NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Rahasia di Balik Layar Laptop

​Sore itu, suasana kantor sebenarnya sudah mulai melandai. Namun, di dalam ruangan Direktur Utama, jantung Vanya justru berdegup dua kali lebih cepat. Ia sedang menatap layar laptopnya dengan wajah sebuah video "edukasi dewasa" yang sedang viral di kalangan teman-teman sosialitanya. Sesil menyertakan pesan: "Van, lo terlalu kaku. Coba tonton ini, siapa tahu bisa kasih lo inspirasi buat 'melembutkan' Devan atau mungkin buat bekal lo kalau beneran jadi janda kaya nanti. XOXO."

​Vanya, yang dasarnya penasaran namun sangat polos dalam urusan seperti itu, tidak sengaja membukanya. Saat adegan dalam video itu mulai bergerak dan suara-suara yang cukup "eksplisit" terdengar samar, Vanya terpaku. Ia begitu fokus, bukan karena menikmati, tapi karena syok dan bingung bagaimana Sesil bisa mengirimkan hal seperti ini ke laptop kantornya.

​Karena saking fokusnya berusaha mencari tombol mute, Vanya tidak sadar bahwa Bara Jacob sudah masuk dan berdiri tepat di belakangnya.

​"Apa yang sedang kamu lihat? Aku penasaran dan sampai ingin mengintip karena kamu terlihat sangat fokus," suara berat Bara tepat di atas kepalanya membuat Vanya meloncat kecil di kursinya.

​BRAK!

​Vanya menutup laptopnya dengan bantingan yang cukup keras. Wajahnya merah padam, dari ujung hidung sampai ke leher. Ia menatap Bara dengan mata yang bergetar karena gugup.

​"Bukan apa-apa!" jawab Vanya cepat, suaranya sedikit meninggi karena panik.

​Bara menaikkan sebelah alisnya, senyum tipis terukir di wajah tampannya. "Kurasa aku tidak boleh melihatnya, ya? Tapi suara dari video tadi... sedikit familiar di telingaku. Seperti suara... ah, sudahlah."

​Vanya berdehem, mencoba mengatur napasnya. "Tidak seperti yang kamu pikirkan, Bara. Itu cuma... iklan! Ya, iklan yang muncul tiba-tiba."

​"Kalau begitu, boleh ku lihat?" pancing Bara. Ia justru merasa gemas melihat Vanya yang biasanya sedingin es kini tampak sangat manusiawi dengan kegugupannya.

​"Tidak!" Vanya meremas tangannya di bawah meja, menunjukkan wajah imut yang setengah memohon agar Bara berhenti bertanya.

​Bara tertawa kecil. "Aku hanya bercanda, Vanya. Aku tiba-tiba ingin menggodamu saat melihatmu malu seperti ini. Maaf kalau aku lancang."

​Bara kemudian menundukkan tubuhnya, menyandarkan kedua tangannya di atas meja kerja Vanya agar tatapan mereka sejajar. Di sudut kaca ruangan, sosok Devan sudah berdiri membeku. Ia melihat istrinya sedang "bermesraan" dengan sepupunya, ditambah lagi wajah Vanya yang merah padam—yang Devan kira adalah rona cinta untuk Bara.

​Devan melangkah masuk dengan langkah yang menghentak, wajahnya sangat suram. "Kalian sedang apa?"

​Bara berdiri tegak kembali dengan tenang. Tatapannya dan Devan beradu seperti aliran listrik yang siap meledak.

​"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Devan," ucap Vanya lirih, mencoba menutup rapat-rapat rahasia tentang video dari Sesil tadi.

​"Kenapa kamu gak tepati janjimu, Vanya? Kenapa kamu malah bermesraan dengan Dokter ini?" Devan menatap Vanya dengan tatapan terluka, namun juga penuh amarah tantrum.

​Bara menyela, "Aku akan menghargai kalau kalian bicara juga denganku. Jangan hanya saling tatap seperti itu."

​Keduanya menoleh ke arah Bara. Devan mendengus kasar. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau ingin pamer kalau kau bisa membuat istriku tersipu malu?"

​"Tunggu, kalian berdua bisa keluar dari ruanganku sekarang!" teriak Vanya. Kepalanya mendadak pusing karena malu bercampur kesal. Saat ia berdiri dan berbalik hendak menghindari mereka, keseimbangannya hilang. Tubuhnya goyah dan ia hampir terjatuh.

​Bara dengan sigap menangkap tubuh Vanya. Tangan sang Dokter melingkar di pinggang Vanya dengan mantap. "Vanya, kamu tidak apa-apa?"

​Mata Devan melihat itu seperti mau keluar dari kelopak. Darahnya mendidih. Ia langsung menerjang dan menarik Vanya dari dekapan Bara dengan kasar.

​"HEI! Kamu gak lihat aku di sini?!" bentak Devan pada Vanya. "Kan bisa jatuhnya ke kiri, ke arahku! Kenapa harus jatuh ke arah dia?

​Vanya menatap Devan dengan tatapan tajam meski kepalanya masih pusing. "Apa sih Devan kamu tuh... KELUAR!" teriak Vanya sekuat tenaga.

​Bara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sepupunya yang cemburu buta sampai ke masalah "arah jatuh". Devan tetap memeluk Vanya dengan protektif sambil terus menggerutu, sementara Vanya hanya bisa memejamkan mata, merutuki Sesilia yang telah mengirimkan video sialan itu dan memulai kekacauan.

​Malam itu, Mansion Jacob terasa begitu sunyi. Devan duduk di tepi tempat tidur yang luas, matanya terus melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Vanya belum pulang. Rasa cemburu akibat kejadian siang tadi bersama Bara masih membakar dadanya. Dengan perasaan lelah dan hati yang berat, Devan akhirnya mencoba merebahkan diri, menatap langit-langit kamar sambil membayangkan kemungkinan terburuk.

​Baru saja ia memejamkan mata, ia merasakan sentuhan lembut. Sebuah tangan halus membelai wajahnya dengan penuh kasih sayang.

​"Devan..." suara lembut Vanya memanggil namanya.

​Devan tersentak bangun. Ia melihat Vanya berdiri di sampingnya dengan tatapan yang tidak sedingin biasanya. Tanpa pikir panjang, Devan menarik tangan itu dan memposisikan dirinya berada di atas Vanya, mengunci tubuh istrinya di atas kasur.

​"Hei," bisik Devan, napasnya memburu. "Aku sudah berbaik hati padamu selama ini. Masih menahan diri untuk tidak menyentuhmu, dan kau tahu itu tidak mudah bagiku."

​Vanya menatapnya dalam, tangannya masih di leher Devan. "Kenapa harus menahan diri?"

​"Karena aku harus membuatmu percaya dulu padaku," jawab Devan jujur, suaranya parau. "Aku tidak suka kamu dekat dengan Bara. Melihatmu bersamanya membuat hatiku sakit, Vanya."

​"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Vanya pelan. "Haruskah aku pergi?"

​"Tak bisakah kamu menyukaiku saja?" Devan memohon. "Mau kubantu?"

​Vanya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru bangun sedikit, tangannya bergerak perlahan membuka kancing bahu piyama yang dikenakan Devan. Pandangan mereka terkunci, dan perlahan segalanya menjadi gelap...

​Pagi harinya, cahaya matahari menyeruak masuk dari celah gorden. Devan terbangun dengan kepala pening. Ia menyadari bajunya sudah terbuka separuh, menampakkan dadanya. Jantungnya berdegup kencang.

​"Apa itu tadi malam cuma mimpi?" gumamnya tak percaya. Ia buru-buru menutup dirinya dengan selimut, merasa malu sekaligus bingung.

​"Devan? Kamu gak ke kantor?" suara Vanya muncul dari arah kamar mandi. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, rambutnya masih sedikit basah.

​Devan langsung beranjak dan mendekati Vanya. "Vanya! Kamu... semalam kamu membuka bajuku, kan?" tanya Devan dengan wajah penuh harap dan rasa penasaran.

​Vanya menatap Devan dari atas ke bawah dengan wajah datar. "Aku datang, bajumu sudah berantakan begitu. Kamu tidurnya pecicilan mungkin."

​"Oh... beneran?" Devan terdiam, mencoba memutar memori otaknya. "Iya, mungkin..."

​Devan berpikir sejenak, lalu teringat sesuatu. "Oh, semalam kamu ke mana? Jam berapa pulangnya?"

​"Semalam aku pergi dengan Bara," jawab Vanya santai sambil merapikan antingnya di depan cermin.

​"APA?! Ke mana?!" Devan berteriak, rasa kantuknya hilang seketika.

​"Ke apartemen Sesilia. Ada urusan medis sedikit," jawab Vanya tanpa beban.

​Deg.

​Devan jatuh terhentak ke tepi kasur. Hatinya terasa seperti ditusuk sembilu. Jadi, sementara ia bermimpi indah tentang Vanya di kamar ini, istrinya justru sedang menghabiskan waktu dengan saingannya? Rasa sakit itu berubah menjadi amarah yang meledak.

​Devan berdiri, melangkah lebar dan langsung menarik tangan Vanya. Sebelum Vanya sempat protes, Devan menarik tengkuknya dan mencium bibir Vanya dengan penuh emosi—campuran antara rindu, marah, dan rasa takut kehilangan yang amat sangat.

​"Le... lepaskan de..." gumam Vanya di sela ciuman itu, namun mulutnya terkunci rapat oleh bibir Devan yang menuntut.

​Kini Vanya terpojok di kaca besar kamarnya. Devan tidak melepaskannya sampai Vanya mengumpulkan tenaga untuk mendorong dada Devan dengan sekuat tenaga.

​PLAK!

​Satu tamparan mendarat di pipi Devan. Vanya terengah-engah, wajahnya merah padam.

​"Kamu berjanji mau memberiku kesempatan, kan? Maksudku, bukan begini caranya!" teriak Vanya kesal.

​"Bukan berciuman juga, Devan!" lanjutnya lagi.

​"Tapi aku lihat kamu sangat menikmatinya tadi!" balas Devan tak mau kalah, matanya menatap bibir Vanya yang sedikit bengkak.

​"Astaga, kapan?!" Vanya memijat pelipisnya. "Ini sangat menyebalkan. Kuharap kita bisa memutar ulang waktu agar tahu apa benar aku menikmatinya atau aku cuma kaget!"

​Mendengar itu, Devan justru menyeringai licik. Ia kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Vanya, membuat punggung Vanya kembali menempel di kaca. Kini bibir mereka kembali sejajar, hanya berjarak beberapa milimeter.

​"Haruskah kita ulangi ciuman itu sekarang untuk pembuktian?" bisik Devan menggoda.

​Vanya menatap mata Devan dengan tajam, mencoba menguatkan hatinya yang sebenarnya juga berdebar kencang. "Berhenti bercanda, Devan! Anggap saja tadi aku tidak sengaja mencium kucing!"

​"Apa? Kucing?" Devan melotot tak terima. "Mana ada kucing setampan aku?!"

​Namun Vanya tidak peduli. Ia menyambar tasnya di atas meja hias dan melenggang pergi meninggalkan Devan yang masih terpaku di depan kaca.

​"Kenapa disamakan dengan kucing?!" teriak Devan pada pintu yang sudah tertutup. Ia mengusap bibirnya, lalu tersenyum tipis. "Tapi kucing ini akan membuatmu tidak bisa melupakan ciuman tadi, Vanya Benjamin."

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!