Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Seminggu telah berlalu sejak hari hujan itu.
Selama tujuh hari tujuh malam, pikiran Arya tak pernah lepas dari sosok Naya dan kalung bulan sabit itu. Gambar liontin perak yang sama persis dengan milik ibunya terus berputar di kepalanya seperti film rusak. Arya sudah melakukan segala kemungkinan di kepalanya: apakah ibu dan bibi Sari adalah saudara kembar? Atau mereka bersahabat sedekat saudara hingga saling bertukar kalung sebagai tanda persaudaraan abadi? Pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawab, namun satu hal yang pasti: ikatan darah dan nasib itu nyata, terjalin kuat di antara mereka berdua.
Hari ini, langit Kota Senja cerah bersih tanpa awan sedikitpun, seolah alam sedang merayakan sesuatu. Arya kembali datang ke rumah besar Wijaya. Kali ini bukan sebagai penyelamat yang masuk diam-diam di tengah hujan, melainkan sebagai tamu yang diundang.
Setelah insiden terkilir itu, Naya entah bagaimana caranya—mungkin karena rasa berterima kasih atau dorongan hati yang tak ia mengerti—meminta Bi Inah mengantar pesan kepada Arya, memintanya datang sore ini.
Gerbang besi terbuka, dan Arya melangkah masuk melewati halaman luas yang dipenuhi bunga-bunga mawar merah dan putih. Aroma tanah basah dan bunga melati menyambutnya. Ia dipersilakan masuk ke ruang tamu utama, ruangan yang lebih megah dari yang dilihatnya minggu lalu. Di sana, duduk di sofa besar berwarna krem gading, Naya sedang menunggunya.
Naya terlihat berbeda hari ini.
Ia mengenakan gaun longgar berwarna biru muda dengan motif bunga kecil-kecil, rambut hitam panjangnya diikat setengah ke atas dengan pita sutra putih, memperlihatkan leher jenjang dan wajah pucatnya yang kini terlihat sedikit lebih segar. Kakinya yang terkilir sudah dibalut perban elastis, ditopang bantal di atas bangku kecil. Saat melihat Arya masuk, wajah Naya yang biasanya dingin dan kaku kini sedikit merona merah. Ia tidak lagi menatap tajam atau penuh curiga, melainkan dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran rasa bersalah, malu, dan sesuatu yang lembut.
"Kamu datang," sapa Naya pelan, suaranya tak lagi ketus.
"Aku datang. Bagaimana kakimu?" Arya duduk di sofa di hadapan Naya, menjaga jarak sopan namun matanya menatap lekat wajah gadis itu.
"Sudah jauh lebih baik. Terima kasih... untuk semuanya waktu itu. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku masih duduk di pinggir jalan sampai malam," ucap Naya menunduk, memainkan ujung gaunnya. Sikapnya yang pemalu ini sangat kontras dengan gadis garang yang dulu mengusirnya dari meja perpustakaan.
"Sama-sama. Aku cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan orang normal," jawab Arya pelan. Ia diam sejenak, memandangi ruangan luas itu, lalu kembali menatap Naya dengan tatapan serius. "Naya, aku tidak datang ke sini cuma untuk menanyakan kakimu. Ada hal yang ingin aku bicarakan. Hal penting. Sangat penting."
Wajah Naya menegang. Ia mengangkat wajah, mata cokelat madunya menangkap ketulusan sekaligus kegelisahan di mata Arya. Ia mengangguk pelan, memberi izin.
"Aku dengar, kamu pintar mencari sejarah dan buku lama. Dan aku rasa... kamu bukan orang asing yang kebetulan lewat. Kamu mencari sesuatu di kota ini, kan?" tebak Naya pelan.
Arya menarik napas panjang. Ini saatnya. Ia tak bisa lagi bermain petak umpet. Ia harus bertaruh kepercayaannya pada gadis ini.
Arya mengulurkan tangan ke dalam saku kemejanya, mengeluarkan sesuatu yang terbungkus kain beludru biru tua. Ia membukanya perlahan.
Di atas telapak tangannya, tergeletak sebuah kalung perak kusam dengan liontin berbentuk bulan sabit. Sama persis dengan yang tergantung di leher Naya.
Mata Naya membelalak lebar hingga hampir keluar dari rongganya. Mulutnya sedikit terbuka kaget. Tubuhnya menegang kaku seolah disambar petir. Matanya berpindah cepat dari kalung di tangan Arya ke arah dadanya sendiri, di mana kalung serupa tersembunyi di balik bajunya. Tangan dinginnya refleks menyentuh dada, meremas kain di atas jantungnya.
"Itu..." suara Naya tercekat, bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca, menatap Arya seolah sedang melihat hantu. "Itu... itu kalung Ibu. Kalung kembarnya... Ayah bilang kalung ini sudah hilang, sudah lenyap bertahun-tahun. Katanya pemiliknya sudah pergi jauh dan takkan pernah kembali."
"Pemiliknya tidak pergi, Naya. Dia hanya hilang. Dia dicurigai, dia diancam, dan dia terpaksa bersembunyi," suara Arya berat namun mantap. Ia menatap lurus ke manik mata Naya. "Pemilik kalung ini adalah ibuku. Wanita bernama Dewi. Dan berdasarkan apa yang kamu bilang... ibumu, Sari Wijaya, adalah pemilik kalung satunya."
Arya lalu mengeluarkan foto sepia tua yang ia temukan di buku perpustakaan itu, meletakkannya di meja kaca di antara mereka.
"Lihat. Ini foto mereka. Dua puluh tahun lalu. Bersanding, tersenyum, tak terpisahkan. Ibumu dan ibuku. Mereka bukan sekadar kenalan, Naya. Mereka saudara. Saudara hati, bahkan mungkin saudara kandung. Mereka sangat dekat. Dan karena kedekatan itu, hidup mereka hancur."
Tangan Naya gemetar hebat saat mengambil foto itu. Air mata bening mulai menetes deras membasahi pipi pucatnya. Ia mengenali wajah ibunya dengan sangat baik. Ia tumbuh hanya dengan mendengar cerita tentang ibunya, namun tak pernah tahu ada sosok wanita lain yang begitu mirip dan begitu dekat di sisi ibunya.
"Aku... aku tidak tahu. Ayah tidak pernah cerita. Setiap kali aku tanya tentang Ibu, tentang masa lalu, atau tentang teman-teman Ibu... Ayah selalu marah. Dia bilang jangan urusi hal yang tidak perlu. Dia bilang cukup tahu saja Ibu sudah meninggal," isak Naya, bahunya berguncang menahan tangis. "Aku selalu merasa kesepian. Aku merasa ada bagian dari diriku yang hilang. Aku merasa aku tidak punya keluarga selain Ayah. Ternyata... ternyata ada kamu."
Perkataan itu—"Ternyata ada kamu"—menembus jantung Arya tepat di sasaran. Rasa dingin, kesepian, dan rasa terasing yang selama ini dipikulnya tiba-tiba mencair. Selama ini ia merasa sendirian mencari ibunya, ternyata ada orang lain yang juga terhubung, yang juga terluka, dan orang itu ada di depannya sekarang.
"Naya, dengar aku," Arya bergerak mendekat, kini duduk di sisi sofa yang sama dengan Naya. Ia menggenggam tangan dingin gadis itu di antara telapak tangannya yang hangat. "Setahun lalu, ibuku menghilang. Dia meninggalkan rumah tanpa pesan, hanya kalung ini. Sejak hari itu aku mencarinya ke mana-mana. Petunjuk terakhirku mengarah ke sini. Mengarah ke keluarga Wijaya. Mengarah ke masa lalu ayahmu."
Naya menghentikan tangisnya sejenak. Ia mengusap kasar air matanya, menatap Arya dengan mata merah bengkak namun penuh tekad baru.
"Kamu pikir... Ayahku ada hubungannya dengan hilangnya Ibumu? Dewi?" tanyanya pelan, namun suaranya bergetar karena ketakutan akan jawabannya sendiri.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi aku tahu dua hal: Pertama, dua puluh tahun lalu, bisnis ayahmu runtuh total dalam satu malam. Ada uang milyaran yang hilang, ada dokumen yang hilang, ada pengkhianatan. Kedua, tepat setelah itu, ibuku menghilang dari kehidupan publik, menikah dengan ayahku yang saat itu hanya pegawai biasa, dan hidup dalam persembunyian diam-diam." Arya menjelaskan runtut, matanya tak lepas dari wajah Naya.
"Dan... Ibu meninggal saat melahirkanku. Katanya karena sakit mendadak. Tapi... dokternya aneh. Semuanya aneh," Naya bergumam, potongan ingatan masa kecil yang samar mulai muncul kembali. Ia menarik napas tajam. "Selama ini aku bingung kenapa Ayah jadi pendiam, dingin, dan sangat protektif. Dia melarang aku keluar, melarang aku berteman, melarang aku bertanya soal masa lalu. Aku pikir dia cuma sedih karena kehilangan Ibu. Ternyata... ternyata dia sedang bersembunyi dari sesuatu. Atau seseorang."
Naya meremas tangan Arya balik, genggamannya kuat, penuh keputusasaan namun juga harapan.
"Arya, aku takut. Jujur aku takut. Kalau ternyata... kalau ternyata Ayah benar-benar bersalah, kalau dia yang menyakiti Ibumu, kalau dia yang membuat Ibumu hilang... aku tidak tahu harus bagaimana. Dia satu-satunya keluarga yang aku punya." Air mata kembali menetes.
Arya mengusap punggung tangan Naya dengan ibu jarinya, gerakan lembut yang entah kenapa membuat ketakutan di dada Naya sedikit berkurang.
"Aku tidak ingin menyakiti ayahmu, Naya. Dan aku tahu kamu pasti terluka kalau hal buruk terjadi padanya. Tapi kita butuh kebenaran. Entah buruk atau baik, kita berhak tahu. Karena ini hidup kita. Ini darah kita." Arya menatap tajam ke dalam manik mata cokelat itu. "Dan aku percaya... ibumu dan ibuku tidak ingin kita bermusuhan. Lihatlah takdir ini. Bagaimana kita bertemu, bagaimana kita terus bertemu, bagaimana kalung ini... Semesta seolah berusaha menyatukan kita kembali."
Naya terdiam lama, menatap mata hitam Arya yang dalam dan tulus. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naya merasa ia tidak sendirian. Beban berat yang selama ini ia pikul sendirian di rumah besar yang dingin ini, tiba-tiba terasa lebih ringan karena ada tangan lain yang ikut memikulnya.
Ia ingat bagaimana Arya menggendongnya di tengah hujan. Bagaimana Arya mengusap wajahnya dengan lembut. Bagaimana Arya tidak menghakiminya meski ia sudah bersikap jahat.
Naya menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. Ia menghapus sisa air matanya, mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius dan tegas—sisi kuat yang diwarisinya dari kedua orang tuanya.
"Baik. Aku bantu kamu, Arya," ucap Naya tegas. "Aku akan bantu kamu cari tahu kebenaran. Aku akan cari dokumen lama, surat-surat, apapun yang Ayah simpan di ruang kerjanya yang selalu dikunci. Tapi... ada satu syarat."
"Apa saja. Katakan," sahut Arya cepat.
"Janji satu hal," Naya menatap tajam, matanya memohon. "Kalau nanti ternyata Ayah terlibat, kalau dia ternyata salah... tolong jangan langsung menghakiminya. Dengarkan ceritanya dulu. Aku yakin... pasti ada alasan. Ayahku bukan orang jahat. Dia cuma orang yang hancur dan ketakutan."
Hati Arya tersentuh. Di tengah misteri dan bahaya ini, Naya tetaplah seorang anak yang menyayangi ayahnya. Itu membuat gadis ini semakin berharga di matanya.
"Aku janji, Naya. Aku akan dengar semua sisi cerita. Kita cari kebenaran bersama, dan kita hadapi apapun hasilnya... bersama-sama."
"Bersama-sama..." ulang Naya pelan. Ada senyum kecil, sangat tipis namun sangat indah, yang merekah di bibirnya. Senyum yang pertama kali Arya lihat. Senyum yang murni, tulus, dan penuh harapan.
Saat itu juga, di ruang tamu mewah yang sunyi itu, sebuah persekutuan terjalin. Bukan lagi benci, bukan lagi curiga. Melainkan sebuah ikatan persaudaraan, persahabatan, dan mungkin... sesuatu yang lebih, yang ditenun oleh benang merah takdir yang sudah dipersiapkan Tuhan sejak dua puluh tahun lalu.
Namun, mereka lupa satu hal penting.
Dinding-dinding rumah Wijaya ini memiliki banyak telinga. Dan di balik kaca jendela pintu geser yang sedikit terbuka di ujung lorong, sepasang mata tua yang merah dan penuh amarah sedang mengawasi mereka. Mendengar setiap kata. Melihat setiap genggaman tangan.
Hendrawan Wijaya, ayah Naya, berdiri kaku di sana. Wajahnya merah padam menahan emosi, tangannya mengepal erat hingga urat-urat di lengannya menonjol.
Jadi anakku sendiri bersekongkol dengan anak dari wanita itu... batin Hendrawan, matanya memancarkan kilat bahaya yang gelap. Kalau kalian mencari masalah, maka kalian akan menemukannya. Dan kalian tidak akan suka dengan apa yang kalian temukan.
Badai baru saja reda di luar, tapi badai yang jauh lebih besar dan mematikan baru saja dimulai di dalam rumah itu.