Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LELAKI ITU MEMILIKI KELAINAN
Happy Reading Guys!
______
"Apa Eva yang memberitahumu?"
"Hmm."
Jawaban Damian terdengar singkat.
Namun sejak tadi, lelaki itu belum juga mengalihkan pandangannya dari Sophia.
Tatapan gelapnya menyusuri wajah wanita itu perlahan, seolah sedang menghafal setiap detail yang ada di sana. Dari bulu mata panjang yang bergetar halus, pipi putih yang masih menyisakan rona tipis, hingga leher jenjang yang tampak begitu rapuh.
Kulit Sophia memang terlalu putih.
Putih seperti susu hangat yang dituangkan ke dalam cangkir porselen. Begitu bersih hingga sentuhan ringan saja mampu meninggalkan bekas kemerahan yang bertahan cukup lama.
Tatapan Damian kemudian berhenti pada bibirnya.
Bibir Sophia berwarna merah muda alami, lembut dan hidup tanpa perlu polesan apa pun. Saat wanita itu berbicara, bibir itu bergerak perlahan, dan entah kenapa Damian selalu gagal mengalihkan pandangannya dari sana.
Sophia yang sadar dirinya terus diperhatikan langsung merasa tidak nyaman.
Ia mencoba menarik lengannya, dan kali ini Damian melepaskannya tanpa banyak perlawanan, meski tatapannya belum benar-benar pergi.
“Karena Eva sudah membicarakannya, mari kita bahas masalah pertunangan kita. Jujur saja, aku merasa agak dirugikan di sini," ucap Sophia serius.
Baru saja kalimat itu keluar, Damian kembali menatapnya lurus.
Lagi-lagi, tatapan itu terasa mengunci Sophia sepenuhnya. Seolah setiap gerakan kecilnya berada dalam pengawasan pria itu.
Sophia yang menyadarinya langsung balas menatap tajam.
“Bisakah kau tidak melihatku dengan tatapan seperti itu?” tegurnya jengkel. “Matamu membuatku tidak nyaman.”
“Kau sedang bicara. Tentu aku menatapmu.”
“Baiklah, berhenti berdebat. Kau selalu menang, aku kalah. Kau puas?”
Untuk pertama kalinya, Damian mengubah ekspresinya menjadi sedikit lebih tenang. Tatapannya masih tertuju pada Sophia, tetapi tekanannya tidak lagi sekuat sebelumnya.
Perubahan kecil itu cukup membuat Sophia sedikit lega, meski tetap waspada.
Sophia melanjutkan, menjelaskan bahwa ia sudah hampir satu bulan tinggal di rumah Damian. Selama itu ia mencoba memahami situasi yang membuatnya tidak bisa keluar bebas, terutama karena keberadaan paparazi yang selalu mengintai. Namun tetap saja, ia adalah wanita yang belum menikah, dan hidupnya tidak bisa terus berhenti di satu tempat saja.
“Jadi, Tuan Damian, aku ingin pulang,” katanya bersungguh-sungguh. “Kembali ke apartemenku sendiri.”
Damian bergerak, seolah ingin meraih lengannya, tetapi Sophia lebih dulu menghindar, berusaha menjaga jarak. Gerakan kecil itu membuat tangan Damian berhenti di udara sesaat sebelum akhirnya ia menariknya kembali dan memasukkannya ke saku celana.
Senyumnya muncul, tapi bukan senyum hangat, lebih seperti senyum kecut yang menahan sesuatu.
Sophia menatapnya dengan kesal. Ia benar-benar sudah muak dengan sikap Damian yang selalu seolah tidak mendengar batasan yang ia berikan.
“Aku sudah berkali-kali bilang, jangan terlalu dekat denganku!” protes Sophia kesal.
“Apa kepalamu itu keras atau memang diganti batu?”
Damian tidak tersinggung. Justru sudut bibirnya terangkat sedikit, seperti menertawakan keluhan itu dalam diam.
“Walaupun kau keluar dari rumah ini,” ucapnya pelan, “kau tetap tidak bisa beraktivitas dengan bebas di luar sana. Tempat sempit itu bukan tempat yang aman untukmu.”
Sophia menghela napas singkat.
“Setidaknya aku bebas,” balasnya cepat. “Lagipula, rumah sendiri walau kecil tetap lebih nyaman daripada tinggal di rumah orang lain.”
“Itu hanya peribahasa yang kau buat sendiri."
Gumaman kecil lolos dari bibir Damian tanpa ia sadari.
“Setidaknya kau tidak ada di sana.”
Damian yang mendengarnya langsung mengerutkan kening. Ia terkekeh pelan, lalu menatap Sophia lebih santai.
“Aku dengar kau ingin membahas gaji. Berapa gaji yang kau inginkan?” tawarnya, mencoba bernegosiasi. Atau lebih tepatnya, mencoba menggoyahkan pertahanan Sophia.
Wanita itu mengangkat kepala.
“Eva yang bicara lagi?”
Damian tak bereaksi.
Sikapnya yang tidak menyangkal, tapi juga tidak membenarkan secara langsung. Cukup untuk membuat Sophia yakin jawabannya sudah jelas.
“Eva itu cerewet sekali .…” gerutu Sophia kesal.
“Aku yang menggajinya,” timpal Damian, datar seolah itu hal yang tidak perlu diperdebatkan.
"Kalau dia melaporkan semua urusanku padamu itu baru bukan hal wajar."
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Sophia terdiam.
Ingatan tentang jaket di taman itu kembali muncul begitu saja. Begitu pula dengan kain di laci mobil Damian yang pernah ia lihat saat pulang dari butik. Warna yang sama, rasa curiga yang sama, semuanya kembali menumpuk di kepalanya.
Kenapa Jaketnya ada di laci mobil Damian? Terus berpindah pada pelayan? Walau lelaki itu nanti menyangkalnya, dia tak bisa mengelak kalau jaketnya memang pernah ada di mobilnya. Bagaimana mungkin bisa di sana?
Sophia melirik Damian dengan penuh selidik.
Damian yang menyadari itu justru melangkah sedikit mendekat, menundukkan wajahnya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” suaranya rendah. “Kau seperti menyimpan seribu pertanyaan di kepalamu.”
“Aku menemukan jaketku yang hilang di rumah ini,” ucap Sophia akhirnya. “Juga jaket di laci mobilmu … warnanya sama seperti jaketku.”
Damian berhenti sejenak.
Tatapan Damian bergeser tipis, seolah ia sedang menelusuri sesuatu yang hampir terlupakan. Sampai akhirnya ingatan itu kembali.
“Pelayan sialan itu,” gumam Damian, suaranya dipenuhi kekesalan yang tertahan.
Sophia semakin menajamkan pandangannya.
“Damian …” suaranya menurun, ragu namun tetap keluar.
“Aku tahu kau selalu menempel padaku seperti perangko. Kau tidak mungkin punya kelainan… fetish…”
Kalimat itu tidak sempat selesai.
Tubuh Sophia langsung merinding, seolah udara di sekitarnya ikut menegang. Tatapan Damian berubah dalam sekejap, tajam, dingin, dan sulit ditebak -- membuat kata terakhir yang baru saja keluar dari bibir Sophia terasa seperti lenyap di udara.
Sophia mundur satu langkah tanpa sadar.
Namun belum sempat ia benar-benar menjauh, Damian bergerak lebih cepat.
Ia menangkap lengan Sophia dan menariknya kuat, hingga punggung gadis itu menghantam pintu kulkas di belakangnya.
Bunyi benturan itu menggema singkat di ruangan yang tiba-tiba terasa sempit dan sesak. Dalam satu gerakan, Damian sudah mengurungnya, menutup seluruh ruang gerak Sophia tanpa celah.
“Kau pikir aku punya kelainan?” Damian berbicara datar, tapi ada tekanan kuat di setiap katanya.
Sophia menahan napas, tetapi tetap memaksa bicara.
“Kalau tidak, kenapa jaketku bisa ada di sini? Di tangan pelayanmu? Aku sudah mencoba berpikir jernih, tapi aku melihatnya sendiri jaketku juga ada di dasbor mobilmu saat pulang dari butik. Damian… apa kau terobsesi padaku?”
Damian mendengus kasar, kali ini jelas penuh ejekan.
“Kalau aku memang memiliki kelainan,” jawabnya tak terima.
“... kenapa tidak sekalian aku bobol apartemenmu dan membawa seluruh lemarimu ke sini?”
Sophia terdiam.
Logika itu menusuk, tapi tidak cukup untuk menghapus kecurigaannya. Terlalu banyak hal yang tidak sinkron, terlalu banyak kebetulan yang terasa seperti pola.
Emosinya akhirnya pecah.
“Sudahlah, aku mulai muak padamu!" suaranya meninggi.
“Aku mau pulang! Aku tidak peduli dengan paparazi itu, meskipun seluruh tubuhku akan difoto dari ujung kepala sampai kaki!”
"Kau .... "
Damian mencengkeram dagunya, memaksanya menatap langsung ke arahnya.
“Kalau begitu, keluarlah sendiri. Tidak ada yang akan mengantarmu.”
Sophia menepis tangan itu kasar, lalu berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih ! (◍•ᴗ•◍)❤