Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan di Sarang Serigala
Pukul tujuh malam, Mercedes-Benz hitam milik Devan membelah gerbang besi tinggi kediaman utama Alfarezel. Rumah mewah bergaya Eropa klasik itu tampak megah, namun bagi Anya, pilar-pilar besar di sana terasa seperti jeruji besi yang siap mengurungnya.
Malam ini, Anya tampil anggun dengan gaun satin berwarna hijau zamrud berpotongan sederhana namun berkelas, dipadukan dengan gelang berlian pemberian Kakek Bramanta yang berkilau di pergelangan tangan kirinya persis seperti yang diperintahkan Devan.
Saat mobil berhenti di drop-off utama, Devan menoleh ke arah Anya. Pria itu mengulurkan tangannya, merapikan sedikit kerah gaun Anya dengan gerakan lambat yang sengaja dilakukan untuk menenangkan kegugupan wanita itu.
"Ingat, mereka akan menyerang titik terlemahmu," bisik Devan, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Anya. "Tapi kau tidak perlu takut. Cukup berdiri di sampingku, dan biarkan aku yang menangani sisanya."
Anya mengangguk pelan, menghirup aroma maskulin Devan yang entah sejak kapan mulai memberikan rasa aman baginya. Ketika pintu mobil dibuka oleh pelayan, Devan keluar terlebih dahulu, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya untuk membantu Anya turun. Anya menyambut uluran tangan itu, dan mereka melangkah masuk ke dalam ruang makan megah dengan jemari yang saling bertautan erat.
Di dalam ruang makan, Kakek Bramanta sudah duduk di kepala meja. Di sisi kanannya, Karina duduk dengan senyum anggun yang palsu, didampingi oleh Dion yang wajahnya masih menyiratkan sisa kekesalan dari kejadian siang tadi.
"Ah, Devan, Anya. Akhirnya kalian datang," sapa Kakek Bramanta, wajah tuanya langsung cerah saat melihat kedatangan mereka. "Duduklah. Kakek sengaja meminta koki memasak hidangan laut segar untuk menyambut Anya."
"Terima kasih, Kakek," jawab Anya dengan senyum sopan seraya duduk di samping Devan.
Makan malam dimulai dengan keheningan yang formal, hingga akhirnya Karina meletakkan garpu peraknya di atas piring porselen dengan denting halus. Siasat itu adalah aba-aba dimulainya serangan.
"Anya, kudengar dari Dion, siang tadi ada sedikit... kegaduhan di lobi kantor?" Karina membuka suara, nadanya terdengar sangat lembut dan penuh perhatian, namun matanya berkilat penuh bisa ular.
"Katanya ada seorang pria yang mengaku sebagai mantan kekasihmu datang dan membuat keributan. Apa itu benar?"
Suasana di meja makan mendadak membeku. Kakek Bramanta menghentikan makannya, melirik ke arah Anya dengan dahi berkerut.
Dion menimpali dengan seringai puas.
"Bukan cuma keributan, Ibu. Pria itu bahkan berani menarik-narik tangan Anya di depan umum. Saya hanya khawatir, jika berita ini sampai ke telinga media, reputasi Devan sebagai CEO baru yang tegas bisa tercoreng karena masalah masa lalu calon istrinya."
Anya merasakan tangannya di bawah meja mendadak dingin. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk membela diri, sepasang tangan yang hangat dan besar milik Devan langsung menggenggam jemarinya di bawah meja, meremasnya lembut seolah menyalurkan kekuatan.
Devan menyesap anggurnya dengan santai, lalu menatap Karina dan Dion bergantian dengan pandangan meremehkan.
"Kegaduhan? Kurasa informasi yang sampai ke telinga Ibu dan Dion agak berlebihan," ucap Devan tenang, namun suaranya bergaung penuh penegasan di ruang makan yang luas itu. "Pria siang tadi hanyalah mantan rekan bisnis dari lingkaran lama Anya yang tidak tahu sopan santun. Begitu dia tahu Anya adalah tunanganku, dia langsung pergi meminta maaf."
Devan kemudian melirik Dion dengan tajam. "Justru aku heran dengan Dion. Sebagai kepala divisi, bukannya fokus pada rapat anggaran yang sedang berjalan, kau malah punya banyak waktu luang untuk berdiri di lobi dan mengurusi urusan domestikku?"
Wajah Dion seketika memerah, tersedak oleh kata-katanya sendiri.
Karina yang tidak mau kalah kembali mencoba menyudutkan. "Ibu hanya khawatir, Devan. Bagaimanapun, latar belakang keluarga Anya sangat berbeda dengan kita. Masalah-masalah kecil dari masa lalunya bisa menjadi bom waktu untuk Alfarezel Group jika tidak diselesaikan dengan bersih."
Kali ini, Anya tidak tinggal diam. Genggaman hangat Devan di tangannya memberinya keberanian yang luar biasa. Ia menegakkan punggungnya, menatap langsung ke arah Karina dengan mata yang jernih namun tegas.
"Terima kasih atas perhatiannya, Tante Karina," ucap Anya, sengaja menggunakan panggilan formal yang sopan namun memberi batasan tegas.
"Masa lalu saya memang tidak sesempurna kalangan atas, dan keluarga saya pernah mengalami masa sulit. Namun, justru karena kesulitan itulah saya belajar tentang arti kesetiaan dan integritas. Sesuatu yang menurut saya jauh lebih berharga daripada sekadar nama besar yang rapuh."
Anya sengaja melirik gelang berlian di pergelangan tangannya, membuatnya berkilau di bawah lampu kristal ruang makan. "Dan saya sangat bersyukur, Kakek Bramanta dan Devan bisa melihat nilai itu dalam diri saya, melebihi apa pun yang coba digali oleh orang lain dari masa lalu saya."
Kakek Bramanta tertegun sesaat mendengarkan jawaban berani Anya, sebelum akhirnya sebuah senyum lebar dan tawa renyah lolos dari bibir sang patriark Alfarezel.
"Luar biasa! Tepat sekali, Anya!" Kakek Bramanta memukul meja pelan dengan wajah puas. Ia menatap Karina dan Dion dengan pandangan memperingatkan. "Aku memilih Anya untuk Devan karena gadis ini punya nyali dan kejujuran.
Berhenti membahas urusan lobi yang tidak penting. Mulai malam ini, siapa pun yang mencoba mengusik Anya, artinya mereka sedang mengusik keputusanku!"
Karina mengepalkan tangannya di bawah meja, wajahnya menegang menahan malu, sementara Dion hanya bisa menunduk dalam-dalam dengan rahang yang mengeras.
Di samping Anya, Devan menyunggingkan senyum tipis yang sangat jarang ia tunjukkan.
Di bawah meja marmer itu, Devan perlahan menautkan jari-jarinya ke sela-sela jari Anya, menggenggamnya jauh lebih erat dari sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, Devan sadar bahwa wanita di sampingnya ini bukan sekadar pion dalam kontrak bisnisnya Anya adalah rekan yang tangguh, dan entah sejak kapan, Devan mulai tidak rela jika harus melepaskannya saat kontrak mereka berakhir nanti.