"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Bunga Mekar di Tembok Batu, Cinta yang Tak Pandang Derajat
Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang membalut seluruh lembah hijau itu. Latihan hari ini telah usai. Li Yao duduk lemas di atas sebuah batu besar, keringat membasahi seluruh pakaiannya, otot-ototnya terasa panas dan pegal, namun ada senyum puas di wajahnya.
Di sisi lain, Ling Qingyu sedang duduk tenang memetik alat musik tradisional sederhana yang ia buat dari bambu. Suara melodi yang keluar begitu indah, menenangkan jiwa, seolah mampu menghapus seluruh rasa lelah dalam sekejap.
Li Yao menatap punggung wanita itu dengan tatapan penuh cinta, namun di baliknya terselip sebuah keraguan yang lama menghantuinya. Ia berdiri, berjalan mendekat, lalu duduk bersila di hadapan Ling Qingyu yang segera menghentikan permainan musiknya.
"Qingyu," panggil Li Yao pelan, suaranya terdengar ragu. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa itu, Yao? Kau tampak serius sekali," jawab Ling Qingyu sambil tersenyum, matanya memancarkan kehangatan.
Li Yao menunduk menatap tangannya sendiri yang kasar, penuh kapalan dan bekas luka goresan. Lalu ia menatap tangan Ling Qingyu yang putih mulus, halus seperi giok. Perbedaan itu begitu mencolok, seperti bumi dan langit.
"Kau ini... seorang ahli kultivasi hebat. Darah biru, cantik, anggun, dan kuat. Kau ibarat bunga teratai yang mekar megah di atas air yang jernih," ucap Li Yao pelan.
Ia lalu menunjuk dirinya sendiri.
"Sedangkan aku? Aku hanyalah pemuda desa. Tidak punya latar belakang, tidak punya bakat, tidak punya kekuatan. Aku ibarat rumput liar yang tumbuh di celah-celah batu yang kering. Hidupku hanya mengandalkan cangkul dan tanah liat."
Li Yao menghela napas panjang, menatap mata wanita itu dalam-dalam.
"Jadi... kenapa? Kenapa kau mau memilihku? Kenapa kau mau berada di sisiku? Apakah kau tidak merasa... terhina? Atau merasa sayang akan kecantikan dan martabatmu yang harus terbuang bersamaku yang kotor dan rendahan ini?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membawa semua rasa minder dan ketakutan yang selama ini ia pendam.
Mendengar itu, wajah Ling Qingyu berubah menjadi sedikit sedih. Ia tidak langsung menjawab, melainkan perlahan mengulurkan tangannya, memegang wajah kasar Li Yao dengan kedua tangan halusnya.
"Dasar bodoh..." bisiknya lembut. "Apa yang kau katakan itu hanyalah pandangan mata orang lain. Bagi mereka, mungkin status, kekayaan, dan kekuatan itu segalanya. Tapi bagiku... itu semua tidak ada artinya."
"Tapi perbedaannya terlalu jauh, Qingyu!" sanggah Li Yao. "Kau bidadari, aku cacing tanah!"
"Jika aku menginginkan status atau kekuatan, aku tidak akan berada di sini," kata Ling Qingyu tegas, namun suaranya tetap lembut. "Di dunia luar, ada ribuan pemuda jenius dari sekte besar yang melamariku. Mereka tampan, kaya, dan kuat. Mereka bisa memberiku kemewahan, istana, dan segalanya."
Li Yao terdiam, jantungnya sedikit mencelos mendengarnya.
"Tapi..." Ling Qingyu melanjutkan, jari telunjuknya mengusap bibir Li Yao. "Mereka tidak pernah bisa memberiku apa yang kau berikan padaku. Mereka tidak memiliki hati sehangat milikmu. Mereka tidak memiliki ketulusan sebersih milikmu."
Wanita itu menunjuk ke sebuah celah dinding batu di dekat mereka. Di sana, terlihat sebuah tanaman kecil yang berjuang tumbuh di antara bebatuan keras, dan anehnya... ia justru mekar mengeluarkan bunga yang sangat indah dan berwarna cerah.
"Lihatlah ke sana, Yao," tunjuknya. "Itu adalah bunga liar. Ia tumbuh bukan di tanah yang subur, melainkan di tembok batu yang keras dan kering. Tidak ada yang merawatnya, tidak ada yang menyiramnya."
Ling Qingyu menatap kekasihnya.
"Namun lihatlah betapa indahnya bunga itu. Ia bahkan terlihat lebih berharga dan kuat daripada bunga-bunga yang tumbuh di taman istana. Itulah gambaran cinta kita, Yao."
"Cinta kita...?"
"Ya," Ling Qingyu mengangguk mantap. "Cinta tidak mengenal derajat. Cinta tidak melihat apakah kau ini putra raja atau anak petani. Cinta hanya melihat isi hati. Kau lihat tembok batu itu? Keras dan dingin. Tapi bunga itu tetap bisa mekar dengan indah. Begitu juga hatiku."
Ia mendekatkan wajahnya, jarak mereka tinggal beberapa inci saja.
"Meskipun latar belakang kita berbeda seperti langit dan bumi, meskipun dunia menentang kita, cintaku padamu akan tetap mekar. Kau adalah batu yang keras, tapi kau adalah tempat yang paling kokoh bagiku untuk bersandar."
Air mata haru mulai menggenang di pelupuk mata Li Yao. Kata-kata itu menghancurkan semua tembok keraguan yang selama ini membatasi dirinya.
"Qingyu..."
"Jangan pernah merasa rendah di hadapanku lagi, Li Yao. Di mata cinta, kita sama. Kita sama-sama manusia yang saling membutuhkan. Kau adalah dunianya, dan aku adalah duniamu."
Tanpa bisa menahan diri lagi, Li Yao menarik tubuh Ling Qingyu ke dalam pelukannya. Pelukan yang erat, penuh rasa syukur, dan penuh cinta. Ia mencium puncak kepala wanita itu berkali-kali.
"Terima kasih... terima kasih, Qingyu. Kau membuatku merasa menjadi orang paling berharga di dunia ini," isak Li Yao bahagia.
"Aku mencintaimu, Li Yao. Bukan karena apa yang kau miliki, tapi karena siapa dirimu," bisik Ling Qingyu di dada bidang kekasihnya.
Di bawah langit senja, di tengah perbedaan yang begitu jauh, cinta mereka bersemi bak bunga ajaib di tembok batu. Indah, kuat, dan tak tergoyahkan oleh apapun.