NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Someone Else Was Watching

Malam itu mansion Serena terasa terlalu sunyi. Damien belum kembali sejak sore, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Serena bisa bernapas tanpa merasa terus diawasi.

Televisi menyala pelan di ruang keluarga, menampilkan ulang berita tentang dirinya dan Damien di depan studio tadi siang. Foto-foto mereka memenuhi layar. Damien memeluk pinggangnya, Damien melindunginya dari kamera, Damien menatapnya seperti pria yang tidak pernah benar-benar melepaskannya.

Ironis sekali bagaimana seluruh negeri menganggap itu romantis. Padahal Serena masih bisa mengingat jelas bagaimana tangan yang sama sempat mengunci dirinya di kamar.

Bel pintu berbunyi tepat saat jam menunjukkan hampir tengah malam.

Serena langsung menoleh. Denyut kecil muncul di dadanya. Mansion sebesar ini selalu terasa lebih menyeramkan saat malam terlalu sepi. Pelan, perempuan itu bangkit dari sofa lalu berjalan menuju pintu utama. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya, sementara suara hujan samar terdengar dari luar.

Bel berbunyi sekali lagi. Kali ini lebih panjang.

Serena membuka pintu perlahan.

Kosong. Tidak ada siapa pun di depan mansion. Hanya jalanan gelap yang basah oleh hujan dan udara malam yang menusuk kulit. Serena mengernyit kecil sebelum hendak menutup pintu, sampai matanya menangkap sesuatu di lantai.

Buket bunga besar.

Black roses bercampur dark red peonies, dibungkus pita satin hitam yang terlalu elegan untuk terlihat normal. Bunga-bunga itu cantik dengan cara yang mengganggu. Seperti sesuatu yang diletakkan di pemakaman mahal.

Jantung Serena mulai berdetak tidak nyaman saat melihat kartu kecil terselip di antaranya.

Tulisan tangannya rapi.

He touches you like he’s apologizing for something.

I think you look lonelier after he leaves.

— A

Darah Serena berdesir hebat. Bukan karena isi pesannya saja, tetapi karena orang ini tahu Damien pernah ada di sini. Tahu Damien pergi malam ini. Tahu sesuatu tentang dirinya yang bahkan tidak pernah Serena ucapkan keras-keras.

Perasaan sedang diperhatikan langsung menjalar pelan di kulitnya.

Serena buru-buru menutup pintu lalu memutar kunci lebih cepat dari biasanya. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil ponsel dari meja foyer. Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya ia menekan nama Damien.

Telepon diangkat cepat. “Ada apa?”

Suara Damien terdengar rendah dan tenang seperti biasa. Dan sialnya, hanya mendengar suara pria itu saja sudah membuat Serena sedikit lebih lega.

“Ada seseorang datang ke rumahku.”

Sunyi singkat.

Nada suara Damien langsung berubah. “Siapa?”

“Aku tidak melihat siapa-siapa. Dia meninggalkan bunga.”

“Bunga?”

Serena menatap buket hitam di meja. “Dan kartu.”

“Apa isi pesannya?”

Serena ragu beberapa detik sebelum membacakan isi kartu itu pelan. Semakin ia mengucapkannya, semakin kalimat-kalimat itu terdengar seperti seseorang yang berdiri terlalu dekat dengan hidupnya.

Di ujung sana, Damien diam cukup lama.

Lalu Serena mendengar suara lain.

“Damien.”

Liam Knox.

Nada suara pria tua itu terdengar tajam bahkan dari jauh. “Kau serius meninggalkan makan malam untuk perempuan itu lagi?”

Damien tidak langsung menjawab.

“Aku akan datang,” ucapnya pada Serena, lebih rendah sekarang.

Lalu suara Liam terdengar lagi, lebih jelas kali ini. “Besok pagi aku ada wawancara nasional dan putraku bahkan tidak bisa duduk di meja makan tanpa drama model murahan itu.”

Rahang Serena langsung menegang. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, suara Damien berubah dingin.

“Jangan bicara tentang Serena seperti itu.”

“Apa sekarang kau mau mempermalukan keluarga ini demi dia?” bentak Liam. “Seluruh media sudah menghubungkan namamu dengan skandal yang sama selama bertahun-tahun!”

“Ayah bicara soal citra seolah hidup Ayah sendiri tidak dibangun dari manipulasi.”

Suasana langsung hening beberapa detik.

Lalu Damien kembali berbicara pada Serena, jauh lebih lembut. “Kunci semua pintu. Jangan buka untuk siapa pun sampai aku datang.”

Telepon terputus.

Serena mendadak sadar betapa otomatis dirinya mencari Damien saat ketakutan. Itu mungkin bagian paling menyedihkan dari semuanya.

...****************...

Damien tiba dua puluh menit kemudian. Mobil hitamnya berhenti kasar di depan mansion sebelum pria itu turun tanpa menunggu sopir membukakan pintu. Begitu Serena membuka pintu, Damien langsung masuk dan memegang kedua sisi wajah perempuan itu tanpa bicara apa pun. Tatapannya bergerak cepat memeriksa Serena dari atas ke bawah bak mencari sesuatu.

“Ada orang masuk?” tanyanya rendah.

Serena menggeleng kecil.

Damien mengembuskan napas pendek sebelum akhirnya melepaskan wajah Serena dan mengambil kartu di meja foyer. Tatapannya langsung berubah gelap begitu membaca tulisan di sana.

“Aku tidak suka ini.”

Nada suaranya tenang, tetapi Serena terlalu mengenalnya untuk tidak menyadari kemarahan di baliknya.

Damien mengambil ponsel lalu langsung menelepon seseorang. “Tambahkan keamanan di mansion ini mulai malam ini. Aku mau dua orang berjaga di luar pagar dan semua rekaman CCTV dikirim sebelum pagi.”

Ia memutus telepon tanpa menunggu jawaban, lalu menatap Serena lagi.

“Kau buka pintu tanpa lihat CCTV dulu?”

“Aku pikir itu mungkin kau.”

“Itu bodoh.”

Nada suara Damien terdengar tajam, namun beberapa detik kemudian pria itu mengusap wajahnya sendiri pelan seolah menyesali reaksinya.

“Maaf.” Damien mendekat lagi. “Aku cuma tidak suka membayangkan ada orang asing berdiri di depan rumahmu tengah malam.”

Serena tidak menjawab.

Damien memperhatikan perempuan itu cukup lama sebelum akhirnya menarik Serena ke pelukannya. Erat. Hampir terlalu erat. Wajah pria itu tenggelam sesaat di rambut Serena, seolah memastikan perempuan itu benar-benar ada di sana.

“Aku takut,” bisik Serena pelan.

Tubuh Damien langsung menegang. Lalu pria itu memeluknya semakin erat. “Aku di sini.”

Serena membenci fakta bahwa kalimat sederhana itu masih terasa seperti keselamatan baginya.

...****************...

Hujan turun lagi saat mereka berada di kamar tidur. Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya redup dari lampu di tepi ranjang dan kilatan samar kota lampu kota di balik jendela besar. Serena berbaring diam di sisi ranjang sementara Damien duduk di sampingnya, masih mengenakan kemeja hitam yang sedikit terbuka di bagian leher.

Pria itu tampak tenang sekarang. Terlalu tenang. Namun Serena tahu Damien sedang marah. Ia selalu jadi lebih lembut saat marah.

“Apa kau masih takut?” tanya Damien pelan sambil membelai rambut Serena.

Serena diam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk kecil. Tatapan Damien langsung berubah samar. Lalu pria itu menunduk dan mencium kening Serena lama sekali.

“Aku benci melihatmu seperti tadi.”

“Namun kau juga pernah membuatku takut.”

Damien terdiam. Jemarinya turun perlahan menyusuri pipi Serena sebelum berhenti di rahang perempuan itu.

“Ya,” gumamnya rendah. “Dan aku membenci diriku sendiri untuk itu.”

Serena menatap pria di depannya cukup lama. Damien terlihat tampan dengan cara yang melelahkan. Wajah tenang, mata gelap, suara rendah yang selalu terdengar seperti sesuatu yang bisa dipercaya. Mungkin itu sebabnya Serena tidak pernah benar-benar bisa pergi.

Damien selalu terlihat seperti pria yang akan melindunginya dari apa pun. Bahkan dari dirinya sendiri.

“Kau tahu apa yang paling membuatku gila?” bisik Damien sambil mendekatkan wajahnya ke Serena. “Fakta bahwa ada orang lain yang memperhatikanmu.”

Napas Serena tertahan saat bibir Damien nyaris menyentuh mulutnya.

“Aku melihatmu di studio tadi, dan semua orang menatapmu seperti mereka boleh memiliki sebagian dirimu.” Tatapan pria itu turun perlahan ke bibir Serena. “Aku ingin menghancurkan mereka untuk itu.”

“Damien…”

“Aku serius.”

Suara pria itu terdengar terlalu tenang untuk kalimat sekejam itu.

Damien akhirnya mencium Serena perlahan. Lembut. Panjang. Tidak tergesa. Seolah pria itu sedang mencoba menghapus rasa takut dari tubuh Serena sedikit demi sedikit. Dan Serena membenci dirinya sendiri karena ia masih meleleh di dalam pelukan pria ini.

...****************...

Keesokan paginya, Serena bangun lebih dulu. Damien masih tertidur di ranjang, satu tangannya berada di sisi kosong tempat Serena tadi berbaring. Cahaya pagi membuat wajah pria itu terlihat lebih jauh lebih damai dibanding saat terjaga. Hampir tidak berbahaya.

Serena memalingkan wajah cepat sebelum turun ke dapur. Ia baru saja menuang kopi saat suara bel kembali berbunyi.

Tubuh Serena langsung membeku. Perlahan, perempuan itu berjalan menuju pintu depan sambil menahan napas. Dan begitu pintu dibuka, tidak ada siapa pun di sana.

Lagi.

Namun kali ini buket bunganya berbeda. Dark burgundy tulips bercampur black dahlia yang dibungkus kertas hitam matte.

Dan kartu kecil itu kembali terselip di antaranya.

Jemari Serena mulai dingin saat membuka kartu tersebut.

You smile less when he stays the night.

I don’t think he notice the differences.

But I do.

— A

Napas Serena tercekat pelan. Karena pesan itu tidak lagi terasa seperti ancaman, melainkan seseorang yang sedang memperhatikannya terlalu dekat.

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!