hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 17: DOA DAN HARAPAN DI UJUNG SENJ
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 17: DOA DAN HARAPAN DI UJUNG SENJA
Sore itu, matahari mulai condong ke barat, memancarkan sinar keemasan yang lembut masuk lewat celah-celah jendela kayu rumah sederhana itu. Namun, keindahan langit senja yang mempesona itu sama sekali tak mampu menghapuskan rasa cemas dan khawatir yang mendalam menyelimuti hati setiap penghuni rumah kecil tersebut. Di dalam kamar yang berukuran tidak terlalu besar itu, suasana terasa hening dan sunyi, hanya terdengar suara isak tangis tertahan serta doa-doa lirih yang terus terucap dari bibir mereka semua.
Ria masih terbaring lemah di atas kasur tipisnya yang sederhana. Wajah cantiknya yang biasanya bersinar ceria, kini tampak pucat pasi, nyaris tak ada darah yang mengalir di pipinya. Napasnya terasa pendek-pendek dan agak berat, sementara suhu tubuhnya masih terasa sangat panas membara, meski Embah Nur sudah pulang dan berpesan bahwa tak ada luka dalam yang parah, hanya saja tubuh Ria yang memang lemah dan syok hebat akibat jatuh keras tadi siang.
Bunda Maria duduk bersimpuh di tepi pembaringan, tak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya yang keriput menggenggam erat tangan mungil putri kesayangannya. Air mata Bunda terus menetes tanpa henti, membasahi pipi yang mulai keriput karena usia dan beban hidup yang berat. Di samping Bunda, berlututlah ketiga kakak laki-laki Ria: Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah. Wajah-wajah gagah mereka yang biasanya tegas dan kuat, kini tampak begitu muram, penuh rasa bersalah, dan terpukul luar biasa. Hati mereka terasa perih dan hancur melihat adik satu-satunya yang begitu mereka abaikan dulu, kini harus terbaring sakit karena ketidakberdayaan mereka melindunginya.
"Ya Allah... ampuni dosa kami semua..." gumam Bang Hamza pelan, suaranya bergetar menahan tangis yang hendak meledak. Ia menatap wajah Ria dengan pandangan yang penuh penyesalan yang tak terkira besarnya. "Semua ini salah kami, Bun... Salah kami sepenuhnya. Andai saja kami sadar lebih awal, andai saja kami tak bersikap dingin dan acuh tak acuh selama dua tahun ini, pasti Ria tak akan pernah merasa sendirian, pasti tak ada orang yang berani berbuat jahat padanya, dan pasti tubuh kecilnya ini takkan harus menanggung rasa sakit seberat ini..." ucapnya lirih namun penuh kepedihan.
Bang Arefin yang sedari tadi menunduk dalam, tak sanggup lagi menahan luapan emosinya. Ia menangkupkan wajahnya ke kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat menahan tangis yang akhirnya pecah juga. "Maafkan kami, Dik... Maafkan Abang, Hamza, dan Ardiansyah ya..." isaknya tertahan. "Ternyata selama ini, hari-hari yang kau jalani begitu berat dan menyakitkan sekali ya? Kau menanggung semua rasa sakit, ejekan, dan penghinaan itu sendirian tanpa pernah sekalipun mengadu atau menangis di depan kami... Betapa besar hati sabarmu, Dik, sementara kami ini kakak-kakak yang tak tahu diri, yang hanya sibuk dengan diri sendiri saja..."
Mendengar ucapan putra-putranya yang begitu menyalahkan diri sendiri itu, Bunda Maria pun mengusap air matanya, lalu berbicara dengan suara parau namun lembut, berusaha menguatkan hati mereka semua meski hatinya sendiri sedang remuk redam karena khawatir.
"Sudah... Nak, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri seperti itu," ucap Bunda pelan sambil mengusap lengan Bang Arefin dengan kasih sayang. "Tak ada manusia yang luput dari kesalahan dan kelalaian. Yang terpenting sekarang, kalian sudah sadar, kalian sudah berubah, dan kasih sayang kalian pada adikmu sudah kembali utuh seperti sediakala. Itu saja sudah menjadi obat paling mujarab bagi Ria. Percayalah, Nak, rasa sakit di tubuhnya akan sembuh seiring waktu, tapi rasa sakit di hatinya yang dulu terabaikan, hanya bisa disembuhkan oleh kasih sayang tulus dari kalian semua. Mulai sekarang, tebuslah segala kesalahan itu dengan selalu ada di sisinya, menjaganya, dan menyayanginya lebih dari apa pun."
Tak lama kemudian, perlahan namun pasti, kelopak mata Ria yang berat itu pun mulai bergerak. Ia membuka matanya perlahan, masih sayu dan pandangannya sedikit kabur, namun perlahan mulai jelas melihat wajah-wajah orang yang sangat dicintainya sedang mengelilingi tempat tidurnya dengan wajah cemas.
"Bunda...?" panggilnya pelan, suaranya lemah sekali namun terdengar jelas di keheningan kamar itu. "Abang... semua Abang ada di sini...?"
Mendengar suara lirih itu, seolah ada beban berat yang terangkat dari dada mereka semua. Bang Ardiansyah yang sedari tadi diam menyesali dirinya, segera mendekat dan mengusap kepala adiknya dengan sangat hati-hati dan penuh kelembutan.
"Kami semua ada di sini, Dik... Kami tak akan pergi ke mana-mana, kami akan tetap di sini menemanimu sampai kamu benar-benar pulih dan sehat kembali," jawab Bang Ardiansyah lembut, air matanya kembali menetes jatuh membasahi pipi. "Maafkan Abang ya... Maafkan Abang yang pagi tadi berjanji akan menjagamu, tapi justru membuatmu terluka dan sakit begini. Abang gagal menjagamu, Dik..."
Ria tersenyum tipis, senyum yang tulus dan ikhlas meski rasa sakit masih terasa menusuk di pinggang dan punggungnya. Ia menggeleng pelan, berusaha menggerakkan tangannya yang lemah untuk menyentuh tangan kakaknya.
"Jangan bicara begitu, Bang..." jawabnya pelan. "Abang sudah berusaha sebaik mungkin kok... Kalian sudah ada di sana, sudah membela Ria, dan sudah marah demi Ria. Itu saja sudah cukup bagi Ria. Sakit di badan ini nanti juga sembuh sendiri kok, Bang... Tapi rasa bahagia karena Abang-abang sayang sama Ria, itu yang takkan pernah hilang dari hati Ria."
Kalimat sederhana namun begitu dalam itu, membuat hati mereka semua semakin terasa terenyuh dan semakin bersungguh-sungguh berjanji dalam hati. Takkan pernah lagi mereka membiarkan adik satu-satunya itu terluka sedikit pun.
"Sudah ya, jangan banyak bicara dulu, nanti lelah," sela Bunda lembut sambil menyuapkan sedikit air hangat ke bibir Ria. "Minum dulu ya, Nak. Nanti kalau sudah agak enakan, Bunda siapkan bubur hangat, kamu harus makan sedikit biar obatnya masuk dan tenagamu cepat pulih kembali."
Di luar jendela, senja perlahan berganti menjadi malam. Langit mulai gelap, namun di dalam rumah itu, hati mereka justru terasa semakin terang dan hangat oleh ikatan kasih sayang yang kini terjalin jauh lebih kuat dari sebelumnya. Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah bergantian duduk berjaga di samping kasur Ria sepanjang malam itu, tak ada satu pun yang berniat tidur atau meninggalkannya sendirian. Di sela-sela keheningan malam itu, mereka pun saling berbisik dan berjanji satu sama lain, serta berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah senantiasa melindungi, menjaga, dan memberikan kesehatan yang sempurna bagi Ria, satu-satunya bunga yang tumbuh indah di tengah keluarga mereka yang sederhana ini.
Malam itu menjadi malam yang penuh harapan. Meski luka dan rasa sakit masih ada, namun satu hal yang pasti: Ria tak lagi berjalan sendiri. Di belakangnya kini berdiri tegap benteng terkuat, yaitu keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang, yang akan selalu ada untuknya selamanya.