NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Kembar

Di Balik Topeng Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: Diyanathan

Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.

Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.

Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.

Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran Akhir & Persatuan Keluarga

Suasana pertempuran segera mereda dengan cepat begitu sosok Nicolas terjatuh tak berdaya di lantai. Belum sempat para anggota Organisasi Cakrawala menyadari apa yang terjadi, barisan pasukan lain melesat masuk ke dalam ruangan dengan gerakan teratur dan sangat terlatih. Mereka adalah anak buah Gabriel, pasukan khusus yang selama ini setia menjaga setiap langkah Ziva.

Gabriel sendiri melangkah maju dengan tatapan tajam, langsung berdiri di sisi kanan Ziva seolah telah ada di sana sejak lama. "Nona, kami datang tepat waktu. Semua jalan keluar sudah terkunci rapat, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa lolos," lapornya singkat dan tegas.

Ziva hanya mengangguk pelan. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia melangkah mendekati Nicolas yang terbaring lemas dan masih berusaha bangkit. Dengan satu tarikan tangan yang kuat namun presisi, ia menarik tubuh pria itu hingga berdiri seketika, lalu melipat lengannya ke belakang dengan teknik khusus yang membuat Nicolas tidak bisa bergerak sama sekali. Gerakannya begitu luwes dan terlatih, menunjukkan betapa mahirnya ia dalam hal ini.

Setelah mengikat tubuh Nicolas dengan tali khusus yang sangat kuat, Ziva menyerahkannya tepat ke hadapan Gabriel. "Urusi dia sampai tuntas. Masukkan ke tempat yang paling aman dan pastikan dia tidak bisa melarikan diri lagi. Jangan beri dia kesempatan sekecil apa pun untuk mengulangi perbuatannya," perintahnya dengan nada dingin dan berwibawa.

"Siap, Nona. Akan saya pastikan dia tidak pernah mengganggu kita lagi," jawab Gabriel patuh, lalu membawa Nicolas pergi diiringi pasukannya.

Begitu situasi sudah benar-benar aman, Kevin segera berlari menghampiri Ziva. Wajahnya masih terlihat cemas bercampur rasa lega yang luar biasa. Ia langsung memeluk tubuh adiknya erat-erat, memeriksa setiap bagian tubuh Ziva dengan tangannya seolah memastikan tidak ada satu pun luka atau goresan yang menempel di sana.

"Syukurlah... Kamu selamat. Maafkan Kakak yang terlambat datang, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu lebih baik lagi," gumam Kevin lembut, suaranya bergetar karena rasa haru.

Namun pelukan itu hanya bertahan sebentar. Pikiran Ziva seketika melayang pada sosok lain yang lebih membutuhkan perhatiannya. Ia segera melepaskan diri dari pelukan kakaknya, lalu berbalik dan berlari cepat menuju sudut ruangan tempat Zio tergeletak masih belum sadarkan diri.

Ia berlutut di samping tubuh saudaranya itu, tangannya gemetar saat menyentuh dahi dan wajah Zio yang masih pucat. Matanya berkaca-kaca menahan rasa bersalah dan sedih.

"Bagaimana ini... Kak Zio terluka cukup parah. Apakah dia baik-baik saja? Jangan sampai terjadi apa-apa padanya," ucap Ziva dengan suara lirih yang terdengar khawatir sekali.

James segera mendekat dan berjongkok memeriksa kondisi putranya itu dengan tenang dan teliti. Setelah beberapa saat memeriksa napas, detak jantung, dan luka-luka ringan di tubuh Zio, raut wajah James perlahan melunak dan ia menghela napas panjang lega.

"Tenang saja sayang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Luka-lukanya hanya memar dan lelah karena terlalu memaksakan tenaga. Tidak ada cedera serius apa pun. Sejak kecil memang tubuh Zio agak lemah dibandingkan kalian berdua. Otaknya cerdas luar biasa, tapi fisiknya memang butuh waktu lebih lama untuk pulih," jelas James lembut.

Ia lalu mengangkat tubuh Zio dan membaringkannya dengan hati-hati di atas kursi panjang, memastikan posisinya nyaman agar dia segera sadar kembali.

Suasana hening sesaat, hingga akhirnya Kevin yang sejak tadi menatap Ziva dengan pandangan penuh rasa ingin tahu yang tak tertahankan, mengajukan pertanyaan yang selama ini menggantung di hatinya.

"Ziva... Sekarang semuanya sudah aman. Katakan padaku sebenarnya, siapa dirimu? Gerakanmu, cara bertarungmu, dan pasukan yang datang tadi... Semuanya tidak mungkin dimiliki oleh gadis biasa. Kamu bukan sekadar putri keluarga Sterling kan?" tanya Kevin serius, matanya menatap tajam seolah ingin membaca semua rahasia di hati adiknya itu.

Namun Ziva hanya tersenyum kecil, lalu mengangkat wajahnya dengan ekspresi polos dan lugu persis seperti gadis yang ia kenal sehari-hari.

"Aku ini hanya adikmu, Kak. Tidak lebih dan tidak kurang," jawabnya ringan, berusaha menyembunyikan identitas aslinya sekali lagi.

James yang melihat itu hanya tersenyum geli, lalu menepuk bahu Kevin untuk menenangkannya sekaligus membuka sedikit tabir rahasia itu.

"Sudahlah, biarkan saja dia mau menyembunyikan apa. Kamu lihat pria berbadan atletis dan sangat disiplin yang tadi datang bersamanya? Namanya Gabriel. Dia adalah tangan kanan terpercaya yang sangat dikenal di dunia bawah tanah. Bahkan Ayah pun sering bertemu dia saat menghadiri pertemuan antar pemimpin organisasi," jelas James perlahan.

Mendengar penjelasan itu, mata Kevin langsung membelalak tak percaya. Ia menoleh cepat menatap Ziva dengan pandangan takjub.

"Apa?! Gabriel?! Tangan kanan yang paling ditakuti dan setia itu?! Tidak mungkin... Bagaimana kamu bisa mengenal dia seakrab itu? Atau jangan-jangan... Kamu sedang berpacaran dengannya? Itu sebabnya dia datang melindungimu?" seru Kevin dengan nada terkejut dan sedikit cemburu, membuat James hanya bisa menggelengkan kepala pasrah melihat tingkah putranya yang meski hebat di medan perang, tapi lambat memahami hal semacam ini.

"Bukan seperti itu Kak, aku..." Ziva ingin menjelaskan, tapi bingung harus memulai dari mana.

Melihat Ziva yang tertekan, James segera menyelamatkan situasi itu. "Sudahlah, nanti saja kita bicarakan panjang lebar di rumah. Yang paling penting sekarang adalah semua anggota keluarga kita selamat tanpa kekurangan apa pun. Ayo kita cari Zea yang pasti sudah menunggu di luar, lalu kita segera pulang," kata James tegas namun hangat.

Sesampainya di luar, mereka berpisah masuk ke dalam dua mobil. Ziva duduk satu mobil bersama ayahnya, sedangkan Kevin, Zio yang sudah sadar sedikit, dan Zea bergabung di mobil kedua yang berjalan tepat di belakang.

Begitu pintu mobil tertutup dan mereka mulai melaju meninggalkan area kampus, Ziva tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang sudah memuncak selama bertahun-tahun. Ia menatap wajah ayahnya dengan pandangan serius.

"Ayah... Sekarang sudah tidak ada lagi yang perlu ditutupi. Katakan padaku yang sebenarnya. Ada apa dengan keluarga Sterling selama ini? Mengapa semuanya memiliki kemampuan dan kekuatan yang luar biasa seperti ini?" tanya Ziva langsung pada intinya.

James menarik napas panjang, lalu menatap putri kesayangannya dengan pandangan lembut sekaligus bangga.

"Baiklah, sekarang waktunya kamu tahu semuanya. Selama ini kami menyembunyikan identitas asli keluarga kita karena takut kamu akan terkejut, takut kamu akan merasa tidak nyaman, atau bahkan takut kamu pergi dan menolak mengakui kami sebagai keluargamu. Keluarga Sterling ini bukan sekadar keluarga kaya pemilik perusahaan besar. Kami adalah keluarga mafia paling kuat dan paling dihormati serta ditakuti di seluruh wilayah kota ini. Dahulu Ayah yang memimpin semuanya, dan sekarang kepemimpinannya sudah diteruskan kepada Kevin. Saat kami mendengar berita bahwa kalian disandera, jantung Ayah serasa berhenti berdetak. Tanpa berpikir panjang, kami langsung turun tangan dengan seluruh kekuatan yang kami miliki untuk memastikan kalian selamat," jawab James jujur.

Ziva tertegun mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa keluarga yang selama ini ia anggap sebagai keluarga pebisnis biasa ternyata adalah penguasa dunia gelap di kotanya sendiri. Rasa kagum sekaligus lega memenuhi hatinya.

Namun, sebelum sempat Ziva berkata apa-apa lagi, James tersenyum kecil dan melanjutkan ucapannya dengan nada lembut.

"Tapi nak... Jangan kira hanya kami yang punya rahasia. Ayah sudah lama menduga siapa dirimu sebenarnya. Mengapa kamu juga tidak pernah memberitahu kami bahwa kamu adalah sang Ratu Mafia yang legendaris itu?" tanya James tiba-tiba.

Ziva terkejut luar biasa hingga matanya membulat sempurna. "Ayah... Ayah sudah tahu? Sejak kapan?"

James tertawa pelan melihat ekspresi terkejut putrinya itu. "Karena Gabriel, Nak. Selama ini semua pemimpin organisasi tahu bahwa Ratu Bayangan memiliki tangan kanan bernama Gabriel yang mewakilinya ke mana-mana. Identitas ratunya sendiri tidak pernah diketahui siapa pun, wajahnya tersembunyi rapat. Tapi sejak pertama kali Ayah melihat Gabriel selalu berada di dekatmu, melindungimu, dan mengikuti setiap perintahmu... Ayah mulai sadar. Siapa lagi dia bisa sepenuh hati mengabdi selain kepada tuannya sendiri? Ayah tidak menyangka bahwa sosok perkasa yang ditakuti banyak orang itu ternyata adalah putri Ayah sendiri."

Mendengar pengakuan itu, beban berat yang selama ini memikul pundak Ziva seketika terangkat sempurna. Air matanya mengalir perlahan, bercampur rasa lega dan bahagia yang mendalam.

"Sebenarnya... Aku tidak ingin mengungkapkan jati diriku ini selama ini, Ayah. Aku takut jika kalian tahu, kalian akan terlibat dalam bahaya dan masalah yang menimpaku. Aku memiliki begitu banyak musuh yang mengincar nyawaku. Jadi aku memilih untuk menyembunyikan segalanya dan diam-diam melindungi kalian dari balik tirai, agar kalian bisa hidup tenang dan aman tanpa rasa khawatir," ungkap Ziva tulus.

James tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengulurkan tangannya dan memeluk tubuh putrinya erat-erat, seolah ingin menyatukan semua rasa sayang, kebanggaan, dan kepercayaan yang tak terucapkan.

"Anakku yang hebat... Mulai hari ini tidak ada lagi rahasia di antara kita. Tidak ada lagi yang menyembunyikan kekuatannya, tidak ada lagi yang merasa sendirian. Kita adalah satu keluarga yang sama kuatnya, sama tangguhnya, dan saling melindungi. Keraguan kita selama ini sudah usai, dan kebahagiaan serta kekuatan kita baru saja dimulai," bisik James lembut.

Malam itu, perjalanan pulang terasa sangat berbeda. Semua tirai yang menutupi kebenaran akhirnya terbuka, dan keluarga Sterling kini berdiri sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan—kuat, tangguh, dan siap menghadapi apa pun yang datang di depan mereka bersama-sama.

1
YusWa
karya baru Thor? semangat semoga sukses
Diyanathan: Terimakasih suportnya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!