NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Bayang-Bayang yang Mengintai

Tiga hari setelah Festival Perebutan Warisan, Arga masih belum bisa meninggalkan kamarnya.

Tubuhnya dipenuhi perban dari kepala hingga kaki. Sari mengganti balutan lukanya dua kali sehari, setiap kali dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang bergetar menahan tangis. Tapi gadis itu tidak lagi merengek seperti dulu. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya—seolah kemenangan Tuan Mudanya di arena telah menyalakan api kecil di hatinya sendiri.

"Tabib bilang tulang rusuk Tuan Muda akan pulih dalam dua minggu," lapor Sari sambil membalut lengan Arga. "Tapi Tuan Muda tidak boleh bergerak terlalu banyak dulu."

Arga mengangguk pelan. Ia sudah memeriksa kondisi tubuhnya sendiri dengan Mata Batin Langit. Dua tulang rusuk retak, satu hampir patah. Bahu kirinya memar parah. Meridian-meridiannya yang sudah mulai terbuka kini kembali sedikit menyempit karena tekanan pertarungan.

Tapi Benang Perak di Dantian-nya tetap stabil di delapan ruas jari. Bahkan, selama tiga hari istirahat ini, ia merasakan benang itu perlahan memulihkan diri dan... menyerap sesuatu. Bukan Qi dari alam, melainkan semacam energi yang muncul dari proses penyembuhan tubuhnya sendiri.

Menarik, pikirnya. Jadi Benang Perak juga tumbuh dari proses pemulihan. Bukan hanya pertarungan.

"Tuan Muda," suara Sari mengalihkan lamunannya. "Ada banyak orang yang ingin bertemu Tuan Muda. Mereka menunggu di luar."

Arga mengernyit. "Orang-orang? Siapa?"

"Mereka... warga klan. Anggota keluarga cabang. Bahkan beberapa pedagang dari kota." Sari tersenyum malu-malu. "Mereka ingin memberi selamat pada Tuan Muda. Ada yang membawa hadiah. Buah-buahan, kain, bahkan ada yang membawa uang perak."

Arga terdiam. Tiga hari lalu ia masih menjadi "sampah klan" yang diinjak-injak. Kini orang-orang membawa hadiah. Ironi yang terlalu familiar baginya—ia pernah mengalaminya sebagai Kaisar Langit. Ketika berkuasa, semua orang tunduk. Ketika jatuh, semua orang pergi.

"Tolak dengan halus," katanya akhirnya. "Bilang aku masih butuh istirahat."

Sari mengangguk, meski wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan. "Baik, Tuan Muda."

Saat gadis itu berbalik menuju pintu, Arga memanggilnya. "Sari."

"Ya, Tuan Muda?"

"Kau... terima saja hadiahnya. Simpan yang berguna. Tolak yang tidak perlu."

Sari tersenyum lebar. "Baik, Tuan Muda!"

---

Sore harinya, seorang tamu berhasil menerobos penjagaan Sari.

Bima masuk dengan membawa bungkusan daun pisang yang menguarkan aroma daging bakar. Rambutnya yang cokelat kusut tampak lebih berantakan dari biasanya, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.

"Kau terlihat lebih buruk dariku," komentar Arga dari ranjangnya.

Bima tertawa kecil, lalu duduk di lantai dekat ranjang. "Semalaman tidak tidur. Banyak yang harus dipikirkan." Ia membuka bungkusan dan menyodorkan sepotong daging rusa bakar pada Arga. "Makan. Kau butuh tenaga."

Arga menerimanya dan menggigit perlahan. Rasa daging yang familiar itu membawa kenangan akan latihan mereka di Hutan Timur. Terasa seperti sudah lama sekali, padahal baru beberapa hari.

"Aku dengar Baskara Wirya sudah kembali ke wilayah klannya," kata Bima setelah keheningan sejenak. "Tapi dia meninggalkan pesan. Katanya, siapa pun yang membawa kepalamu padanya akan mendapat hadiah lima puluh batu roh tingkat menengah."

Arga mengunyah pelan. "Lima puluh. Cukup murah untuk harga kepalaku."

"Ini tidak lucu, Arga." Wajah Bima serius. "Lima puluh batu roh tingkat menengah itu jumlah yang besar untuk kultivator-kultivator liar di perbatasan. Mereka akan memburumu begitu kau keluar dari kompleks klan."

"Aku tahu."

"Lalu apa rencanamu? Bersembunyi di sini selamanya?"

Arga menghabiskan dagingnya dan menatap langit-langit. "Aku butuh waktu dua minggu untuk pulih. Setelah itu, aku akan masuk ke Hutan Timur lagi. Lebih dalam dari sebelumnya."

Bima mengernyit. "Kau gila? Di kedalaman hutan ada monster-monster setara ranah Pondasi. Bahkan monster tingkat raja. Kau akan mati."

"Aku akan mati jika diam di sini juga." Arga menoleh, menatap Bima. "Baskara tidak akan menungguku selamanya. Suatu saat dia akan datang sendiri. Dan saat itu, aku harus cukup kuat untuk menghadapinya."

Bima terdiam. Ia tahu Arga benar.

"Aku ikut," katanya akhirnya.

"Tidak."

"Kenapa? Kau pikir aku hanya akan menjadi beban?"

Arga menggeleng. "Kau punya sekte. Keluarga. Tanggung jawab. Ini perjalananku sendiri."

Bima ingin membantah, tapi kata-kata Arga menguncinya. Ia menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi setidaknya, izinkan aku membantumu dari sini. Aku punya koneksi dengan beberapa pemburu di kota. Mereka bisa memberimu informasi tentang pergerakan monster di Hutan Timur. Juga tentang orang-orang yang mungkin memburumu."

Arga menatapnya. "Kenapa kau melakukan semua ini untukku?"

Bima tersenyum. "Aku sudah bilang. Kau membuatku penasaran setengah mati. Dan..." ia berhenti sejenak, "...kau temanku. Mungkin satu-satunya teman sejati yang pernah kupunya."

Keheningan melingkupi mereka. Arga tidak tahu harus merespons apa. Sebagai Kaisar Langit, ia tidak pernah punya teman. Hanya bawahan, musuh, dan pengkhianat. Konsep "pertemanan" adalah sesuatu yang asing.

Tapi entah kenapa, kata-kata Bima terasa hangat di dadanya.

"Terima kasih," katanya pelan.

Bima mengangguk, lalu bangkit. "Aku akan kembali tiga hari lagi. Bawa informasi. Kau fokus saja pada pemulihanmu."

Setelah Bima pergi, Arga duduk termenung. Di luar, suara Sari yang sedang menerima hadiah dari warga klan terdengar samar. Di kejauhan, lolongan anjing hutan memecah keheningan senja.

Ia meraih liontin giok di dadanya. Denyutnya teratur, seirama dengan Benang Perak di Dantian-nya.

Delapan ruas jari. Satu lagi menuju sembilan. Lalu... transformasi ke Benang Emas.

Tapi untuk itu, aku butuh Inti Monster Tingkat Raja.

Di dalam ingatannya sebagai Kaisar Langit, monster tingkat raja adalah makhluk yang setara dengan kultivator ranah Inti Emas. Jauh, jauh di atas levelnya saat ini. Membunuh satu ekor adalah hal mustahil—kecuali jika ia menemukan cara lain.

Atau... seseorang yang bisa membantu.

Pikirannya melayang pada Raka. Pemuda dari Sekte Awan Kelabu itu adalah salah satu dari sedikit orang yang menunjukkan rasa hormat setelah pertarungan final. Mungkin dia tahu sesuatu.

Tapi itu nanti. Untuk sekarang, ia harus fokus pada pemulihan. Dua minggu. Ia akan menggunakan setiap detiknya untuk memperkuat Benang Perak—bahkan tanpa bergerak dari ranjang.

Teknik Pernapasan Kaisar Kuning bisa kulakukan dalam posisi apa pun.

Ia menutup mata dan mulai bermeditasi.

---

Malam semakin larut. Sari sudah tertidur di sudut kamar, kelelahan setelah seharian melayani tamu-tamu yang datang.

Arga masih terjaga. Matanya terbuka, menatap kegelapan di luar jendela.

Ia merasakannya sebelum melihatnya.

Sebuah aura. Bukan sekuat Baskara, tapi cukup signifikan. Seseorang di ranah Pemurnian Qi tahap kelima—mungkin keenam—sedang mendekati kamarnya. Gerakannya hati-hati, nyaris tak terdengar.

Pemburu bayaran?

Arga tidak panik. Ia mengatur napas, merasakan Benang Perak di Dantian-nya. Energinya belum pulih sepenuhnya, tapi cukup untuk mengaktifkan Perisai Langit Kesepuluh selama satu detik. Mungkin cukup untuk mengejutkan penyusup.

Bayangan muncul di balik jendela. Perlahan, sangat perlahan, jendela bambu itu mulai terbuka dari luar.

Arga siap. Tangannya sudah membentuk segel untuk mengaktifkan perisai.

Tapi saat jendela terbuka sepenuhnya, yang muncul bukanlah wajah pembunuh bayaran.

Melainkan wajah Raka.

Pemuda itu memberi isyarat diam dengan jari di bibirnya. Matanya serius, dan ada darah di lengan kirinya.

"Arga," bisiknya. "Aku perlu bicara. Ini penting. Sekarang juga."

1
Mommy Dza
So sweet 😁 akhirnya Arga bs tdur nyenyak
Mommy Dza
Masuk ke dalam kegelapan
kenangan pertama
Mommy Dza
Mencari pecahan
Mommy Dza
Pilihan yg sulit
Mommy Dza
pemangsa yg kesepian ternyata🥹
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!