NovelToon NovelToon
HANUM

HANUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Lukmanben99

kau hadir saat ku benar benar merasa hancur dan nyaris gila dengan alur cerita hidupku. kau seperti malaikat tak bersayap yg di utus tuhan untuk menyadarkan dan menyelamatkan hidupku.


tanpamu aku bukan lah siapa siapa, tanpamu aku hanya orang hina yg kehilangan arah tujuan hidup.

takan cukup aku mengucap kata terimakasih kepadamu, atas segala kebaikan dan ketulusan hatimu.


kaulah jawaban do'a dalam hatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pergi denganya

Si sok jagoan memberi kode. Anak buahnya langsung maju, “Jangan bohong kamu, Nobita! Aku geledah ya! Awas kalau ada, aku ambil semua ya duit kamu! Diem kamu ya!” ucap  temanya meniru suara suneo teman nobita.

 Mereka mengobrak-abrik tas dan saku celana si adik kelas. Dan benar saja,  dari saku celananya keluar beberapa lembar uang. Mereka rampas semuanya, lalu diserahkan ke ketua geng.

 Adik kelas itu memohon kepada mereka untuk tidak mengambil uangnya itu, hampir nangis, tapi tidak dipedulikan.

 Kebetulan aku dan Dony lewat. Aku melihat aksi mereka, Aku langsung hampiri mereka.

 Begitu melihatku, si sok jagoan panik. Buru-buru dia menyembunyikan uang ke sakunya. Detik berikutnya, dia dan seluruh anak buahnya langsung bertekuk lutut di hadapanku.

 “SUHU...” ucap mereka serempak, nunduk dalam-dalam.

 Si adik kelas bengong. Salah satu anak buah menarik tangannya, memaksa ikut sungkem.

 “Bangun. Nggak jelas loe semua,” kataku datar.

 Mereka berdiri, cengengesan.

 “Pada ke mana loe waktu itu, hah? Pecundang!” Dony nyerocos sombong. Mereka pura-pura budek.

 Si sok jagoan pasang muka sok akrab, “Gue seneng loe udah bisa masuk sekolah lago sat. Gue akuin keberanian loe. Si Malika juga ngakuin keberanian  loe.”

 “Jangan dibahas. Balikin duit dia,” potongku dingin.

 “Baik, Sat,” dia langsung rogoh saku. Tapi mukanya bingung, “Tadi duit loe berapa?” tanyanya ke si adik kelas.

 “100 ribu, Kak!”

 “EH, KAMPRET NOBITA! LOE JANGAN NGADA-NGADA YA! INI AJA NGGAK ADA 100 RIBU, KAMPRET!”

 “Berapa duit loe yang dia ambil?” tanyaku ke adik kelas itu, pelan.

 “Beneran 100 ribu Kak,” jawabnya yakin.

 Aku menatap si sok jagoan, “Balikin duit dia 100 ribu, Sekarang.”

 “WAH PARAH NIH ANAK! EH BENER-BENER LOE YA! AWAS LOE YA!” dia ngedumel, lalu menoleh ke anak buahnya, “EH KURANG NIH 100 RIBU! TAMBAHIN DULU DAH! KAMPRET, MALAH KITA YANG DIPALAK SIH INI JADINYA!”

 Dengan muka kesal, mereka patungan. Receh-receh dikumpulin sampai genap 100 ribu. Uang itu diserahkan ke adik kelas. Si adik kelas nerima dengan senang hati, lalu nunduk, “Makasih, Kak...” katanya ke aku sebelum ia lari pergi.

 “Gak jelas loe semua,” ucapku sambil berlalu.

 “Tau loe,” Dony ngikutin sambil noleh-noleh sinis.

 *Waktu pulang tiba...*

 Aku berjalan keluar kelas. Aku melihat Kelas Elina masih ada jam pelajaran. Diam-diam aku menyelinap ke samping jendelanya. Dia duduk di dekat jendela, fokus mencatat. Gurunya sedang menulis di papan tulis.

 “..Tok tok...“Kuketuk kaca pelan.

 Elina menoleh. Matanya membulat, lalu senyumnya merekah. Kuberisyarat menyuruhnya buka jendela. Dengan mengendap-endap, dia menggeser kaca. Kusodorkan lipatan kertas kecil ke tangannya, lalu aku langsung kabur sebelum ketahuan guru.

 Elina kembali duduk. Di bawah meja, dia buka kertas itu. Matanya berbinar membaca tulisanku:

...Semangat ya cantik belajarnya, Nanti sore kita ketemuan yuk...!!! Bisa kan?...

Dia tersenyum malu setelah membacanya, pipinya merona.

 *senja tiba...*

 Di kamarnya, Elina berdiri di depan cermin. Dilemparnya satu baju, dicobanya baju lain. Senyum-senyum sendiri. Jantungnya berdebar menanti malam.

 Di rumah, aku juga sama. Berkali-kali ngaca. Mataku tertuju pada perban di kepala. _Udah nggak pantes kayaknya._ Pelan-pelan kulepas. Terlihat bekas luka yang mulai mengering, rambut di sekitarnya botak sedikit. Kuurap-urap pelan.

 Pas lagi rapi-rapi, Ibu lewat.

 “Kamu mau ke mana? Tumben rapi-rapihan?” tanya Ibu curiga.

 “Mau main, Mi, sama Dony!” jawabku cepat. Aku Bohong. Malu kalau jujur mau ketemu cewek. Aku manggil Ibu dengan sebutan Umi.

 “Ahh bohong kamu. Umi nggak percaya. Biasanya sama si Dony mah mandi juga enggak kamu. Hayoh ngaku, kamu pasti mau ketemuan ya sama cewek. Hayoh ngaku...” Umi mencandai ku dengan senyumnya jail.

 “Apaan sih Umi, Orang cuma mau main sama Dony,” jawabku salah tingkah, senyum-senyum malu. Lalu aku pamit.

 Umi memperhatikanku dari pintu. Baru sadar kepalaku sudah tidak diperban.

 “Satria, kamu udah nggak pake perban? Kamu udah sembuh?”

 “Iya udah, Mi!” sahutku sambil menutup pintu.

 Dengan vespa bututku, aku melaju dengan semangat. Menuju tempat yang sudah kujanjikan dengan elina.

 Menuju Elina.

Sesampainya di tempat yang kami janjikan, aku melihatnya. Elina berdiri di bawah lampu taman, dengan dress biru muda yang membuatku lupa cara bernapas. Dia menoleh, tersenyum kepadaku.

 Aku menghampirinya, jantungku bertalu-talu. “Maaf ya aku telat, kamu udah lama ya nunggu di sini?” tanyaku, menahan kagum.

 “Ngga kok, Kak,” jawabnya pelan, pipinya merona.

 “Ya udah yuk kita berangkat sekarang,” ajakku sambil menyodorkan helm.

 “Yuk,” dia mengangguk.

 Dia naik ke vespaku. Malam ini aku membawanya ke pasar malam. Begitu sampai, kami parkir dan masuk ke area yang penuh lampu warna-warni, suara musik dangdut, dan aroma jagung bakar.

 Saat kami berjalan menikmati suasana, Elina tiba-tiba elina melihat dony dan maya di tempat itu. “Kak, itu bukanya Maya sama Dony ya?”

 Aku mengikuti arah pandangnya, Benar saja. Dony dan Maya lagi jalan bareng, ngobrol sambil ketawa-ketiwi.

 “Iya itu Maya sama Dony, Tumben mereka deket banget, Apa mereka pacaran ya?” gumamku.

 “Mungkin, Kita samperin yuk, Kak,” ajak Elina antusias.

 “Jangan deh Lin, Udah  biarin aja mereka mah,” ucap ku

 “Emm kita ke sana yuk lin, !” aku mengalihkan, menunjuk ke arah keramaian.

 “Ya udah yuk!” Elina mengangguk.

 Kami jalan berdua. Tiba-tiba mata Elina berbinar melihat stand lempar bola. Tanpa aba-aba dia menarik tanganku, “Kak, ke sana yuk! Aku mau coba permainan itu!”

 Aku terdiam. Tangannya Hangat,Lembut, Menggenggam tanganku. Ada aliran aneh yang menjalar dari ujung jari sampai ke dada. Jantungku seperti berhenti sedetik.

 Elina sadar, langsung melepas genggamannya dengan wajah merah padam. “Maaf Kak. Nggak sengaja... hehe,” katanya sambil cengengesan malu.

 Aku tersenyum. Lalu tanpa ragu, kuraih tangannya lagi. Kugenggam erat, Matanya membulat, lalu dia balas tersenyum. Kami pun berjalan bergandengan tangan menuju stand lempar bola.

 Di sana, Elina mencoba melempar. ...bugh... Melenceng jauh. Dia nggak nyerah, coba lagi, gagal lagi. Aku ketawa melihat ekspresinya yang gemas. Giliranku. Tarik napas, lempar. ..Prang!... Kena! Kalengnya jatuh semua. Murni kebetulan, tapi Elina langsung tepuk tangan.

 “Kamu hebat banget!” ucap elina senang.

 lalu Si Abang penjaga kasih hadiah boneka beruang. Aku ambil, lalu kuberikan ke Elina. “Nih, buat kamu lin !”

 Matanya berbinar. Dia mengambilnya dan memeluk boneka itu erat-erat. “Makasih, Kak...” ucapnya dengan tersenyum. Aku reflek mengusap kepalanya pelan. Dia makin tersipu, setelah itu kami berjalan pergi  dari tempat permainan itu.

 *di sisi lain...*

 Dony dan Maya melihat stand lempar bola yang sama. “Coba yuk, May!” ajak Dony pede.

 Maya lempar, hampir kena. Dony langsung nyinyir, “Payah loe May. Nih liatin gue!”

 “Coba mana gue liat, Paling juga lebih parah dari gue!” tantang Maya.

1
T28J
keren kak, saya kasih hadiah ya /Rose/
Lukman Hakim: terimakasih kak😊😊😊
total 1 replies
T28J
oalah tanda kurung itu artinya lagi di telpon kah 🤭 sempet kaget aku kak 🤣👍
Lukman Hakim: iya aku belum sempet sampe situ ngerevisi nya kak, 😁
total 1 replies
T28J
like follow and subscribe guys, cerita si Thor menarik
Lukman Hakim: terimakasih T28j 😊
total 1 replies
Lukman Hakim
iya maaf kak, terimakasih atas pengamatanya, nanti saya perbaiki, mohon maaf jika ada salah kata atau kurangnya huruf dalam tulisan kisah ini🙏
Manusia Ikan 🫪
kayaknya kamu terlalu banyak menggunakan kata "Itu"🕵
Manusia Ikan 🫪: ooh tentu saja, kota memang harus saling mendukung ✋🤓🤚
total 3 replies
T28J
saya like dan tonton hadiah ya 👍
Lukman Hakim
nanti aku baca lagi juga karya kakak.😊
EvhaLynn
Seru Ceritanya😁
Lukman Hakim: iya, nanti lebih seru kak, saat mereka berpisah nanti.
total 1 replies
EvhaLynn
Saya Sangat Menyukai Cerita Novel Mu Author😉
Lukman Hakim: maksih kak.😊
total 1 replies
Lukman Hakim
baik kak, nanti saya kunjungi karya kaka, mohon saling dukung nya ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!