NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Pelakor / Tamat
Popularitas:64.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca
please komen, subscribe, vote, dan like🫶

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 26

Rana melirik suaminya yang tengah fokus menyetir mobil. Jalanan cukup padat di malam hari, Alaric duduk menahan kantuk, sedangkan Masayu sudah terlelap dalam dekapan Rana.

"Mas," panggil Rana memecah keheningan.

"Hmm,"

Rana seperti hati-hati, namun pada akhirnya ia menatap penuh suaminya yang sedang mengendalikan mobil.

"Ayah aku benar-benar tertarik dengan perkataanmu. Nggak biasanya ayah bakal muji orang sedemikian rupa, biasanya ayah bakal cuek-cuek aja. Aku rasa, ayah akan membantu soal gagasanmu tadi." Sanggah Rana tersenyum lebar.

Dipta melirik Rana sejenak, lalu kembali fokus pada jalan.

"Begitukah?"

Rana menangkap nada suara suaminya berbeda, tidak ada rasa bahagia sama sekali. Rana kembali menatap lamat.

"Apa...ayahku mengatakan hal yang menyinggung perasaanmu, Mas?" tanya Rana, nadanya tenang namun hati-hati.

"Tidak. Ayahku juga barusan mengatakan hal yang sama kepadaku soal pujian ayahmu. Tidak biasanya Pak Wijaya memuji seseorang dengan persaan bangga."

Rana diam.

"Kenapa...suaramu..."

Dipta memotong pembicaraan, "besok Mas akan ke Bal. Bareng Hamdan."

Rana menoleh, "kok, dadakan sih?"

Dipta hanya tersenyum- dipaksakan.

"Bunda...masih lama ya? Mas Al mau pipis..." gumam putra sulung mereka.

"Sebentar lagi, Mas." Jawab Dipta.

Benar, mereka sampai di rumah mereka. Gerbang besi di buka oleh satpam rumah mereka. Begitu gerbang di buka, mobil hitam mewah Dipta memasuki halaman rumah. Mesin mobil di matikan, lalu Alaric buru-buru turun dari mobil untuk gegas menuju kamar mandi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam mulai larut ketika Dipta masih duduk sendiri di ruang kerjanya. Lampu meja berwarna temaram menyoroti setumpuk dokumen yang tadi sore di titipkan Hamdan kepada satpam rumah. Berkas itu adalah berkas mengenai agenda forum investor di Bali, daftar tamu penting, susunan acara, hingga proposal kerja sama yang harus yang ia persentasikan esok hari.

Ruang itu sunyi, hanya terdengar suara lembaran kertas yang di balik perlahan dan detik jam dinding yang berjalan teratur.

Dipta menelusuri setiap halaman dengan tatapan tajam, mencoba menenggelamkan dirinya pada angka-angka, grafik pertumbuhan investasi, dan kalimat-kalimat formal yang sejak dulu terasa asing baginya.

Namun saat matanya menangkap kalimat "ekspansi bisnis keluarga Mahendra menuju pasar internasional" , jemarinya terhenti.

Entah mengapa, suara seseorang mendadak terngiang begitu jelas di kepalanya. Suara berat dengan penuh kuasa milik ayahnya, Tuan Mahendra Putra Pratama. Saat mereka berdiri di pelataran parkir restoran beberapa jam lalu, setelah makan malam keluarga selesai.

"Ayah bangga padamu, Dipta. Cara bicaramu, caramu membawa nama keluarga, caramu membaca peluang...kamu memang pantas menjadi penerus ayah."

Kalimat itu seharusnya terdengar seperti pujian.

Namun di telinga Dipta, itu terdengar seperti rantai.

Ia menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi, menutup file di hadapannya. Sorot matanya kosong, menembus dinding ruang kerja seolah sedang menatap masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Sejak kecil, hidup Dipta tak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ia selalu dituntut menjadi sempurna. Menjadi putra kebanggaan, menjadi pewaris, menjadi wajah masa depan keluarga Mahendra. Menjadi apapun yang ayahnya inginkan, kecuali menjadi diri sendiri.

Padahal jauh didalam hatinya, Dipta membenci dunia yang kini ia jalani. Ia tidak pernah mencintai rapat bisnis, angka investasi, pesta jamuan elit, atau pertemuan formal yang dipenuhi topeng kesopanan.

Yang ia cintai adalah kebebasan.

Buku-buku sastra yang dipenuhi kalimat-kalimat jujur. Menulis jurnal tentang kegelisahan hidup. Memotret langit senja, jalanan basah sehabis hujan, atau wajah-wajah asing yang menyimpan ribuan cerita.

Dunia sederhana yang membuatnya merasa hidup.

Bukan dunia ini.

Lalu memorinya beralih pada satu nama yang pernah membuatnya merasa berani melawan.

Laras.

Perempuan itu hadir di masa kuliahnya sebagai kakak tingkat yang cerdas, berani, dan berbeda dari perempuan-perempuan yang dikenalkan keluarganya. Laras pernah menjadi tutor akademiknya; dari sesi belajar yang kaku, berubah menjadi percakapan panjang tentang mimpi, idealisme, dan hidup yang ingin dijalani.

Untuk pertama kalinya, Dipta pernah merasa dipahami. Untuk pertama kalinya, seseorang melihat Dipta- bukan sebagai anak Mahendra- melainkan sebagai manusia biasa.

Dengan keyakinan penuh, Dipta pernah membawa Laras pulang. Memperkenalkannya pada kedua orang tuanya. Mengatakannya dengan mantap-

"Aku mencintainya. Aku ingin menikah dengannya."

Namun yang ia terima hanyalah penolakan keras. Nama keluarga. Martabat. Latar belakang. Kepatuhan. Semua alasan dilemparkan seperti vonis.

Hubungan itu dianggap noda.

Meski begitu, setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, Dipta diam-diam masih menjalin hubungan dengan Laras. Ia bahkan telah memutuskan dalam hatinya-

Laras adalah perempuan yang akan menjadi istrinya.

Tapi takdir kembali memaksanya kalah.

Pertengkaran demi pertengkaran dengan keluarga memuncak hingga Dipta memilih keluar dari rumah besar itu, meninggalkan segala kemewahan, tinggal sendiri dalam sunyi yang justru terasa lebih damai.

Namun kebebasan itu tidak berlangsung lama. Keluarganya datang. Menjemput - atau lebih tepatnya- menariknya kembali secara paksa.

Sejak hari itu, sesuatu dalam diri Dipta seperti patah. Lelaki yang dulu penuh idealisme perlahan menghilang.

Digantikan dengan sosok yang dingin.

Tenang.

Patuh.

Seorang putra sempurna yang tak lagi banyak bicara tentang mimpi.

Hingga suatu hari, di sebuah acara wisuda di Universitas Gadjah Mada, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Rana.

Perkenalkan mereka singkat. Nyaris tak berarti.

Namun Dipta masih ingat jelas bagaimana Rana berdiri dengan kebaya sederhana, wajah cantik yang teduh, tutur kata halus, dan sikap santun yang terasa begitu... menenangkan.

Tidak menuntut.

Tidak membantah.

Tidak membuat gaduh.

Rana seperti sungai tenang yang tak pernah ia punya.

Dan ketika mendengar kabar tentang Laras telah menikah, sesuatu dalam dirinya benar-benar runtuh. Dalam kekosongan itu, Dipta memutuskan paling rasional, atau mungkin paling egois dalam hidupnya.

Ia memilih menikahi Rana.

Bukan karena cinta yang menggebu. Melainkan karena ia telah lelah melawan takdir yang tak pernah memihak padanya.

Dan kini...

Di tengah malam yang sunyi, dengan berkas forum investor Bali di hadapannya, Dipta baru menyadari satu hal-

Selama ini ia hidup sebagai seseorang yang dibentuk oleh pilihan orang lain.

Bukan oleh pilihannya sendiri. Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia merasa takut.

Takut jika suatu hari Rana mengetahui bahwa lelaki yang dinikahinya pernah datang ke altar bukan dengan cinta... melainkan dengan kehancuran hati.

"Mas,"

Suara Rana memecah lamunan, ia menoleh pada sosok cantik di ambang pintu.

"Udah malem, tidur lho. kamu bilang besok harus flight ke Bali." Tegurnya seraya berjalan mendekat.

Dipta mematikan layar laptop, menutup semua dokumen yang ia baca tadi lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Rana.

"Apa...Mas baik-baik aja?" tanya Rana mendongak, menatap suaminya.

"Yah...aku baik. Kenapa kamu belum tidur?"

Rana membalikan badannya bersiap pergi ke kamar tidur. "Aku kebangun, barusan Ayu nangis. Kayanya dia mimpi deh."

Dipta mengekor di belakang, "mimpi?"

"Mimpi apa sampe nangis," tambah Dipta seraya menutup pintu ruang kerja.

Drtzzz...

Ponselnya bergetar, ada satu pesan yang membuat dirinya menghentikan langkahnya. Dari Laras.

{ Dipta, makasih udah mau bantu aku bawa Raka }

Rana menoleh, memperhatikan suaminya yang tengah menatap layar ponsel. "Ayu mimpi...kamu di ambil tante-tante jelek katanya."

Dipta terkesiap, suara Rana barusan cukup tegas saat mengatakan kata'tante'.

"Tante? Hah... ada-ada saja..." gumam Dipta terkekeh. "Ayo kita tidur, besok Mas harus berangkat ke Bali pagi-pagi."

Keduanya kembali melangkahkan kaki menuju kamar utama. Dipta mematikan layar ponsel sebelum pada akhirnya berjalan dan merangkul bahu Rana.

...****************...

Hai, apa yang akan terjadi selanjutnya????

Oh iya, bab selanjutnya Yehppee bakal ngasih visul character Alaric dan Masayu. Di tunggu ya🫶

Bersambung....

1
Bundanya Pandu Pharamadina
kak Author, terimakasih cerita bagus...
❤❤❤❤
Cheng Nyo
👍👍
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta Rana mungkin kurangnya komunikasi , semoga ga ada drama perempuan lain dalam rumah tangga kalian❤❤
Rosita Tumbelaka
Aq suka coment yg serius ajaa krn bikin Adrenalin ku naik..deg... deg... deg..
Rosita Tumbelaka
Ayoo Thor.... lanjut ...aneh istri nya bicara dgn pria lain di muka Umum marah. tapi suami berdua an dgn perempuan lain di tempat private mkn di resto ... apa itu pantas...
Bundanya Pandu Pharamadina
aduh Dipta gimana sih.... nggapeka dgn istri yg cemburu
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta jangan main api.. ingat istri juga anak² yg menunggu kepulanganmu
Bundanya Pandu Pharamadina
Laras ga tepat waktu klo telfon.. ga lihat waktu,
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga ga ada drama kegoda masa lalu, tetap jadi keluarga harmonis Dipta Rana❤
Bundanya Pandu Pharamadina
masa lalunya Dipta kah laras....
Bundanya Pandu Pharamadina
ijin marathon kak Author🙏
Ririn Nursisminingsih
kereen rena👍👍
Ririn Nursisminingsih
syukurin Dipta terus aja bahagiain mntan kmu itu
Ririn Nursisminingsih
dipta kmu mulai main hati rena jg mudah percaya ini juga sang mntan ganggu aja
Sayekti 0519
baguss dan nyata sakitnya
Memyr 67
𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗋𝖺𝗉 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖼𝖺𝗅𝗈𝗇 𝗃𝖺𝗇𝖽𝖺. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗇𝗂 𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂
Memyr 67
𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖽𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖾𝗇𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗋𝖺𝗃𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗌𝗎𝖺𝗌𝖺𝗇𝖺 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗋𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗇𝗒𝖺𝗆𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋 𝗈𝗍𝖺𝗄 𝖽𝗂 𝖻𝗈𝗄𝗈𝗇𝗀
Nha_A
IRT apa thoor? Ibu Rumah Tangga? kirain kalo pembantu itu ART, Asisten Rumah Tangga
🍀 YEHPPEE 🍀: typo kayak nya hehe makasih koreksinya
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart/
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih
total 1 replies
Gemuruh riuh
akhirnya happy ending 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!