Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Debu Aspal
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Persiapan konferensi pers besar-besaran di panti asuhan milik Yayasan Sanjaya sudah mencapai tahap akhir. Zevanya berdiri di depan cermin besar di ruang ganti panti, menatap bayangannya sendiri. Ia mengenakan setelan blazer berwarna merah marun yang tegas, namun tetap dengan sepatu boots kulit yang disemir mengkilap.
Di sampingnya, Kenzo sedang asyik bermain dengan sebuah kunci pas plastik yang digantungkan di boks bayinya. Sesekali bayi itu mengeluarkan suara "bruum-bruum", seolah tahu bahwa ibunya sedang bersiap untuk balapan paling krusial di meja diplomasi.
"Gue nggak nyangka, Ken, musuh kita kali ini lebih licin daripada oli bekas," gumam Zeva sambil membenarkan kerah blazernya.
Adrian masuk ke ruangan, tampak sangat rapi dengan setelan jas hitamnya. Ia menghampiri Zeva dan meletakkan tangannya di pundak istrinya. "Tim medis dari Singapura dan Jerman sudah sampai. Mereka akan melakukan pengambilan sampel DNA di depan kamera secara live dua jam lagi."
Zeva mengangguk, tapi pikirannya tidak tenang. Kata-kata Mama Martha tentang "rahasia besar" yang mungkin disimpan Helena terus berputar di otaknya seperti mesin yang mengalami overheat. "Adrian, lu ngerasa nggak kalau Helena itu terlalu tenang? Dia kayak udah nyiapin sesuatu yang nggak kita duga."
"Dia sudah terdesak, Zeva. Ini adalah langkah terakhirnya untuk merusak reputasi kita," jawab Adrian yakin.
Satu jam sebelum acara dimulai, seorang pria tua dengan pakaian lusuh namun bersih muncul di gerbang panti asuhan. Ia mencari Zevanya. Ujang, yang bertugas menjaga keamanan, awalnya hendak mengusir pria itu, namun pria itu menyebutkan sebuah nama yang membuat Ujang terdiam: "Garasi Tua Jembatan Merah".
Zeva yang mendengar laporan dari walkie-talkie Ujang langsung keluar menuju gerbang.
"Siapa Bapak?" tanya Zeva ketus, tangannya bersedekap.
Pria itu melepas topinya, memperlihatkan wajah yang penuh kerutan namun memiliki mata yang sangat tajam. "Namaku Danu. Tapi dulu, ayahmu, Pak Sanjaya, memanggilku 'Si Engkol'. Aku adalah asisten ayahmu sebelum kau lahir."
Zeva terpaku. Ia ingat ayahnya pernah bercerita tentang seorang teman setia yang menghilang setelah kecelakaan tragis yang menewaskan ibunya. "Kenapa baru sekarang Bapak dateng?"
"Karena Helena sudah bergerak," bisik Danu, suaranya parau. "Dia mencari dokumen tentang kecelakaan ibumu dua puluh lima tahun lalu. Zeva, kecelakaan itu... itu bukan karena rem blong biasa. Itu sabotase. Dan targetnya bukan ibumu, tapi ayahmu yang sedang memegang rahasia tentang kepemilikan tanah pelabuhan Alfarezel yang asli."
Zeva merasa dunianya seolah berputar. Selama ini ia mengira kecelakaan itu adalah takdir pahit. "Maksud Bapak, keluarga Alfarezel terlibat?"
"Bukan Adrian, bukan ayahnya. Tapi faksi yang sekarang mendukung Helena. Mereka ingin menghapus jejak bahwa ayahmu sebenarnya adalah pemegang saham diam-diam dari tanah tempat Menara Alfarezel sekarang berdiri."
Konferensi pers dimulai. Ratusan kamera menyorot ke arah panggung. Zeva duduk dengan Kenzo di pangkuannya, didampingi Adrian. Para dokter mulai melakukan pengambilan sampel dengan sangat transparan.
Namun, saat sesi tanya jawab dimulai, seorang pengacara suruhan Helena berdiri. Bukan untuk menanyakan soal DNA, tapi untuk menunjukkan sebuah dokumen tua ke layar proyektor.
"Nona Zevanya, atau haruskah saya sebut Nona Pewaris Palsu?" suara pengacara itu menggema. "Kami memiliki bukti bahwa ayah Anda, Pak Sanjaya, bukanlah mekanik biasa. Beliau adalah pengkhianat perusahaan yang mencuri dokumen kepemilikan tanah Alfarezel puluhan tahun lalu. Itulah alasan kecelakaan itu terjadi—untuk mengembalikan apa yang dicuri."
Suasana ruangan menjadi sangat kacau. Para wartawan mulai berebut melempar pertanyaan pedas. Zeva merasa darahnya mendidih. Ia melihat Adrian yang tampak terkejut, namun tetap berusaha tenang.
Zeva berdiri, menyerahkan Kenzo kepada Mama Martha yang duduk di barisan depan. Ia berjalan perlahan menuju podium, matanya menyalang ke arah pengacara itu.
"Lu mau mainin sejarah bokap gue?" suara Zeva rendah namun sangat mematikan. "Bokap gue bukan pencuri. Dia itu mekanik yang lebih jujur daripada semua orang berjas di ruangan ini! Lu bilang dia nyuri dokumen? Sini, gue tunjukin apa yang sebenernya dicuri."
Zeva memberi kode pada Ujang. Di layar besar, muncul rekaman video dari ponsel lama milik Pak Sanjaya yang baru saja diberikan oleh Pak Danu. Rekaman itu memperlihatkan pertemuan rahasia Helena muda dengan beberapa kontraktor gelap untuk memalsukan surat tanah pelabuhan.
"Ini yang kalian sebut mencuri? Ayah gue nyimpen dokumen asli buat ngelindungin pelabuhan ini dari orang-orang serakah kayak kalian!" teriak Zeva.
Di tengah keributan itu, perwakilan dokter dari Jerman maju ke depan. Ia membawa sebuah amplop bersegel. Suasana mendadak hening.
"Berdasarkan analisis cepat dengan teknologi pembanding yang kami bawa, kemungkinan Kenzo Sanjaya Alfarezel adalah anak kandung dari Adrian Alfarezel adalah... 99,99%."
Tepuk tangan pecah dari para pendukung yayasan. Pengacara Helena tampak pucat pasi dan mencoba menyelinap keluar, namun langsung dihadang oleh Bang Bewok dan anak-anak Jembatan Merah yang sudah mengepung lokasi.
Zeva kembali duduk di samping Adrian. Ia meraih tangan suaminya. "Kita menang satu ronde lagi, Bos Robot."
"Tapi perang yang sebenernya baru dimulai, Zeva," bisik Adrian. "Kalau rahasia tentang tanah itu benar, berarti separuh dari Menara Alfarezel adalah milikmu secara pribadi, bahkan sebelum kau menikah denganku."
Malam harinya, Zeva memutuskan untuk menemui Helena di penjara. Ia tidak butuh pengacara, ia hanya butuh jawaban.
Di balik kaca pembatas, Helena tampak kurus namun matanya masih memancarkan kebencian yang mendalam. Ia tertawa saat melihat Zeva. "Kau pikir kau menang karena tes DNA itu, Zeva? Kau hanya boneka kecil di atas mesin yang besar."
"Kenapa lu bunuh nyokap gue, Helena?" tanya Zeva dingin, tangannya mengepal di atas meja.
Helena terdiam sejenak, lalu seringai tipis muncul di bibirnya. "Ibumu itu hanya korban sampingan. Dia terlalu berisik, sama seperti kau. Ayahmu itu terlalu bodoh karena percaya bahwa kejujuran bisa mengalahkan kekuasaan."
"Bokap gue emang nggak punya kekuasaan, tapi dia punya gue," sahut Zeva. "Dan sekarang, gue punya segalanya buat bikin lu membusuk di sini. Lu denger ya, Nenek Sihir. Gue bakal bongkar semua kejahatan lu sampe nggak ada satu orang pun yang mau sebut nama lu lagi."
"Silakan, Zevanya," Helena mendekatkan wajahnya ke kaca. "Tapi tanya pada mertuamu... tanya pada Martha, kenapa dia menghilang ke Swiss selama dua puluh tahun. Kau pikir dia tidak tahu apa-apa soal malam kecelakaan itu?"
Zeva keluar dari ruang kunjungan dengan perasaan yang berkecamuk. Satu teka-teki selesai, namun ribuan teka-teki baru muncul.
Sesampainya di rumah, Zeva mendapati Martha sedang menggendong Kenzo di balkon, menatap lampu-lampu Jakarta.
"Ma," panggil Zeva pelan.
Martha menoleh, wajahnya tampak sangat lelah. "Helena bicara padamu, ya?"
"Kenapa Mama pergi ke Swiss pas bokap saya ngalamin kecelakaan itu? Apa Mama tahu sesuatu?" tanya Zeva lugas, sikap semprul-nya hilang digantikan oleh ketegasan seorang Direktur.
Martha menghela napas panjang, air mata jatuh di pipinya yang masih cantik. "Mama takut, Zeva. Ayah Adrian mencoba melindungi ayahmu, tapi dia gagal. Mama dipaksa pergi agar kalian—kau dan Adrian yang saat itu masih kecil—tidak menjadi target berikutnya. Mama menyimpan dokumen asli tanah itu di dalam mesin Pullman, berharap suatu hari nanti ada orang yang cukup gila untuk membongkarnya."
Zeva terdiam. Ia baru menyadari bahwa selama ini, ia dan Adrian adalah dua anak yang dipertemukan oleh sejarah yang berdarah.
"Makasih udah jujur, Ma," ujar Zeva sambil memeluk Martha. "Sekarang, kita bukan lagi cuma ngebela perusahaan. Kita ngebela keadilan buat bokap gue dan nyokap gue."
Di sudut kota yang lain, Lord Julian sedang menelepon seseorang di London. Wajahnya tampak sangat marah.
"Rencana DNA gagal total. Zevanya sekarang punya bukti rekaman lama. Kita harus bergerak lebih cepat. Kirimkan tim 'pembersih' ke Merak. Jika kita tidak bisa memiliki pelabuhan itu, maka tidak boleh ada yang memilikinya. Ledakkan semuanya."
Zeva, yang sedang tertidur lelap di samping boks bayi Kenzo, tiba-tiba terbangun karena firasat buruk. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Ujang.
"Jang, lu di mana? Gue punya perasaan nggak enak. Perketat penjagaan di Dermaga Empat. Gue mau lu cek setiap kontainer yang masuk malam ini. Jangan sampe ada baut yang lepas!"
Sang mekanik kembali beraksi. Ia tahu, oli dan darah mungkin akan kembali bercampur, namun kali ini, ia bertarung untuk sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah kebenaran yang terkubur selama dua puluh lima tahun.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan