NovelToon NovelToon
BOS KU Ternyata JODOHKU??

BOS KU Ternyata JODOHKU??

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Beda Usia
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yurnalis Lidar0306

Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.

Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-08

Jam pulang kantor..

Sore itu langit tampak mendung, seolah mencerminkan suasana hati Nara yang baru saja lelah bekerja seharian. Dengan langkah gontai, wanita itu berjalan menuju area parkir, tangannya sibuk memencet tombol kunci mobil.

"Haaahhh.. akhirnya bebas juga. Semoga besok gak ada masalah lagi deh," gumamnya pelan.

Namun, baru saja ia hendak membuka pintu mobilnya, sebuah mobil sport hitam melaju kencang dan berhenti tepat memblokir jalan di depannya. Kaca jendela mobil itu diturunkan, menampakkan wajah pria yang sangat ia kenal.

Raka.

Nara menghela napas panjang, berusaha menahan emosi yang langsung naik ke ubun-ubun. Ia pikir kemarin sudah jelas menolak, tapi pria ini benar-benar tidak tahu malu.

"Nar... tunggu dulu," ucap Raka sambil turun dari mobilnya dan menghalangi jalan Nara.

"Apa lagi, sih Ka? Aku capek, mau pulang. Minggir!" ketus Nara dingin, berusaha melewati pria itu.

Tapi Raka menahan lengan Nara pelan. "Wow wow tunggu dulu dong, Aku cuma mau ngajak kamu makan malam, ngobrol santai. Kita kan sudah lama gak ketemu. Lagian... kamu masih sendiri kan?"

Raka tersenyum miring, tatapannya menelusuri seluruh tubuh Nara dengan pandangan yang membuat Nara risih.

"Kamu ternyata makin awet muda ya Badan juga masih kencang kayak dulu. Siapa yang sangka umur kamu udah kepala empat? Pantesan banyak yang naksir ..."

Kalimat itu terlontar santai dari mulut Raka, namun bagi Nara itu terdengar sangat menjijikkan dan merendahkan.

Nara langsung menarik tangannya kasar dari genggaman Raka. Wajahnya memerah padam, bukan karena malu, tapi karena amarah yang meledak-ledak.

"APA KATA KAMU?!" bentak Nara keras, suaranya bergetar menahan emosi.

Bukannya takut Raka justru terkekeh melihat perubahan drastis pada wanita di depannya. "Eh? Kok marah? Aku kan cuma memuji..."

"MEMUJI APA HINA?! JANGAN PERMAINKAN AKU RAKA!" Nara mendorong dada pria itu kuat-kuat hingga Raka mundur beberapa langkah.

"Kamu pikir aku ini apa? Barang bekas yang bisa kamu godain seenaknya?! Aku tahu maksud kamu datang kesini apa! Kamu cuma lihat fisik aku kan?! Kamu pikir karena aku masih terlihat muda dan seksi, kamu bisa main-main lagi sama aku?!"

"Hooo santai dong..." Raka mencoba menenangkan tapi justru tersenyum tidak jelas. "Kita kan pernah menjadi suami istri. Aku tahu banget kelebihan kamu di ranjang..."

Plak!

Tanpa pikir panjang, Nara menampar pipi Raka dengan sangat keras. Suara tamparan itu terdengar nyaring di area parkir yang mulai sepi.

Wajah Raka memerah menahan sakit dan kaget.

"JAGA BICARA KAMU!!!" teriak Nara dengan mata berkaca-kaca namun penuh api kemarahan. "Dengar baik-baik ya tuan Raka Rahardian! Aku Nara Amanda! Dulu aku mungkin bodoh karena mencintai kamu, aku menyesal karena sempat menjadi istri kamu, sekarang aku bukan lagi wanita naif Raka,aku sekarang sudah bisa berdiri dengan kaki ku sendiri!"

"Jangan pernah kamu pikir aku masih wanita yang sama yang bisa kamu buai rayu gampangan! aku wanita pekerja BUKAN wanita murahan yang siap disuruh-suruh kamu kapan saja!"

"Kamu datang bukan karena menyesal, tapi karena kamu lihat aku masih layak buat jadi mainan kamu kan?! BRENGSEK!!!" Nara memaki dengan penuh kebencian.

Raka mengusap pipinya yang merah, senyum di wajahnya hilang berganti dengan tatapan tajam. "Ohhh... jadi sekarang kamu mau sok suci ya? Lupa masa lalu kamu yang dulu suka ngerebut suami orang? Lupa kamu mantan pela*ur? Jangan pura-pura suci Nar, kita sama-sama tahu kamu kayak apa..."

Itu adalah pemicu terakhir.

"PERGI!!! SEBELUM AKU PANGGIL SEKURITI!!! ATAU MUNGKIN KAMU MAU AKU LAPORKAN KARENA MENGHALANGI DAN MENGANCAM KU?!" Nara mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar, siap menekan tombol darurat.

Melihat Nara yang benar-benar serius dan sudah tidak bisa diajak bercanda, Raka akhirnya mendengus kesal.

"Oke oke aku bakal pergi, tapi nanti ku pastikan kita bakal ketemu lagi!" ucap Raka lalu masuk kembali ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan debu.

Nara berdiri mematung di tempatnya. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak dan panas. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga.

"Brengsek... brengsek semua..." isaknya pelan.

Ia bersandar pada tubuh mobilnya, mencoba menenangkan diri. Hari ini benar-benar ujian kesabarannya. Mulai dari bos yang menyebalkan, sampai mantan suami yang tidak tahu diri.

___________

Tanpa Nara ketahui dari berlawanan arah parkiran Arkan melihat dan mendengar semuanya...

Pria yang baru saja keluar dari lift parkir itu menginjak rem mendadak. Mobilnya berhenti tidak jauh dari sana, tepat di balik tiang besar yang membuatnya tersembunyi dari pandangan.

Matanya yang tajam menyipit, menatap tajam ke arah pria yang baru saja pergi meninggalkan Nara. Tatapan Arkan dingin dan penuh intimidasi. Ia mendengar setiap kata-kata kotor dan hinaan yang terlontar dari mulut pria bernama Raka itu.

Jantung Arkan berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena amarah yang membara hebat di dadanya.

Berani-beraninya dia menghina Nara seperti itu?! batin Arkan meledak.

Ia melihat bagaimana Nara berdiri mematung, bahunya bergetar hebat, dan bagaimana air mata wanita itu jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Ia melihat Nara yang biasanya galak, cerewet, dan berani melawannya, kini terlihat begitu rapuh, terluka, dan sendirian.

Arkan menggenggam setir mobilnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin turun, ingin menghajar pria itu sampai puas, tapi Raka sudah lebih dulu melaju pergi.

"Brengsek..." geram Arkan pelan, suaranya terdengar serak dan menakutkan. "Berani main kasar sama sekretaris gue... lo cari mati."

Untuk pertama kalinya, Arkan merasa sangat ingin melindungi seseorang. Ia merasa ada rasa kesal yang bercampur dengan sesuatu yang lain... rasa tidak terima melihat wanita yang setiap hari ada di dekatnya diperlakukan semena-mena.

Nara masih berdiri di sana, memunggunginya. Wanita itu sibuk mengusap air matanya kasar dengan punggung tangan, berusaha menguatkan diri sebelum masuk ke dalam mobil.

"Kenapa sih nasib aku gini terus... kenapa orang-orang selalu lihat aku cuma dari masa lalu doang..." isak Nara pelan, suaranya terdengar pilu.

Arkan terdiam di dalam mobilnya. Ia menatap punggung wanita itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

Ternyata... di balik ketangguhan Nara, di balik mulutnya yang pedas dan sifatnya yang dewasa, ada luka yang begitu dalam. Ada rasa sakit yang disebabkan oleh orang-orang dari masa lalunya.

Dan anehnya, melihat Nara menangis seperti itu... dada Arkan terasa begitu sesak.

Ia tidak turun. Ia tidak ingin membuat Nara semakin malu jika ketahuan sedang menangis oleh bosnya sendiri. Arkan hanya diam mengamati sampai melihat Nara masuk ke dalam mobilnya dan melaju keluar dari area parkir.

Baru setelah itu, Arkan menyalakan mesin mobilnya. Tatapannya kembali dingin dan tajam, namun ada aura membunuh yang lebih kuat dari biasanya.

Ia mengambil ponselnya, menekan satu nomor, dan menempelkan gadget itu di telinga.

📞 "Ben, cek data satu orang namanya Raka Rahardian. Cari semua kotorannya, urusan bisnis, utang, atau apa aja. Saya mau dia habis dalam waktu semalam."

Perintah itu keluar dengan nada datar namun mematikan.

📞 "Siap, Bos. Segera kami proses."

Sambungan terputus.

Arkan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya kacau. Bayangan wajah sedih Nara terus menghantuinya.

Tenang, Nara. Aku nggak akan biarin orang macam dia nyakitin kamu lagi, batinnya berjanji pada diri sendiri.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!