Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candaan Nenek
Udara di ruang tamu sang Nenek terasa pengap oleh aroma lili dan wangian renda kuno. Aurora berdiri kaku di hadapan wanita tua itu, kepalanya tertunduk dalam. Gaun ungu tengah malam yang ia kenakan kini seolah ikut meredup.
Di sisinya, Lucien tetap diam.
"Nenek," bisik Aurora, suaranya sedikit bergetar oleh penyesalan.
"Amuk amarahku telah menutup kebenaran. Aku... aku memohon maaf karena telah meragukanmu, padahal engkaulah satu-satunya yang benar-benar melindungiku selama ini."
Wanita tua itu mengangkat wajahnya.
Tatapannya yang tajam perlahan melunak, lalu ia mengulurkan tangan meraih jemari Aurora. Sebuah senyum tipis—sesuatu yang sangat jarang terjadi—terukir di bibirnya.
"Keangkuhan adalah beban yang berat, sayang. Aku hanya berharap kau bisa belajar membawanya dengan martabat, sebagaimana layaknya seorang wanita di keluarga kita."
......................
Mereka kini duduk bersantai di ruang tamu mansion yang megah itu. Sinar lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya lembut pada dinding-dinding yang dipoles mengkilap.
Tawa tulus Aurora pecah, memenuhi ruangan.
Matanya berbinar jenaka saat Nenek mulai bercerita.
"Kau tahu, Lucien," Nenek memulai dengan senyum penuh rahasia.
"Waktu Aurora umur enam tahun, dia pernah mencoba mengecat bulu kucingnya dengan cat warna biru terang."
Aurora terbelalak, wajahnya mulai memerah. "Nenek! Jangan ceritakan itu..."
"Kenapa? Itu kan bakat seni pertamamu," goda Neneknya sambil terkekeh.
"Dia mengejar kucing itu keliling taman sambil teriak kalau dia sedang menciptakan 'kucing bangsawan dari kayangan'. Kucing malang itu jadi biru selama dua minggu karena catnya susah hilang!"
Nenek melirik Lucien yang duduk dengan tenang, lalu menyenggol lengan Aurora.
"Untung saja sekarang seleramu sudah membaik, Aurora. Setidaknya kau tidak mencoba mengecat Lucien jadi biru juga, kan?"
Aurora hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Nenek! Lucien itu manusia, bukan kucing!"
"Oh, syukurlah kalau kau sadar," sahut Nenek santai sambil menyeruput tehnya.
"Karena kalau kau sampai melakukannya pada Lucien, Nenek ragu dia bakal tetap diam sedingin es seperti sekarang."
Lucien yang sedari tadi hanya menyimak, mendadak menarik sudut bibirnya tipis.
"Saya rasa, saya tidak keberatan jadi biru," gumam Lucien pelan, suaranya berat namun penuh nada geli.
"Asalkan yang melukisnya memang Aurora sendiri."
Lucien hanya memperhatikan Aurora dengan senyum tipis yang jarang terlihat.
Namun, atmosfer di ruangan itu tiba-tiba berubah. Sang Nenek memajukan duduknya, menatap Aurora dengan tatapan penuh selidik dan sedikit nakal.
"Coba beritahu Nenek, Aurora," bisik nenek.
"Apa kalian berdua ini tidak pernah 'bermain' di dalam kamar? Atau kalian memang berniat menjadikan pernikahan ini hanya sebagai pajangan kaku di arsip keluarga?"
Uhuk!
Aurora tersedak. Wajahnya seketika meledak dalam warna merah padam yang hebat.
Ia menatap neneknya dengan ekspresi horor.
Mulutnya ternganga, benar-benar syok. Bagaimana bisa neneknya bertanya hal sevulgar itu dengan wajah tanpa dosa?
"Nenek! Apa-apaan... bagaimana bisa Nenek menanyakan hal seperti itu?!"
Lucien tetap terlihat tenang, meskipun kilatan di matanya jelas menunjukkan betapa ia menikmati kepanikan Aurora.
"Kami menjaga batasan profesional, seperti yang telah disepakati dalam kontrak," ucap Lucien dengan nada datar.
Pria itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Aurora yang sedang salah tingkah.
"Kami tidak berbagi kamar, juga tidak mencampuri ruang pribadi masing-masing. Keteraturan dan struktur adalah inti dari kesepakatan ini."
Nenek menghela napas panjang, bibirnya mengerucut jenaka.
"Sangat menyia-nyiakan masa muda. Semua gairah itu terbuang percuma hanya demi sebuah 'struktur'."
Nenek memajukan tubuhnya, berbisik dengan nada rahasia yang seolah-olah hanya untuk telinga Lucien saja—padahal Aurora bisa mendengar setiap kata dengan sangat jelas.
"Dengar, Lucien," desis sang Nenek dengan binar nakal di matanya.
"Berhentilah bersikap kaku seperti patung. Mulailah menggoda dia. Aku tidak membawamu masuk ke keluarga ini hanya untuk memenuhinsyarat kontrak... aku ingin cicit untuk dimanjakan."
Nenek menjeda sejenak, senyumnya semakin lebar. "Seorang seniman kecil dengan mata tajam sepertimu... itu baru harta yang tak ternilai harganya."
Tubuh Aurora seketika membeku.Wajahnya menunjukkan ekspresi seolah-olah ia ingin lantai di bawah kakinya terbelah dan menelannya hidup-hidup saat itu juga.
"Ada apa dengan kalian berdua?!" seru Aurora, suaranya bergetar antara rasa malu yang hebat dan energi yang meledak-ledak.
"Kita sedang berada di tengah ruang tamu, dan kalian malah membahas... cucu! Dan kau—"
Aurora melotot tajam ke arah Lucien, matanya menyipit penuh kekesalan.
"Berhenti tersenyum seperti itu! Sama sekali tidak ada yang 'lucu' atau 'berharga' dari percakapan ini!"
Aurora mendengus frustrasi. I
a segera memutar tubuhnya, membelakangi mereka untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa seperti terbakar.
"Cukup. Aku mau pulang!" serunya tanpa menoleh.
Ia menyambar tas tangannya yang tergeletak di meja kecil dengan gerakan kasar, berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa harga dirinya yang sudah runtuh.
"Nenek, terima kasih atas tehnya, tapi aku rasa pembicaraan ini sudah melantur terlalu jauh. Kita pulang sekarang, Lucien!"
Aurora melangkah cepat menuju pintu keluar mansion, langkah kakinya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, menunjukkan betapa ia sedang merajuk hebat.
Di belakangnya, Nenek hanya terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. Matanya memberikan isyarat terakhir pada Lucien.
Lucien mengangguk hormat sekali lagi pada Nenek sebelum berbalik. Ia berjalan santai dengan langkah panjangnya yang tenang, mengikuti Aurora yang sudah hampir mencapai pintu depan.
"Kau berjalan terlalu cepat," suara rendah Lucien menggema di lorong, terdengar sangat santai seolah ia tidak baru saja membuat jantung istrinya hampir copot.
"Jangan bicara padaku!" sahut Aurora ketus dari kejauhan, meski wajahnya masih semerah buah ceri.