Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Harga Sebuah Kapal
Matahari pagi menyinari bukit karang tempat rumah Mo Gui berdiri. Xiao Chen berjalan menaiki jalan setapak dengan langkah yang jauh lebih berat daripada saat ia turun. Bukan karena lelah—meskipun semalaman ia nyaris tidak tidur—melainkan karena beban di dalam Ruang Warisannya.
Mutiara Kegelapan.
Benda itu kini tersimpan di dalam cincin hitamnya, berdampingan dengan gulungan-gulungan kuno dan pedang-pedang warisan. Tapi tidak seperti benda-benda lain yang diam, mutiara itu hidup. Xiao Chen bisa merasakannya. Sebuah kesadaran kuno yang tertidur, berdenyut pelan seirama dengan Energi Chaos di tulang-tulangnya.
Hui berjalan di sampingnya, lebih segar daripada tuannya. Serigala hitam itu bahkan sempat berburu kelinci saat fajar, memakannya dengan lahap sebelum mereka berangkat.
Saat mereka tiba di gerbang tulang paus, Mo Gui sudah menunggu. Lelaki tua itu duduk di kursi goyangnya, tombak tulang tersandar di sampingnya. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda—di atas meja batu di hadapannya, tergeletak sebuah gulungan kulit ikan paus yang sudah menguning, diikat dengan tali rami.
"Kau kembali," kata Mo Gui, suaranya serak seperti biasa. "Dan aku bisa merasakannya. Kau membawa Mutiara Kegelapan."
Xiao Chen mengangguk. Ia mengeluarkan mutiara itu dari Ruang Warisan. Begitu bola hitam itu muncul di telapak tangannya, cahaya di sekitarnya seolah tersedot ke dalamnya. Bahkan sinar matahari pagi tampak meredup di sekitar mereka.
Mo Gui menatap mutiara itu dengan mata abu-abunya yang berkilat. Ada sesuatu di wajah tuanya—bukan keserakahan, melainkan kerinduan.
"Lima puluh tahun," bisiknya. "Lima puluh tahun aku mencari mutiara ini. Dan kau membawanya padaku hanya dalam satu malam."
"Kenapa kau menginginkannya?"
Mo Gui tidak menjawab langsung. Ia mengulurkan tangan, dan Xiao Chen meletakkan mutiara itu di telapaknya. Begitu kulit keriput Mo Gui menyentuh permukaan mutiara, bola hitam itu berdenyut. Cahaya hitamnya berkedip-kedip, seolah mengenali sesuatu.
"Mutiara ini... adalah mata Naga Laut Chaos," kata Mo Gui akhirnya. "Peliharaan Leluhur Pertama Ras Dewa Patah. Saat naga itu mati dalam pertempuran melawan Surga, tubuhnya hancur menjadi debu. Tapi kedua matanya tetap utuh. Satu jatuh ke Laut Mati, menjadi pulau karang hitam. Satunya lagi... jatuh ke Teluk Tanpa Bulan, dijaga oleh keturunannya yang buta."
Xiao Chen tertegun. "Ular Laut Bermata Satu... adalah keturunan Naga Laut Chaos?"
"Ya. Generasi ke sekian. Darahnya sudah sangat encer, tapi ia masih menyimpan insting untuk menjaga mata leluhurnya." Mo Gui menatap mutiara itu dengan mata berkaca-kaca. "Dan aku... aku adalah keturunan dari pelayan Naga Laut Chaos. Klan-ku telah menjaga rahasia ini selama ribuan tahun. Kapal Tulang yang kumiliki... dibuat dari tulang-tulang naga itu sendiri."
"Itu menjelaskan kenapa Kapal Tulang bisa berlayar di Laut Mati," kata Yue Que di benak Xiao Chen. "Dia terbuat dari tulang makhluk yang berasal dari sana."
Mo Gui bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke meja batu, mengambil gulungan kulit ikan paus, dan menyerahkannya pada Xiao Chen.
"Ini adalah peta menuju Kapal Tulang. Kapal itu tidak ada di sini. Aku menyembunyikannya di sebuah gua rahasia di pantai barat, sekitar tiga hari berlayar dari sini. Gulungan ini akan menunjukkan jalannya."
Xiao Chen menerima gulungan itu. "Kau memberikannya padaku? Bagaimana dengan syarat ketiga?"
Mo Gui tersenyum—senyum yang kali ini terlihat damai. "Syarat ketiga akan kupenuhi nanti. Setelah kau kembali dari Laut Mati. Setelah kau mendapatkan apa yang kau cari di Puncak Langit Terbalik. Aku sudah menunggu lima puluh tahun. Aku bisa menunggu sedikit lebih lama."
Ia menatap Xiao Chen dalam-dalam. "Tapi ingat, Pewaris. Kapal Tulang bukan sekadar kapal. Dia hidup. Dia memiliki kehendaknya sendiri, sisa-sisa kesadaran Naga Laut Chaos. Kau harus mendapatkan pengakuannya sebelum dia mau membawamu ke Laut Mati."
"Bagaimana caranya?"
Mo Gui mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Kapal itu tidak pernah mengakuiku sebagai pemilik. Aku hanya penjaganya. Tapi kau... kau adalah pewaris Ras Dewa Patah. Mungkin dia akan mengenalimu."
Xiao Chen menatap gulungan di tangannya. Satu ujian lagi. Tentu saja.
"Terima kasih, Mo Gui. Aku akan kembali. Aku berjanji."
Mo Gui mengangguk. "Aku tahu kau akan kembali. Sekarang pergilah. Perjalananmu masih panjang. Dan awan-awan di atas sana..." Ia mendongak, menatap awan pengawas yang masih setia berputar di langit. "...mereka semakin tidak sabar."
Xiao Chen mengikuti tatapannya. Awan pengawas itu memang tampak lebih gelap hari ini. Lebih rendah. Seolah-olah mereka siap menurunkan sesuatu kapan saja.
"Aku akan bergerak cepat," katanya.
Ia berbalik, melangkah keluar dari halaman bertulang paus. Hui mengikutinya.
Saat mereka menuruni bukit, Xiao Chen membuka gulungan kulit ikan paus. Di dalamnya ada peta garis pantai barat, dengan tanda merah di sebuah teluk kecil yang tidak bernama. Dan di bawah peta, ada tulisan tangan yang sudah pudar:
"Kepada pewaris yang akan datang: Kapal Tulang menunggumu di Gua Naga Tidur. Bangunkan dia dengan darahmu. Tapi hati-hati—dia hanya akan tunduk pada mereka yang memiliki hati naga."
"Hati naga," gumam Xiao Chen. "Apa maksudnya?"
"Mungkin bukan hati secara harfiah," kata Yue Que. "Mungkin keberanian. Atau mungkin sesuatu yang lain."
Xiao Chen menggulung peta itu kembali. "Kita akan mencari tahu saat tiba di sana. Sekarang, kita perlu kapal biasa untuk mencapai gua itu. Tiga hari berlayar ke barat."
Ia menatap ke arah pelabuhan Kota Karang Hitam di kejauhan. Kapal-kapal berlabuh di sana, dari perahu nelayan hingga kapal dagang. Salah satu dari mereka harus bisa membawanya.
"Kita kembali ke Lian Xin. Dia mungkin tahu cara mendapatkan kapal."
Mereka berjalan menuju kota, siap untuk langkah berikutnya dalam perjalanan panjang