NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 26

Rana melirik suaminya yang tengah fokus menyetir mobil. Jalanan cukup padat di malam hari, Alaric duduk menahan kantuk, sedangkan Masayu sudah terlelap dalam dekapan Rana.

"Mas," panggil Rana memecah keheningan.

"Hmm,"

Rana seperti hati-hati, namun pada akhirnya ia menatap penuh suaminya yang sedang mengendalikan mobil.

"Ayah aku benar-benar tertarik dengan perkataanmu. Nggak biasanya ayah bakal muji orang sedemikian rupa, biasanya ayah bakal cuek-cuek aja. Aku rasa, ayah akan membantu soal gagasanmu tadi." Sanggah Rana tersenyum lebar.

Dipta melirik Rana sejenak, lalu kembali fokus pada jalan.

"Begitukah?"

Rana menangkap nada suara suaminya berbeda, tidak ada rasa bahagia sama sekali. Rana kembali menatap lamat.

"Apa...ayahku mengatakan hal yang menyinggung perasaanmu, Mas?" tanya Rana, nadanya tenang namun hati-hati.

"Tidak. Ayahku juga barusan mengatakan hal yang sama kepadaku soal pujian ayahmu. Tidak biasanya Pak Wijaya memuji seseorang dengan persaan bangga."

Rana diam.

"Kenapa...suaramu..."

Dipta memotong pembicaraan, "besok Mas akan ke Bal. Bareng Hamdan."

Rana menoleh, "kok, dadakan sih?"

Dipta hanya tersenyum- dipaksakan.

"Bunda...masih lama ya? Mas Al mau pipis..." gumam putra sulung mereka.

"Sebentar lagi, Mas." Jawab Dipta.

Benar, mereka sampai di rumah mereka. Gerbang besi di buka oleh satpam rumah mereka. Begitu gerbang di buka, mobil hitam mewah Dipta memasuki halaman rumah. Mesin mobil di matikan, lalu Alaric buru-buru turun dari mobil untuk gegas menuju kamar mandi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam mulai larut ketika Dipta masih duduk sendiri di ruang kerjanya. Lampu meja berwarna temaram menyoroti setumpuk dokumen yang tadi sore di titipkan Hamdan kepada satpam rumah. Berkas itu adalah berkas mengenai agenda forum investor di Bali, daftar tamu penting, susunan acara, hingga proposal kerja sama yang harus yang ia persentasikan esok hari.

Ruang itu sunyi, hanya terdengar suara lembaran kertas yang di balik perlahan dan detik jam dinding yang berjalan teratur.

Dipta menelusuri setiap halaman dengan tatapan tajam, mencoba menenggelamkan dirinya pada angka-angka, grafik pertumbuhan investasi, dan kalimat-kalimat formal yang sejak dulu terasa asing baginya.

Namun saat matanya menangkap kalimat "ekspansi bisnis keluarga Mahendra menuju pasar internasional" , jemarinya terhenti.

Entah mengapa, suara seseorang mendadak terngiang begitu jelas di kepalanya. Suara berat dengan penuh kuasa milik ayahnya, Tuan Mahendra Putra Pratama. Saat mereka berdiri di pelataran parkir restoran beberapa jam lalu, setelah makan malam keluarga selesai.

"Ayah bangga padamu, Dipta. Cara bicaramu, caramu membawa nama keluarga, caramu membaca peluang...kamu memang pantas menjadi penerus ayah."

Kalimat itu seharusnya terdengar seperti pujian.

Namun di telinga Dipta, itu terdengar seperti rantai.

Ia menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi, menutup file di hadapannya. Sorot matanya kosong, menembus dinding ruang kerja seolah sedang menatap masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Sejak kecil, hidup Dipta tak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ia selalu dituntut menjadi sempurna. Menjadi putra kebanggaan, menjadi pewaris, menjadi wajah masa depan keluarga Mahendra. Menjadi apapun yang ayahnya inginkan, kecuali menjadi diri sendiri.

Padahal jauh didalam hatinya, Dipta membenci dunia yang kini ia jalani. Ia tidak pernah mencintai rapat bisnis, angka investasi, pesta jamuan elit, atau pertemuan formal yang dipenuhi topeng kesopanan.

Yang ia cintai adalah kebebasan.

Buku-buku sastra yang dipenuhi kalimat-kalimat jujur. Menulis jurnal tentang kegelisahan hidup. Memotret langit senja, jalanan basah sehabis hujan, atau wajah-wajah asing yang menyimpan ribuan cerita.

Dunia sederhana yang membuatnya merasa hidup.

Bukan dunia ini.

Lalu memorinya beralih pada satu nama yang pernah membuatnya merasa berani melawan.

Laras.

Perempuan itu hadir di masa kuliahnya sebagai kakak tingkat yang cerdas, berani, dan berbeda dari perempuan-perempuan yang dikenalkan keluarganya. Laras pernah menjadi tutor akademiknya; dari sesi belajar yang kaku, berubah menjadi percakapan panjang tentang mimpi, idealisme, dan hidup yang ingin dijalani.

Untuk pertama kalinya, Dipta pernah merasa dipahami. Untuk pertama kalinya, seseorang melihat Dipta- bukan sebagai anak Mahendra- melainkan sebagai manusia biasa.

Dengan keyakinan penuh, Dipta pernah membawa Laras pulang. Memperkenalkannya pada kedua orang tuanya. Mengatakannya dengan mantap-

"Aku mencintainya. Aku ingin menikah dengannya."

Namun yang ia terima hanyalah penolakan keras. Nama keluarga. Martabat. Latar belakang. Kepatuhan. Semua alasan dilemparkan seperti vonis.

Hubungan itu dianggap noda.

Meski begitu, setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, Dipta diam-diam masih menjalin hubungan dengan Laras. Ia bahkan telah memutuskan dalam hatinya-

Laras adalah perempuan yang akan menjadi istrinya.

Tapi takdir kembali memaksanya kalah.

Pertengkaran demi pertengkaran dengan keluarga memuncak hingga Dipta memilih keluar dari rumah besar itu, meninggalkan segala kemewahan, tinggal sendiri dalam sunyi yang justru terasa lebih damai.

Namun kebebasan itu tidak berlangsung lama. Keluarganya datang. Menjemput - atau lebih tepatnya- menariknya kembali secara paksa.

Sejak hari itu, sesuatu dalam diri Dipta seperti patah. Lelaki yang dulu penuh idealisme perlahan menghilang.

Digantikan dengan sosok yang dingin.

Tenang.

Patuh.

Seorang putra sempurna yang tak lagi banyak bicara tentang mimpi.

Hingga suatu hari, di sebuah acara wisuda di Universitas Gadjah Mada, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Rana.

Perkenalkan mereka singkat. Nyaris tak berarti.

Namun Dipta masih ingat jelas bagaimana Rana berdiri dengan kebaya sederhana, wajah cantik yang teduh, tutur kata halus, dan sikap santun yang terasa begitu... menenangkan.

Tidak menuntut.

Tidak membantah.

Tidak membuat gaduh.

Rana seperti sungai tenang yang tak pernah ia punya.

Dan ketika mendengar kabar tentang Laras telah menikah, sesuatu dalam dirinya benar-benar runtuh. Dalam kekosongan itu, Dipta memutuskan paling rasional, atau mungkin paling egois dalam hidupnya.

Ia memilih menikahi Rana.

Bukan karena cinta yang menggebu. Melainkan karena ia telah lelah melawan takdir yang tak pernah memihak padanya.

Dan kini...

Di tengah malam yang sunyi, dengan berkas forum investor Bali di hadapannya, Dipta baru menyadari satu hal-

Selama ini ia hidup sebagai seseorang yang dibentuk oleh pilihan orang lain.

Bukan oleh pilihannya sendiri. Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia merasa takut.

Takut jika suatu hari Rana mengetahui bahwa lelaki yang dinikahinya pernah datang ke altar bukan dengan cinta... melainkan dengan kehancuran hati.

"Mas,"

Suara Rana memecah lamunan, ia menoleh pada sosok cantik di ambang pintu.

"Udah malem, tidur lho. kamu bilang besok harus flight ke Bali." Tegurnya seraya berjalan mendekat.

Dipta mematikan layar laptop, menutup semua dokumen yang ia baca tadi lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Rana.

"Apa...Mas baik-baik aja?" tanya Rana mendongak, menatap suaminya.

"Yah...aku baik. Kenapa kamu belum tidur?"

Rana membalikan badannya bersiap pergi ke kamar tidur. "Aku kebangun, barusan Ayu nangis. Kayanya dia mimpi deh."

Dipta mengekor di belakang, "mimpi?"

"Mimpi apa sampe nangis," tambah Dipta seraya menutup pintu ruang kerja.

Drtzzz...

Ponselnya bergetar, ada satu pesan yang membuat dirinya menghentikan langkahnya. Dari Laras.

{ Dipta, makasih udah mau bantu aku bawa Raka }

Rana menoleh, memperhatikan suaminya yang tengah menatap layar ponsel. "Ayu mimpi...kamu di ambil tante-tante jelek katanya."

Dipta terkesiap, suara Rana barusan cukup tegas saat mengatakan kata'tante'.

"Tante? Hah... ada-ada saja..." gumam Dipta terkekeh. "Ayo kita tidur, besok Mas harus berangkat ke Bali pagi-pagi."

Keduanya kembali melangkahkan kaki menuju kamar utama. Dipta mematikan layar ponsel sebelum pada akhirnya berjalan dan merangkul bahu Rana.

...****************...

Hai, apa yang akan terjadi selanjutnya????

Oh iya, bab selanjutnya Yehppee bakal ngasih visul character Alaric dan Masayu. Di tunggu ya🫶

Bersambung....

1
Ma Em
Ayo Rana cari bukti sebanyak banyak kalau Laras dekat dgn Dipta bkn karena msh cinta tapi Laras ada niat jahat pada perusahaan Dipta dan setelah semua terkumpul bukti kelicikan dan kejahatan Laras bongkar semua kejahatan Laras lalu Rana gugat cerai Dipta .
Ma Em
Ayo Rana kumpulkan bukti sebanyak banyaknya bahwa Dipta ada main hati dgn Laras setelah itu baru buat Dipta menyesal .
Gemuruh riuh
Go Rana!!! bikin calon pelakor itu tahu diri!!!!
Gemuruh riuh
turut berdukacita thor
Gemuruh riuh
waw, apakah Rana bakal menjebak Dipta dan Laras?
Ma Em
Turut berduka juga Thor , semoga almarhumah Husnul hotimah diampuni dosanya ditempatkan di surganya Allah 🤲🤲🤲.
Yehppee: makasih kak🫶
total 3 replies
Ma Em
Bagus Rana si Laras suruh masuk saja ke perusahaan Dipta agar mudah dipantau nya dan setelah Dipta ketahuan ada Main dgn Laras lalu jatuhkan saja agar nama Dipta dan Laras tercemar dan hancur .
Gemuruh riuh
wkwkwkkwk Hamdan jangan ke geeran entar patah hati sendiri
Gemuruh riuh
sa ae lu Hamdan🤣
Gemuruh riuh
hati-hati Ran, suamimu terpikat lagi sama cinta lamanya
Gemuruh riuh
wkwkw sarkas nih Rana
Gemuruh riuh
poor Rana
Gemuruh riuh
jodoh, mati, rezeki udah ada yang atur
Gemuruh riuh
li xian😍
Gemuruh riuh
waduh, Rana!!! hati-hati, sepertinya ada udang di balik bakwan
Gemuruh riuh
wkwkwk viralin guys🤣
Gemuruh riuh
cocok bener Kim ji won jadi Rana, pokonya bikin Rana Badas thor
Gemuruh riuh
makin seru, jangan di bikin menye-menye Rana nya thor😍
Ma Em
Rana lambat banget gerak nya dan membiarkan Dipta jln bareng sama selingkuhan nya .
Ma Em
Thor jgn lama2 Dipta membohongi Rana , semoga Rana tau semua kebohongan yg Dipta lakukan pada Rana termasuk Dipta tdk mencintai Rana agar Rana sadar dan tdk jadi istri yg bodoh ditipu dan dibohongi .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!