NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Suami Bucin

Menikahi Mantan Suami Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kopii Hitam

Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.

Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.

Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.

Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28.

"Mana Bella, Bik?" tanya Fahri berlarian memasuki dapur dengan nafas terengah-engah dan kening berdarah.

Setelah menerima telepon dari Sari tadi, dia bergegas pulang dan menyetir sendiri dengan pikiran kacau. Mobilnya menabrak trotoar, keningnya robek membentur stir, akan tetapi dia tetap melanjutkan perjalanan karena khawatir memikirkan Bella.

Fahri takut Bella meninggalkannya, takut Bella pergi. Dia sudah kehilangan sekali, tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.

"Pak, kening Anda..."

"Tidak penting, sekarang katakan dimana Bella!" sela Fahri, dia tidak peduli tubuhnya terluka, dia hanya ingin melihat Bella.

"Bella ada di kamar, sekarang lagi tidur." jawab Sari.

Fahri menyandarkan punggung di sisi mini bar dapur, menghirup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya dengan kasar, dia lega Bella baik-baik saja.

"Sebenarnya Bella kenapa, Bik? Kenapa tiba-tiba pulang?" tanya Fahri penasaran, dia benar-benar tidak tau letak salahnya dimana sehingga Bella pergi begitu saja.

"Tidak apa-apa, cuma sakit perut kedatangan tamu bulanan." jelas Sari.

"Tapi, kenapa sampai..."

Sari tertawa kecil, membuat perkataan Fahri terpotong. "Hehehe... Namanya juga lagi haid, pasti sensitif. Lagian ngapain Pak Fahri mau memanggil dokter segala, Bella itu takut sama dokter." terang Sari.

"Takut...?" ulang Fahri dengan mata membulat. "Tapi waktu bibi dirawat, kami beberapa kali bolak-balik rumah sakit." alis Fahri bertaut mengingat itu.

"Sekedar datang gak masalah kan, lagian waktu itu yang sakit bibi bukan dia. Jadi untuk apa dia takut?"

Mendengar penjelasan Sari, Fahri mengangguk-anggukkan kepala, sekarang dia mengerti. Jadi semua ini salahnya, dia tidak bertanya dulu sebelum mengambil keputusan.

Karena sudah tau letak kesalahannya dimana, Fahri berbalik badan meninggalkan dapur.

Di kamar, langkah Fahri tertatih menuju ranjang. Matanya berkaca-kaca menyaksikan Bella yang tidur dengan pulas. Dia sudah sangat ketakutan tidak bisa melihat wajah itu lagi.

Dengan perasaan tak menentu, dia duduk di tepi ranjang. Menatap lekat wajah Bella dan mengusap kepalanya lalu mencium keningnya lama.

Tik...

Seperti air hujan yang menetes membasahi bumi, air mata Fahri jatuh di kening Bella, Fahri cepat-cepat menyekanya.

Merasakan keningnya basah, Bella membuka mata perlahan, tatapan keduanya bertemu sebelum akhirnya Bella menyadari ada luka di kening Fahri.

"Apa yang terjadi, kenapa keningmu berdarah?" tanya Bella sambil menyentuh kening Fahri yang masih membungkuk menindih sebagian tubuhnya.

"Tidak apa-apa, cuma luka kecil." jawab Fahri dengan suara serak menahan air mata yang sepertinya masih ingin jatuh. "Ya sudah, kamu istirahat saja, aku bersih-bersih dulu."

Setelah mengatakan itu, Fahri bangkit dan berjalan ke kamar mandi, sengaja menghindar agar air matanya tidak kembali jatuh di hadapan Bella.

Entahlah, akhir-akhir ini dia merasa seperti pria lembek yang gampang sekali menangis. Hatinya mudah sekali tersentuh hingga tak kuasa menahan air mata.

Usai membersihkan diri, Fahri mengenakan jubah mandi dan berjalan keluar untuk mengobati lukanya, terasa perih terkena air barusan. Dia terlalu fokus memikirkan Bella sehingga tidak peduli dengan lukanya sendiri.

Setelah membersihkan lukanya dengan alkohol dan menutupnya dengan perban, Fahri kembali ke kamar, naik ke kasur dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.

Tidak ada kata yang terucap, dia hanya diam dengan kepala tertunduk sambil memainkan tali jubahnya.

Melihat suaminya hanya diam, Bella beringsut dan mematut nya dengan intens. Fahri tidak bereaksi, dia tetap saja diam seperti memikirkan sesuatu.

"Kenapa bisa terluka?" tanya Bella ingin tau, dia penasaran apa yang sebenarnya terjadi.

Lagi-lagi Fahri hanya diam sambil menggelengkan kepalanya, dia tidak bersuara.

"Jawab aku, Fahri!" Bella bangkit dan duduk menghadap Fahri, meraih dagunya dan mengangkatnya sedikit, tatapan keduanya kembali bertemu.

"Tidak apa-apa, cuma..."

"Cuma apa?" sergah Bella yang sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban.

"Nabrak trotoar," ungkap Fahri singkat.

Hah...

Mata Bella terbelalak, mulutnya menganga mendengar jawaban Fahri. Seperti emak-emak pada umumnya, Bella mengoceh sepanjang jalan tol yang tak tau dimana ujungnya. Telinga Fahri sampai pekak mendengarnya.

Ehm...

Untuk menghentikan laju bicara Bella yang tak putus, Fahri membungkamnya. Suara Bella langsung hilang di dalam mulut Fahri yang terbuka. Fahri menyesapnya dalam-dalam, me1umatnya lembut seperti permen.

Haaah...

Hembusan nafas keduanya tak beraturan, menerpa wajah masing-masing.

"Tadi aku takut sekali, aku takut kamu pergi meninggalkan aku, aku kehilangan akal, makanya konsentrasi ku pecah saat menyetir." jelas Fahri sambil menangkup pipi Bella.

"Kalau kamu marah, pukul saja aku, tampar, gigit, apapun itu aku pasrah. Kamu boleh mengoceh, silahkan. Tapi tolong jangan seperti tadi, jangan pernah tinggalkan aku tanpa kata!" imbuh Fahri menitikkan air mata, dia tidak bisa berjauhan dari Bella, jantungnya seakan berhenti berdetak tanpa ada Bella di sampingnya.

Setelah mengungkapkan semua yang ada di hatinya, Fahri merebahkan kepalanya di dada Bella, memeluknya seperti anak kecil yang hendak menyusu. "Jangan marah lagi ya, aku yang salah." gumam Fahri di dalam dekapan Bella.

Lagi-lagi Fahri mengaku salah walau tidak bersalah sekalipun. Tidak apa-apa merendahkan diri di hadapan istri, demi menjaga keutuhan rumah tangga. Karena bagaimanapun, dia tidak akan menang berurusan dengan makhluk terkuat di muka bumi itu.

Lama saling terdiam dalam pemikiran masing-masing, Fahri kemudian meraba perut Bella dan mengusapnya dengan lembut. "Masih sakit?" tanya Fahri dengan tatapan iba.

"Sudah baikan, tadi minum teh gula merah yang dibuatkan Bik Sari." jawab Bella.

"Maafin aku ya, aku gak tau kamu takut sama dokter." sambung Fahri merasa bersalah.

"Tidak apa-apa, aku juga salah, aku terlalu sensitif tadi." balas Bella.

Dengan raut wajah memohon, Fahri meminta Bella agar lain kali bicara jika ada yang tidak dia suka. Fahri tidak mau kejadian hari ini terulang kembali.

Dengan senyum menyungging, Bella pun meminta maaf dan mengaku salah.

Seketika keduanya tertawa terbahak-bahak. Perkara datang bulan saja jadi melebar kemana-mana. Ya, namanya juga perempuan, sudah biasa kalau kedatangan tamu pasti emosinya menjadi labil.

"Sayang, berapa lama biasanya kamu datang bulan?" tanya Fahri, saat ini kepalanya berada di paha Bella sedangkan kedua tangannya melingkar dan membelit pinggang istrinya itu.

Fahri sengaja bertanya karena dua tahun sebelumnya, dia tidak pernah memperhatikan itu. Dia tidak pernah tau kapan Bella haid dan kapan Bella mandi wajib.

"Lima sampai tujuh hari, memangnya kenapa?" Bella balik bertanya.

"Tidak apa-apa," Fahri menyembunyikan wajahnya di perut Bella.

"Hayo, kenapa? Kenapa sembunyi?" goda Bella sambil menggelitik ketiak Fahri.

"Hahaha... Sayang, geli ih." Fahri menggeliat, tawanya menyembur, dia tidak kuat menahan geli.

"Jawab dulu, hayo!" Bella terus saja menggelitik sampai akhirnya Fahri menyerah.

"Iya, iya..." Fahri terengah-engah, bulu kuduknya merinding.

"Iya kenapa?" Bella tidak sabar menunggu jawaban.

"Itu... Puasa aku jadinya," ungkap Fahri dengan wajah tersipu.

Padahal lagi hangat-hangatnya hingga hampir setiap malam keduanya bersenggama, tapi ada saja halangan yang membuat Fahri harus menunggu satu minggu kedepan.

"Hihihi..." tawa Bella menggelegar memenuhi kamar. Fahri hanya mematung memikirkan isi kepalanya entah bisa atau tidak diajak kompromi.

1
Uthie
Begitulah laki tuhh,.. sendiri nya gak nyadar udah bikin istrinya cemburu dengan interaksi nya pada wanita lain, sedang saat istrinya interaksi juga dengan laki2 lain sendiri nya lebih terbakar lagiii oleh api cemburu 😁😁
Kopii Hitam: huahaaa, benar ya kk🤣
total 1 replies
Uthie
akhiiirrnyaaa.. buka puasa juga yaa 😂
Kopii Hitam: asekkkk😄
total 1 replies
Uthie
Bahagia selalu yaaa kalian berdua 👍👍😍🤗🤗🤗
Kopii Hitam: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Uthie
Bella tanda-tanda Hamidun kahh 😁😍
Uthie: 😂😂😂😂😂
total 2 replies
Uthie
Duhhh.. dasar orang tua lucknut bisa nya cuma cari-cari Masalah aja 😡😡
Kopii Hitam: bikin kesel ya kk🤭
total 1 replies
Uthie
niceee 👍😍
Kopii Hitam: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
muhammad ihsan
kok cuma satu bab thor
Kopii Hitam: besok ya KK 2 bab
total 1 replies
Uthie
Bagussss.. Hama emang harus di bersihkan 👍👍👍🤩
Kopii Hitam: bersihkan 🤣🤣
total 1 replies
Uthie
Nahhh....bagus itu 👍😡
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡
Kopii Hitam: ok kak👍👍
total 1 replies
Uthie
Nahhh....gitu dong 👍👍😁
Kopii Hitam: siap🙏🙏🙏
total 1 replies
Uthie
senyum-senyum bacanya
Kopii Hitam: hmm😄🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Uthie
Waowwww😂😂
Kopii Hitam: kak🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Uthie
Kasihan nya Bu Sari 😢
Kopii Hitam: iya /Sob//Sob//Sob//Sob/
total 1 replies
Uthie
terlalu lemah 😌
Kopii Hitam: iya kak🤭🤭🤭
total 1 replies
Uthie
coba mampir 👍🙏
Kopii Hitam: siap makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!