NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Angin Pedang Purba dan Pemadatan Emas

​Tujuh hari tujuh malam berlalu tanpa suara di dalam Gua Puncak Pedang Patah.

​Bagi manusia fana, waktu selama itu mungkin terasa lama. Namun di dunia kultivasi, tujuh hari hanyalah sekejap mata. Banyak ahli Ranah Inti Emas yang bermeditasi selama puluhan tahun tanpa pernah membuka mata mereka. Lin Chen mulai menyadari bahwa perjalanannya menuju puncak semesta tidak bisa dicapai hanya dengan amarah dan ledakan emosi sesaat. Ia membutuhkan kesabaran yang mengakar kuat.

​Di tengah gua yang remang-remang, tubuh Lin Chen diselimuti oleh kepompong cahaya keemasan. Alih-alih meluas dan memancarkan aura yang menindas seperti sebelumnya, cahaya itu justru perlahan-lahan menyusut, tertarik kembali ke dalam pori-porinya.

​Di dalam Dantian Lin Chen, pusaran Taiji Emas yang luas sedang mengalami penyiksaan yang luar biasa.

​Lin Chen menggunakan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga bukan untuk menyerap energi dari luar, melainkan untuk menggiling dan memampatkan Qi miliknya sendiri. Gas Qi Emas itu ditekan secara brutal, didorong melampaui batas kepadatannya hingga menghasilkan rasa sakit yang membuat organ dalam Lin Chen seolah terbakar.

​"Tahan! Jangan biarkan Qi itu memuai kembali!" seru Mo Xuan, memantau proses itu dengan ketat. "Kultivator bodoh di dunia ini mengukur kekuatan dari seberapa besar aura yang bisa mereka pancarkan. Mereka tidak tahu bahwa kekuatan sejati terletak pada kepadatan! Tekan terus hingga Qi itu menangis!"

​Keringat yang mengucur dari dahi Lin Chen langsung menguap menjadi uap putih karena suhu tubuhnya yang melonjak. Urat-urat di lehernya menonjol tegang.

​Setelah melewati malam ketujuh yang menyiksa, sebuah fenomena menakjubkan terjadi di dasar Dantiannya.

​Tik.

​Suara tetesan air yang sangat pelan bergema di dalam tubuh Lin Chen.

​Gas Qi Emas yang tadinya memenuhi seluruh Dantian kini telah menyusut hingga hanya seukuran kepalan tangan balita. Namun, di pusat gumpalan gas yang sangat padat itu, setetes cairan berwarna emas murni terbentuk.

​Setetes Qi Cair Emas.

​Seketika itu juga, rasa sakit yang menyiksa tubuh Lin Chen lenyap, digantikan oleh sensasi kesejukan dan kekuatan yang tak terlukiskan. Tetesan cairan itu memancarkan fluktuasi energi yang kualitasnya berada di dimensi yang sama sekali berbeda dari Qi berbentuk gas.

​Lin Chen membuka matanya. Tidak ada ledakan aura yang merusak gua. Auranya kini sangat tenang, sedalam jurang tanpa dasar. Jika orang lain melihatnya sekarang, mereka mungkin mengira kultivasi Lin Chen telah turun ke Bintang 1, karena auranya begitu padat hingga tidak ada yang bocor ke luar.

​"Hanya satu tetes..." gumam Lin Chen, sedikit kecewa melihat ukuran Dantiannya yang kini terasa kosong.

​"Hanya satu tetes?! Bocah, jangan serakah!" Mo Xuan tertawa keras. "Mengubah Qi dari gas menjadi cairan adalah tanda mutlak dari Ranah Inti Emas! Kau baru berada di Bintang 8 Pengumpulan Qi, namun kau sudah berhasil memadatkan satu tetes Qi Cair Emas. Satu tetes ini memiliki daya hancur sepuluh kali lipat dari seluruh Qi gas Bintang 9 Gu Tianying!"

​Lin Chen tersenyum tipis. Ia mengerti. Pondasinya kini telah ditempa menjadi sekeras berlian. Daripada terburu-buru menerobos ke Bintang 9, ia akan menghabiskan waktu berbulan-bulan ke depan untuk perlahan-lahan mengubah seluruh Qi di tubuhnya menjadi cairan sebelum akhirnya membentuk Inti Emas yang sempurna.

​Lin Chen bangkit berdiri, membersihkan debu dari jubahnya, lalu berjalan keluar dari gua.

​Sinar matahari pagi menyilaukan matanya sesaat. Di luar gua, Puncak Pedang Patah tampak sama tandusnya seperti seminggu yang lalu. Angin kencang yang membawa hawa tajam bertiup tanpa henti, mengiris udara dengan suara wush, wush yang konstan.

​Tetua Feng pernah berkata bahwa puncak ini hancur karena sambaran petir kosmik dan menyisakan angin kacau. Namun, saat Lin Chen menenangkan pikirannya dan membiarkan angin tajam itu menerpa kulitnya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

​Sret!

Sebuah hembusan angin yang sangat kencang menyayat lengan baju Lin Chen, meninggalkan luka gores tipis di kulit lengan bawahnya. Padahal, kulitnya telah ditempa oleh Mandi Darah Naga hingga sekeras baja.

​Lin Chen menatap luka tipis itu, lalu menyipitkan matanya. Ia melangkah lebih jauh ke tepi tebing, mengabaikan angin yang semakin ganas menyayat pakaiannya. Matanya menyusuri pola retakan-retakan di batu karang di sekeliling tebing.

​"Ini bukan angin badai biasa," gumam Lin Chen. "Ini adalah sisa-sisa kemauan."

​"Oh? Kau menyadarinya?" Mo Xuan terdengar sedikit terkejut. "Ya. Tempat ini tidak hancur oleh petir kosmik. Tempat ini hancur oleh sebuah tebasan pedang."

​Lin Chen melompat turun dari sebuah batu besar, berjalan menuju pusat tebing di mana terdapat sebuah tugu batu raksasa yang telah terbelah dua. Di permukaan batu itu, terdapat sebuah garis lurus yang dalam.

​Meskipun sudah ratusan tahun berlalu, saat Lin Chen menatap garis itu, matanya tiba-tiba terasa perih, seolah ada jutaan jarum tak terlihat yang menusuk pupilnya. Pikirannya ditarik ke dalam sebuah ilusi sesaat: sesosok pria tua berambut acak-acakan yang tertawa gila menantang langit, mengayunkan pedang kayunya dan membelah awan kesengsaraan sejauh ribuan mil menjadi dua bagian.

​Lin Chen buru-buru memutus kontak matanya dari tugu batu itu, napasnya sedikit terengah.

​"Niat Pedang (Sword Intent)..." bisik Lin Chen dengan kagum. "Tetua Pedang Gila itu meninggalkan jejak Niat Pedangnya yang begitu kuat hingga menyatu dengan angin di puncak ini selama berabad-abad."

​"Kultivasi tidak hanya soal mengumpulkan Qi, bocah. Memahami hukum alam dan 'Niat' (Intent) adalah kunci sejati untuk melangkah ke Alam Atas," jelas Mo Xuan. "Banyak ahli sekte yang mencoba mempelajari peninggalan ini, tapi tidak ada yang tahan dengan sabetan anginnya. Jika kau bisa menghabiskan waktu beberapa bulan ke depan di sini, duduk di tengah angin ini untuk meresapi Niat Pedangnya, kau mungkin bisa mengembangkan Niat Pembantaianmu sendiri untuk menyempurnakan Langkah Bayangan Iblismu."

​"Itulah tepatnya yang akan kulakukan," Lin Chen duduk bersila tepat di depan tugu batu yang terbelah, membiarkan angin pedang yang buas menyayat pakaian dan kulitnya, menggunakannya sebagai tempaan alam.

​Namun, sebelum Lin Chen bisa sepenuhnya masuk ke dalam kondisi meditasi dalam, formasi pelindung Puncak Pedang Patah bergetar ringan. Ada seseorang yang menyentuh penghalang pelindungnya di pangkal jembatan pelangi.

​Lin Chen membuka matanya. Dengan lambaian tangannya, ia membelah sedikit kabut formasi agar bisa melihat ke luar.

​Di ujung jembatan, berdiri seorang pemuda berpakaian cendekiawan dengan jubah biru muda. Ia memegang sebuah kipas lipat bergambar bambu, tersenyum ramah ke arah puncak. Di dadanya, terdapat lambang pena dan perkamen yang disilang. Kultivasinya berada di Pengumpulan Qi Bintang 9.

​"Permisi, apakah ini kediaman Kakak Senior Lin Chen?" suara pemuda itu dialirkan menggunakan Qi, terdengar jelas meski dari jarak jauh. "Namaku Bai Muchen, dari Paviliun Angin Musim Gugur. Aku datang bukan untuk mencari masalah, melainkan membawa hadiah perkenalan."

​Mata Lin Chen menyipit. Pelataran Dalam memang tempat yang rumit. Titik pertemuan berbagai faksi, kepentingan, dan mata-mata.

​Ia berdiri dan melambaikan tangannya. Formasi cahaya terbuka selebar pintu, mengizinkan Bai Muchen masuk.

​Bai Muchen berjalan menaiki puncak dengan santai. Saat ia merasakan angin pedang tajam yang mengiris di puncak tersebut, senyumnya sedikit kaku dan ia buru-buru mengaktifkan pelindung Qi-nya. Ia menatap Lin Chen yang berdiri tanpa pelindung Qi di tengah badai angin itu dengan tatapan kagum yang tulus.

​"Luar biasa. Reputasi Kakak Senior Lin sebagai monster jenius rupanya bukan isapan jempol," Bai Muchen membungkuk sopan sambil menutup kipasnya.

​"Singkirkan basa-basinya. Paviliun Angin Musim Gugur? Aku tidak pernah mendengarnya," ucap Lin Chen langsung ke intinya.

​Bai Muchen tidak tersinggung. "Tentu saja. Anda baru sehari berada di Pelataran Dalam. Paviliun kami adalah faksi netral yang tidak ikut campur dalam perebutan sumber daya sekte. Kami hanya berdagang satu hal: Informasi."

​Bai Muchen merogoh cincinnya dan mengeluarkan sebuah Slip Giok berwarna hijau zamrud, menyodorkannya pada Lin Chen.

​"Ini adalah informasi dasar mengenai dinamika kekuatan di Pelataran Dalam. Mulai dari sepuluh faksi terbesar, hingga daftar nama dan keahlian seratus murid terkuat yang ada di Peringkat Surgawi (Heavenly Ranking)," jelas Bai Muchen. "Anggap ini sebagai investasi pertemanan dari Paviliun kami."

​Lin Chen tidak langsung mengambilnya. "Tidak ada makan siang gratis di dunia ini."

​"Memang tidak," Bai Muchen tersenyum misterius. "Kakak Senior Lin telah menyinggung Puncak Teratai Es. Tentu Kakak Lin berpikir bahwa musuh utamamu hanyalah Liu Meng'er dan gurunya, Tetua Bai. Tapi informasi di dalam giok itu akan memberitahumu bahwa Liu Meng'er telah dilamar oleh seseorang yang jauh lebih mengerikan. Seseorang yang bahkan faksi kami pun tidak berani menyinggungnya secara terbuka."

​Mendengar itu, alis Lin Chen sedikit terangkat.

​"Kau punya potensial besar, Lin Chen," Bai Muchen menatapnya serius. "Tapi Pelataran Dalam bukan tempat di mana kau bisa membantai musuhmu di hari pertama. Semua orang di sini adalah jenius, dan mereka dilindungi oleh Tetua yang kuat. Jika kau ingin bertahan hidup dan mencapai puncak, kau butuh aliansi dan informasi. Berhentilah membuat keributan selama beberapa bulan. Bangun fondasimu."

​Lin Chen menatap Bai Muchen selama beberapa detik, lalu mengulurkan tangannya mengambil Slip Giok tersebut.

​"Aku mengerti," ucap Lin Chen datar. "Terima kasih atas informasinya."

​"Sama-sama. Paviliun Angin Musim Gugur selalu membuka pintunya jika kau butuh membeli informasi spesifik," Bai Muchen membungkuk lagi, lalu berbalik pergi meninggalkan Puncak Pedang Patah.

​Setelah pemuda itu menghilang di balik jembatan pelangi, Lin Chen menempelkan Slip Giok itu ke dahinya. Aliran informasi masif seketika membanjiri otaknya. Struktur faksi, sumber daya sekte, nama-nama ahli Inti Emas, dan daftar Peringkat Surgawi.

​Tatapan Lin Chen akhirnya tertuju pada satu nama di Peringkat ke-3 Surgawi. Nama pemuda yang disebut-sebut telah mengklaim Liu Meng'er sebagai tunangannya yang baru, dan merupakan alasan utama mengapa faksi Puncak Teratai Es menjadi sangat ditakuti belakangan ini.

​Chu Kuangren. Kultivasi: Ranah Inti Emas Tahap Menengah.

Status: Pewaris Utama Sekte.

​Lin Chen perlahan menurunkan Slip Giok dari dahinya. Angin pedang purba berhembus liar menerpa wajahnya, namun matanya memancarkan ketenangan laut dalam.

​"Inti Emas Tahap Menengah..." gumam Lin Chen, meremas Slip Giok itu dengan ringan. "Sepertinya aku memang harus duduk tenang di puncak ini selama beberapa waktu. Ribuan langkah menuju langit selalu dimulai dari satu pijakan yang tak tergoyahkan."

​Lin Chen kembali duduk bersila di depan tugu batu yang terbelah. Ia menutup matanya, menyelaraskan napasnya dengan ritme angin. Di dalam Dantiannya, tetesan Qi Emas perlahan-lahan berputar, bersiap menyerap pencerahan yang ditinggalkan oleh para pendahulu selama ratusan tahun.

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!