Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian
Dengan langkah pasti Valerie kembali menuju ruangan rawat inap Ny. Ester, meski dia tahu akan menerima kata-kata yang kurang enak didengar olehnya tapi ini adalah cara dirinya untuk menebus semua kesalahannya yang sebenarnya bukan dia perbuat. Langkah kakinya terhenti ketika melihat Sulthan duduk bersandar dengan tatapan kosong menatap ke arah pintu ruangan tempat Ny. Ester sedang terbaring kaku. Pasti pikirannya sangat kacau sekali melihat ibu yang sangat dicintainya tertidur pulas. Kedua bola mata Valerie mulai berkaca-kaca, dia bisa merasakan bagaimana kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Apakah orang terdekat Vale akan seperti itu jika nanti dirinya dalam keadaan koma nanti?
Jujur Valerie benci sekali suasana seperti ini, di mana semua bersedih akan kepergiannya nanti. Tapi ada alasan kenapa Valerie tidak ingin hidup lama, karena dirinya merasa tidak ada yang pernah mencintainya termasuk kedua orang tuanya yang selalu sibuk akan pekerjaannya sejak dirinya masih kecil. Kurang perhatian dan kasih sayang membuat Valerie menjadi perempuan yang tidak tahu apa artinya cinta, sampai dirinya bertemu dengan Nathan yang memandang dirinya harus sempurna. Valerie tahu jika Nathan mencintai dirinya karena fisik bukan karena rasa cinta yang sebenarnya. Dari semua lelaki yang dikenal kebanyakan hanya melihat dirinya seorang perempuan yang sangat cantik yang harus tampil sempurna bukan seperti dirinya sendiri. Valerie benci dengan dirinya sendiri yang harus tampil sempurna di mata kedua orang tuanya dan Nathan, tidak ada yang mau menerima dirinya apa adanya, dari sana dirinya merasa tidak ada artinya hidup tanpa ada yang bisa mencintai dirinya apa adanya. Langkah kaki Valerie lama kelamaan mendekati Sulthan, sikapnya yang tadinya tenang mendadak terkejut dengan kedatangan Valerie. Tatapan dan sikap Sulthan masih sama seperti tadi begitu dingin dengan tatapan sinis.
"Maafkan aku, Om." Valerie memulai pembicaraan saat mengajak Sulthan Malik untuk berbicara di kantin Rumah sakit yang terlihat sedikit sepi.
Mereka duduk berdua berhadapan ditemani secangkir kopi panas yang baru saja dipesannya. Raut wajah Sulthan sepertinya sudah bisa diajak bicara baik-baik oleh Valerie setelah tadi terlihat sangat marah padanya.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Sulthan tanpa basa-basi langsung ke inti pembicaraan seraya menatap Vale yang sesekali tertunduk lesu.
"Sebenarnya aku bukan kekasihnya Jeevan yang sudah lama dipacari olehnya," jelas Valerie yang membuat Sulthan Malik terkejut dan kecewa.
Wajahnya yang tadi sudah mulai terlihat tenang kini kembali memancarkan amarah dan kekecewaan yang mendalam. Tatapannya kembali tajam menatap Valerie namun tidak membuat perempuan cantik yang takut akan ketinggian itu gentar. Valerie seolah sudah siap menghadapi Sulthan dengah skenario yang sudah disiapkan olehnya. Berharap jika semua akan baik-baik saja dan kembali berjalan normal.
"Apa maksudmu?" suara Sulthan terdengar sedikit meninggi dengan tatapan yang mengerikan.
Mulai saat ini Valerie adalah Tuhan di dalam skenario cerita dirinya dengan Jeevan, semua dia yang akan mengaturnya sesuai permintaan Jeevan, dan juga alasan bagi Valerie bisa mengakhiri hubungannya dengan Nathan.
"Maaf, Om. Sebenarnya aku dan Jeevan baru saling mengenal satu tahun lalu ketika dia masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya. Beberapa bulan kemudian kami bertemu lagi, namun Jeevan sedang sendiri dan dari sana kami mulai dekat dan memutuskan buat berpacaran. Hubungan kami berdua nggak pernah berjalan mulus karena sama-sama sibuk dan komunikasi yang nggak pernah baik. Tapi entah kenapa Tuhan kembali mempertemukan kami berdua lagi awal tahun kemarin. Dan kami berdua masih saling berkomunikasi sampai saat ini." Sulthan Malik mulai terbawa cerita Valerie dan mempercayainya.
"Apa kamu masih mencintai Jeevan?" Sulthan Malik tanpa basa-basi.
Glek, sepertinya papanya Jeevan tipe orang yang tidak suka basa-basi membuat Vale sedikit kebingungan. Semoga saja Vale tidak akan membuat kesalahan lagi dan bisa membuat Sulthan Malik percaya.
"Iya, Om," jawab Valerie tegas berhasil meyakinkan Sulthan.
Sulthan Malik hanya mengangguk percaya sambil terus menatap Valerie begitu lekat. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Valerie hanya bisa mencoba untuk tenang dan tidak terlihat gugup. Kenapa juga Valerie harus mengarang cerita bodoh seperti ini tanpa Jeevan tahu.
"Lantas kenapa kamu nggak mau menikah sama Jeevan?" Sulthan terus mencecar Valerie yang kini mulai terlihat gugup dibuatnya.
Di saat yang bersamaan Jeevan datang hendak mencari papanya memberitahu jika neneknya baru saja sadar. Tentunya Jeevan dibuat ketakutan ketika menemukan papanya sedang berbicara empat mata dengan Valerie. Apalagi yang sedang dibicarakan oleh mereka berdua, apa Valerie membuat masalah lagi sehingga membuat Sulthan murka. Dengan penuh rasa penasaran Jeevan membiarkan mereka berdua berbicara dan hanya bisa mendengar dari jarak yang tidak jauh dari tempat Valerie duduk.
"Alasanku menolak ajakan Jeevan menikah karena takut nggak bisa menjadi istri yang baik buatnya. Aku takut mengecewakan dia dan keluarganya," jawab Valerie membuat Jeevan yang mendengar dari kejauhan kaget bukan main.
Wajah Jeevan yang tadinya terlihat datar kini begitu terkejut dengan kedua bola mata membulat sempurna menatap Valerie yang sedang duduk membelakanginya. Apa maksud dari ucapan Vale itu.
"Om tahu kalau aku seorang model, dan pekerjaanku kadang menyita waktu. Aku takut nggak akan selalu ada buat Jeevan saat dia membutuhkanku."
"Itu bukan alasan kamu menolak ajakan Jeevan buat menikah, kan? Kamu bisa mengurangi kesibukanmu dan Om yakin kalau Jeevan juga mengerti akan profesimu," timpal Sulthan mencoba meyakinkan Valerie agar mau menikah dengan Jeevan.
Mendengar ucapan antara Valerie dan papanya membuat Jeevan semakin panasaran dan tidak mengerti apa maksudnya. Ingin rasanya Jeevan menghampiri mereka berdua bertanya apa yang sedang dibicarakan, tapi Jeevan memilih diam memperhatikan dari kejauhan. Sepertinya Sulthan Malik sudah masuk ke dalam skenario yang dibuat oleh Valerie, dan tinggal Vale yang harus bekerja sama dengan Jeevan.
"Kalau memang kami berdua menikah nanti, aku dan Jeevan belum bisa mempunyai anak karena masih banyak kontrak yang harus diselesaikan olehku satu tahun ini." Valerie kembali membuat skenario agar pernikahannya dengan Jeevan nanti tidak akan menimbulkan masalah hanya karena seorang anak yang belum hadir dalam kehidupan rumah tangganya.
Deg, Sulthan Malik sedikit kaget dan kecewa mendengarnya tapi itu bukan masalah jika memang Jeevan harus menunda keinginan mempunyai anak, tapi mungkin nenek dan istrinya yang begitu ingin menantikan kehadiran seorang anak dari Jeevan. Berbeda dengan Sulthan, justru Jeevan kaget bukan main mendengarnya. Mungkin saja dugaan Jeevan benar jika Valerie menyetujui untuk menikah dengannya, hanya sebatas kontrak.
"Itu bukan masalah. Selama kalian berdua baik-baik saja kami akan menantikan kehadirannya. Yang terpenting adalah kalian berdua bahagia dan Jeevan nggak akan mengecewakan kamu dan kami semua," ucap Sulthan secara lugas.
Kini wajah Sulthan Malik berubah sedikit ceria dan tenang karena masalah yang ditimbulkan oleh Jeevan selesai sudah. Sebisa mungkin Sulthan akan menghormati keputusan Jeevan dan Vale untuk menunda mempunyai momongan.
"Jadi Om nggak masalah kalau kami berdua menunda mempunyai anak?" Vale mengulang pertanyaan memastikan kepada Sulthan jika itu bukan masalah besar baginya untuk menikah.
"Nggak, sayang. Bagi Om, kebahagian kalian berdua adalah yang terpenting," jawab Sulthan seraya tersenyum manis membuat Valerie terhenyak untuk sesaat.
Baru kali ini Vale menerima perlakukan kasih sayang yang belum pernah diberikan oleh kedua orang tuanya. Dari keluarga Jeevan, Valerie bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang yang belum pernah diterimanya selama ini.
"Sekarang kamu temui Jeevan dan nenek. Bilang kalau semua baik-baik saja. Biar Om yang bilang sama Tante," ucap Sulthan membuat kedua bola mata Valerie berkaca-kaca.
Hati Valerie mulai tersentuh dengan sikap baik Sulthan Malik, sempat Valerie ingin mengurungkan niatnya kembali untuk berpura-pura menjadi calon istri Jeevan, tapi dia teringat satu hal yaitu hubungannya dengan Nathan yang harus segera diselesaikan, hanya dengan ini caranya Valerie bisa lepas dari Nathan. Menikah dengan Jeevan bukanlah ide yang buruk karena Jeevan juga tidak menginginkan sebuah pernikahan, mereka berdua mempunyai kesamaan tidak ingin menikah jadi Vale tidak akan merasa terbebani jika menikah dengan Jeevan nantinya.
Di sudut sana Jeevan begitu bahagia sampai tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, inikah yang dinamakan keajaiban. Jeevan tidak lagi harus pusing mencari alasan tentang Maura di depan keluarganya. Yang harus dilakukan sekarang adalah merencanakan kedepannya dengan Valerie.
"Kamu beneran mau pura-pura menjadi calon istriku?" tanya Jeevan ketika Valerie memberitahu keputusannya.
"Iya," jawab Valerie singkat ketika mereka berdua memilih berbicara di kantin rumah sakit.
"Kenapa kamu berubah pikiran?"
"Karena aku juga membutuhkanmu buat menyelesaikan masalahku," jawab Valerie singkat membuat Jeevan mengerutkan keningnya menatap Vale keheranan.
"Masalah?" Jeevan bertanya mengulang ucapan Vale dengan rasa penasaran.
Masalah apa yang Valerie maksud sehingga berubah pikiran dan mau berpura-pura menjadi calon istrinya.
"Pacarku mengajakku menikah, tapi aku belum siap buat menikah. Sama sepertimu, bagiku menikah sangat menyeramkan."
"Jadi kamu mau menggagalkannya?" tebak Jeevan.
"Yups. Seenggaknya ada alasan dan dia percaya. Meski kamu pura-pura menjadi calon suamiku."
"Calon suami?" Jeevan lagi-lagi bertanya mengulang ucapan Valerie dan perempuan cantik bermata coklat hanya mengangguk ringan.
Semua sudah berjalan sebagaimana semestinya, mungkin tadi Valerie hanya asal bicara kepada Sulthan untuk memperbaiki keadaan sekarang, tapi semua yang diucapkan olehnya hanyalah bohong. Valerie berpikir biarkan saja Sulthan menganggap jika mereka berdua sepasang kekasih dan beberapa bulan kemudian Jeevan harus mencari alasan kepada keluarganya jika hubungan mereka berdua sudah benar-benar berakhir. Tapi Jeevan mempunyai rencana lain yang akan membuat Valerie terus berada di dekatnya.
"Kenapa kita nggak menikah beneran aja?" ajak Jeevan bertanya dengan begitu santai membuat Valerie kaget bukan main.
Bagai disambar petir telinga Valerie mendengarnya saat ini, kenapa Jeevan tiba-tiba mengajaknya menikah? Padahal Vale hanya berpura-pura saja mau menikah dengan Jeevan kepada papanya.
"What! Kamu bercanda?" Valerie terlihat begitu shock menatap Jeevan dengan tajam.
"Nggak. Aku serius," jawab Jeevan singkat membuat Valerie terdiam tak bergeming.
"Kita sama-sama benci pernikahan dan sama-sama nggak mau terikat sama ikatan pernikahan, bukankah ada baiknya kita berdua pura-pura menikah, dengan begitu kita berdua nggak harus bertanggung jawab atas pasangan satu sama lain?"
Valerie kini mengerti maksud ucapan Jeevan, pernikahan ini menyelamatkan mereka berdua dari ikatan yang seharusnya dilakukan oleh suami-istri. Jika mereka berdua menikah, Valerie tidak harus bertanggung jawab sepenuhnya sebagai istri Jeevan sebagaimana mestinya. Dia masih bisa hidup bebas menikmati sisa hidupnya tanpa beban.
"Aku tetap akan memberikanmu nafkah materi, apa yang kamu mau akan ku kabulkan asalkan mau menikah denganku. Tenang aja, aku nggak akan menuntut hubungan suami istri denganmu, karena tujuan kita sama, kan?" tambah Jeevan lagi terus merayu Valerie yang terlihat mulai goyah dengan pendiriannya.
Diam, hanya diam yang Valerie lakukan saat Jeevan terus mencoba menawarkan solusi yang mungkin juga bisa menyelamatkannya dari Nathan. Apakah ini akan berhasil atau malah menimbulkan masalah?
"Berapa lama?" tanya Valerie menatap Jeevan begitu lekat membuat detak jantung lelaki yang mempunyai luka bakar di bagian belakang bahu mendadak berdetak tidak karuan.
Entah kenapa sejak pertemuan pertama mereka membuat Jeevan sedikit terganggu, perasaannya selalu berubah saat bertemu dan di dekat Valerie. Begitu merasa gugup, tegang ketika Vale menatap atau berbicara dekat dengannya. Apalagi ketika melihat kedua bola matanya, jantung Jeevan seperti tidak karuan.
"Dua tahun," jawab Jeevan singkat membalas tatapan Valerie.
"Nggak! Kelamaan!" tolak Vale keberatan dengan jangka waktu yang lama bagi mereka bersama dalam ikatan pernikahan.
"Satu tahun!" timpal Valerie tegas.
"Satu tahun setengah?" balas Jeevan mematahkan tawaran Valerie.
"Oke, deal! Satu tahun setengah!" Valerie mengulurkan tangan kanannya sebagian perjanjian tanda setuju.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪