Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.
Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!
Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Pencuri Viral dan Pelukan Si Kulkas Dua Pintu
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di paviliun Permaisuri. Di atas tempat tidur megahnya, Melan sedang bergelut dengan alam bawah sadar yang kembali membawanya ke aspal jalanan Jakarta yang panas.
Dalam mimpinya, Melan kembali ke momen sialan itu. Ia sedang berlari kencang, napasnya tersengal, mengejar seorang remaja perempuan bersweater hitam kumal yang membawa kabur dompetnya.
Gadis itu, pencuri viral yang sering lewat di FYP TikTok karena aksinya yang licin, tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
Saat Melan hampir berhasil meraih kerah bajunya, si pencuri berbalik dengan seringai mengejek, lalu memasukkan tangannya ke dalam celana. persis seperti video viralnya yang bikin netizen geram.
"Balikin parfumnya, bocah ingusan!" teriak Melan dalam mimpi.
Tiba-tiba, skenario berubah. Si pencuri itu berlari mendekat, bukan untuk menyerang, tapi malah memeluk Melan dari belakang dengan sangat erat.
Tangan si pencuri yang hitam dekil dan berbau sampah itu melingkar di perut Melan, mengunci gerakannya.
"Ih, lepasin! Geli banget, tangan lo bau got!" maki Melan sambil meronta-ronta. "Udah nyuri, sekarang mau meluk-meluk lagi? Lepas nggak! Gue laporin polisi ya lo!"
Melan berteriak sekuat tenaga sampai matanya terbuka lebar.
Hah... hah... hah...
Napas Melan memburu. Ia terbangun dengan keringat dingin di pelipisnya. "Cuma mimpi... syukurlah cuma mimpi. Dasar pencuri viral, masuk ke mimpi orang nggak ijin dulu," gumamnya sambil mencoba mengatur napas.
Namun, saat Melan mencoba bergerak untuk mengambil air minum, ia menyadari sesuatu yang sangat ganjil.
Rasa sesak di perutnya bukan berasal dari imajinasi mimpi. Ada sesuatu yang benar-benar melingkar erat di pinggangnya. Sesuatu yang berat, hangat, dan... besar.
Melan menunduk melihat perutnya. Matanya membelalak.
Ini bukan tangan dekil si pencuri itu, batin Melan histeris.
Tangan yang melingkar di perutnya adalah tangan pria. Kulitnya bersih, jarinya panjang dan kokoh, dengan urat-urat yang menonjol di punggung tangan menandakan kekuatan yang tidak main-main.
Dan yang paling penting, tangan ini tidak bau got, melainkan bau cendana dan aroma maskulin yang sangat familiar.
Melan menelan ludah. Ia perlahan memutar kepalanya ke belakang, sangat pelan sampai-sampai ia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang di telinga.
Begitu wajahnya menoleh ke belakang, hidung Melan hampir bersentuhan dengan hidung seseorang yang seharusnya tidak ada di sana.
"Nolan?!" bisik Melan tertahan.
Raja Nolan, si kulkas dua pintu yang biasanya tampil kaku dengan jubah gordennya, kini sedang tidur nyenyak tepat di belakang Melan. Pria itu memeluknya dari belakang dengan posisi spooning yang sangat intim.
Wajah Nolan tampak sangat tenang saat tidur, tidak ada gurat emosi dingin atau tatapan tajam yang biasa ia tunjukkan. Rambut hitamnya sedikit berantakan menutupi dahi, membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda.
"Heh, bangun! Heh, Raja Gorden, bangun nggak lo!" Melan berbisik sambil mencoba membuka paksa tangan Nolan yang mengunci pinggangnya.
Tapi nihil. Tangan itu seperti borgol besi yang dilapisi kulit. Alih-alih terlepas, Nolan justru mengerang rendah dalam tidurnya dan malah menarik Melan semakin rapat ke dadanya.
Kepala Nolan kini bersandar di ceruk leher Melan, hembusan napas hangatnya membuat bulu kuduk Melan merinding disko.
"Aduh, geli... jangan di situ dong napasnya!" Melan meringis, mencoba menggeser tubuhnya. "Gila ya ini orang, tiba-tiba masuk kamar orang terus meluk begini. Apa dia nggak takut gue khilaf terus gue jambak rambutnya?"
Melan terdiam sejenak, menghentikan rontaannya karena tenaga Nolan memang tidak sebanding dengannya.
Karena posisinya terkunci, Melan terpaksa menatap wajah Nolan dari jarak yang sangat dekat. Ia memperhatikan setiap inci wajah suaminya atau suami tubuh yang ia tempati ini.
Bulu matanya lentik, hidungnya mancung sempurna, dan bibirnya... Melan buru-buru membuang muka.
Ganteng sih, parah banget malah. Kalau di Jakarta, dia udah pasti jadi aktor papan atas atau CEO muda yang diincar emak-emak sosialita, pikir Melan.
Sialan, kenapa orang sekaku dia harus punya wajah seindah ini? Tuhan beneran nggak adil kasih spek dewa ke cowok yang hatinya dibekuin di freezer.
Lama Melan terdiam sambil mengagumi sekaligus menghujat ketampanan Nolan. Namun, tiba-tiba ia meringis kesakitan.
"Aduh... leher gue..."
Karena terlalu lama menoleh ke belakang dalam posisi tidur menyamping, leher Melan mendadak kaku dan sakit luar biasa. Salah posisi sedikit saja, rasanya seperti disetrum.
"Aduh, encok beneran ini mah. Nolan! Lepasin!" Melan mencoba menyikut perut Nolan, tapi pria itu hanya bergumam tidak jelas dan malah mempererat pelukannya, seolah-olah Melan adalah guling kesayangannya yang hampir hilang.
Melan mendesah pasrah. Ia mencoba meluruskan kembali lehernya menghadap depan, tapi tangan Nolan tetap tidak bergeming.
Posisi ini benar-benar tidak nyaman bagi Melan yang berjiwa jomblo akut, tapi sangat hangat bagi tubuhnya yang sedang kedinginan karena hawa malam.
"Oke, oke. Gue nyerah," gumam Melan pelan ke arah kegelapan kamar.
"Anggap aja gue lagi dapet bantal guling gratis yang speknya internasional. Tapi awas aja ya besok pagi kalau dia bangun terus nanya 'Kenapa kamu meluk saya?', bakal gue tendang sampai ke gerbang kerajaan."
Anehnya, meskipun awalnya merasa risih dan geli, lama-kelamaan kehangatan dari tubuh Nolan membuat Melan merasa... aman.
Aroma cendana itu perlahan menenangkan pikirannya yang tadi kacau karena mimpi buruk soal pencuri viral.
Yah, daripada dipeluk pencuri TikTok, mending dipeluk Raja deh. Meskipun raksasa es, seenggaknya dia bersih, batin Melan menghibur diri.
Akhirnya, dengan leher yang masih terasa agak kaku dan jantung yang mulai berdetak dengan irama yang lebih teratur, Melan perlahan menutup matanya.
Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kantuk yang berat, tertidur di dalam dekapan erat pria yang paling ia hindari di kerajaan itu.
Tanpa Melan sadari, di tengah tidurnya, Nolan sempat membuka matanya sedikit. Ia menatap tengkuk Melan dengan tatapan yang tidak lagi kosong. Ia menghirup aroma rambut Melan dalam-dalam, lalu memejamkan matanya kembali dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Besok Pagi...
Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden sutra, menerangi kamar yang masih sunyi itu. Melan menggeliat pelan, merasakan tubuhnya sangat hangat dan nyaman. Namun, rasa sakit di lehernya kembali mengingatkannya pada kejadian semalam.
Ia membuka matanya, berharap apa yang terjadi semalam hanyalah mimpi kedua setelah mimpi pencuri. Tapi begitu ia merasakan berat di pinggangnya, ia tahu itu nyata.
Nolan masih di sana. Dan yang lebih parah, kakinya kini ikut menindih kaki Melan.
"Heh! Bangun! Matahari udah tinggi, Raja Macam Apa yang bangun jam segini?!" Melan berteriak tepat di depan wajah Nolan.
Nolan tersentak, matanya terbuka dan langsung bertemu dengan mata cokelat Melan yang sedang melotot marah.
Ia tidak segera melepaskan pelukannya, malah menatap Melan dengan tatapan malas khas orang baru bangun tidur.
"Berisik, Permaisuri," suara Nolan serak, terdengar sangat seksi sampai membuat Melan hampir lupa kalau dia sedang marah.
"Berisik mata lo! Lepasin nggak! Tangan lo itu berat banget tahu nggak? Udah gitu kaki lo juga nindih. Emangnya gue kasur?!"
Nolan perlahan melepaskan tangannya, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap wajahnya.
"saya tidak mengerti apa yang kamu katakan permaisuri"
"ah eh maksud saya, lepasin! Tangan Anda itu berat, kaki anda juga nindih kaki saya. Berat tau nggak, kirain saya kasur?"
"Saya tidak bisa tidur di kamar saya sendiri. Hawanya terlalu dingin."
"Terus solusinya Anda jadi maling yang masuk ke kamar saya tengah malam?" Melan ikut duduk, sambil memegangi lehernya yang kaku.
"Lihat nih! Leher saya salah bantal gara-gara Anda! Sakit tahu!"
Nolan menoleh, menatap leher Melan yang memerah. Tanpa berkata apa-apa, ia mendekat dan mengarahkan tangannya ke leher Melan.
"E-eh! Mau ngapain? Jangan macem-macem ya!" Melan mundur dengan waspada.
"Diam," perintah Nolan singkat. Ia memegang leher Melan, lalu mulai memijatnya dengan gerakan yang sangat lembut namun bertenaga.
Melan yang tadinya mau protes, tiba-tiba terdiam. Pijatan Nolan sangat pas di titik yang sakit. "Eh... enak juga..." gumamnya tanpa sadar.
"Makanya jangan banyak tingkah saat tidur," ucap Nolan datar, tapi tangannya tetap lanjut memijat.
"Ya Anda yang salah! Tiba-tiba meluk dari belakang. Di dunia saya... eh, maksudnya, di kebiasaan saya, itu namanya pelecehan!"
Nolan menghentikan pijatannya sejenak. "Pelecehan? Anda adalah Permaisuri saya. Apapun yang ada di dalam istana ini adalah milik saya, termasuk Anda."
Melan langsung menepis tangan Nolan. "Dih! Enak aja! Saya bukan barang, Yang Mulia Raja Gorden. Saya itu manusia merdeka yang punya hak asasi. Kalau mau meluk, sana meluk Fek Fe si bedak tembok itu! Pasti dia seneng sampai terbang ke langit ketujuh."
Mendengar nama Fek Fe, ekspresi Nolan kembali menjadi dingin. Ia berdiri, merapikan kemeja putihnya yang kusut. "Dia tidak senyaman Anda saat dipeluk."
Blush.
Wajah Melan memerah padam. Apa katanya tadi? Nyaman? Aduh, Kinan, jangan baper! Inget, ini cuma taktik dia buat bikin lo lengah! Dasar raja mati rasa.
"Udah, keluar sana! Saya mau mandi, mau ke proyek!" Melan menunjuk pintu dengan kasar.
"Dan jangan berani-berani masuk kamar saya lagi tanpa ijin, atau saya bakal pasang jebakan tikus di bawah tempat tidur!"
Nolan tidak menjawab, ia hanya berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh. "Jangan lupa obati lehermu. Saya tidak mau Permaisuri saya terlihat seperti orang habis bertengkar dengan kucing hutan di depan rakyat."
Brak!
Pintu tertutup. Melan langsung ambruk kembali ke atas tempat tidur, menutupi wajahnya dengan bantal.
"Gila... jantung gue kenapa jadi begini sih?" gerutunya kesal.
"Pencuri viral, Nolan, penyihir daun... hidup gue kenapa jadi drama begini sih? Gue cuma mau kaya, bukan mau jatuh cinta!"
Melan menarik napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa aroma Nolan yang masih tertinggal di bantalnya. Ia harus tetap fokus.
Pembangunan mall adalah prioritas utamanya. Ia tidak boleh membiarkan pelukan raksasa es itu mengacaukan rencana besarnya untuk menguasai ekonomi kerajaan ini.
"Fokus, Melan! Emas! Mal! Kekayaan!" teriaknya pada diri sendiri, lalu segera beranjak untuk mandi sebelum Dayang Lin masuk dan melihat wajahnya yang masih merah seperti kepiting rebus.