NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Perjamuan yang Mengasingkan

​Malam itu, aula mewah kediaman Jacob dipenuhi oleh aroma lilin aromaterapi dan denting alat makan perak. Namun, bagi Vanya, ruangan itu tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara yang melelahkan. Ia melangkah masuk ke ruang makan utama dengan gaun hitam yang elegan, tangan kirinya bertumpu pada lengan Devan. Secara visual, mereka adalah pasangan sempurna, namun Vanya bisa merasakan otot lengan Devan yang kaku, seolah pria itu terpaksa menyentuhnya.

​Langkah mereka terhenti saat semua mata tertuju pada leher Vanya. Sebuah kalung berlian dengan potongan emerald cut yang sangat langka melingkar di sana. Kilauannya begitu murni hingga sanggup memantulkan cahaya dari sudut ruangan terjauh.

​"Vanya," suara Olivia Jacob memecah keheningan, matanya menyipit penuh selidik. "Dari mana kau mendapatkan kalung itu? Itu bukan bagian dari warisan keluarga yang kuberikan tadi sore."

​Vanya tersenyum tipis, sebuah senyum sopan yang tidak mencapai matanya. "Aku menyukainya, jadi aku membelinya, Bu."

​"Membelinya?" Olivia mendengus, meletakkan gelas anggurnya dengan hentakan kasar. "Kau pikir aku tidak tahu berapa harga perhiasan seperti itu? Kau pasti menggunakan kartu kredit keluarga Jacob yang kuberikan untuk kebutuhan rumah tangga. Beraninya kau menghamburkan uang keluarga hanya untuk hura-hura dan pamer seperti ini!"

​Vanya hanya diam. Ia tidak membantah, meski ia tahu bahwa kartu kredit pemberian Olivia bahkan tidak memiliki limit yang cukup untuk membeli satu butiran kecil dari berlian yang dipakainya. Biarlah mereka berpikir ia adalah menantu boros itu jauh lebih baik daripada mereka mengetahui bahwa ia adalah pemilik Lumina Jewelry yang sahamnya sedang meroket.

​Tepat saat Devan hendak menarik kursi untuk Vanya, pintu ruang makan terbuka. Viona Damian masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tampak cemas yang dibuat-buat, dan tanpa memedulikan etika, ia berlari menghampiri mereka.

​"Devan!" seru Viona. Dengan gerakan cepat yang penuh kepemilikan, ia menarik tangan Devan dari genggaman Vanya. "Aku tadi merasa sesak napas di luar, aku mencarimu ke mana-mana."

​Vanya terdiam. Tangannya yang baru saja terlepas dari lengan suaminya kini menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia turunkan dengan tenang. Ia mengabaikan pemandangan memuakkan itu—di mana suaminya justru memegang bahu Viona dengan tatapan khawatir, seolah istrinya yang sah tidak sedang berdiri tepat di depan mereka.

​Vanya melangkah maju tanpa kata, menarik kursinya sendiri, dan duduk di sebelah Olivia. Pemandangan di meja makan itu benar-benar gila. Davit Jacob sedang tidak hadir karena urusan bisnis di luar kota, sehingga tidak ada sosok otoriter yang bisa mengerem tingkah laku mereka. Olivia, yang seharusnya menjaga martabat keluarga, justru hanya melirik sekilas ke arah Devan dan Viona, lalu kembali memotong steaknya seolah perselingkuhan anaknya di depan mata sang istri adalah hal yang lumrah.

​"Viona, duduklah di sini. Kau terlihat pucat sekali," ujar Rose, kakak ipar Vanya, sambil menunjuk kursi kosong yang seharusnya menjadi tempat duduk Karlo yang belum datang.

Rose yang memuji gaun viona,Gaunmu cantik sekali malam ini. Sangat cocok dengan kalung itu. Menurut ku biasa saja ucap bella

​Mereka semua sibuk berbicara dengan Viona. Tertawa, memuji, dan memberikan perhatian seolah Viona-lah menantu sah di rumah itu. Vanya duduk di sana, di tengah kerumunan orang, namun ia merasa seperti bayangan. Ia tidak dianggap ada. Ia adalah kursi kosong yang kebetulan sedang diduduki.

​Vanya memotong makanannya dengan gerakan presisi. Ia mengingat kembali masa kuliahnya, saat ia jatuh cinta pada Devan yang dulu begitu hangat. Pria yang sekarang sedang menyuapi Viona itu adalah pria yang sama yang pernah ia puja. Rasa sakitnya masih ada, namun kini terlapisi oleh rasa dingin yang ia bangun selama lima bulan terakhir.

​Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menarik-narik ujung gaun Vanya.

​"Tante Vanya..." bisik sebuah suara lembut.

​Vanya menoleh ke samping. Mikaila, putri kecil Karlo yang berusia lima tahun, sedang menatapnya dengan mata bulat yang polos. Hanya anak kecil ini yang tampaknya sadar bahwa ada satu manusia lagi di meja itu yang sedang diabaikan.

​"Iya, Sayang?" Vanya mengusap pipi Mikaila dengan lembut.

​"Tante cantik sekali pakai kalung itu. Seperti putri di buku ceritaku," ucap Mikaila tulus.

​Vanya merasakan tenggorokannya tercekat. Di tengah kebisingan tawa Rose, Viona, pujian tulus dari Mikaila adalah satu-satunya hal yang nyata. "Terima kasih, Mikaila. Kamu juga sangat cantik malam ini."

​"Tante kenapa diam saja? Mau main denganku setelah ini?" tanya Mikaila lagi.

​"Mikaila, jangan ganggu Tante Vanya. Dia sedang sibuk memikirkan berapa banyak lagi uang Nenek yang akan dia habiskan besok," sahut Olivia tajam tanpa menoleh.

​Vanya menarik napas dalam. Ia menatap Devan yang sedang tertawa mendengar cerita Viona. Devan bahkan tidak melirik ke arahnya sedetik pun. Di meja itu, Vanya menyadari sepenuhnya ia adalah orang asing yang memiliki kunci brankas mereka, namun mereka menganggapnya sebagai pengemis.

​Tunggu saja, batin Vanya sambil menyesap air putihnya dengan anggun. Saat kalian tahu bahwa aku bisa membeli rumah ini beserta isinya tanpa keringat, aku ingin melihat apakah tawa kalian masih senyaring ini.

​Malam itu, perjamuan berakhir dengan pengabaian yang sempurna. Namun bagi Vanya, ini adalah konfirmasi terakhir yang ia butuhkan. Cintanya pada Devan mungkin masih menyisakan luka, namun harga dirinya sebagai wanita mandiri telah jauh melampaui rasa sakit itu. Ia akan terus menjadi "Istri Pajangan" yang membosankan di mata mereka, sampai tiba waktunya ia meledakkan bom yang akan meruntuhkan kesombongan keluarga Jacob.

​Lobi ballroom Hotel Golden masih ramai oleh para tamu kelas atas saat keluarga Jacob bersiap untuk meninggalkan lokasi. Vanya berdiri mematung di dekat pilar marmer, sementara di hadapannya, Devan sudah menggandeng mesra Viona menuju lobi utama tempat mobil-mobil mewah diparkir.

​"Kau pulang diantar supir hotel atau supir kantor. Tunggu saja di sini sampai mobilnya datang," perintah Devan dingin tanpa menoleh. Suaranya cukup keras hingga beberapa tamu yang lewat sempat melirik dengan tatapan kasihan.

​Rose Jacob, kakak iparnya, merapikan syal sutranya sambil menatap Vanya dengan pandangan merendahkan. Di sampingnya, beberapa teman sosialitanya berbisik-bisik.

​"Adik ipar, maaf ya kau tidak bisa ikut di mobil kami. Mobilnya sudah penuh karena barang belanjaanku dan barang-barang promosi tadi, dan mikaila harus duduk di depan supaya tidak mual karena dia sedang tidak enak badan," ucap Rose dengan nada sinis yang dibuat-buat.Mobil devan dan viona sudah melaju sangat jauh.

​Vanya hanya diam. Di dalam hatinya, ia teringat pada Raisa Benjamin, kakak iparnya di keluarga Benjamin. Raisa memang kaku karena tuntutan keluarga mereka, tapi ia tidak pernah merendahkan Vanya di depan umum seperti yang dilakukan Rose saat ini. Di sini, di hotel ini, Vanya merasa benar-benar dikeroyok oleh kebencian yang tidak berdasar.

​Bella Jacob yang melihat kakaknya dan Rose begitu jahat, merasa tidak enak hati.

​"Kak Vanya... mau Bella temenin?" tanya Bella pelan, mencoba menawarkan sedikit kehangatan.

​Vanya menatap adik bungsunya itu dan menggeleng pelan. "Gak usah, Bel. Kamu ikut mereka saja, jangan sampai mereka menunggumu."

​"Tapi Kak... hati-hati ya d jalan," ucap Bella tulus.

​Vanya mengangguk, "Iya, hati-hati juga ya, Bel."

​Tepat sebelum mereka melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu di valet, Olivia Jacob memberikan titah terakhirnya. Ia berhenti sejenak, menatap Vanya dengan tajam di tengah keramaian lobi hotel.

​"Langsung pulang. Jangan kemana-mana. Aku tidak mau mendengar kabar menantu Jacob keluyuran malam-malam sendirian di luar tanpa tujuan yang jelas. Jaga martabatmu!" tegas sang ibu mertua sebelum akhirnya berlalu.

​Brak! Pintu mobil mewah itu tertutup, meninggalkan Vanya sendirian di tengah kemegahan lobi Hotel Golden. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma parfum mahal yang tertinggal di udara hilang perlahan.

​Vanya meraba kalung berlian di lehernya. Mereka mengira ia sedang menunggu supir dengan perasaan hancur, padahal di dalam tas kecilnya, sebuah pesan dari Sesilia baru saja masuk: "Nona, supir Anda sudah siap di pintu keluar VIP. Tim desain sudah menunggu untuk rapat darurat koleksi musim depan."

​Vanya tersenyum tipis. Di hotel ini, mereka baru saja membuang seorang "istri pajangan", tanpa menyadari bahwa mereka baru saja meninggalkan pemilik asli dari kemewahan yang mereka pamerkan.

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!