

​"Maksud lu?" tanya Reno singkat.

​"Global Nusantara hanyalah sebuah taman bermain kecil. Seluruh Nusantara adalah hutan yang sebenarnya," Satya merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah koin emas murni dengan grafir naga yang sama dengan kepala tongkatnya. Ia meletakkan koin itu di atas dada Reno yang terbalut perban.

​"Jadilah tangan kananku. Jadilah orang yang mengeksekusi perintah yang tidak ingin kusentuh dengan tanganku sendiri. Aku akan memberikanmu kekuatan, akses, dan kehormatan yang tidak akan pernah diberikan oleh keluargamu atau sekolah ini."

​Reno menatap koin emas yang terasa berat di dadanya. "Kenapa gua? Lu bisa dapet siapa pun."

​"Karena kau punya api, Reno. Api yang hanya butuh tungku yang tepat agar bisa membakar seluruh kota ini," Satya berdiri, mengambil kembali tongkatnya. "Pikirkan baik-baik. Saat kau keluar dari rumah sakit ini, kau bisa kembali menjadi Reno yang dulu–penguasa sekolah yang akan segera dilupakan–atau kau bisa menjadi bagian dari kegelapan yang sedang aku ciptakan.

​Satya melangkah menuju pintu, namun ia berhenti sejenak sebelum benar-benar keluar.

​"Satu hal lagi, Reno. Di duniaku, tidak ada pengkhianatan yang berakhir dengan perban. Pengkhianatan di duniaku berakhir dengan tanah."

​Tanpa menunggu jawaban, Satya keluar dari ruangan itu. Suara ketukan tongkatnya perlahan menghilang, meninggalkan Reno dalam keheningan yang menyesakkan, menatap koin emas di dadanya seolah benda itu adalah kunci menuju surga sekaligus neraka.

​Di koridor, Satya bergumam pelan pada dirinya sendiri. "Kita akan liat, seberapa kuat kau sekarang Jalal?!"

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!