Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 - Festival Musim Semi
Gegap-gempita terdengar riuh-rendah di ibu kota petang itu. Berbagai jenis lampu dan lampion mewarnai sepanjang jalan dan banyak kedai yang dibangun khusus untuk menyemarakkan hari. Tidak ada tempat atau sekadar sudut yang sepi. Festival telah dimulai.
Tumpah-ruah, para iblis seolah tidak ada yang bertahan di rumah atau bersembunyi di area-area tertentu. Mereka hampir berdesak-desakan di sepanjang jalan, memenuhi berbagai sudut yang terbentuk oleh keberadaan kedai-kedai. Sebagian besar iblis datang berdua, dengan bergandeng tangan dan tubuh-tubuh yang seolah enggan terpisahkan. Meski begitu tidak sedikit pula iblis yang tampil seorang diri dengan wajah waspada, dan anak-anak yang berlarian membelah keramaian.
Avara mengenakan tudung yang biasa dipakainya setiap keluar istana, mengikuti langkah-langkah Fulqentius, dan bertanya-tanya. Hanya perasaannya-kah atau memang festival ini seperti ajang bagi para iblis pergi berkencan?
Fulqentius tertegun ketika Avara akhirnya menyuarakan rasa ingin tahunya. "Aku belum bilang, ya," gumam sang raja iblis. "Ini festival musim semi yang biasa diisi para iblis dengan acara bersama pasangan mereka, dan bagi iblis yang masih sendiri menjadi ajang mencari pasangan untuk mereka."
Seperti valentine?
"Apakah tidak masalah jika saya bersama Anda sekarang?" cicit Avara.
Fulqentius mengernyit. "Tentu saja." Tanpa benar-benar memahami kekhawatiran yang dirasakan Avara saat itu.
Merapatkan tudungnya, Avara mau tak mau pasrah pada sang raja iblis. Dia menelan rasa segannya berjalan bersama seorang raja yang di sepanjang ruas jalan memperoleh pandangan dari semua iblis, terutama para iblis lajang yang bisa jadi mengharapkan perhatiannya. Avara takut jika keberadaannya akan menimbulkan prahara tak perlu bagi orang lain dan terlebih bagi Fulqentius.
Namun melihat lelaki itu begitu tenang, Avara turut merasa mungkin segalanya akan baik-baik saja.
Jadi masih digelayuti pandangan para iblis, mereka berdua menyusuri jalan-jalan di mana kedai-kedai berjejeran, sepenuhnya lepas dari tangan-tangan Oriole maupun para prajurit yang bersikeras ingin mendampingi sang raja. Fulqentius sudah menepikan mereka semua, ikut bersikeras bahwa dia tidak perlu pengawalan untuk hadir dalam pesta milik rakyatnya sendiri.
Sudah puluhan kali Fulqentius dan Avara berhenti karena sang raja memperoleh sapaan hormat dari para iblis, dan sudah puluhan kali pula mereka melewati bisik-bisik tak sedap yang mengomentari keberadaan keduanya bersama.
"Kenapa His Majesty harus datang bersama manusia itu?"
"Apa yang dilakukan manusia itu di sini?"
Meski begitu tidak sedikit pula yang turut menyapa Avara dengan hangat dan memujinya terkait program-program yang sudah dilaksanakannya selama ini. Mereka adalah iblis-iblis yang tidak disangka Avara memiliki hati yang tulus dan penuh rasa syukur.
"Staf arsip, berkat kau sekarang kami jadi lebih mudah mendapat pasokan makanan."
"Aku jadi lebih mudah berobat."
"Apa kau punya program baru setelah ini?"
Adalah Fulqentius yang justru menjadi pengawalnya di saat seperti itu, untuk memastikannya aman dan tidak hilang di keramaian. Bagaimanapun ternyata banyak iblis yang ingin bertemu kembali dengan Avara, pasca dirinya terlibat dalam pembuatan segel identitas beberapa waktu lalu. Lagi-lagi, Fulqentius menggoda Avara bahwa rakyatnya lebih ingin dan suka berjumpa dengan dirinya ketimbang sang raja.
Mereka menghampiri beberapa kedai makan dan membeli apapun yang ingin mereka cicipi. Para iblis yang semula begitu kaku ketika berhadapan langsung dengan Fulqentius segera luluh saat mendapati keberadaan Avara. Agaknya ratusan tahun pun belum bisa membuat mereka terbiasa menjumpai langsung raja iblis, terlebih di festival yang meski semua orang seharusnya turun membumi.
"Apa ada tradisi tertentu di festival musim semi?" Mungkin memberi coklat?
Fulqentius tiba-tiba berhenti melangkah, hampir membuat Avara menabrak bagian belakang tubuhnya. Telunjuknya yang panjang mengarah ke satu titik, di mana sebuah lampion berpendar lembut menaungi sepasang iblis yang tengah berciuman di bawah sinarnya. Avara membeku.
Gadis itu belum sepenuhnya memahami situasi hingga matanya menangkap beberapa pasangan lain melakukan hal yang sama di bawah lampion yang lain.
Jadi.. ini musim kawin bagi para iblis..
Wajah Avara bersemu tapi juga pucat di saat bersamaan. Dia cukup malu mendapati banyak kecupan mulai terdengar di sekitarnya, dan dengan segera menyadari arti tatapan para iblis yang sejak tadi mengekorinya dan Fulqentius.
Jika benar festival ini adalah bentuk lain dari musim kawin bagi para iblis, maka sekarang adalah waktu yang krusial juga bagi sang raja iblis untuk turun tangan menciptakan keturunan.
Tak ayal jika kebanyakan pandangan tajam yang dia peroleh petang itu berasal dari para iblis wanita.
Avara sudah merasa akan tiba waktunya dia hanya menjadi penghambat 'perjalanan cinta' sang raja iblis saat seorang iblis wanita yang kelihatannya adalah seorang bangsawan datang mendekat. Dari kejauhan sudah tercium aroma parfumnya yang terasa mendominasi, yang dengan segera pula menyadarkan Avara untuk diam-diam menyingkirkan diri sebelum terlibat masalah yang tak perlu.
"Selamat petang, Your Majesty," sapa iblis itu.
"Lady Rosett."
"Sungguh kehormatan besar bisa menemui Anda di sini," Rosett membungkuk memberi hormat. "Seperti biasa, Anda selalu sendiri, My Lord."
Fulqentius mengernyit, mengedarkan pandangan. "Tidak, aku tidak sendiri." Dan mendapati Avara sudah menjaga sekian jarak dari tempatnya berdiri. "Apa yang kau lakukan? Jangan berada jauh-jauh dariku," tukasnya pada Avara yang mati-matian berusaha menyembunyikan keberadaan.
"Anda sedang menemui seorang Lady, bukan? Saya bisa berkeliling sendiri, Your Majesty."
"Tidak, kau akan hilang di keramaian."
Maka Fulqentius menyeret Avara ke hadapan Rosett yang segera merengut, memperkenalkannya sebagai staf pribadi yang sudah banyak berjasa bagi kerajaan iblis.
"Your Majesty, saya tidak mau bersikap lancang, tapi bukankah sekarang seharusnya Anda menikmati festival dengan pergi bersama seorang iblis wanita daripada berkeliling bersama saya?" bisik Avara.
Rosett mendengus mendengar Avara, tapi tidak bisa tidak mendukungnya. "Itu benar, Your Majesty. Bagaimana jika saya saja yang menemani Anda hari ini?"
Fulqentius bergeming terhadap ajakan itu.
"Ini malam yang penting.." bujuk Avara sekali lagi.
Namun Fulqentius menolak, "Tidak perlu. Ini adalah festival pertamamu di sini, jadi aku tidak bisa membiarkanmu berkeliaran seorang diri. Ayo."
Kelepak jubah gelap sang raja iblis dan sosoknya yang menjauh adalah hal terakhir yang bisa disaksikan Rosett yang kecewa, dan satu potret yang disesali oleh Avara yang juga merasakan kekecewaan itu. Gadis itu tahu-tahu saja bahwa banyak di luar sana para iblis wanita yang ingin menjadi pasangan Fulqentius dan menerima benihnya sebagai garis keturunan resmi kerajaan iblis. Namun tampaknya selama ini sang raja telah melewati ratusan kali festival tanpa mau ikut serta dalam perkawinan yang pasti dinanti semua orang.
Avara sedang sibuk memikirkan segala kemungkinan dan kenyataan tentang Fulqentius yang menolak mentah-mentah masa kawinnya dengan iblis lain, saat lelaki itu tiba-tiba berhenti dan membuat Avara membentur punggungnya.
"Kau tidak apa-apa?"
Avara sedikit terhuyung, tapi dia menjawab, "Saya baik-baik saja. Ada apa?"
Fulqentius menunjuk sebuah kedai yang menjual sosis bakar, "Kau mau?"
Avara tersenyum, mengangguk.
Maka mereka berderap mendekati kedai itu, memesan dua porsi sosis yang rupanya cukup besar bagi Avara. Dia bertanya dalam nada bercanda, "Ini tidak dibuat dari daging manusia, kan?"
Awalnya dia pikir sosis itu akan cukup mengisi perut mereka apalagi setelah banyaknya macam jajanan yang sudah mereka cicipi, tapi Fulqentius terus mengajaknya untuk mencoba makanan dan minuman dari kedai lain, sepenuhnya membuat Avara melupakan masalah masa kawin sang raja iblis. Saat perutnya hampir menyerah, Avara berujar, "Rasanya nostalgia. Dulu saya sering datang ke acara semacam ini di dunia saya."
"Ada festival seperti ini juga di duniamu?"
Avara mengangguk, pandangannya jauh. "Kurang lebih hampir sama," ucapnya. "Tapi tidak ada orang-orang yang saling berciuman di sepanjang jalan!"
Dan mereka tersenyum bersama.
Hari itu Avara belajar satu hal baru tentang sosok Fulqentius, dan diam-diam begitu pula sebaliknya.