NovelToon NovelToon
Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
​Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
​Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6.Ritual Di tengah Malam

Pintu ruang OSIS tertutup dengan bunyi klik yang solid, meninggalkan keriuhan koridor sekolah di balik daun pintu kayu yang tebal. Di dalam, ruangan itu tertata dengan presisi yang hampir obsesif. Tumpukan dokumen di atas meja besar milik Sona Sitri sejajar sempurna dengan tepi meja, dan aroma teh herbal yang menenangkan memenuhi udara, mencoba menetralisir ketegangan yang merambat masuk bersama Ren.

Sona tidak segera mendongak. Ia tampak sibuk menuliskan sesuatu di atas lembaran kertas formal, membiarkan Ren berdiri di tengah ruangan selama beberapa detik—sebuah taktik klasik untuk menegaskan dominasi. Namun, Ren justru menggunakan waktu itu untuk mengamati koleksi buku di rak dinding. Matanya, di balik lensa hitam, membedah judul-judul buku tentang strategi perang dan sejarah kuno.

"Duduklah, Saiba-kun," suara Sona memecah keheningan, dingin dan jernih seperti kristal es yang pecah.

Ren menarik kursi di hadapan Sona, namun alih-alih duduk dengan tegak seperti siswa yang sedang diinterogasi, ia menyandarkan punggungnya dengan santai, satu lengannya diletakkan di atas sandaran kursi.

"Teh yang harum, Ketua. Earl Grey dengan sedikit sentuhan lavender? Pilihan yang bagus untuk seseorang yang memikul beban satu sekolah di pundaknya," ucap Ren, suaranya mengalun rendah dan penuh percaya diri.

Sona berhenti menulis. Ia meletakkan penanya dengan posisi horizontal yang sempurna, lalu mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam di balik bingkai kacamata menatap Ren, mencoba mencari celah atau tanda-tanda kegugupan. Ia tidak menemukannya.

"Aku memanggilmu bukan untuk membahas selera tehku," Sona mendorong sebuah map biru ke arah Ren. "Ada beberapa ketidakkonsistenan dalam dokumen kepindahanmu. Catatan kesehatanmu kosong, dan alamat tempat tinggalmu di Kuoh terdaftar sebagai properti yang seharusnya sudah tidak berpenghuni selama lima tahun."

[SISTEM: Deteksi upaya penetrasi mental tingkat rendah. Sona Sitri menggunakan 'Eye of Analysis' untuk membaca detak jantung dan kejujuran Anda.]

[REN: Biarkan dia membaca apa yang ingin dia baca. Setel detak jantungku pada frekuensi manusia normal yang sedang sedikit bosan.]

Ren hanya melirik map itu tanpa menyentuhnya. "Alamat itu milik kerabat jauh yang memberikannya padaku. Mengenai catatan kesehatan... saya jarang sakit, Ketua. Tubuhku memiliki cara tersendiri untuk menyembuhkan diri."

Sona memajukan tubuhnya sedikit, tangannya bertaut di atas meja. "Saiba-kun, aku tidak suka teka-teki. Di Akademi Kuoh, keamanan siswa adalah prioritasku. Kehadiranmu... terasa seperti variabel yang tidak seharusnya ada dalam persamaan ini. Aura yang kau bawa tidak cocok dengan profil 'siswa pindahan biasa'."

Ren terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar nakal namun tetap dewasa. Ia memajukan wajahnya, membuat jarak antara mereka hanya terpisah oleh meja jati yang lebar.

"Variabel, ya? Istilah yang menarik untuk menggambarkan seseorang," Ren melepas kacamata hitamnya hanya sejauh beberapa milimeter, cukup untuk membiarkan Sona melihat sekilas pancaran biru kristal yang tidak alami dari Six Eyes sebelum memakainya kembali dengan cepat. "Tapi bukankah hidup akan membosankan jika semua angka bisa dijumlahkan dengan tepat, Ketua? Kadang, sesuatu yang tidak bisa Anda hitung adalah sesuatu yang justru melindungi Anda dari badai yang sebenarnya."

Sona mematung sejenak. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang—bukan karena takut, tapi karena insting iblisnya berteriak bahwa ia baru saja melihat sekilas sesuatu yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah ia temui di Underworld.

"Apakah itu ancaman?" tanya Sona, suaranya tetap stabil meski ada sedikit getaran waspada.

"Tentu saja tidak. Itu adalah janji kesopanan," Ren berdiri, merapikan seragamnya yang tidak benar-benar berantakan. "Saya di sini hanya untuk belajar dan menikmati masa muda yang tenang. Selama tidak ada yang mencoba mengintip terlalu dalam ke balik tirai saya, saya akan menjadi siswa yang paling teladan di OSIS Anda."

[SISTEM: Target Sona Sitri mengalami lonjakan rasa ingin tahu yang tinggi. Strategi 'Intimidasi Halus' berhasil.]

[SISTEM: Hadiah Quest diperoleh—1.000 Poin Prestasi. Menambahkan informasi: Artefak 'Fragmen Salib Cahaya' terdeteksi terkubur di bawah air mancur taman belakang sekolah.]

Ren berbalik menuju pintu, namun sebelum ia memutar gagang pintu, ia menoleh sedikit. "Oh, satu lagi, Ketua. Teh lavendermu akan terasa lebih enak jika suhunya turun dua derajat lagi. Terlalu panas hanya akan merusak esensi ketenangannya."

Tanpa menunggu jawaban, Ren keluar dari ruangan itu dengan langkah yang ringan. Tsubaki yang berdiri di depan pintu hanya bisa menatapnya dengan pandangan penuh selidik saat Ren melewatinya sambil bersiul kecil.

Di dalam ruangan, Sona Sitri masih menatap kursi kosong di depannya. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengambil kembali penanya. Ia segera mengambil selembar kertas kosong dan mulai menuliskan satu nama dengan tinta hitam yang tebal: SAIBA REN.

"Panggil Rias," perintah Sona melalui perangkat komunikasi sihir di mejanya. "Kita punya masalah yang jauh lebih rumit daripada sekadar Malaikat Jatuh liar."

Sementara itu, di koridor, Ren menyunggingkan senyum kemenangan. Ia baru saja meletakkan umpan pertamanya. Sekarang, tinggal menunggu siapa yang akan menggigit lebih dulu: sang Iblis Strategis atau sang Putri Rambut Merah.

1
Chandra
lanjut lagi lebih banyak lagi
Chandra
lanjut mana sih
Chandra
lanjut mana
Chandra
lanjut lagi
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut lagi seru ini
Chandra
lanjut lagi
Chandra
lanjut
Chandra
mana lanjutnya 😭
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!