Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Mahar
Bisingnya suara hujan yang turun begitu deras sejak satu jam lalu membuat hati Aurellia makin kalut.
Semalam dia tidak bisa tidur dengan tenang, walau Rayga sudah menyetujui permintaannya untuk dinikahi sebelum mengandung benih pria itu.
"Sanggupkah aku berpisah dengan anakku nantinya?" Aurellia duduk meringkuk, termenung membayangkan masa-masa sulit yang akan dia jalani di kemudian hari.
Aurellia tersedu, air matanya terasa hangat jatuh melewati pipinya.
Lepas dari kandang harimau, sekarang masuk dalam kandang buaya, begitulah umpama Aurellia saat ini.
"Nantinya, aku akan menjadi seorang ibu yang tidak ada tanggung jawab, seorang ibu yang akan meninggalkan darah dagingnya sendiri. Betapa bejatnya aku ....". Aurellia meratap, air matanya keluar tanpa henti menandingi derasnya air hujan di luar sana.
Beberapa kali ketukan pintu dari luar tidak terdengar oleh Aurellia.
Selain suara bising hujan, karena pikirannya tak karuan juga membuat telinganya seolah tuli dan tidak mendengar suara dari arah pintu.
Karena tidak ada sahutan dari Aurellia, dua orang pelayan langsung masuk ke dalam menemui Aurellia sesui perintah dari Rayga.
"Selamat pagi, Non," sapa mereka.
"Pagi juga." Aurellia memaksakan senyumannya menjawab salam dua orang pelayan itu.
"Tuan berpesan agar Non Aurellia segera membersihkan diri dan menemui Tuan. Ini perlengkapan Non Aurellia sudah disediakan," ujarnya, lalu memberikan beberapa buah
paper bag pada Aurellia.
"Terima kasih, ya," ucap Aurellia kembali memaksakan senyumannya.
"Sama-sama, Non. Kami permisi," jawab mereka serentak yang diangguki oleh Aurellia.
Setelah kedua pelayan itu keluar dari kamar, Aurellia meraih paper bag yang teronggok di sampingnya.
"Apa ini?" Aurellia mengintip isi paper bag dan mengeluarkannya.
Sehelai dress berwarna baby blue berbahan sutra yang begitu halus dan lembut.
Dari bahan dan modelnya, sudah terlihat kemewahan dari dress yang ada di tangan Aurellia.
Aurellia menarik napas yang terasa berat, lalu meletakkan dress itu di atas tempat tidur.
Dia bergeser, ngesot sesaat turun dari ranjang.
"Setidaknya beberapa jam yang telah aku lalui di rumah ini bisa membuat tubuhku bersantai. Pukulan tidak lagi dirasakan tubuhku dan kata-kata kasar juga tidak lagi menusuk gendang telingaku. Toh, di sini nanti aku hanya tinggal ngangkang, setelah semua beres aku bisa pergi bebas." Aurellia melangkah pelan menuju kamar mandi sambil berbicara sendiri.
Di dalam kamar mandi, Aurellia mengguyur tubuhnya dengan air shower yang bersuhu dingin sampai menggigil kedinginan.
Berharap semua beban hidupnya selama ini dibasuh tanpa ada lagi jejak oleh air yang terus membasahi tubuhnya.
Tak terasa, hampir satu jam Aurellia berkutat di bawah guyuran shower.
"Non," panggil pelayan yang diutus Rayga, dia berdiri di depan pintu kamar mandi sambil mengetuk pintu beberapa kali.
"Non Aurellia .." Kembali dia memanggil Aurellia, tetapi orang yang dipanggil enggan untuk menyahuti walau dia mendengar panggilan itu.
"Apakah Non Aurellia sudah siap?" tanyanya sambil mendekatkan telinga pada daun pintu.
Aurelia mematikan shower, menyudahi aktivitasnya bermain air.
Dia mengambil sehelai handuk yang tergantung di dinding dan melilitkan di badannya.
Padahal di sana juga ada kimono mandi, dan itu juga terlihat oleh matanya, tetapi benda itu tak disentuh
sedikit pun oleh Aurellia.
"Astaga, Non." Pelayan itu terhuyung saat pintu dibuka oleh Aurellia, karena sebelumnya posisi pelayan tersebut menempelkan badannya pada daun pintu untuk mendengarkan respon Aurellia pada panggilannya.
"Maaf ya." Aurellia berdiri di ambang pintu dengan rambut basah dan mata sembab.
"Tidak apa-apa, Non. Tadi saya disuruh Tuan untuk memanggil Non Aurellia agar segera turun," ujarnya mengikuti langkah Aurellia dari belakang.
"Saya akan memakai pakaianku dulu, dan akan secepatnya menemui dia," jawab Aurellia.
******
Rayga duduk di sofa ruang tamu, dia menelepon asistennya—Xander agar segera datang ke rumahnya dan sudah pasti Xander akan mematuhi apa yang diperintahkan Rayga padanya.
"Permisi, Tuan," sapa Aurellia berdiri di sebelah sofa yang diduduki Rayga.
Rayga menoleh sekilas pada Aurellia, lalu mengakhiri panggilan teleponnya bersama Xander.
"Duduk," titahnya mempersilakan Aurellia.
Aurellia mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan Rayga padanya.
Rayga menatapnya tajam, rahangnya mengeras mengingat permintaan gadis itu sebelumnya.
"Jadi itu syaratmu?" tanyanya dingin.
Aurellia menunduk, jemarinya saling meremas gugup.
"Saya tidak mau ada hubungan tanpa ikatan, Tuan," ucapnya lirih.
Rayga masih terkekeh pelan setiap kali mendengar itu, lebih terdengar seperti ejekan.
"Kau pikir ini akan seperti pernikahan pada umumnya?" suaranya berubah rendah dan tajam.
Aurellia terdiam, jantungnya berdegup tak karuan.
"Pernikahan ini tidak akan semewah yang kau bayangkan, Kita akan menikah secara cepat," lanjut Rayga tanpa emosi.
"Dan jangan pernah menuntut apa pun dariku. Tidak ada mahar dan tidak ada permintaan apapun lagi."
Aurellia mengepalkan tangannya pelan, tetapi tetap diam.
"Aku sudah membelimu dari tempat itu, anggap saja itu mahar yang telah ku berikan" tambah Rayga dingin, seolah itu alasan yang cukup untuk semuanya.
Hati Aurellia terasa mencelos.
Namun, dia hanya bisa mengangguk pelan dengan senyum miris yang nyaris tak terlihat.
"Baik, Tuan…"
Rayga mengalihkan pandangannya seolah pembicaraan itu sudah selesai.
"Mina!" panggilnya keras.
Seorang ART yang berumur 50 Tahunan segera datang menghampiri.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa dibantu?"
"Suruh dia bersiap, Penghulu akan datang sebentar lagi."
Aurelia tersentak, kepalanya sedikit terangkat.
Semua terasa begitu cepat, terlalu cepat bahkan untuk dia pahami.
"Iya, Tuan," jawab Mina, lalu mendekati Aurellia.
"Ayo, Non. Kita bersiap dulu."
Aurellia berdiri pelan, Tubuhnya terasa lemas, bukan hanya karena keadaan yang meneken, tetapi juga karena perutnya yang kosong sejak kemarin.
Langkahnya sempat goyah, membuatnya harus menahan diri agar tidak terjatuh.
Kepalanya terasa ringan, pikirannya bercabang—antara rasa lapar yang menyiksa dan kenyataan pahit yang harus dia jalani.
Namun, tanpa banyak bicara, Aurellia tetap mengikuti Mina untuk membersihkan diri dan mempersiapkan pernikahan yang bahkan tidak pernah dia bayangkan akan terjadi seperti ini.
Tapi sebelum mereka berjalan terlalu jauh, suara Rayga terdengar kembali " Mina, bawa dia sarapan dulu"
"Baik tuan, ayo Non kita sarapan dulu sebelum bersiap". Ucap Mina.
Aurellia ragu, tetapi karena dia memang sudah lapar, tanpa pikir panjang Aurellia berdiri dari duduknya dan berjalan mengikuti Mina.
Aurellia makan begitu lahap melepas rasa laparnya, apalagi Aurellia belum makan dari hari kemarin, tentu membuat dia kalap dan ingin langsung memakan semua menu di meja makan.
Sedangkan Rayga kembali menelepon seseorang yang berdebat sengit dengannya dan memberikan pesan singkat ke Mina untuk membawa kembali Aurellia ke hadapan nya karena dia sendiri yang akan membantu Aurellia bersiap.
Di dapur.
"Non Aurellia ngapain?" Mina menghentikan langkah Aurellia, lalu mengambil piring kotor di tangan Aurellia.
"Mau cuci piring" jawab Aurellia bengong.
"Nanti ada yang nyuci piring kotornya, Non. Mohon jangan membuat Tuan Rayga memarahi aku, lebih baik Nona kembali menemui Tuan Rayga karena Tuan Rayga sendiri yang akan menemani nona bersiap untuk pernikahan nya." Mina meletakkan piring kotor bekas sarapan Aurellia dalam wastafel dan membawa Aurellia kembali ke ruang tamu menemnui Rayga.
"Kenapa tuan Rayga berubah pikiran..?" Batin Aurellia, jujur ia cukup merasa lega jika yang membantu persiapan adalah Mina tapi sepertinya ia memang harus terbiasa tertekan oleh keputusan tuan Rayga.
Aurellia dan Mina menemui Rayga, yang masih duduk di soffa.
Rayga memberi isyarat kepada Mina untuk segera pergi.
Mina mengetahui dan pamit menuju dapur, tersisa hanya Aurellia dan Rayga yang mengisi suasana canggung.
Aurellia memilih duduk kembali karena ia bingung harus apa tapi Rayga langsung berucap sarkas.
"Saya suruh bersiap kenapa kamu duduk?" Rayga mencondongkan tubuhnya, menatap Aurellia dengan mata menyipit.
Aurellia bingung disuruh bersiap seperti apa oleh Rayga.
Mau ganti baju dengan gaun panjang seperti orang nikah pada umumnya, kan Aurellia tidak punya gaun di sana.
Jangankan gaun, baju ganti pun tak punya.
Untung baju ganti yang dia kenakan saat ini diberikan Rayga sebelum sarapan, kalau tidak, pasti Aurellia akan kembali mengenakan baju kotornya.
"Astaga!" geram Rayga mengepalkan jemarinya erat dan memukul pinggiran sofa sedikit keras.
"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu harus bersiap seperti apa." Aurellia menunduk dalam.
"Pakaian tak punya dan alat kosmetik tak ada, Lantas, saya bersiapnya dengan apa."
"Ya, sudah. Begitu saja," balas Rayga yang jauh dari jawaban calon suami pada umumnya.