Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12
Amelia menatap bahan makanan yang ada dalam kulkas. Bingung harus memasak apa untuk menyambut tamu spesial hari ini. Semalam Caelan menghubunginya, memberitahu bahwa orangtua Caelan alias kakek dan nenek Emi sudah mengetahui keberadaan Emi dan sangat antusias untuk bertemu Emi.
Caelan bertanya apakah bisa membawa orangtuanya untuk menemui Emi, Amelia mengiyakan. Namun, Amelia tidak menyangka Caelan akan membawa kakek dan nenek Emi hari ini. Caelan baru memberitahu tadi pagi saat pria itu akan berangkat ke rumah Amelia.
Tentu saja, Amelia akan menyambut baik kedatangan kedua tamu spesial itu. Namun, ia tidak memiliki persiapan. Bahan-bahan di kulkasnya terbatas karena belum berbelanja sehingga sangat sedikit pilihan menu yang bisa dimasaknya untuk makan siang empat orang dewasa.
Hanya ada dada ayam, buncis, baby corn, dan kentang. Jadi, Amelia memutuskan untuk membuat ayam goreng mentega ditambah kentang agar dada ayam sebanyak setengah kilo itu cukup untuk empat orang dewasa. Lalu menumis buncis dan baby corn sebagai pelengkap. Ia juga memasak nasi.
Sebenarnya, Amelia bisa memesan makanan dari luar. Ada beberapa restoran yang menawarkan makanan lezat di dekat tempat tinggalnya. Hanya saja, ia lebih memilih menyambut tamunya dengan masakan rumahan. Berharap masakan rumahan itu memberikan nilai ekstra di depan orangtua Caelan.
Amelia memotong ayam dan sayuran, menyiapkan bumbu dan saos, sambil sedikit mengomel, karena Caelan tidak memberitahunya sejak semalam padahal mereka mengobrol lebih satu jam tadi malam.
Setelah makanan siap, Amelia memutuskan untuk membuat susu semangka karena udaranya cukup panas hari ini. Pukul setengah sebelas urusan dapur sudah selesai, jadi Amelia beralih ke tugas bersih-bersih. Mulai dari dapur dan ruang makan, lalu ke ruang tamu. Amelia berusaha menyelesaikan semuanya sementara Emi masih sibuk bermain sendiri di atas playmate. Emi pagi ini cukup tenang sehingga Amelia bisa bekerja dengan cepat tanpa gangguan.
Hanya saja, Emi memutuskan untuk meminta perhatian ketika Amelia memutuskan untuk mandi. Dengan terpaksa, Amelia membawa Emi ke kamar mandi. Sementara Emi bermain air, Amelia mandi dengan cepat. Setelah berganti pakaian, ia membawa Emi keluar dan mengganti pakaian gadis kecil itu.
Setelah berganti pakaian dan minum susu, Emi tetap rewel sehingga Amelia terpaksa menggendong Emi di pinggul sambil merapikan bantal-bantal sofa. Amelia tidak sempat berdandan karena harus menenangkan Emi yang terus menggosok-gosok gusinya. Bayi yang sedang tumbuh gigi memang sedikit rewel, tapi masih bisa Amelia atasi meskipun harus merelakan waktu berdandan dan menemui orangtua Caelan tanpa riasan sama sekali.
Mobil Caelan berhenti di halaman rumah diikuti sebuah mobil lain di belakangnya. Keduanya mobil sedan yang tampak mahal dan membuat Amelia menyadari bahwa Caelan benar-benar terlahir di sebuah keluarga kaya.
Amelia pergi ke pintu depan sambil menggendong Emi. Ia mendadak waswas sembari menungguk Caelan menghampiri ke pintu, sementara Emi membenamkan wajah di sisi tubuhnya sambil meraung.
“Tidak apa-apa, Sayang.” Amelia berusaha menenangkan Emi. “Jangan menangis, kau akan segera bertemu kakek dan nenekmu.”
Namun, Emi tidak dapat ditenangkan. Tangis gadis kecil itu semakin kencang, Amelia hanya bisa pasrah. Ia menatap Caelan yang sudah berdiri di depannya dengan putus asa. “Kurasa, giginya tumbuh lagi,” ujar Amelia.
Dengan tenang Caelan meraih dan mendekap Emi di dada sambil mengusap-usap punggung Emi.
“Tak apa-apa, Sayang. Om Caelan tersayang sudah datang.”
Di belakang Caelan seorang wanita paruh baya membekap mulut dengan mata berkaca-kaca ketika mengamati Caelan menenangkan dan mengayun Emi sambil berbicara dengan nada lirih pada bayi kecil itu hingga Emi diam. Kemudian Caelan memutar Emi dalam gendongan sehingga menghadap wanita itu.
“Ma, Pa, ini Emi.”
Emi terbelalak menatap orangtua Caelan, lalu bibir mungil itu kembali gemetar hampir menangis lagi.
“Oh, Sayang. Gigimu sedang tumbuh, ya?” ujar Ibu Caelan. Wanita itu mengambil Emi dari Caelan, lalu menggendong Emi mengitari halaman sambil bernyanyi hingga perhatian Emi teralih dari gusi yang gatal karena sedang tumbuh gusi.
Sementara Emi ditenangkan oleh Ibu Caelan, Caelan mengajak Amelia berkenalan dengan ayah pria itu.
“Pa, ini Amelia,” kata Caelan.
Amelia menyalami pria paruh baya yang sedikit lebih pendek dari Caelan. Rahang tinggi dan raut wajah tegas pria itu mirip dengan Caelan, tapi matanya berwarna hitam pekat, membuat pria itu terlihat lebih mengintimidasi daripada Caelan. Namun, pandangan mata pria itu terlihat ramah dengan senyum di bibir sehingga Amelia sama sekali tidak merasa terintimidasi.
“Senang bertemu denganmu, Amelia. Namaku Simon, dan itu istriku, Ana. Maaf sudah mengunjungimu dengan pemberitahuan yang sangat singkat. Kami tidak bisa menunggu sampai besok untuk bertemu dengan Emi. Kuharap kau tidak keberatan.”
“Dengan senang hati,” sahut Amelia. Meski dikelilingi dua pria yang hampir 30 sentimeter lebih tinggi darinya, Amelia sama sekali tidak merasa terintimidasi. Sebab kedua pria itu begitu ramah dan hangat padanya.
“Dan terima kasih sudah berbaik hati menawari kami makan siang. Kau baik sekali.”
Perkataan Simon mengingatkan Amelia kalau makan siang tersebut belum ditata di atas meja, matanya terbelalak kaget dan segera berkata, “Permisi, aku harus mengecek dapur dulu.”
Amelia setengah berlari ke dapur dan mengecek semua masakannya, semua masih hangat sehingga ia segera menyajikannya di meja. Ia mengambil piring-piring dari kabinet, piring berat dan tebal milik almarhum ibunya yang biasa digunakan jika ada tamu.
Amelia sedang mengisi gelas-gelas dengan air ketika Caelan masuk ke dapur dan menatap makanan di meja dengan antusias.
“Kelihatannya enak.”
“Tentu saja,” jawab Amelia. Meskipun masakannya hanya makanan rumahan biasa, tapi Amelia cukup percaya diri dengan rasanya. “Bagaimana Emi?”
“Sudah diam, sekarang sedang bermain dengan orangtuaku.” Caelan terdiam sejenak. “Terima kasih sudah mengizinkan mereka datang,” ucap Caelan lirih, “Mereka terkejut setelah mendengar tentang Emi, tapi sangat antusias untuk bertemu Emi. Aku ingin menjemputmu dan Emi lalu mengatur pertemuan dengan orangtuaku di suatu tempat. Namun, kupikir akan lebih baik bertemu di sini. Terutama karena saat ini Emi sedang rewel karena tumbuh gigi. Aku benar-benar menghargai ini.”
Amelia menggeleng pelan. “Meskipun pemberitahuanmu mendadak, tapi aku tidak bisa menolaknya. Orangtuamu berhak bertemu dengan Emi.”
“Terima kasih, Amelia,” ucap Caelan.
Amelia hanya mengangguk karena tenggerokannya tercekat. Konyol memang karena Caelan hanya mengucapkan terima kasih. Namun, itu sangat berarti bagi Amelia.
“Kau bisa memanggil orangtuamu sekarang, makan siangnya sudah siap.”
“Siap, Madam,” sahut Caelan. Sebelum pergi Caelan mencomot sepotong ayam dari piring.
“Hei, cuci tanganmu dulu sebelum makan,” tegur Amelia. Teguran itu percuma karena Caelan sudah memasukkan ayam ke dalam mulut.
“Enak seperti biasanya,” puji Caelan yang membuat wajah Amelia memerah. “Kau harus sering memasakkannya untukku.”
“Kau sudah makan masakanku setiap minggu,” protes Amelia.
“Kurang, aku ingin memakannya setiap hari,” ujar Caelan, “dan akan kuusahakan itu.”
“Apa yang ingin kau usahakan, Caelan?”
Suara Simon yang baru masuk ke dapur bersama Ana dan Emi membuat Amelia dan Caelan terkejut.
“Mengusahakan agar bisa makan masakan Amelia setiap hari, Pa.” Sahutan jujur Caelan membuat Amelia gugup. Ia mendelik pada Caelan, memperlihatkan ketidaksetujuannya. Namun, Caelan hanya menanggapinya dengan mengangkat bahu.
“Sepertinya, ada yang belum kau ceritakan pada kami,” ujar Ana.
Caelan hanya mengangkat tangan. “Akan kuceritakan nanti, Ma,” ujar Caelan. “Sekarang saatnya makan.”