Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.
Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Atap : Dimensi Ketakutan yang Baru
JAM 08:17
Pintu kereta dibuka perlahan. Dunia luar stasiun Gangnam yang sunyi dan penuh mayat menyambut mereka lagi. Kali ini, mereka tidak hanya menjadi mangsa yang lari ketakutan. Mereka adalah sebuah kelompok yang terorganisir, meski jantung mereka masih berdebar sama kencangnya.
Kelompok Depan: Jaemin (membawa pistol dengan canggung), Sungchan (dengan rifle yang lebih percaya diri), Jeno, dan Shotaro (sebagai pengintai lincah).
Kelompok Tengah: Jimin memimpin, berisi Minjeong, Sunkyung, Yeri, Mark, Chenle, Ningning, dan yang lainnya.
Kelompok Belakang: Eunseok (membawa rifle kedua), Renjun (membawa pistol), Haechan, dan Jisung.
Mereka menyusuri stasiun dengan langkah cepat dan sunyi, keluar melalui pintu darurat yang mengarah ke sebuah gang samping. Seoul di pagi hari itu masih sama mengerikannya: sunyi, hancur, dan berbau kematian.
Perjalanan dimulai. Mereka merayap dari satu bayangan ke bayangan lain. Setiap sudut dilewati dengan hati-hati, ditengok lebih dulu oleh Shotaro atau Jeno. Setiap suara—gesekan angin dengan plastik, gemerisik puing—membuat mereka membeku.
Setelah hampir dua setengah jam merangkak di antara puing-puing, mereka mencapai sebuah persimpangan kecil. Di seberangnya, terdapat sebuah gedung kantor tua dengan fasad kaca yang banyak pecah, menjanjikan perlindungan untuk istirahat sejenak. Jarak yang harus mereka seberangi hanya sekitar lima belas meter. Tampak aman. Tidak ada gerakan.
"Oke, kelompok depan seberang dulu. Amankan area, lalu kita semua ikut," bisik Jimin.
Jaemin mengangguk, lalu memberi isyarat pada Sungchan, Jeno, dan Shotaro. Dengan langkah cepat dan rendah, keempatnya menyebrang. Tidak ada insiden. Mereka melambai dari balik pintu kaca yang pecah.
"Sekarang, kelompok tengah. Pelan-pelan," Jimin memandu. Minjeong menggandeng Sunkyung, Mark memegang tangan Yeri. Mereka mulai melangkah.
Dan itulah saatnya.
Haechan, yang berdiri di ujung barisan belakang dengan telinga yang selalu waspada, merasakan sesuatu sebelum mendengarnya. Sebuah getaran di udara. Lalu, suara gesekan halus di atas genteng. Dia membelalakkan matanya ke atas, ke atap sebuah kafe satu lantai di sisi kanan jalan.
"ATAP!" desis haechan, suaranya mendesis seperti ular, tajam dan penuh alarm. Dia tidak berteriak, tapi nadanya membuat semua orang langsung membeku di tempat mereka berdiri, seperti patung yang tiba-tiba terpaku.
Semua kepala, pelan dan ngeri, menengadah.
Di sana, di pinggir atap kafe yang ditutupi iklan usang, seekor Klepek-Klepek sedang membungkuk. Ukurannya lebih ramping dari yang pernah mereka lihat, mungkin yang muda. Kulit abu-abu mengkilapnya tampak lebih tipis, seperti baru mengeras. Tapi titik-titik cahaya biru di sekujur tubuhnya berkedip dengan pola acak yang sama ganasnya. Cakarnya yang panjang dan kurus sedang mencakar-cakar sesuatu—sebuah benda kecil, gelap, mungkin seekor merpati mati atau tikus. Suara "skritch... skritch..." yang tajam dan basah terdengar jelas di keheningan yang tiba-tiba mereka ciptakan.
Mereka yang sudah setengah jalan (Minjeong, Sunkyung, Mark, Yeri, dan beberapa lainnya) terjebak tepat di tengah-tengah jalan terbuka. Mereka tidak bisa maju, tidak bisa mundur. Jimin dan Jaemin, yang sudah di sisi seberang, hanya bisa menatap dengan ngeri, tangan mereka terkepal di sekitar senjata yang tiba-tiba terasa tidak berguna.
"Jangan... bergerak... satu... milimeter," Jaemin membisikkan melalui walkie-talkie, suaranya bergetar oleh ketegangan murni.
Sunkyung mulai gemetar. Air mata mengalir deras di pipinya, tapi tidak ada suara yang keluar. Minjeong meremas tangannya begitu erat sampai tulangnya nyeri, matanya tertancap pada makhluk itu, berusaha mengirimkan pesan 'tenang' melalui tatapan. Mark menarik Yeri perlahan, sangat-sangat perlahan, untuk berjongkok sedikit lebih rendah. Lutut Yeri bergetar hebat.
Klepek-Klepek itu terus mencakar mangsanya. Lalu, tiba-tiba, ia berhenti. Kepalanya yang tak berbentuk itu mengangkat. Titik-titik cahaya birunya berkedip lebih cepat, berubah dari pola acak menjadi sebuah ritme yang seperti... memindai. Kepalanya berputar pelan, sangat pelan, dari kiri ke kanan.
Dia sedang merasakan sesuatu. Bukan suara. Tapi mungkin... panas tubuh? Getaran? Atau mungkin dia mencium aroma ketakutan mereka yang membanjiri udara.
"Dia tau kita di sini," bisik Hina dari barisan belakang, suaranya penuh kepastian yang mengerikan.
Sungchan, dari dalam gedung, dengan sangat pelan mengangkat rifle-nya. Larasnya perlahan menyusur melalui pecahan kaca jendela, mengarah ke atap. Jaemin melihatnya dan cepat-cepat menggeleng, matanya membelalak. Jangan!
Tapi Klepek-Klepek itu sudah mulai bergerak. Dia tidak terbang. Dia merangkak, dengan gerakan aneh seperti laba-laba, ke tepi atap. Kepalanya miring, seolah mendengarkan sesuatu yang jauh. Lalu, titik-titik cahayanya berkedip gila-gilaan. Dia mengarahkan 'wajah'-nya persis ke arah kelompok tengah yang terjebak di jalan.
Seorang anggota kelompok tengah—Carmen—tidak bisa menahan lagi. Sebuah erangan ketakutan yang tertahan, hampir seperti rintihan, lolos dari bibirnya yang terkunci. "AKKKKH"
Itu cukup.
Klepek-Klepek itu mendorong tubuhnya dari atap. Bukan terbang, tetapi meluncur ke bawah seperti batu jatuh, langsung ke arah Carmen dan Jisung yang ada di dekatnya!
"LARI!" teriak Jimin, instingnya mengalahkan perintah untuk diam.
Kekacauan pecah. Kelompok tengah bubar, berlari ke segala arah. Klepek-Klepek itu mendarat dengan gemuruh di aspal, tepat di tempat Carmen berdiri tadi. Cakarnya yang tajam menggaruk aspal, meninggalkan bekas putih. Dia melengking, marah karena mangsanya menghilang.
"KE GEDUNG! SEMUA MASUK!" pekik Jaemin dari seberang, sambil mendobrak pintu kaca gedung kantor lebih lebar.
Itu adalah pelarian yang panik dan buta. Mereka saling dorong, saling tarik. Sungchan tetap di posisinya, laras rifle masih mengikuti gerakan Klepek-Klepek yang sekarang berputar dengan cepat, bingung oleh banyaknya target yang bergerak. Makhluk itu memilih satu: Jisung yang sedang berlari zig-zag.
Dia melesat.
Tapi Shotaro bereaksi. Dari samping, dia mengambil pecahan batu bata dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah jendela toko di seberang. KRASH! Kaca pecah berantakan, suaranya keras.
Klepek-Klepek itu langsung berbalik, tertarik pada suara yang lebih keras dan lebih dekat. Itu memberi Jisung waktu satu detik berharga untuk menyelamatkan diri ke dalam gedung.
"MASUK! SEMUANYA!" teriak Jeno, menarik orang-orang yang terakhir masuk.
Begitu semua orang terlempar ke dalam lobi gedung yang gelap, Eunseok dan beberapa orang lain mendorong sebuah rak logam berat untuk menutup pintu masuk yang kacanya sudah pecah.
Mereak terduduk, tergeletak, terengah-engah. Di luar, Klepek-Klepek itu mengitari gedung, sesekali mendorong-dorong puing di depan pintu dengan suara menggeram. Setelah beberapa saat yang terasa abadi, suara kepakan sayap terdengar, dan kemudian... keheningan.
Mereka selamat. Tapi jantung mereka masih berdebar kencang seperti baru menyelesaikan lari maraton. Sunkyung menangis histeris di pangkuan Minjeong. Carmen gemetar tak terkendali. Bahkan Haechan yang biasanya banyak bicara, hanya duduk membelakangi tembok, memandangi langit-langit dengan napas tersengal-sengal.
Mereka baru saja menyadari sesuatu: bahaya itu tidak hanya datang dari depan atau belakang. Ia bisa datang dari atas. Dan di kota penuh gedung tinggi ini, itu artinya mereka tidak pernah benar-benar aman, bahkan di jalanan yang terlihat kosong sekalipun. Setiap atap, setiap jendela lantai tinggi, bisa menjadi tempat mengintai bagi para Klepek-Klepek. Ketakutan mereka kini memiliki dimensi baru: vertikal.
Lobi gedung itu seperti kuburan marmer yang gelap. Hanya napas tersengal dan isakan yang memenuhi udara. Mereka pikir mereka aman, setidaknya untuk sementara. Mereka salah.
Itu dimulai dengan suara gesekan logam yang halus dan berirama, berasal dari bagian belakang lobi, dekat pintu menuju tangga darurat dan ruang utilitas. Suaranya terlalu teratur untuk menjadi tikus.
"Apa itu?" bisik Sohee, matanya membelalak ke arah kegelapan.
Sebelum ada yang bisa merespons, Haechan sudah berputar. Refleknya yang selalu waspada mendeteksi pola suara yang asing. "AWAS! DI BELAKANG!" teriaknya, suaranya pecah oleh alarm.
Tapi itu sudah terlambat.
Dari lorong gelap di belakang, sesuatu meluncur keluar dengan kecepatan mematikan. Bukan dari pintu, tapi dari ventilasi udara tinggi di dinding yang rusak. Sebuah Klepek-Klepek, mungkin yang sama tadi atau yang lain, telah menemukan jalan masuk. Tubuhnya yang ramping menyusup seperti ular, dan begitu mendarat di lantai, ia langsung menyerang target terdekat: Yeon, yang sedang duduk merawat kakinya yang lecet di dekat dinding.
"YE-ON!" jerit Juun.
Tapi makhluk itu sudah di atas YE-ON. Cakar panjang menghunjam, menyeret gadis itu ke lantai. Yeon menjerit, suaranya dipenuhi rasa sakit dan teror murni.
"AAAAAH! TOLONG! TOLONGIN GUE!" Yeon menjerit, tubuhnya diseret di lantai marmer.
BANG!
Suara tembakan pertama mengguncang ruangan. Sungchan telah menembak. Peluru mengenai bahu makhluk itu, membuatnya terhuyung dan melepaskan cengkeramannya pada Yeon. "AYO! BANTU DIA!" teriak Sungchan, sambil menembak lagi, kali ini meleset dan memecahkan kaca di belakang.
Kekacauan sempurna meledak. Jimin mengangkat pistolnya, menembak sembarangan ke arah kegelapan tempat makhluk itu mundur. BANG! BANG! Suara tembakan bergema, memekakkan telinga di ruang tertutup. Bau mesiu yang tajam bercampur dengan bau ketakutan.
Makhluk itu tidak mati. Malah, ia menjadi lebih ganas. Dengan gerakan cepat, ia menerjang ke arah lain—langsung ke arah Yeri yang sedang berusaha bangkit.
"YERI!" Mark berteriak, suaranya parau. Pacarnya itu menjerit histeris saat cakar hitam mengayun ke arahnya.
Yeri menjerit panjang, histeris, saat bayangan itu mendekat. "MARK! MARK, TOLONG!"
"JANGAN!" Eunseok, yang berdiri di dekat yeri, mengambil inisiatif nekat. Dia meraih sebatang kayu dari rak yang hancur dan memukulnya sekuat tenaga ke sisi tubuh Klepek-Klepek itu.
"AAAAH! MINGGIR!" Eunseok meraung, mengambil kayu dan memukul sekencang-kencangnya ke tubuh makhluk itu. THWACK! Suaranya memuaskan tapi singkat.
Klepek-Klepek itu terpental, tapi langsung bangkit. Dia mendesis, lalu menerjang Eunseok.
"EUNSEOK, AWAS!" Jaemin berteriak, tapi terlambat. Cakarnya menyambar, mengoyak lengan jaket Eunseok. Eunseok menjerit kesakitan dan jatuh ke belakang. darah langsung membasahi kain.
"ASTAGA DARAH! EUNSEOK BERDARAH!" teriak A-na, histeris melihat percikan merah di lantai.
"DIA GIGIT EUNSEOK?!" panik Chenle.
Mark, melihat Yeri dalam bahaya dan Eunseok terluka, diliputi amarah buta. Mark mengambil bongkahan beton. "PERGI LO!" dia berteriak, melemparkannya. DUG! Benar mengenai.
Beton itu mengenai dengan keras. Klepek-Klepek itu terhuyung, memberikan jeda. Mark tidak menyia-nyiakannya. Mark menerjang, menarik tangan Yeri yang hampir pingsan. "Babe! AYO!!"
"SEMUANYA KELUAR! KELUAR DARI SINI SEKARANG!" Jaemin berteriak, suaranya memimpin di tengah hiruk-pikuk. Dia menembakkan pistolnya ke arah langit-langit untuk memberi peringatan. BANG!
"JIMIN, BUKA PINTU!" TERIAK MARK
"PINTUNYA KETUTUP RAK BESAR ITU, BODOH!" balas Jimin, sambil berlari ke arah barikade.
Jaemin mengambil alih. "DORONG BERENG-BARENG! SEMUA YANG MASIH BISA, BANTU DORONG!" Dia menembak ke langit-langit. BANG!
"SEKARANG!! ATAU KITA MATI DI SINI!"
Itu adalah sinyal. Semua yang masih bisa bergerak berhamburan ke arah pintu masuk utama yang setengah tertutup, mendorong rak logam yang tadi mereka gunakan sebagai barikade.
Tapi dalam pelarian panik itu, mereka lupa satu hal: Klepek-Klepek itu tidak sendirian.
Saat massa tubuh mereka mendesak keluar ke jalan, dari atap-atap dan jendela-jendela di seberang jalan, titik-titik cahaya biru mulai bermunculan. Satu, dua, lima... lebih banyak lagi. Jeritan tadi dan tembakan telah memanggil seluruh kelompok.
Tapi saat mereka berdesakan keluar, Jiwoo, yang ada di tengah-tengah bersama Stella dan Yuha, menoleh ke belakang.
Itu adalah kesalahan terakhirnya.
Cakar hitam menyambar dari samping, menusuk tubuh jiwoo dengan sura "CHAK!" yang basah dan mengerikan.
Jiwoo tidak sempat berteriak. Hanya keluar suara "Hghh—!" yang tercekik, sebelum dia tersungkur.
Cakar itu menusuk tepat di sisi tubuh Jiwoo.
"AAAGH—!" Teriakan Jiwoo terpotong menjadi gelegak.
"JIWOO?!" Stella berbalik, dan langsung menjerit.
"Gak! Gak! JIWOO! " Stella menjerit histeris, berbalik.
Yuha membeku, matanya membelalak melihat temannya tergantung di ujung cakar mengerikan yang kini perlahan ditarik keluar, mengeluarkan... sesuatu yang membuat perutnya mual.
Yuha membeku. Matanya melihat luka mengerikan di sisi tubuh Jiwoo. "OH TUHAN... OH TUHAN, nggak... nggak...JIWOO YAA.." yuha mulai muntah di tempat.
Jiwoo di tanah, napasnya tersengal, matanya mencari Stella. "Stel... sakit..."
"JANGAN TINGGALIN GUE, JIWOO! JANGAN!" Stella berteriak, ingin maju, tapi Jimin dengan kasar menariknya.
"STELLA, DENGER GUE! DIA UDAH GAK BISA!" Jimin berteriak, wajahnya penuh air mata dan amarah. "LO MAU IKUT DIMANGSA JUGA? LO MAU?"
"TAPI DIA TEMEN GUE! DIA HIKKS—" ISAK STELLA
"DIA UDAH SELESAI! KITA BAKAL NYUSUL DIA KALO KITA DIEM!" Jeno ikut berteriak
IAN mendorong Yuha yang masih muntah-muntah. "YUHA, BANGUN! LARI!"
Dari belakang, Klepek-Klepek yang menikam Jiwoo sudah melompat dan membungkuk di atasnya. Suara jlep... jlep... yang mereka benci mulai lagi.
"DENGER ITU?!" teriak Haechan, sambil menarik lengan Stella yang lain.
"LO MAU JADI YANG SELANJUTNYA? LARI, STEL, JANGAN GOBLOK!"
Stella menangis histeris, terpaksa berbalik dan berlari, didorong oleh Jeno dan Haechan. Tangisannya memecah udara. "MAAF, JIWOO! MAAAAAF!"
Yuha berlari sambil terisak, muntahannya masih menetes di bajunya. "Gue gak bisa... gue gak bisa lupa... matanya..."
Di depan, Sungchan dan Eunseok yang terlumat berusaha memberi perlindungan.
"MEREKA DATANG LAGI DARI SITU!" teriak Sungchan, menembak ke arah bayangan di atap. BANG! "BANYAK BANGET!"
"PELURU GUE HABIS! GUE HABIS!" teriak Jimin, membuang pistolnya yang kosong.
"GUE JUGA!" tambah Jaemin, matanya liar mencari jalan keluar. "PAKE APA KITA?!"
"LARI TERUS! JANGAN BERHENTI!" pekik Minjeong, sambil menarik Sunkyung yang seperti boneka rusak. "LAM, LARI! TOLONG, LARI UNTUK GUE!"
"KAKI GUE LEMES... GUE GAK BISA..." rengek Sunkyung, hampir pingsan.
Chenle jatuh. "GUE GAK KUAT LAGI! TINGGALIN AJA GUE!"
"LO JANGAN BEGO, LE! BANGUN!" Ningning menariknya dengan kasar, sampai-sampai kuku Ningning melukai kulit Chenle. "LO MATI , GUE GAK BAKAL MAU PULANG SENDIRIAN! BANGUN!"
Di tengah kepanikan, Mark masih memegang erat Yeri yang wajahnya pucat dan syok. "Babe, tatap mata gue. Jangan liat belakang. Lari, ikutin aku"
Yeri hanya bisa mengangguk, air mata bercucuran, kakinya bergerak otomatis.
...