NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: CEO Cantik dan Sambal Setan

Jakarta sore itu macetnya minta ampun. Mobil mewah Clarissa hanya bisa bergerak merayap seperti siput yang lagi galau. Di kursi belakang, Clarissa terlihat sangat stres, berkali-kali dia menghela napas panjang sambil memijat keningnya yang mulus.

​"Genta, saya bosan makan makanan hotel atau restoran mall. Rasanya hambar, cuma menang mahal doang," keluh Clarissa tiba-tiba.

​Aku yang lagi asyik dengerin lagu dangdut koplo lewat earphone langsung menoleh. "Wah, itu kode keras Mbak Bos! Kalau mau yang rasanya nendang sampai ke ginjal, saya tahu tempatnya. Tapi ya gitu, tempatnya nggak ada AC, adanya kipas angin yang muternya malas-malasan."

​Clarissa tampak ragu sejenak, tapi perutnya yang lapar sepertinya lebih berkuasa. "Ya sudah, ke sana sekarang. Saya mau coba masakan yang kamu bilang enak itu."

​Aku mengarahkan mobil ke daerah pinggiran yang gangnya agak sempit. Kami sampai di sebuah warung tenda bertuliskan "Spesial Sambal Setan Sidoarjo". Asap dari bakaran ayam dan wangi terasi yang digoreng langsung menusuk hidung.

​Begitu turun dari mobil, Clarissa langsung menutup hidungnya pakai tisu mahal. "Genta... ini serius? Kita makan di pinggir got begini? Lihat itu, kursinya saja dari plastik yang sudah mau patah!"

​"Tenang Mbak Bos. Jangan lihat bungkusnya, lihat isinya. Ini warung langganan para sopir truk dan kuli bangunan. Kalau mereka saja doyan, berarti rasanya sudah level dewa," jawabku meyakinkan sambil mengelap kursi plastik pakai ujung jasku supaya agak bersih.

​Clarissa duduk dengan sangat kaku. Gaun mahalnya terlihat sangat kontras dengan meja kayu yang sedikit berminyak. Orang-orang di sekitar kami mulai berbisik-bisik, mungkin mereka pikir ada bidadari yang salah alamat lagi nyasar ke warung penyetan.

​"Mas! Ayam bakar dua, tahu tempe, terong goreng, sama sambalnya yang paling pedas ya! Nasinya satu piring penuh, yang satu porsi model diet saja buat Mbak Bos," teriakku pada penjualnya.

​Tak lama kemudian, pesanan datang. Sambalnya berwarna merah menyala dengan biji cabai yang bertaburan di mana-mana. Clarissa menatap piringnya dengan ngeri.

​"Genta, ini apa tidak berbahaya buat lambung saya? Cabainya banyak sekali!"

​"Dicoba dulu, Mbak Bos. Cara makannya harus pakai tangan langsung, biar feel-nya dapet. Jangan pakai sendok, nanti rasanya malu-malu," kataku sambil mulai menyuap nasi dengan lahap.

​Clarissa akhirnya memberanikan diri. Dia mencuil sedikit daging ayam, mencelupkannya ke sambal, lalu memasukkannya ke mulut. Satu detik... dua detik... wajahnya yang putih langsung berubah menjadi merah padam. Matanya mulai berkaca-kaca.

​"HAHHH... HAHHH... Genta! Ini pedas sekali! Air! Air!" Clarissa panik sambil mengipasi lidahnya pakai tangan.

​Aku langsung menyodorkan es teh manis di gelas besar. Clarissa meminumnya sampai habis dalam sekali teguk. "Gimana Mbak Bos? Pedasnya nagih kan? Kayak omongannya mantan, nyelekit tapi pengen lagi."

​Anehnya, meskipun kepedesan sampai keringatan, Clarissa malah nambah lagi. Dia sepertinya mulai menikmati sensasi pedas yang membakar itu. Tapi masalah muncul saat seorang pengamen datang dengan suara yang sangat sumbang dan memaksa minta uang.

​"Mas, Mbak, bagi recehnya buat makan," kata pengamen itu sambil terus menggenjreng gitarnya yang senarnya tinggal tiga.

​Clarissa yang sedang kepedesan jadi merasa terganggu. "Maaf ya, bisa tolong jangan sekarang? Saya lagi makan."

​Pengamen itu malah nyolot. "Halah, gaya banget si Mbak. Cantik-cantik pelit!"

​Darah premanku langsung naik ke ubun-ubun. Aku berdiri dan menatap pria itu tajam. "Heh, Mas! Kalau mau cari makan itu yang sopan. Mbak Bos saya lagi kepedesan, jangan ditambah panas hatinya. Mau saya ajak 'dansa' di luar apa gimana?"

​Melihat badanku yang tegap dan muka sangarku, pengamen itu langsung lari terbirit-birit. Clarissa menatapku sambil mengelap keringat di dahinya.

"Terima kasih, Genta. Ternyata kamu berguna juga ya buat ngusir lalat-lalat pengganggu."

​Setelah makan sampai kenyang dan baju Clarissa sedikit bau asap ayam bakar, kami kembali ke mobil. Clarissa tampak lebih rileks, meskipun berkali-kali dia harus meminum air putih karena lidahnya masih terasa terbakar.

​"Genta, ternyata makan di tempat seperti itu seru juga ya. Saya merasa... lebih hidup," ujarnya sambil tersenyum tipis.

​"Nah, itu namanya terapi rakyat, Mbak Bos. Biar Mbak Bos tahu kalau kebahagiaan itu nggak harus selalu ada di hotel berbintang. Cukup nasi hangat, ayam bakar, sama sambal setan, masalah dunia langsung lewat," jawabku bijak.

​"Tapi besok kalau perut saya sakit, kamu yang tanggung jawab ya!" ancam Clarissa.

​"Siap Mbak Bos! Saya sudah siapkan obat sakit perut paling ampuh di laci mobil. Pokoknya servis bodyguard nomor satu!"

​Kami pun meluncur pulang menembus malam Jakarta yang mulai dingin. Di dalam hati, aku merasa senang. Siapa sangka, seorang CEO kelas atas bisa takluk sama sambal setan pinggir jalan gara-gara preman Sidoarjo sepertiku

Malam itu, di dalam mobil yang melaju tenang, aku sesekali melirik Clarissa dari spion. Dia tidak lagi sibuk dengan tablet atau ponselnya. Dia cuma menyandarkan kepala di jendela, menatap lampu-lampu Jakarta dengan senyum yang masih tersisa.

​Sepertinya sambal setan tadi benar-benar manjur membakar stresnya. Aku jadi merasa bangga, ternyata tugas bodyguard itu bukan cuma jagain badan dari pukulan, tapi juga jagain kewarasan bos dari tekanan kerja.

​"Genta..." panggilnya lirih tanpa menoleh

Iya, Mbak Bos? Perutnya sudah mulai demo atau gimana?" tanyaku sambil bersiap mengambil kotak obat.

​"Bukan. Cuma mau bilang... hari ini seru. Besok jangan telat jemput saya ya. Kita ada rapat besar dengan investor dari Korea," ucapnya pelan sebelum akhirnya dia memejamkan mata, tertidur lelap karena kekenyangan.

​Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. "Beres, Mbak Bos. Tidur yang nyenyak. Biar si preman Sidoarjo ini yang antar sampai depan pintu mimpi."

​Aku pun menambah kecepatan mobil dengan perlahan. Dalam hati aku membatin, perjalanan ini masih panjang. Dan aku yakin, petualanganku bareng CEO galak ini bakal makin sengklek di bab-bab selanjutnya. Jakarta, ternyata nggak sekeras itu kalau kita punya sambal setan dan bos yang (diam-diam) mulai perhatian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!