Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: LINTASAN MAUT
08:08:15 (Sisa waktu sebelum Auto-Resume bom: ± 45 detik)
Suara klakson kereta bandara terdengar seperti jeritan monster logam yang marah. Sorot lampu LED-nya yang menyilaukan membelah kegelapan terowongan masuk, mengubah rel menjadi panggung kematian yang terang benderang.
"MAYA! AWAS!" teriak Vero.
Wanita di rel itu terpeleset di atas batu kerikil (ballast). Kakinya terkilir. Dia jatuh berlutut tepat di tengah jalur lintasan, tas pendingin medisnya terlempar beberapa meter darinya.
Maya menoleh ke arah cahaya yang mendekat. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak lebar, lumpuh oleh teror (frozen in fear).
Vero tidak berpikir. Dia tidak menghitung peluang.
Dia melompat dari bibir peron setinggi satu meter itu.
Bruk!
Vero mendarat di atas batu-batu tajam. Rasa sakit menjalar di pergelangan kakinya, tapi adrenalin meredamnya seketika.
Di atas peron, pasukan Unit Delta mulai menembak.
TATATATA!
Peluru-peluru menghantam beton peron dan rel di sekitar Vero, memercikkan bunga api.
"Sarah! Tembak balik!" teriak Vero tanpa menoleh.
Di atas sana, Sarah yang berlindung di balik tiang beton, mengangkat pistol rampasannya. Dengan tangan gemetar tapi mata terpejam setengah, dia menekan pelatuk secara acak ke arah tangga tempat pasukan Delta berada.
Dor! Dor! Dor!
Tembakan itu tidak kena sasaran, tapi cukup untuk membuat pasukan Delta menunduk berlindung sejenak (suppressive fire).
Itu memberi Vero dua detik yang berharga.
Vero berlari menerjang Maya. Kereta sudah berjarak kurang dari 50 meter. Pengereman darurat kereta terdengar memekakkan telinga—besi beradu besi—tapi momentum ribuan ton itu tidak akan berhenti tepat waktu.
"Pergi! Jangan sentuh aku!" jerit Maya, mencoba merangkak menjauh. Dia masih mengira Vero adalah algojo Adrian.
"Aku bukan musuhmu, bodoh!" bentak Vero.
Vero menyambar pinggang Maya, lalu membanting tubuh mereka berdua ke samping, menjauhi rel aktif menuju celah sempit di bawah bibir peron (overhang).
WHOOOOSSSHHH!
Kereta Bandara itu melintas dengan kecepatan tinggi hanya setengah detik kemudian.
Angin kencang dari kereta yang melaju menampar wajah mereka. Roda-roda besi berputar hanya berjarak sentimeter dari hidung Vero. Suara bisingnya begitu keras hingga rasanya gendang telinga mau pecah.
Vero menekan tubuh Maya ke dinding beton di bawah peron, melindunginya dengan tubuhnya sendiri dari debu dan kerikil yang beterbangan. Maya meronta, memukul dada Vero, menangis histeris.
"Lepaskan! Lepaskan!"
"Diam!" Vero mencengkeram bahu Maya. Dia mendekatkan wajahnya, berteriak mengatasi suara kereta. "Adrian yang menembak stasiun ini! Aku yang menembak Adrian! Kalau aku mau membunuhmu, kau sudah mati di atas sana!"
Maya berhenti meronta. Dia menatap mata Vero. Di dalam kegelapan celah sempit itu, diterangi oleh kilatan cahaya jendela kereta yang lewat silih berganti, Maya mencari kebohongan.
"Siapa... siapa kau?" isak Maya.
"Orang yang sama sepertimu. Korban," jawab Vero cepat. "Dengar, kita tidak punya waktu. Stasiun ini akan meledak dalam..." Vero melirik jam tangannya yang retak. "...tiga puluh detik lagi."
Mata Maya membelalak. "Meledak?"
"Bom di fondasi. Adrian mengaktifkannya. Aku tidak bisa menghentikannya di putaran ini. Kita akan mati."
Maya gemetar hebat. Dia memeluk lututnya. "Jadi... percuma? Aku lari... percuma?"
"Tidak percuma kalau kau memberitahuku kuncinya," desak Vero. Dia mencengkeram lengan Maya. "Adrian bilang kau membawa Source Code di tas itu. Kode untuk menghentikan semua ini. Benar?"
Maya menatap tas pendingin medis yang tergeletak di antara rel, untungnya tidak terlindas kereta karena jatuh di tengah bantalan rel.
"Itu... itu Drive Omega," bisik Maya. "Kunci enkripsi untuk mesin Loop."
"Bagaimana cara kerjanya? Bagaimana cara mematikannya?" tanya Vero mendesak.
"Harus dimasukkan ke Terminal Induk," jawab Maya cepat. "Di kantor pusat Triad. Tapi... tapi aksesnya butuh biometrikku. Dan sandi suara."
"Sandi suara?"
"Frasa kunci. Tanpa itu, sistem akan mengunci permanen."
Vero mengguncang bahu Maya. "Apa frasanya? Katakan padaku! Di kehidupan selanjutnya, aku akan mencarimu lebih awal. Aku akan membawamu ke sana. Tapi aku butuh kau percaya padaku!"
Kereta di atas mereka mulai melambat dan berhenti. Suara bising mereda.
Tapi sekarang terdengar suara lain. Suara sepatu bot tentara yang melompat turun ke rel. Unit Delta turun memburu mereka.
"Mereka datang!" bisik Maya ketakutan.
Vero mengintip dari celah roda kereta. Dia melihat kaki-kaki berseragam hitam mendekat, menyisir kolong kereta dengan senter laser.
"Waktu habis," batin Vero.
Dia menatap Maya lagi. "Katakan frasanya, Maya. Tolong. Demi dunia yang normal. Demi keluargamu."
Maya menatap Vero dengan air mata berlinang. Dia melihat kesungguhan yang putus asa di wajah pria asing itu.
Dia menarik napas panjang.
"Frasanya adalah..." Maya membisikkan sesuatu di telinga Vero.
Vero mengangguk, merekam kata-kata itu ke dalam otaknya.
"Terima kasih."
Vero melepaskan pelukannya. Dia mengambil Glock 19-nya, lalu merangkak keluar dari persembunyian.
"Tetap di sini."
"Kau mau ke mana?"
"Membeli waktu," kata Vero.
Dia berdiri di tengah rel, di antara gerbong kereta yang diam.
Dua anggota Unit Delta melihatnya. Senter menyilaukan wajahnya.
"Target terlihat!"
Dor! Dor!
Vero menembak duluan. Satu jatuh.
Tapi tiga lainnya membalas tembakan.
Trak! Trak!
Dua peluru menembus dada Vero.
Dia terhuyung mundur, punggungnya menabrak gerbong kereta. Darah keluar dari mulutnya.
Dia merosot duduk. Pandangannya mulai gelap.
Dia melihat jam tangannya untuk terakhir kali.
08:09:00.
Batas waktu Adrian habis. Timer bom di fondasi kembali aktif.
BOOM!
Ledakan dari bawah tanah itu datang seperti gempa kiamat.
Lantai beton di atas kepala mereka runtuh. Pilar-pilar stasiun patah seperti lidi.
Kereta bandara seberat ratusan ton itu terangkat dan terguling, menghancurkan segalanya di jalurnya.
Vero tersenyum di detik terakhir.
Dia mati.
Tapi dia membawa kuncinya.
LOOP RESET
Sentakan kasar.
Vero membuka mata.
Paru-parunya menyedot udara dingin gerbong kereta komuter pagi hari.
"Stasiun Pusat. Pemberhentian terakhir..."
Vero langsung melihat jam tangannya.
07:20:05.
Dia kehilangan satu menit lagi.
Tapi kali ini, tidak ada kepanikan. Tidak ada kebingungan.
Hanya ada fokus yang tajam dan dingin.
Dia tahu siapa musuhnya: Adrian.
Dia tahu di mana kuncinya: Maya.
Dia tahu senjatanya: Unit Delta (Glock & Senapan).
Dan dia tahu sandinya: "Chronos Devourer".
Vero menoleh ke Sarah.
"Sarah. Hari ini kita tidak akan menyelamatkan stasiun."
Sarah menatapnya bingung. "Hah? Apa?"
"Kita akan menculik seseorang," kata Vero sambil berdiri. "Dan kita akan menyerbu markas besar Triad Industries."
"Maksudmu... kita jadi penjahat?"
Vero tersenyum tipis. "Tidak. Kita jadi legenda."
Strategi pertahanan sudah usai.
Vero tidak akan lagi mencoba menjinakkan bom di stasiun atau kereta kargo. Itu buang-buang waktu.
Tujuan barunya adalah:
* Ambil senjata dari Bomber 1.
* Turun di Manggarai.
* Cegat Maya sebelum dia sampai di Stasiun Pusat (cegat di jalur transit atau stasiun sebelumnya).
* Bawa Maya langsung ke markas Triad.
Ini adalah gambit (langkah pembuka catur) yang berisiko tinggi. Dia akan membiarkan stasiun meledak di loop ini. Dia akan membiarkan ribuan orang mati di timeline ini, demi mematikan mesin waktu di sumbernya dan mengakhiri semua kematian ini untuk selamanya.
"Maafkan aku, Jakarta," batin Vero. "Tapi aku harus mengorbankan satu hari ini demi masa depan."
Vero berjalan ke Gerbong 4.
Langkahnya mantap.
Pria Jaket Hitam itu sedang melihat jam.
Vero mendekat, merangkul bahunya seperti kawan lama.
"Hai, Unit 01. Pinjam pistolmu lagi, ya?"
Sebelum pria itu sempat bereaksi, Vero sudah menghantamkan sikunya ke pelipis pria itu, mengambil pistol dan ponselnya, lalu berjalan keluar gerbong dengan santai.
Penumpang lain menatap ngeri.
"Tenang semuanya," kata Vero sambil mengacungkan pistol ke atas. "Ini cuma simulasi."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔