NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:669
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

POV: WAHYU

Wahyu tidak tahu berapa lama dia duduk seperti itu.

Yang dia tahu, hujan masih turun deras ketika air matanya berhenti. Pelan-pelan, tanpa drama, tanpa suara—hanya bahu yang berhenti bergetar dan napas yang kembali teratur.

Dia menurunkan kedua tangannya dari wajah. Menatap halaman kampus yang sudah tergenang air. Tidak berani menoleh ke samping, ke arah Riani yang masih duduk di sana—dia bisa merasakannya, hangat dan diam, tidak pergi seperti yang Wahyu prediksi.

Malu.

Itulah yang Wahyu rasakan sekarang.

Malu karena menangis di depan orang lain. Malu karena berteriak. Malu karena membiarkan dirinya... runtuh. Di depan seseorang yang bahkan belum benar-benar dia kenal.

Wahyu mengelap wajahnya dengan lengan hoodie. Gerakan kasar, terburu-buru, seperti ingin menghapus bukti kelemahan itu secepat mungkin.

"Kamu nggak harus malu," ujar Riani pelan.

Wahyu menoleh refleks, lalu langsung mengalihkan pandangan lagi.

"Aku nggak malu," bohongnya.

"Aku tahu kamu malu. Tapi nggak perlu." Riani tidak memaksanya menatap. "Nangis itu manusiawi. Kamu manusia, bukan robot."

Wahyu tidak menjawab.

Hening. Hanya suara hujan yang mengisi ruang di antara mereka.

Lalu Riani berbicara lagi, suaranya lebih pelan. "Aku minta maaf."

Wahyu mengerutkan kening, menoleh sedikit. "Minta maaf untuk apa?"

"Karena tadi aku terlalu... aggressive. Aku harusnya nggak paksa kamu bicara. Itu bukan hakku."

Wahyu terdiam.

Dia tidak mengharapkan permintaan maaf itu. Dia mengira Riani akan menggunakan momen ini untuk lebih dalam mengorek hidupnya—bertanya lebih banyak, meminta penjelasan lebih detail, memanfaatkan kerentanannya.

Tapi Riani malah minta maaf.

"Aku juga harusnya nggak berteriak," jawab Wahyu akhirnya. Suaranya serak—efek dari tangis yang ditahan terlalu lama.

Riani menggeleng. "Nggak apa. Kamu berhak marah."

"Nggak ada yang berhak berteriak ke orang lain."

"Kadang orang butuh melepaskan sesuatu. Dan tadi kamu memang butuh itu."

Wahyu tidak menjawab.

Matanya kembali menatap hujan yang mulai sedikit mereda. Genangan air di halaman kampus beriak-riak kecil diterpa butiran hujan yang makin jarang.

"Riani," Wahyu akhirnya berbicara. "Kenapa kamu... diam tadi? Maksudku, waktu aku menangis. Kenapa kamu nggak bilang apa-apa?"

Riani berpikir sebentar sebelum menjawab. "Karena aku rasa kamu nggak butuh kata-kata waktu itu. Kamu cuma butuh... seseorang yang ada."

Wahyu menelan ludah.

Seseorang yang ada.

Kapan terakhir kali ada seseorang yang seperti itu? Yang tidak butuh penjelasan, tidak butuh alasan, tidak butuh Wahyu kuat—hanya duduk di sampingnya dan... ada?

Dia tidak bisa mengingat.

Mungkin tidak pernah.

Atau mungkin sudah terlalu lama sampai memorinya kabur.

"Aku nggak biasa," ujar Wahyu pelan. "Maksudku... dengan orang yang seperti itu."

"Aku tahu," Riani menjawab lembut. "Dan nggak apa-apa kalau kamu nggak tahu harus bereaksi gimana."

Wahyu akhirnya menoleh, menatap Riani untuk pertama kalinya sejak dia menangis.

Riani menatap balik. Tidak dengan tatapan kasihan. Tidak dengan tatapan puas karena berhasil "menembus" tembok Wahyu. Hanya... tatapan yang tenang dan tulus.

"Kamu menangis juga," Wahyu mengamati. Bekas air mata masih terlihat di pipi Riani.

Riani menyentuh pipinya sendiri, lalu tersenyum kecil. "Iya. Gampang terbawa perasaan."

"Kenapa kamu menangis?"

"Karena... ngeliat kamu nahan semuanya sendirian itu... berat. Meskipun bukan aku yang nanggung, tapi ngeliatnya tetap berat."

Wahyu menatap Riani beberapa detik lagi, lalu mengalihkan pandangan.

Dadanya sesak dengan perasaan yang sulit dia identifikasi.

Bukan marah. Bukan curiga.

Mungkin... haru?

Dia tidak ingat kapan terakhir ada orang yang menangis... untuknya.

"Wahyu," Riani bersuara hati-hati. "Boleh aku tanya satu hal? Dan kalau kamu nggak mau jawab, nggak apa. Aku janji nggak akan maksa."

Wahyu mengangguk pelan. "Tanya."

"Ayahmu... bagaimana kondisinya sekarang?"

Wahyu menarik napas dalam. Pertanyaan itu terasa seperti jarum yang menusuk luka lama—tapi tidak se-menyakitkan yang dia kira.

"Masih dalam proses persidangan," jawab Wahyu. Kali ini tanpa defensif. "Tapi... minggu lalu ada perkembangan bagus. Kesaksian auditor independen menunjukkan bahwa dana yang dituduhkan bukan masuk ke rekening ayahku. Tapi masih butuh waktu."

Riani mengangguk pelan. Tidak memberi komentar berlebihan. Tidak berkata "wah kasian" atau "pasti berat banget". Hanya mengangguk, mendengarkan.

"Kapan kasus ini mulai?" tanya Riani pelan.

"Waktu aku kelas satu SMP."

Riani menghitung. "Berarti sudah hampir delapan tahun."

"Iya."

"Dan kamu... tanggung itu sendirian selama itu?"

"Bukan sendirian sepenuhnya. Ada keluarga. Tapi... di luar keluarga, iya. Sendirian."

Riani terdiam sebentar. Ketika dia berbicara lagi, suaranya sangat pelan. "Lelah, ya?"

Satu kata yang tepat.

Wahyu menunduk, menatap tangannya yang terlipat di pangkuan.

"Iya," jawabnya jujur. "Sangat lelah."

Riani tidak berkata apa pun setelah itu. Tapi Wahyu merasakan tangannya—Riani menaruh tangannya dengan hati-hati di samping tangan Wahyu, tidak menyentuh, hanya... dekat.

Sebuah gesture kecil yang berkata: aku di sini.

Dan entah kenapa, itu lebih dari cukup.

Hujan berhenti pukul enam kurang.

Langit masih abu-abu, tapi tidak lagi menurunkan air. Genangan di halaman kampus mulai surut pelan-pelan. Udara segar dan dingin.

Wahyu dan Riani masih duduk di teras ketika suara langkah kaki terdengar dari dalam gedung.

Bagas muncul dari pintu. "Wahyu! Lu masih di sini? Gue kira lu udah pulang."

"Hujan," jawab Wahyu singkat sambil berdiri.

Bagas melirik Riani, lalu melirik Wahyu dengan tatapan penuh tanda tanya—tapi tidak berkomentar. "Oke. Eh, Ardi mau ngumpulin semua panitia sebentar, evaluasi singkat. Bisa?"

Wahyu mengangguk. "Iya, sebentar."

Bagas masuk kembali ke dalam gedung.

Wahyu berdiri, menepuk-nepuk celananya yang sedikit basah karena duduk di tangga. Lalu dia menatap Riani.

"Kamu bisa pulang sekarang. Hujan sudah reda."

Riani berdiri juga. "Iya. Kamu juga hati-hati ya."

Wahyu mengangguk.

Mereka berdiri berhadapan beberapa detik—awkward, tapi tidak tidak-nyaman.

"Wahyu," Riani memanggil sebelum mereka berpisah.

"Apa?"

"Terima kasih... sudah mau bicara tadi. Aku tahu itu nggak mudah buat kamu."

Wahyu melihat ke samping—tidak sanggup menatap mata Riani langsung. "Aku yang harusnya bilang terima kasih. Karena... kamu tetap di sini. Tadi."

Riani tersenyum. Tidak berlebihan, tidak dramatis. Hanya senyum kecil yang... hangat.

"Aku bilang aku nggak akan pergi. Dan aku serius."

Wahyu menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.

Dia berbalik, masuk ke dalam gedung untuk evaluasi BEM.

Tapi langkahnya terasa... sedikit lebih ringan dari biasanya.

Malam harinya, Wahyu duduk di meja belajar. Laptop terbuka, tapi bukan untuk mengerjakan translation atau belajar—hanya menatap layar kosong sambil berpikir.

Pikirannya melayang ke sore tadi.

Dia menangis di depan Riani.

Berteriak.

Dan Riani... tidak pergi.

Wahyu sudah berulang kali memprediksikan bahwa orang yang tahu tentang kondisinya akan menjauh. Itu adalah pola yang selalu terjadi. Dulu di SD, di SMP, di SMA. Setiap kali seseorang tahu tentang kasus ayahnya—entah dari gosip atau dari Wahyu sendiri—mereka selalu... menjauh.

Tapi Riani tidak.

Riani duduk di sampingnya. Diam. Tidak pergi.

Bahkan menangis.

Wahyu menarik napas panjang.

Apakah dia mulai... mempercayai Riani?

Tidak. Itu terlalu cepat.

Satu kejadian tidak membuktikan apa-apa. Riani mungkin sekarang masih di sini. Tapi besok? Seminggu lagi? Sebulan lagi?

Siapa yang bisa memastikan?

Tidak ada.

Wahyu menutup laptopnya. Berbaring di kasur, menatap langit-langit.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia pungkiri.

Sore tadi adalah pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama dia merasa... sedikit lebih ringan.

Seperti sebagian beban yang dia pikul sendirian itu, untuk sesaat, diangkat oleh seseorang lain.

Dan itu... membingungkannya.

Karena dia tidak tahu apakah dia harus membiarkan perasaan itu ada, atau menguburnya dalam-dalam seperti yang selalu dia lakukan.

Ponselnya bergetar.

Notifikasi WhatsApp.

Dari Riani.

Wahyu menatap notifikasi itu cukup lama sebelum membukanya.

Riani: "Aku sudah sampai kosan. Kamu juga sudah sampai? Jalanan licin habis hujan, hati-hati ya."

Wahyu membaca pesan itu dua kali.

Tiga kali.

Riani mengirim pesan untuk memastikan Wahyu sampai dengan selamat.

Kapan terakhir kali ada orang yang melakukan itu?

Wahyu tidak ingat.

Dia mengetik balasan—pelan, ragu-ragu, seperti jari-jarinya tidak terbiasa dengan gestur sederhana ini.

Wahyu: "Sudah sampai. Terima kasih."

Send.

Dia menaruh ponsel, menutup mata.

Dan kali ini, tidur datang lebih cepat dari biasanya.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!