NovelToon NovelToon
Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: exozi

CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU

AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.

GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.

Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.

Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.

Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.

Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?

A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DRAMA DI HARI H

Matahari pagi itu bersinar dengan sangat cerah dan hangat, seolah-olah Tuhan sengaja membukakan langit selebar mungkin untuk menyaksikan kebahagiaan dua insan yang telah melalui perjalanan cinta yang begitu panjang, begitu berliku, dan begitu menyakitkan, hingga akhirnya sampai di titik indah ini.

Hari H. Hari pernikahan.

Suasana di lokasi acara sudah terlihat begitu megah dan memukau sejak pagi buta. Dekorasi bunga-bunga segar berwarna putih dan peach yang mereka sepakati bersama memenuhi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang elegan namun tetap terasa hangat dan memikat. Musik instrumental mengalun lembut, aroma wangi bunga dan parfum mahal bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang magis dan penuh haru.

Tapi di balik kemeriahan dan kesempurnaan itu, di ruang rias pengantin wanita, suasana sedang terasa sangat mencekam, sibuk, dan penuh dengan drama yang tidak terduga.

 

"Ya ampun gimana sih ini! Jarum pentulnya patah dong! Siapa yang bawa cadar cadangan?!" teriak salah satu tim penata rias dengan nada panik setengah mati.

"Kain train-nya kegeser nih! Tarik pelan-pelan jangan kencang-kencang nanti sobek!" sahut yang lain.

"Makeup-nya jangan terlalu tebal nanti kelihatan kayak topeng! Tapi juga jangan terlalu tipis nanti pucat pas kena flash kamera!"

Ruangan itu penuh dengan orang-orang yang berlarian, membawa alat-alat rias, benda-benda hias, dan kain-kain yang panjang.

Dan di tengah kekacauan itu, duduklah sosok yang menjadi pusat perhatian semua orang.

Ayunda.

Cewek itu duduk diam di kursi rias yang tinggi, matanya terpejam lembut sementara para penata rias sibuk mengolah wajah dan rambutnya.

Tapi diamnya Ayunda bukan berarti dia tenang. Jantungnya berdegup kencang sekali, rasanya mau meledak keluar dari rongga dada. Telapak tangannya dingin dan basah oleh keringat dingin, dan perutnya terasa mulas karena campuran antara rasa grogi, senang, dan haru yang meledak-ledak.

"Gimana nih hasilnya? Jangan aneh-aneh ya Mbak..." pinta Ayunda pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Soalnya calon suami gue itu orangnya perfeksionis parah. Takutnya pas dia liat gue malah kabur lari tunggang langgang!"

Semua orang di ruangan itu langsung tertawa renyah mendengar candaan khas Ayunda yang tetap keluar walau dalam situasi se-mencekam ini.

"Ah elah Dik... tenang aja! Dijamin nanti pas Giovanni liat, dia langsung klepek-klepek jatuh cinta kedua kalinya!" jawab Mama Ayunda sambil tersenyum bangga memandangi putrinya. "Kamu itu cantik alami nak, tinggal dikasih sentuhan dikit langsung bersinar kayak putri keraton."

 

Waktu terus berjalan. Menit demi menit berlalu dengan sangat cepat. Akhirnya, proses rias dan busana pun selesai.

Saat cermin besar di hadapannya akhirnya ditunjukkan kepada Ayunda, cewek itu pun tertegun sejenak. Dia hampir tidak mengenali bayangan yang ada di sana.

Wanita di cermin itu memakai gaun pengantin berwarna putih susu yang sangat megah dan mewah. Gaun itu memiliki potongan yang anggun, renda-renda halus yang membentuk motif bunga, dan kerudung panjang yang menjuntai indah dari mahkota kecil di kepalanya sampai menyapu lantai.

Wajahnya terlihat sangat cantik. Makeup yang dipakai menonjolkan mata bulatnya yang cerah, pipinya merona alami, dan bibirnya terlihat segar dan manis.

Tidak ada lagi sisa-sisa Ayunda yang badung, tidak ada lagi kesan tomboy yang kasar. Saat ini, dia adalah seorang putri yang sempurna, anggun, dan memancarkan aura kebahagiaan yang luar biasa.

"Ya Allah... ini gue ya?" gumamnya pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Cantik banget... sampe gue sendiri hampir gak percaya."

"Kan udah bilang... kamu itu cantik Yun. Cuma selama ini kamu yang gak pernah mau nunjukin sisi ini," bisik Ibu Ayunda sambil memegang bahu putrinya penuh sayang. "Sekarang... ayo nak. Saatnya kamu melangkah. Saatnya kamu menemui takdir kamu."

 

Suasana di dalam aula utama sudah penuh sesak oleh tamu undangan. Ribuan orang hadir untuk memberikan doa restu. Suara bisik-bisik dan tawa terdengar meriah, sampai akhirnya tiba saatnya acara dimulai.

Lampu-lampu di ruangan itu perlahan diredupkan. Hanya ada satu sorotan cahaya yang menyinari lorong tengah yang panjang dan dihiasi bunga.

Musik pengiring pernikahan pun mulai mengalun. Megah, indah, dan sangat menyentuh hati.

Pintu utama di bagian belakang terbuka lebar.

Muncullah Ayunda.

Berjalan dengan langkah yang sangat pelan, sangat anggun, dan sangat penuh makna. Di sebelahnya, Bapak Ayunda berjalan dengan dada membusung penuh kebanggaan, memayungi dan mengiringi putri kesayangannya menuju ke pelaminan.

Saat itulah, semua mata tertuju padanya. Semua orang terdiam takjub. Suara desah napas kagum terdengar di seantero ruangan.

"Cantik banget..."

"Masha Allah... indah banget..."

Dan di ujung lorong itu, berdiri tegap di depan altar pernikahan, sosok Giovanni sudah menunggu sejak tadi.

Cowok itu tampak sangat gagah dan memukau dengan setelan jas pengantin berwarna hitam yang rapi dan pas di badan, dipadukan dengan kemeja putih dan dasi yang serasi. Wajahnya yang biasanya kaku dan datar, saat ini terlihat sangat tegang dan penuh antisipasi.

Tangan Gio mencengkeram ujung jasnya sendiri kuat-kuat. Napasnya tertahan di dada.

Saat matanya menangkap sosok Ayunda yang berjalan mendekat di bawah sorotan cahaya itu...

Dunia seakan berhenti berputar.

Waktu seakan berhenti berjalan.

Gio berdiri mematung. Matanya terbelalak sedikit, mulutnya terbuka sedikit menahan napas yang tertahan. Tatapannya terpaku tak berkedip, seolah-olah dia baru saja melihat keajaiban terindah yang pernah ada di muka bumi ini.

"Ya Allah..." gumamnya pelan, suaranya bergetar hebat, air mata langsung menggenang di pelupuk matanya tanpa bisa dia cegah. "Cantiknya... Ya Allah dia cantik banget..."

Rasa syukur, rasa cinta, rasa kagum, dan rasa bahagia itu meledak di dalam dadanya serentak.

Dia ingat Ayunda yang dulu. Ayunda yang pakai celana jeans robek, kaos oblong, rambut dikuncir kuda, dan berjalan serampangan.

Dan sekarang... melihat wanita yang sama berdiri di hadapannya dengan penampilan yang secantik ini, dengan aura yang semanis ini... rasanya hati Gio mau meledak karena bahagia.

"Milik aku... akhirnya dia jadi milik aku sepenuhnya..." batin Gio bersorak, air mata pertama pun jatuh membasahi pipi tirusnya.

 

Ayunda berjalan pelan, langkahnya berat tapi mantap. Matanya tidak pernah lepas dari sepasang mata hitam yang menatapnya dengan begitu dalam, begitu cinta, dan begitu rindu.

Air mata Ayunda juga mulai meluncur deras membasahi pipi. Semua kenangan berputar di kepalanya. Kenangan saat pertama kali bertemu, kenangan saat berantem, kenangan saat jatuh cinta, kenangan saat hancur karena rahasia, kenangan saat berpisah, dan kenangan saat akhirnya dipertemukan kembali dengan cara yang indah.

Semua air mata dan rasa sakit itu... terbayar lunas saat ini juga.

Akhirnya, dia sampai di ujung lorong. Sampai di hadapan Gio.

Dengan berat hati tapi penuh keyakinan, Bapak Ayunda melepaskan tangan putrinya, lalu menyerahkannya ke tangan Giovanni.

"Papa serahin anak Papa yang paling berharga ke kamu nak. Jagain dia baik-baik ya. Bikin dia bahagia selamanya."

Gio menerima tangan mungil itu dengan sangat hati-hati, seolah menerima benda paling berharga di dunia. Dia menggenggamnya erat-erat, hangat, dan menggenggamnya untuk selamanya.

"Siap Pak... saya janji. Saya akan menjaga dia dengan sekuat tenaga saya sampai akhir hayat saya."

 

Upacara pernikahan pun dimulai.

Mereka berdiri berdampingan di hadapan penghulu dan semua saksi. Suasana menjadi hening total, sangat khidmat, dan sangat sakral.

Saat tiba waktunya untuk mengucapkan ijab kabul, saat di mana Gio harus mengatakan kalimat sakti yang akan mengubah status mereka selamanya...

Gio menatap mata Ayunda lekat-lekat. Tatapan itu mengatakan segalanya. Tatapan yang berjanji untuk setia, untuk melindungi, dan untuk mencintai.

Dengan suara yang lantang, tegas, dan bergetar penuh emosi, Giovanni mengucapkan janji suci itu.

"Sayapun terima nikahnya dan kawinnya Ayunda Pramita binti Budi Santoso dengan mas kawin tersebut tunai..."

BRUK!!

Seolah ada guntur yang menggelegar di hati mereka berdua. Air mata pecah sejadi-jadinya.

"...dengan harta dan jiwaku."

SAH!!

Teriakkan sakti itu bergema di seantero ruangan. Tepuk tangan gemuruh, isak tangis haru terdengar di mana-mana.

Mereka resmi! Mereka resmi menjadi suami istri!

Gio tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia langsung menarik tubuh Ayunda mendekat, lalu memeluknya seerat-eratnya di hadapan semua orang. Tidak peduli formalitas, tidak peduli tatapan orang lain. Yang dia pedulikan hanyalah wanita di pelukannya ini sekarang adalah istrinya. Istrinya yang halal, istrinya yang abadi.

"Sayang... istri aku..." bisik Gio di telinga Ayunda penuh syukur. "Akhirnya... kita berhasil sampai di titik ini. Makasih ya udah bertahan sama aku."

"Iya Suamiku... makasih juga udah jadi lelaki terbaik buat gue," jawab Ayunda terisak bahagia, membalas pelukan itu dengan sama eratnya.

Drama di hari H itu penuh dengan ketegangan, penuh dengan air mata, tapi berakhir dengan kebahagiaan yang tidak terhingga. Kisah cinta mereka yang rumit, kini telah sah dan abadi.

1
Alex
meleleh abanng🥳
Alex
love sekebon gio🥰🥰
shabiru Al
ok mampir nih... moga aja seru gak ngebosenin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!