Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Trik Sulap Murahan
Kunci dari sebuah trik sulap jalanan yang sukses bukanlah seberapa cepat tanganmu bergerak memanipulasi kartu atau koin. Kuncinya adalah seberapa pintar kau mengatur ke mana penonton memalingkan mata mereka. Kau memberikan mereka sebuah tontonan yang berisik dan mencolok di tangan kanan, sementara tangan kirimu diam-diam mencuri jam tangan mahal dari pergelangan mereka tanpa mereka sadari.
Aku melepaskan mantel panjangku yang basah oleh gerimis malam. Kain tebal itu masih menyimpan jejak bau asap cerutu, karpet lembap, dan aroma gin dari kelab The Obsidian. Aku melemparkannya begitu saja ke atas sofa kulit usang di sudut ruangan.
Apartemen penthouse ini terletak di lantai teratas sebuah gedung komersial yang mangkrak pembangunannya di kawasan industri Pluit. Tidak ada dinding berlapis wallpaper mewah. Hanya beton ekspos, lantai semen yang dingin, dan jendela-jendela kaca besar yang sengaja kututup dengan tirai gelap berlapis baja ringan. Tidak ada tetangga yang akan mengeluh tentang suara berisik. Tidak ada CCTV koridor yang mengintai. Hanya aku, dengung kipas dari rak server pendingin di sudut ruangan, dan pemandangan kota Jakarta yang terlelap di bawah sana.
Aku berjalan menyeret langkah menuju meja kerja panjang berbahan stainless steel yang mendominasi bagian tengah ruangan. Tubuhku lelah, tapi otakku menolak untuk melambat.
Di bawah cahaya lampu gantung industrial yang terang benderang, mataku tertuju pada sebuah kotak dokumen berbahan polikarbonat tebal. Kotak anti-api inilah yang kuambil dari dasar brankas Handoko Salim dua malam lalu, tepat di saat pengacara licik itu mengembuskan napas terakhirnya sambil mencengkeram dadanya yang hancur karena racun.
Namun, sebelum tanganku menyentuh kotak hitam tersebut, pikiranku tanpa izin kembali ditarik paksa ke sudut gelap di bar speakeasy tadi.
Wanita berjaket kulit itu.
Aku mengangkat tangan kananku, memandangi jari-jariku sendiri. Rasanya aku masih bisa merasakan sisa kehangatan udara dari tubuhnya saat wanita itu berdiri menantangku, hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. Ada wangi yang tertinggal di udara saat ia mendekat tadi—bukan parfum murahan yang manis dan menyengat, melainkan aroma tajam dari kayu sandalwood, dipadukan dengan wangi samar pelumas senjata api Hoppe’s No. 9. Bau mesiu dan kayu.
Siapa pun yang mengira dia sekadar pengunjung bar yang kesepian adalah orang buta. Cara ia berjalan menyusuri bar, menempatkan tumit sepatunya lebih dulu untuk meredam suara langkah. Matanya yang terus menyapu setiap sudut bayangan di ruangan. Dan postur bahu kanannya yang sedikit lebih tegang, bersiap menarik senjata dari pinggang belakangnya dalam hitungan detik. Semua bahasa tubuh itu berteriak lantang: Dia adalah penegak hukum yang sedang berburu.
Dan yang lebih mengganggu isi kepalaku... aku pernah melihatnya. Wajahnya sangat familier.
Aku menyalakan layar monitor utama berukuran enam puluh inci di depanku. Cahaya putih dari layar langsung menyengat mataku yang lelah. Monitor itu menampilkan basis data pribadiku—jaring laba-laba raksasa yang menghubungkan ribuan nama, mutasi rekening bank lepas pantai, foto satelit, dan rekaman CCTV dari para elit kota yang kukumpulkan dengan susah payah selama satu dekade terakhir.
Jari-jariku menari cepat di atas keyboard mekanis yang berbunyi klak-klik memecah kesunyian. Aku mengetikkan parameter pencarian berdasarkan struktur wajah yang kulihat sekilas di Gala Amal semalam—wanita bergaun biru tua yang berdiri mengawal sang CEO Vanguard—lalu menyandingkannya dengan sketsa mental wajah detektif wanita di bar malam ini.
Layar berkedip dua kali. Database menemukan kecocokan seratus persen. Sebuah profil lengkap muncul di layar.
Elara Salim. (Catatan intelijen: Menggunakan nama belakang ibu angkatnya di akademi kepolisian).
Pangkat: Detektif Unit Pembunuhan Utama (Homicide).
Status Keluarga: Putri tunggal dari Darmawan Salim, CEO Vanguard Group.
Napas di tenggorokanku mendadak terhenti.
Aku mendengus pelan, sebuah tawa pahit lolos dari bibirku, menertawakan selera humor takdir yang luar biasa brengsek malam ini.
Putri dari pria yang menginstruksikan pembunuhan sadis ayah dan ibuku, kini adalah detektif yang memburu kepalaku. Garis keturunan Vanguard, darah kotor dari perusahaan yang merenggut masa mudaku, mengalir deras di nadinya. Wanita itu tumbuh besar, bersekolah, dan makan dari uang berdarah yang dicuri ayah angkatnya dari keluargaku.
Secara logika hitam-putih yang selama ini kuanut, Elara seharusnya masuk dalam daftar targetku. Sebuah bidak berharga yang bisa kuculik dan kugunakan untuk menghancurkan kewarasan sang CEO dari dalam.
Namun, saat aku memejamkan mata, aku kembali melihat sorot mata cokelatnya di sudut bar tadi. Ada keberanian yang mentah dan tulus di sana. Ada kehausan akan kebenaran yang tidak bisa dipalsukan oleh orang-orang kaya. Ia menolak mundur, ia bahkan menantangku secara verbal, meskipun insting primalnya pasti berteriak bahwa ia sedang berhadapan dengan predator yang bisa mematahkan lehernya dalam dua detik.
"Kau bermain di sisi lapangan yang salah, Elara," bisikku pada pasfoto kepolisiannya di layar monitor.
Aku menekan tetikus, menutup paksa jendela profilnya. Aku harus menyingkirkan sentimen apa pun yang mencoba merayap masuk ke hatiku. Belas kasihan hanya akan membuatku ragu, dan keraguan adalah cara paling cepat untuk mati di kota ini. Malam ini, aku punya pertunjukan besar yang harus disiapkan.
Perhatianku kembali pada kotak dokumen polikarbonat milik Handoko di atas meja.
Membuka kotak ini secara paksa atau tanpa kode akses yang benar adalah bunuh diri intelijen. Di dalam dinding kotaknya tertanam kapsul thermite kecil yang akan meledak dan membakar seluruh kertas di dalamnya menjadi abu dalam tiga detik jika engselnya dirusak. Tentu saja, Handoko tidak memberitahuku kode enam angkanya. Ia terlalu sibuk kejang-kejang saat aku bertanya.
Tapi manusia yang terlalu lama berkuasa adalah makhluk yang sangat mudah ditebak. Handoko adalah pria narsistik yang mencintai dirinya sendiri lebih dari apa pun.
Aku mengambil botol semprot berisi cairan ninhydrin dari laci meja, lalu menyemprotkannya tipis-tipis ke permukaan panel angka digital di atas kotak tersebut. Aku mematikan lampu gantung, lalu menyalakan senter ultraviolet kecil.
Sisa asam amino dari keringat sidik jari Handoko menyala terang berwarna hijau neon di atas panel. Angka yang sering ditekan sangat jelas terlihat pudar di bagian tengahnya: 1, 9, 6, dan 8.
Tahun kelahirannya.
"Kau terlalu meremehkan musuhmu, Handoko. Kesombonganmu membosankan," gumamku sambil menekan kombinasi angka tersebut di dalam gelap.
Bunyi klik mekanis yang pelan terdengar, dan tutup kotak itu terbuka dengan mulus. Aku menyalakan kembali lampu ruangan.
Di dalamnya tidak ada tumpukan uang tunai atau perhiasan. Bagi orang-orang di kelas elit ini, selembar kertas berisi informasi jauh lebih berharga dan mematikan daripada satu brankas emas batangan. Di dalam sana, terdapat lima map tebal berwarna merah menyala dengan stempel CONFIDENTIAL di pojok kanan atas.
Aku mengeluarkan map pertama dan membukanya. Bau apak kertas tua yang telah lama terkurung menguar ke udara, mengingatkanku pada bau perpustakaan panti asuhan tempatku dulu dibesarkan. Mataku dengan cepat memindai deretan angka, tanda tangan basah, dan stempel notaris.
Ini bukan dokumen hukum biasa. Ini adalah "Polis Asuransi" Handoko Salim. Bukan asuransi jiwa dari perusahaan, melainkan asuransi keamanan politiknya sendiri. Catatan hitam, bukti transfer, dan dokumen asli dari setiap dosa besar yang dilakukan oleh para Pilar Vanguard untuk saling melindungi. Jika Handoko sewaktu-waktu dikhianati atau dijatuhkan, dokumen ini akan memastikan mereka semua ikut terseret ke lantai neraka bersamanya.
Map pertama berisi rekam jejak Jenderal Sudiro. Transaksi ilegal penjualan senjata militer kedaluwarsa ke milisi pemberontak di luar negeri. Dananya dicuci dengan sangat rapi melalui perusahaan konstruksi fiktif yang memenangkan tender jembatan dari Wali Kota.
Map kedua berisi bukti penyuapan Hakim Agung Setiawan. Terdapat salinan putusan sidang asli yang isinya diubah total pada menit-menit terakhir sebelum dibacakan. Hal yang paling memberatkan, Handoko melampirkan bukti mutasi rekening senilai lima belas miliar dari rekening lepas pantai di Swiss yang masuk ke rekening istri muda sang Hakim.
Lalu, tanganku membuka map ketiga.
Napas di tenggorokanku mendadak tercekat.
Ini adalah bukti keterlibatan langsung Kepala Kejaksaan dan Hakim Setiawan dalam merekayasa bukti forensik kecelakaan mobil orang tuaku sepuluh tahun lalu. Kasus itu dipesan langsung dan dibayar lunas oleh Darmawan Salim. Di dalam map itu, terdapat sebuah flashdisk tipis yang dijepitkan pada lembaran kertas.
Rasa panas yang sangat familier—rasa panas dari ledakan mobil di dasar jurang—kembali menjalar dari pangkal leher hingga ke telingaku. Tanganku, yang biasanya sedingin es dan sekuat baja, perlahan bergetar. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat hingga buku-buku jariku memutih dan kuku jariku menancap ke telapak tangan.
Aku mengambil flashdisk itu, menimbangnya di telapak tangan. Benda plastik sekecil ini menyimpan kebenaran yang merenggut paksa masa remajaku. Benda ini menyimpan alasan mengapa aku tidak bisa lagi merasakan pelukan ibuku, dan mengapa aku harus mendengar nama ayahku dikutuk sebagai koruptor di berita televisi.
Tiba-tiba, rasa sesak yang luar biasa menghantam dadaku. Aku harus menopangkan kedua tanganku di atas meja stainless, menundukkan kepala. Napas pertamaku keluar sebagai embusan yang kasar dan tidak stabil. Aku memejamkan mata selama sepuluh detik penuh, menghitung setiap tarikan napasku, memaksa detak jantungku kembali ke ritme dasar.
Marah akan membuatku ceroboh. Aku tidak bisa membiarkan Arlan, anak yatim piatu yang terluka dan menangis itu, mengendalikan kemudi malam ini. Sang Joker harus tetap memegang kendali absolut.
"Fokus," ucapku pada diriku sendiri, membuka mata dengan kejernihan yang kembali dingin.
Aku tidak akan membunuh mereka semua dengan racun di apartemen mereka, seperti yang kulakukan pada Handoko. Itu terlalu mudah. Terlalu bersih. Publik yang bodoh hanya akan menganggap mereka mati sebagai pahlawan kota atau korban pembunuhan yang malang.
Tidak. Aku akan membunuh nama baik mereka terlebih dahulu. Aku akan melucuti harga diri mereka, membuat mereka telanjang di depan jutaan pasang mata, diludahi oleh masyarakat yang selama ini mereka tipu, dan diburu oleh hukum yang biasa mereka mainkan.
Aku mengambil dokumen asli milik Hakim Agung Setiawan. Aku menyalakan alat pemindai (scanner) beresolusi tinggi di samping komputerku, mendigitalisasi setiap halaman dokumen penyuapan itu dengan sangat hati-hati.
Setelah proses pemindaian selesai, aku membuka perangkat lunak enkripsi militer yang kutulis sendiri kodenya. Aku membuat sebuah alamat email anonim, yang lalu lintas datanya kurutekan secara acak melalui belasan peladen virtual dari Rusia, Brasil, hingga ke jaringan Tor terenkripsi di Islandia. Mustahil bagi ahli siber kepolisian mana pun untuk melacak lokasi email ini kembali ke gedung rongsokan di Pluit.
Kolom tujuan kuisikan dengan deretan alamat email dari para pemimpin redaksi seluruh media berita nasional terbesar di Jakarta. Kutambahkan juga email para jurnalis investigasi independen yang selalu lapar akan skandal politik. Dan sebagai sentuhan akhir... aku memasukkan alamat email pengaduan publik milik Markas Besar Kepolisian—tepat di mana Elara Salim berdinas.
Subjek email: Satu Pilar Retak, Gedung Akan Runtuh. Bukti Suap Hakim Agung Setiawan.
Aku melampirkan file digital berisi bukti-bukti penyuapan belasan miliar tersebut. Ini adalah ilusi pengalih perhatianku. Tangan kanan sang pesulap yang mencolok.
Namun, seperti yang kubilang, trik sulap murahan tidak akan membekas di ingatan penonton tanpa pertunjukan panggung yang dramatis. Dokumen digital bisa disangkal. Setiawan bisa saja mengklaim bahwa email itu adalah fitnah hasil rekayasa Photoshop. Ia butuh "bantuan" agar terlihat benar-benar bersalah di mata publik.
Aku beranjak dari meja kerja, berjalan pelan menuju loker besi karatan di sudut ruangan. Dari dalamnya, aku menarik keluar sebuah tas ransel hitam.
Tas itu tidak berisi bahan peledak C4 atau dinamit. Aku bukan teroris gila yang membunuh warga sipil tak bersalah untuk bersenang-senang. Tas itu hanya berisi sekantong serpihan kertas dari mesin penghancur dokumen, tiga botol kecil cairan metanol yang sangat mudah terbakar, dan sebuah perangkat elektronik sederhana yang kurakit dari ponsel sekali pakai dan kawat tembaga.
Sasarannya malam ini adalah Gedung Arsip Pengadilan Tinggi. Tempat sakral di mana Hakim Setiawan menyimpan dokumen-dokumen fisik hasil keputusannya yang korup. Tempat itu adalah simbol kebohongannya.
Logika rencananya sangat sederhana, namun mematikan. Kirim email bukti korupsi kepada media malam ini. Begitu email itu masuk dan ratusan jurnalis mulai terbangun untuk berebut mencari konfirmasi, sebuah 'insiden' kebakaran kecil akan terjadi di ruang arsip pengadilan pada waktu yang hampir bersamaan.
Bukan ledakan yang meruntuhkan gedung hingga menelan korban jiwa, cukup api lokal untuk memicu alarm asap, membuat kepanikan, dan secara spesifik menghancurkan laci dokumen-dokumen persidangan masa lalu yang melibatkan Setiawan.
Kepanikan fisik di lapangan, dipadukan dengan kepanikan digital di dunia maya.
Besok pagi, media tidak akan melihat api itu sebagai sebuah kebetulan. Mereka akan membangun narasi mereka sendiri. Mereka akan berasumsi bahwa Hakim Setiawan, yang panik karena rahasianya bocor di email, diam-diam menyewa preman untuk membakar bukti-bukti fisik yang memberatkannya di pengadilan. Setiawan akan terlihat seperti tikus basah yang tersudut.
Jenderal Sudiro, Darmawan Salim, dan Pilar lainnya akan melihat Setiawan sebagai beban yang berbahaya. Sebuah liabilitas yang bisa menyeret mereka semua ke penjara jika Setiawan tertangkap dan "bernyanyi". Mereka akan secara otomatis memutus hubungan dengan Hakim itu, meninggalkannya sendirian di luar pagar tanpa perlindungan kekuasaan.
Dan saat Setiawan hancur secara sosial, saat ia dijauhi oleh teman-temannya yang ketakutan dan diburu oleh aparat hukum yang selama ini ia kendalikan... barulah aku akan mengunjunginya secara pribadi. Barulah kartu Joker itu akan menemui tuannya untuk mencabut nyawanya.
Aku menyusun komponen-komponen pembakar di dalam tas ransel dengan presisi yang hati-hati. Memasang kabel timer, memastikan pemicu sinyal dari ponsel berfungsi dengan baik, dan mengecek tingkat sensitivitas penyala apinya. Tidak boleh ada kesalahan.
Malam semakin larut, mendekati titik terdinginnya. Lampu-lampu kota Jakarta di luar jendela kaca tampak seperti hamparan rasi bintang yang jatuh berserakan ke bumi. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar sirine mobil polisi yang melengking membelah kesunyian malam. Mungkin menuju lokasi perkelahian pemabuk di bar, atau kecelakaan lalu lintas biasa.
Mereka terlalu sibuk menangkap penjahat kelas teri di jalanan, tidak menyadari bahwa sebentar lagi, fondasi hukum di kota ini akan diguncang oleh gempa tektonik dari bawah tanah.
Aku melirik jam tangan perakku. Pukul 03.15 pagi. Waktu yang tepat di mana kewaspadaan manusia berada di titik paling rendah.
Jari telunjuk tangan kananku melayang di atas tombol Enter pada keyboard komputer.
Dalam satu ketukan, dokumen laknat ini akan melesat ke ratusan kotak masuk jurnalis. Setengah jam dari sekarang, api dari metanol akan mulai menjilat rak kayu di ruang arsip pengadilan. Besok pagi, Hakim Agung Setiawan akan terbangun bukan sebagai wakil Tuhan yang terhormat di ruang sidang, melainkan sebagai buronan paling dicari dan dihina di negara ini.
"Selamat pagi, Yang Mulia," bisikku ke arah layar yang berpendar.
Aku menekan tombol Enter dengan mantap.
Sebuah bilah proses (progress bar) berwarna hijau muncul di layar, berlari cepat memuat data hingga mencapai angka 100%. Kata SENT berkedip pelan.
Aku menutup layar laptop, mengambil ransel hitam di atas meja, dan melangkah menuju pintu keluar dalam kegelapan. Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Trik sulapku sudah berada di atas panggung, dan seluruh kota akan segera menjadi penonton yang terhipnotis tanpa daya.
Bom waktunya baru saja dimulai.