Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
POV Galang.
Setelah semua musuhku tumbang aku langsung menyusul Alika ke rumah sakit. Aku tak memperdulikan luka di sekujur tubuhku karena yang ada dalam pikiran ku hanya Alika aku takut dia kenapa-kenapa. Aku pun langsung turun dan berlari ke arah ruang IGD dimana Alika berada namun belum sempat aku sampai om Ilham mencegat ku.
"Mau kemana kamu? " tanya nya.
"Aku ingin melihat Alika om, " jawab ku.
"Alika sedang di operasi, lebih baik kamu obati luka kamu, " ucap om Ilham.
"Enggak om, aku ingin menemani Alika, " tolak ku.
"Galang denger! " bentaknya membuat aku diam.
"Alika bakal sedih kalau melihat keadaan kamu seperti ini, " ucap om Ilham.
"Sekarang kamu ikut aku, Alika ada mama dan tante Nara yang tungguin sekarang kamu ikut om, " aku pun di bawa ke IGD untuk di obati dan dokter memberiku obat bius membuat aku tak sadarkan diri dan saat aku bangun aku sudah berada di ruangan perawatan.
Aku melihat mama duduk menemani ku.
"Ma, " panggil ku dan mama langsung bangun dan mendekati ku.
"Alika mana? " tanya ku karena jujur aku takut mendengar kabar buruk tentang nya.
Mama tidak menjawab dia hanya bangkit dari duduknya lalu melangkah ke arah samping kiri ku dan membuka tirai yang tertutup. Saat tirai itu di buka aku melihat Alika terbaring di samping ku dan sekujur tubuhnya di pasangin alat. Aku berusaha bangun mama menahan ku.
"Kamu jangan banyak gerak nanti luka kamu semakin parah, " ucap mama.
"Aku ingin lihat Alika ma, " balas ku dengan lirih.
"Mama tau tapi tunggu dulu kondisi kamu benar-benar baik-baik saja, " ujar mama.
"Alika kenapa gak sadar ma? " tanya ku.
Mama duduk di hadapan ku dan aku melihat mama meneteskan air mata.
"Luka yang di alami Alika dalam dia pun hampir kehabisan darah, " beritahu mama.
"Tapikan seharusnya dia sudah sadar ma, " lirih ku.
"Lukanya parah dan mama juga gak tau, " balas mama namun aku merasa ada sesuatu yang mama sembunyikan.
Akhirnya aku menuruti mama untuk tidak memaksakan untuk turun dari tempat tidur dan hanya melihat Alika dari jauh. Sampai akhirnya Dokter memperbolehkan aku turun dari tempat tidur karena lukanya sudah lumayan membaik. Aku pun mendekati tempat tidur Alika, aku melihat semua alat terpasang di tubuh Alika. Aku pun duduk di sampingnya lalu menggenggam tangan dan ku tempelkan di pipi.
"Aku ingin kamu segera bangun sayang, " lirih ku.
"Maafkan aku gara-gara aku kamu harus terluka, " lanjut ku.
Mama mendekati ku lalu memegang pundak ku dan berkata "mama yakin Alika akan bangun, ".
" Aku tau ma, kalau Alika bangun aku bakal jujur sama dia ma, "ucap ku.
Mama tidak membalas ucapan ku dia pergi begitu saja dan aku terus di samping Alika aku pun menceritakan sejak kapan aku menyukainya.
******
Siang itu aku baru sampai di rumah nenek karena kami semua mendengar nenek sakit jadi kamu satu keluarga datang untuk menjenguknya. Namun saat aku hendak masuk aku berpapasan dengan mu yang baru keluar dari rumah. Entah kenapa aku langsung terpesona melihat mu seorang wanita yang berpenampilan sederhana dengan rambut panjang dan senyum manisnya.
"Sayang, tunggu, " teriak Doni dari dalam memanggilmu.
"Eh, bang Galang, " ucap Doni saat melihat ku berdiri di depan pintu.
"Mau kemana? " tanya ku.
"Antar pacar ku pulang bang, " jawab Doni dan kamu tersenyum dan mengangguk pada ku.
"Aku keluar dulu bang, " pamit Doni lalu pergi mengantar kamu.
Sejak hari itu senyuman mu selalu terbayang di ingatan ku, namun aku tidak ada keberanian buat dekati kamu karena aku gak mungkin rebut kamu dari Doni. Sampai delapan bulan kemudian aku dapat kabar kamu akan menikah dengan dengan Doni, hati ku sakit namun aku sadar dari awal kamu milik Doni.Awalnya aku menolak untuk datang namun mama memaksa ku agar aku datang karena gak enak sama orang tuanya Doni. Aku pun tiba di rumah Doni sehari sebelum acara karena aku harus menemani om Ilham. Namun saat aku tiba aku mendapati mamanya Doni menangis dan semua orang memasang wajah sedih.
"Ada apa nek? " tanya ku pada mama.
"Doni ingin membatalkan pernikahannya ini, " jawab mama membuat aku kaget.
"kenapa? bukannya Alika cewek pilihannya? " tanya ku kaget.
"Selama ini Doni selingkuh dan barusan dia memberitahu kita semua kalau selingkuhannya hamil dan dia harus bertanggung jawab, " beritahu mama membuat aku kaget.
"Kita semua gak mungkin membatalkan pernikahan ini karena bakal membuat keluarga kita malu, " lanjut mama.
Namun tiba-tiba semua orang melihat ke arah ku membuat aku bingung.
"Kalian kenapa melihat ke arah ku? " tanya ku bingung.
Mamanya Doni berjalan ke arah ku lalu memegang tangan ku.
"Kamu mau ya, gantikan Doni menikah, toh mama kamu bilang kamu gak punya pacar, " ucap mamanya Doni membuat aku kaget.
"Tante jangan bercanda deh, aku sama cewek itu gak saling kenal, " ucap ku mencoba menolak walau dalam hati aku senang.
"Galang, tolong tante, tante gak mau kelurga kita malu dan tante kasihan sama Alika dia gadis baik, " ucap tante memohon pada ku.
"Mau ya Galang? " ucap Nenek.
Namun tiba-tiba mama berbisik, "mama tau kamu suka sama Alika, " . Aku kaget dan menatap mama.
"Ya udah aku setuju Galang gantikan Doni menikah, " ucap mama langsung setuju membuat aku kaget.
Setelah keputusan mama, kami pun datang ke rumah mu dan tibanya di rumah mu aku ingin banget memeluk mu saat melihat kamu pura-pura tegar padahal hati mu hancur. Aku senang saat kamu menerima pernikahan itu karena akhirnya aku bisa dapatin kamu. Namun aku berusaha buat pura-pura dingin agar kamu tidak mengetahui kalau sebenarnya aku senang. Namun saat aku sadar resiko kamu menikah dengan ku itu besar dan aku gak mau sampai kamu terluka makanya selama ini aku selalu bersikap dingin dan cuek pada mu karena aku gak mau kamu seperti sekarang ini. Sebenarnya setiap malam aku selalu menatap wajah mu yang cantik dan manis ini karena dengan seperti aku bisa puas memandangi kamu seperti sekarang.
"Galang, " panggil bang Ilham membuat aku tersadar dari lamunan ku mengingat kejadian empat bulan lalu.
"Om Ilham, " ucap ku saat berbalik melihat orang yang manggil ku.
"Ada yang mau aku bicarakan dengan kamu, " ucap om Ilham.
Aku pun beranjak lalu mengikuti om Ilham ke luar.
"Ada apa om? " tanya ku saat kami berada di depan raungan Alika.