Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Jam dinding di ruangan itu perlahan bergerak menunjuk angka 5 sore. Sinar matahari mulai meredup, berubah menjadi warna keemasan yang menembus kaca jendela besar, menerangi debu-debu halus yang melayang di udara. Suasana kerja yang sibuk perlahan mulai mereda, banyak karyawan yang mulai merapikan meja dan bersiap pulang. Namun di lantai paling atas, suasana masih terasa padat dan serius.
Sulthan yang sejak tadi tersenyum puas mendengar laporan dari tim lapangan kini menekan tombol interkom di mejanya. Suaranya terdengar jelas menyambung ke meja resepsionis dan ruang sekretaris.
"Putri, tolong masuk ke sini sebentar."
Tidak butuh waktu lama, pintu ruangan terbuka, Putri masuk dengan langkah anggun dan rapi seperti biasa. Wanita berusia 23 tahun itu masih tampak segar dan profesional, meski sudah bekerja seharian penuh. Dia membawa buku catatan kecil dan pulpen untuk mencatat perintah apa pun dari bosnya.
"Selamat sore, Pak Sulthan. Ada perintah apa?" tanya Putri sopan sambil berdiri di hadapan meja kerja besar itu.
Sulthan menatapnya dengan tatapan yakin. "Putri, saya mau kamu atur jadwalnya. Beberapa hari ke depan, saya ingin berangkat ke Mojokerto. Saya mau pergi langsung ke lokasi proyek pembangunan cabang baru itu. Saya harus melihat sendiri kondisinya, memastikan semuanya sesuai dengan apa yang dilaporkan, dan bertemu langsung dengan pihak terkait di sana," perintah Sulthan dengan nada tegas yang menunjukkan ini bukan sekadar usulan, melainkan keputusan yang sudah bulat.
Putri mengangguk cepat, jarinya sudah siap menuliskan tanggal di bukunya. "Baik, Pak. Kira-kira tanggal berapa Bapak ingin berangkat? Berapa hari lamanya di sana? Dan apakah Bapak ingin saya siapkan perjalanan darat dengan mobil atau udara?" tanya Putri rinci, sesuai kebiasaannya yang selalu memikirkan segala detail.
"Saya ingin secepatnya. Mungkin lusa pagi. Perjalanan darat saja supaya saya bisa sekalian melihat kondisi jalannya. Dan rencananya saya akan di sana satu hari satu malam saja, pulangnya keesokan harinya," jawab Sulthan jelas.
Putri mencatat semuanya dengan rapi. "Siap, Pak. Nanti saya siapkan semuanya, mulai dari rute, akomodasi, sampai daftar orang yang akan menemui Bapak di sana."
Namun, tepat saat Putri hendak berpamitan dan Sulthan merasa urusan jadwal sudah selesai, suara Juniarta tiba-tiba terdengar memecah suasana.
"Eh, tunggu dulu, Bos. Sebentar..."
Juniarta yang sejak tadi duduk di mejanya kini berdiri dan berjalan mendekat. Wajahnya tampak sedikit ragu dan khawatir. Dia menatap Sulthan, lalu menoleh sebentar ke arah Putri seolah memberi isyarat bahwa ini pembicaraan internal, tapi akhirnya dia tetap bicara terbuka.
"Maaf menyela, Bos. Tapi jujur saja... saya kurang menyarankan Bapak untuk pergi ke sana sekarang," ucap Juniarta pelan namun tegas.
Sulthan mengangkat alisnya, menatap asistennya itu dengan tatapan penasaran sekaligus menantang. "Oh? Kenapa? Alasannya apa? Bukankah tadi laporannya bagus semua? Tanah aman, lokasi strategis, pasar bagus. Kenapa saya tidak boleh pergi?"
Juniarta menarik napas panjang, lalu mulai menjelaskan alasan kekhawatirannya satu per satu.
"Begini, Bos. Memang laporannya bagus, tapi kan proyeknya belum resmi diumumkan ke publik luas. Kalau Bapak, sebagai pemilik perusahaan dan sosok yang cukup dikenal di dunia bisnis Jawa Timur, tiba-tiba muncul di sana sekarang, saya takut nanti malah memancing spekulasi. Takutnya ada pesaing bisnis kita yang dapat info, lalu mereka berniat jahat atau malah berusaha memborong lahan di sekitar sana cuma untuk menghambat kita," jelas Juniarta panjang lebar.
Dia berhenti sebentar, melihat reaksi Sulthan, lalu melanjutkan lagi.
"Selain itu, Bos. Jalannya ke sana sekarang lagi banyak perbaikan, Bos. Tadi Pak Wawan juga sempat bilang kan, ada beberapa titik yang sedang digali dan diperlebar. Kalau Bapak lewat, perjalanannya bakal lama dan melelahkan. Belum lagi soal keamanan. Kalau Bapak pergi sebelum gedung berdiri dan sistem keamanan kita terpasang, tanggung jawab keamanan Bapak jadi lebih berat. Saya takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi."
Juniarta bicara dengan sungguh-sungguh. Semua alasan yang dia kemukakan masuk akal dan murni demi kebaikan perusahaan serta keselamatan Sulthan. Dia tidak bermaksud membangkang, tapi sebagai tangan kanan yang dipercaya, sudah menjadi tugasnya untuk menyampaikan risiko yang mungkin terlewat oleh pandangan bosnya.
Putri pun di sana hanya diam mendengarkan, tangannya berhenti mencatat. Dia pun tahu bahwa apa yang dikatakan Juniarta benar adanya.
Tapi Sulthan Aditama adalah pria yang memiliki prinsip kuat. Jika dia sudah berniat dan bertekad, sulit baginya untuk berubah pikiran hanya karena sedikit kendala atau pertimbangan.
Sulthan tersenyum tipis, senyum yang menunjukkan dia mengerti kekhawatiran asistennya, tapi tetap tidak akan mengubah keputusannya.
"Jun, Jun... Saya tahu kamu khawatir dan semua alasanmu itu masuk akal. Saya hargai pemikiranmu yang jauh ke depan itu," kata Sulthan lembut namun tegas. "Tapi justru karena ini proyek besar pertama kita di luar Surabaya, saya harus melihatnya sendiri. Mata saya sendiri, tangan saya sendiri yang merasakan tanahnya. Laporan di kertas itu penting, tapi pengalaman langsung itu tidak tergantikan."
Sulthan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap mata Juniarta lekat-lekat.
"Soal pesaing? Biarkan saja mereka tahu. Justru saya ingin mereka tahu kalau Aditama Gold datang dengan serius dan siap bersaing. Kalau mereka mau menghambat, biar mereka coba saja. Kita kan sudah siap dengan segala strategi, kan? Dan soal keamanan, kamu atur saja. Bawa tim keamanan lebih banyak, pilih rute alternatif, atau atur waktu berangkat supaya tidak terlalu mencolok. Itu tugasmu untuk menyelesaikannya, bukan meminta saya membatalkan rencana."
Nada bicara Sulthan kini sudah menunjukkan ketegasan mutlak. Tidak ada ruang lagi untuk perdebatan.
Juniarta menunduk sedikit, menyadari bahwa bosnya sudah mengambil keputusan akhir. Dia tahu karakter Sulthan, kalau sudah begini, membantah hanya akan membuat suasana jadi buruk dan tidak ada gunanya.
"Baik, Bos... Saya mengerti," jawab Juniarta akhirnya dengan nada pasrah namun tetap siap bertugas. "Kalau Bapak sudah bertekad begitu, saya tidak akan membantah lagi. Nanti saya atur semuanya seaman dan sehalus mungkin. Saya pastikan tidak ada celah sedikitpun untuk masalah terjadi."
Sulthan tersenyum puas. "Nah, begitu baru asistenku. Saya tahu kamu pasti bisa cari jalan keluarnya."
Kemudian Sulthan kembali menatap Putri. "Kamu lanjutkan saja persiapan jadwalnya seperti yang saya minta tadi, Putri. Koordinasikan saja sama Juniarta supaya semuanya pas."
"Siap, Pak. Segera saya kerjakan," jawab Putri sigap, lalu mengangguk hormat dan keluar ruangan untuk menjalankan tugas.
Juniarta pun kembali ke mejanya, wajahnya kini kembali fokus. Meskipun tadi dia tidak setuju, sekarang perintah sudah keluar, dan tugasnya adalah memastikan perjalanan ini berjalan sempurna tanpa cela.
Setelah keluar dari ruangan Sulthan, langkah Putri tidak langsung menuju mejanya untuk mengetik. Wajahnya tampak sedikit serius dan penuh pemikiran. Matanya mengarah ke Juniarta yang masih duduk di kursinya sambil menghela napas pelan.
Putri kembali masuk ruangan bos-nya, berjalan mendekat, lalu dengan gerakan cepat dia menarik lengan kemeja Juniarta namun tegas.
"Jun, sini sebentar. Ke ruanganku," bisik Putri lirih agar tidak terdengar oleh Sulthan yang masih sibuk di balik meja besarnya.
Juniarta mengangguk patuh, lalu berdiri dan mengikuti Putri keluar dari ruang kerja utama. Mereka berdua berjalan menyusuri koridor singkat menuju ruangan kecil yang nyaman dan rapi milik Putri sebagai sekretaris utama. Pintu ditutup rapat, memisahkan mereka dari pandangan orang lain dan juga dari bos mereka.
Suasana di dalam ruangan Putri terasa lebih tenang, beraroma wangi parfum lembut dan tertata sangat rapi.
"Jadi gimana ini, Jun?" tanya Putri langsung pada intinya, suaranya penuh kekhawatiran. Dia meletakkan buku catatannya di atas meja lalu menatap Juniarta lekat-lekat. "Kamu kan tangan kanannya Bos, kenapa tadi kamu diam saja? Padahal aku dengar kamu tadi sempat menyarankan supaya beliau nggak pergi dulu kan?"
Juniarta menarik kursi dan duduk di hadapan Putri, lalu mengacak rambutnya sendiri yang terlihat sedikit berantakan karena pusing.
"Ya ampun Putri... mana aku berani membantah terus sih. Kamu juga tahu kan karakter Bos kalau sudah kepalang tanggung dan sudah mantap keputusannya?" jawab Juniarta dengan nada lelah namun paham. "Tadi aku sudah jelasin panjang lebar lho. Soal keamanan, soal pesaing, soal jalanan yang rusak. Tapi beliau tetap kukuh. Katanya beliau harus lihat langsung dengan mata kepalanya sendiri, tidak cukup hanya laporan di kertas."
Putri menghela napas panjang, lalu duduk juga di kursinya. "Iya sih, aku ngerti. Beliau itu tipe pemimpin yang ingin tahu segalanya secara detail dan langsung. Tapi kan risikonya besar, Jun. Kalau sampai ada apa-apa sama beliau di jalan atau di lokasi, kita berdua yang bakal kena masalah besar. Siapa yang tanggung jawab?"
"Nah itu dia..." Juniarta menopang dagunya. "Makanya aku juga bingung. Aku sudah jelaskan segalanya, tapi beliau tetap tidak mau mengubah keputusan. Katanya, tugas aku bukan meminta dia membatalkan, tapi tugas aku yang memikirkan cara supaya perjalanannya aman dan lancar. Jadi ya... mau bagaimana lagi, Put? Kita nggak mungkin melawan perintah langsung kan?"
Putri terdiam, mencerna kata-kata Juniarta. Benar juga apa yang dikatakan asisten bosnya itu. Mereka hanyalah bawahan, tugasnya adalah menjalankan dan memfasilitasi, bukan menentang kehendak atasan yang sudah bulat.
"Ya sudah... kalau begitu," Putri akhirnya mengambil keputusan, matanya kembali bersinar tegas. "Daripada kita cuma mengeluh dan panik, mending kita pikirin bareng-bareng gimana caranya bikin jadwal dan rute yang seaman mungkin buat Pak Sulthan. Kita harus antisipasi semua kemungkinan buruk supaya kejadian apa pun nggak sampai terjadi."
"Betul itu! Itu yang harus kita lakukan sekarang," setuju Juniarta, semangatnya kembali muncul.
Mereka berdua pun langsung bekerja sama. Putri membuka kalender besar di dinding dan juga jadwal kegiatan perusahaan, sementara Juniarta memegang peta wilayah dan catatan tentang kondisi jalan.
"Jadi rencananya berangkatnya kapan, Jun? Bos bilang lusa pagi kan?" tanya Putri sambil memegang pulpen warna merah.
"Iya, lusa pagi. Tapi kalau pagi-pagi banget kan masih gelap dan rawan juga. Terus tadi Pak Wawan bilang jalan di beberapa titik lagi diperbaiki, jadi kalau lewat jalan utama bisa macet panjang dan rawan tawar menawar harga tanah sama orang yang nggak bertanggung jawab kalau tahu Bos lewat," jelas Juniarta.
Putri mengangguk-angguk berpikir. "Hmm... gimana kalau kita atur jam berangkatnya agak siangan dikit, jam 9 atau 10 pagi gitu? Jadi sudah terang benderang, lalu kita pakai rute alternatif yang lewat jalan tol baru terus lanjut jalan provinsi yang mulus? Jauhnya sih nambah sedikit, tapi aman dan lancar. Nggak perlu lewat jalan rusak yang banyak orangnya."
"Wah, ide bagus itu Put!" seru Juniarta terkesan. "Rute alternatif itu emang lagi bagus-bagusnya. Jarang dilalui orang luar, jadi lebih privat dan aman. Cocok buat perjalanan Bos."
"Terus soal pengawalan," lanjut Putri lagi dengan serius. "Kita nggak boleh cuman pakai satu mobil. Harus ada mobil pioneer atau mobil pembuka jalan yang isinya tim keamanan, terus mobil Bos di tengah, dan ada mobil penutup di belakang. Jadi formasi lengkap kayak rombongan pejabat. Biar kalau ada apa-apa, mereka siap tangani."
"Setuju seratus persen. Nanti aku hubungi tim security buat siapkan personil terbaik dan paling tangguh," kata Juniarta sambil mencatat poin itu.
"Terus sampai di sana, kegiatannya jangan sampai diumumkan ke sembarang orang. Hanya orang-orang penting yang wajib tahu. Jadwal kunjungan ke lokasi dibuat singkat, padat, dan jelas. Nggak perlu keliling-keliling nggak jelas. Cek lokasi, foto dokumentasi, rapat singkat, langsung ke tempat istirahat yang sudah disiapkan yang pastinya aman dan terjaga ketat," tambah Putri menyusun skenarionya dengan sangat detail.
Juniarta tersenyum lebar melihat cara kerja Putri yang begitu rapi dan teliti. Wanita ini memang pantas jadi sekretaris utama, pikirannya sangat runut dan memikirkan keselamatan bosnya di atas segalanya.
"Oke Put, semua saran dan rencanamu mantap-mantap. Aku setuju semua," kata Juniarta penuh apresiasi. "Tambahan sedikit ya, supaya makin aman. Kita kasih info ke pihak kepolisian setempat juga buat pengawalan tidak resmi, jadi kalau ada apa-apa mereka siap bantu. Dan pastikan mobil yang dipakai bukan mobil Bos yang biasa, pakai mobil dinas perusahaan yang terlihat biasa saja tapi fitur keamanannya paling top."
"Siap! Itu poin penting juga," jawab Putri sambil menulis semua poin itu dengan rapi di kertas jadwal khusus. "Jadi kesimpulannya: Berangkat Lusa, Jam 10.00 Pagi, Rute Alternatif, Formasi 3 Mobil, Tim Security Lengkap, Kegiatan Tertutup."
"Pas! Persis seperti itu."
Mereka berdua pun tersenyum lega. Meskipun tadi sempat khawatir dan Juniarta merasa tidak mampu membatalkan keputusan bosnya, tapi sekarang dengan kerja sama yang baik antara dia dan Putri, perjalanan itu kini terlihat jauh lebih aman dan terencana dengan sangat matang.
"Yasudah, aku yang urus jadwal kegiatan dan akomodasi (tempat menginap dan makan), kamu yang urus pengamanan dan transportasi ya, Jun?"
"Siap, laksanakan!"
•••
Setelah diskusi panjang lebar dan menyusun strategi yang matang bersama Putri, Juniarta pun berjalan kembali menuju ruangan kerja utama milik Sulthan. Wajahnya kini sudah terlihat lebih tenang dan siap, kekhawatiran tadi sudah tergantikan oleh rencana yang solid.
Saat ia mendorong pintu dan melangkah masuk, ternyata Sulthan sedang merapikan berkas-berkas di mejanya, memasukkannya ke dalam tas kerja kulit hitamnya.
Melihat Juniarta masuk, Sulthan mendongak sebentar dan bertanya dengan nada santai.
"Jun, tadi kamu ke mana saja? Lama banget," tanya Sulthan sambil menutup resleting tasnya.
Juniarta sedikit terkejut, tapi dengan sigap dan tenang dia langsung menjawab. Dia tidak mau memberitahu kalau tadi dia lagi curhat dan panik sama Putri, jadi dia memilih alasan yang paling aman dan masuk akal.
"Oh... tadi saya ke kamar mandi sebentar, Bos. Tadi lagi pengen pipis soalnya banyak minum air putih tadi pagi," jawab Juniarta dengan wajah polos dan nada bicara yang santai, seolah-olah memang benar-benar baru saja keluar dari toilet.
Sulthan hanya mengangguk-angguk, tidak curiga sedikitpun. Dia memang tipe bos yang percaya pada stafnya selama pekerjaan beres.
"Oh, begitu ya. Oke," jawab Sulthan singkat.
Sulthan pun berdiri dari kursi kebesarannya. Dia merapikan kerah bajunya, membetulkan posisi dasi yang tadi sempat dilepas sedikit, dan mengambil kunci mobil serta dompetnya.
Matahari di luar jendela sudah benar-benar tenggelam, langit berubah warna menjadi oranye kemerahan, menandakan waktu kerja resmi sudah berakhir.
"Sudah sore juga rupanya. Ayo kita pulang, Jun. Capek juga otak mikir angka dan strategi seharian," ucap Sulthan sambil berjalan mendahului keluar dari balik meja.
"Siap, Bos. Ayok," sahut Juniarta sigap, lalu ikut berjalan di belakangnya.
Mereka berdua pun berjalan keluar ruangan. Saat melewati meja Putri, Putri langsung berdiri dan membungkuk hormat.
"Saya pamit pulang dulu ya, Putri. Lanjutkan persiapan yang tadi kita bicarakan," titah Sulthan singkat.
"Siap, Pak. Selamat sore, hati-hati di jalan," jawab Putri ramah sambil tersenyum, lalu dia menyenggol lengan Juniarta dan mengedipkan mata sebelah, isyarat agar rencana tadi dijaga baik-baik.
Juniarta mengangguk kecil membalas isyarat itu, lalu mengikuti langkah Sulthan menuju lift.
Suasana di dalam lift hening. Sulthan tampak menikmati momen istirahatnya, matanya sedikit terpejam menyandarkan punggung, sementara Juniarta berdiri tegap di sampingnya, diam-diam masih memikirkan detail perjalanan ke Mojokerto nanti agar semuanya berjalan lancar tanpa kendala apa pun.