NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Modus Suci

Tanpa sadar Zivanna mengalungkan tangannya memeluk Alvaro lalu menangis sesenggukan.

Bagaimana kalau kejadian di mimpi itu benar-benar menimpa dirinya. Apakah dia masih sanggup melanjutkan hidupnya?

Alvaro membalas pelukannya. Dia bahkan tidak ragu mengusap rambut Zivanna. Kalau tidak menyaksikan sendiri mungkin dia tidak akan percaya soal mimpi yang Minah ceritakan kemarin. Mana ada mimpi yang bisa membuat orang seketakutan ini.

Anita masuk dan mendapati Zivanna menangis sesenggukan dalam pelukan dokter muda yang tampan itu. Dia baru saja dari parkiran mengambil selimut dan bantal yang baru diantar Budi.

"Zi... Kenapa? Mimpi lagi?!" Anita melempar selimut dan bantal ke atas kursi panjang lalu segera mendekat. Zivanna melepaskan pelukannya dari dokter muda itu lalu menoleh menatap sang mama. Zivanna mengangguk.

"Astaga... " Anita mengusap pipi Zivanna yang masih basah oleh air mata. Wajahnya pias. Bagaimana caranya menghentikan mimpi-mimpi itu agar tidak menggangu Zivanna.

Sama seperti yang dikatakan Alvaro tadi siang, Anita juga yakin jika sebenarnya yang Zivanna butuhkan adalah bantuan psikolog. Tetapi bagaimana cara membujuknya? Sudah berulang kali dia melakukannya tetapi tidak pernah berhasil.

Pukul lima pagi di nurse station...

"Dari mana?" Suci bertanya kepada seorang perawat yang baru saja masuk, yang sama-sama bertugas jaga malam dengannya.

Perawat itu tidak segera menjawab. Dia justru memindai penampilan Suci. Rambut berantakan dan mata merah sedikit bengkak. Sebagai sesama perawat dia bisa menebak apa yang baru saja Suci lakukan. "Tidur dimana tadi? Aku mencarimu kemana-mana. Ada pasien masuk kamunya malah hilang!" katanya dengan nada tegas. "Karena itu aku harus mengerjakan semuanya sendirian."

"Aku tidak biasa jaga malam. Jadi ngantuk."

"Itu bukan alasan. Kamu harus bertanggung jawab dengan pekerjaanmu!"

"Iya!" jawab Suci sambil berlalu. Seandainya perawat tadi bukan seniornya pasti sudah Suci maki habis-habisan karena berani menegurnya.

Suci kembali ke nurse station setelah membasuh wajahnya dengan air dan merapikan penampilannya. Saat itu waktu menunjukkan sudah pukul enam pagi.

Sementara itu di ruangan lain, Alvaro sedang berbicara dengan Anita, membicarakan kondisi Zivanna yang menurutnya mengkhawatirkan. "Apa selalu seperti itu?" tanyanya.

"Tidak selalu. Terkadang dia hanya mengigau, terkadang bangun dalam kondisi pucat pasi dan ngos-ngosan. Terkadang kebingungan."

"Sudah berapa lama seperti itu?"

"Sekitar satu bulan, Dok." Anita mengingat-ingat kondisi Zivanna sebelum kembali bisa melihat. "Ketika dia masih buta dia memang selalu terlihat murung. Hampir setiap hari kerjaannya melamun. Tetapi dia tidak pernah bermimpi buruk. Tidurnya selalu nyenyak dan tidak sakit-sakitan seperti sekarang."

"Sebelumnya apakah terjadi sesuatu yang mungkin menimbulkan rasa trauma?"

Anita menggeleng lalu menceritakan semuanya. Mulai dari kecelakaan yang menyebabkan Zivanna buta, lalu ditinggalkan kekasihnya, hingga akhirnya mendapatkan donor kornea mata.

"Kalau yang paling membuat trauma mungkin kecelakaan itu. Zivanna sampai kehilangan penglihatannya. Tetapi kalau yang paling menyakitkan mungkin ditinggalkan kekasihnya. Zivanna sampai berminggu-minggu mengurung diri di dalam kamar. Tetapi mimpi-mimpi itu muncul setelah Zivanna mendapatkan donor mata. Jadi saya tidak tahu kejadian mana yang mungkin menyebabkan mimpi-mimpi itu datang." Semuanya Anita ceritakan secara gamblang.

"Dia tidak mau menceritakan mimpinya. Tapi kalau dilihat dari reaksinya, pasti mimpi itu sangat buruk," lanjutnya.

"Kita harus tahu penyebab mimpi-mimpi itu baru kita bisa mengatasinya. Karena itu saya menganjurkan agar dia berkonsultasi dengan psikolog agar bisa mengetahui akar masalahnya."

"Saya juga setuju, Dok. Saya juga sudah berulang kali mengajaknya ke psikolog tetapi dokter lihat sendiri bagaimana reaksinya kemarin."

"Kita harus memberinya pengertian dan membujuknya pelan-pelan. Jangan dipaksakan. Zivanna sendiri mungkin sedang bingung dengan kondisinya."

"Tetapi saya tidak tega melihat kondisinya seperti itu. Semakin lama semakin buruk, dan dokter lihat sendiri dia sampai kurus kering. Bahkan setelah kehilangan penglihatannya, kondisinya tidak pernah seburuk itu. Tolong bantu saya membujuk dia, Dok."

"Iya, Saya usahakan. Pelan-pelan saya akan memberinya pengertian."

"Terima kasih, Dok."

Setelah selesai berbicara, Anita dan Alvaro pergi ke kamar dimana Zivanna di rawat dan mendapati gadis itu tengah asik berbincang dengan Budi.

"Apa yang kamu rasakan? Sudah lebih baik?" Anita segera mendekat, disusul Alvaro di belakangnya. Selanjutnya, perempuan yang masih terlihat cantik di usia lima puluhan itu meletakkan telapak tangannya di kening Zivanna. "Sudah tidak panas," gumamnya.

"Aku udah nggak apa-apa, Ma," jawab Zivanna lalu melirik ke arah Alvaro. Zivanna sudah tidak terlihat mengenaskan seperti dini hari tadi ketika dia terbangun dari mimpi. "Apa itu artinya aku boleh pulang?"

"Saya periksa dulu." Alvaro memeriksa denyut nadi kemudian mendengarkan detak jantung Zivanna. Seperti biasa, Zivanna merasa risih ketika dokter itu meletakkan stetoskop di dadanya. Zivanna ingin menolak, tetapi mengingat betapa lembut sikap dokter itu kepadanya, Zivanna mengurungkannya.

"Kita tunggu sampai nanti siang. Kalau kondisinya stabil seperti ini terus kamu boleh pulang," katanya.

Tepat ketika Alvaro selesai berbicara, Suci masuk ke dalam ruangan. Perawat yang tidak terlihat ramah itu hendak mengganti cairan infus dengan yang baru. Suci sempat tertegun ketika melihat pasien yang akan di ganti infusnya adalah pasien tadi siang, si gadis gatal.

"Tiga hari berturut-turut seperti ini, Dok. Malamnya demam tinggi, siangnya baik-baik saja. Kalau nanti malam terulang lagi bagaimana? Dokter Alvaro tinggal dimana? Kalau nanti malam dia demam tinggi apakah dokter bisa datang ke rumah? Agar kami tidak perlu bolak-balik ke puskesmas." Anita terus berbicara dengan Alvaro tanpa menghiraukan kehadiran Suci.

"Ya, nanti saya akan ke rumah kalau memang diperlukan."

Suci tengah mengatur alat pengatur tetesan infus sebelum mengganti botol infus yang hampir habis dengan botol yang baru, sambil mendengarkan pembicaraan Alvaro dan ibu dari pasien di hadapannya. Dia tampak tenang dan mengerjakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, tetapi batinnya tidak berhenti mencibir Zivanna.

Dasar gadis manja! Cuma panas saja sampai rawat inap segala! Panas itu cukup minum obat nanti lama-lama turun. Tidak minum obat terus saat itu juga turun! Ada prosesnya, bodoh! Mentang-mentang orang kaya maunya semuanya serba cepat! Sampai minta Alvaro datang ke rumah! Tidak ibunya tidak anaknya, semuanya sama-sama gatal!

Sebenarnya Suci sedikit menyesal karena telah "ketiduran". Niatnya jaga malam adalah agar tetap bisa bersama Alvaro, tetapi rasa kantuk mengalahkan keinginan itu sehingga dia memilih untuk mencari tempat sepi dan tidur.

Selesai melihat kondisi Zivanna dan beberapa pasien lain yang juga sedang di rawat di sana, Alvaro segera kembali ke ruangannya. Jam kerjanya sudah selesai dan sekarang sudah waktunya pulang.

Di parkiran, Suci sudah menunggu sambil berharap Alvaro menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Tetapi harapan itu pupus ketika Alvaro hanya menyapanya lalu berjalan melewatinya begitu saja.

Terpaksa Suci mengejarnya. "Dok... " panggilnya. Alvaro menoleh. "Kalau sewaktu-waktu dokter diminta datang ke rumah pasien kamar nomor empat, saya bisa mendampingi dokter. Dokter kan tidak tahu rumahnya, nanti bisa saya tunjukkan jalannya. Kebetulan rumah kami cukup dekat," kata Suci.

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!