NovelToon NovelToon
Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.

Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.

Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.

Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…

Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Tangan Ravian yang menyentuh gagang pintu terhenti sejenak, dia tidak langsung membukanya.

"Pengkhianatan?" tanyanya pelan.

Bimo tidak langsung menjawab. Butuh waktu beberapa detik sampai akhirnya Bimo berkata, "Itu kemungkinan terkuat, Pak."

Ravian membuka pintu, dia langsung di sambut oleh ruangan luas dengan dominasi warna gelap serta kursi kerja yang biasa dia duduki selama menjadi pemimpin di perusahaan itu.

Bimo berdiri satu langkah di belakang, menunggu perintah yang akan Ravian berikan untuknya.

"Tarik semua data terkait kasus itu," perintah Ravian.

"Baik, Pak."

"Dan kirimkan laporan lengkap ke saya malam ini."

"Siap."

Bimo sempat ragu sejenak sebelum kembali bicara. "Apakah kasus ini akan ditindaklanjuti secara langsung oleh Anda?"

Ravian berjalan menuju meja kerjanya. Dia meletakkan ponselnya, lalu perlahan melepas jasnya.

"Aku tidak suka pengkhianat." Nada suaranya rendah. Namun cukup untuk membuat suhu ruangan seolah turun beberapa derajat.

"Terlebih lagi..." lanjutnya, "jika mereka mengkhianati orang yang seharusnya tidak mereka sentuh."

Bimo menunduk sedikit. "Dimengerti."

Dia berbalik, hendak keluar. "Pak," panggilnya sekali lagi.

Ravian tidak menoleh.

"Bagaimana dengan... pertunangan Anda?"

Pertanyaan itu membuat suasana kembali berubah. Beberapa detik berlalu sebelum Ravian menjawab. "Tidak berubah, aku memerlukan gadis itu saat ini."

"Anda tidak berniat membatalkannya?"

Ravian akhirnya menoleh. Tatapannya tajam. "Dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginan, kan? Aku hanya perlu fisiknya selebihnya itu tidak penting."

Bimo terdiam.

"Itu hanya formalitas," lanjut Ravian dingin. "Selama dia tidak mengganggu, aku tidak peduli dengan keberadaannya."

Bimo mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan mengatur jadwal pertemuan Anda dengan nona Aleta serta kakeknya begitu Anda kembali ke negara Rozan."

"Ya, lakukan seperti itu."

Bimo berpamitan pada Ravian untuk meninggalkan ruangan, begitu pintu tertutup rapat Ravian melangkah menuju jendela besar yang menghadap jalanan di depan gedung Rexander tersebut.

"Aurelia? Benarkah dia sudah mati?" Gumamnya.

Ravian tidak begitu mengenal Aurelia, tapi nama wanita tersebut sudah merabah ke dunia bawah dan sangat terkenal di kalangan pembunuh bayaran kelas elit. Bukan hanya karena skill yang di miliki, tapi paras dan juga umurnya yang bisa di bilang masih muda sangat membuat orang-orang takjub.

"Menarik, aku sangat menantikan siapa yang akan menjadi pengganti wanita itu."

***

"Duh, telingaku panas sekali." Aleta mengusap telinganya yang memerah.

Dia dan Serena baru saja keluar dari kelas setelah bel tanda istirahat berbunyi, Aleta merogoh saku seragam sekolahnya dan mengambil sebungkus permen karet.

"Let, sejak kapan kau suka permen karet?" Tanya Serena heran.

Seingatnya, Aleta tak suka makanan manis apa lagi permen karet. Tapi melihat situasinya sekarang, Aleta seperti sudah biasa dengan makanan manis.

Aleta terdiam sejenak, lalu menjawab. "Baru-baru ini, aku mulai mencicipi semua makanan yang manis dan pedas."

"Sungguh? Bukannya kau tak bisa makan cabe?"

Aleta menghela napas pelan, dia tak menyangka jika tubuh yang kini di miliki olehnya sangat menjaga pola makan. Padahal di kehidupan sebelumnya saat dia masih menjadi Aurelia semua makanan dia lahap habis kecuali batu dan ranting kayu.

"Aku mulai menyukainya." Jawab Aleta sekenanya.

Dia tak memiliki alasan lain dan tentunya malas berpikir hanya untuk menjawab pertanyaan mudah seperti itu, Aleta memasukan satu tangannya ke dalam saku rok. "Kau tahu Clara?"

"Clara? Maksudmu Clara Adinda dari kelas sebelah?" Ujar Serena ingin memastikan.

Aleta mengangguk. "Sejak kapan dia mulai membully dan kenapa dia melakukan hal itu? Apa kau tahu aku punya salah apa padanya?"

"Kau habis kena bully lagi, Let?" Serena menahan pundak Aleta dan membalikan tubuh gadis itu agar menatapnya. "Di mana? Ada yang luka?"

Aleta menggeleng pelan, meski matanya sempat berkilat dingin sebelum kembali meredup seperti biasa.

"Tidak ada luka," jawabnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditanya seperti itu.

Serena mengernyit. "Kau yakin? Aku tahu Clara bukan orang yang diam saja saat membully."

"Aku baik-baik saja," sahut Aleta singkat, lalu melepaskan tangan Serena dari pundaknya dengan halus.

Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai oleh siswa lain. Suara tawa, obrolan, dan langkah kaki berbaur menjadi satu, tetapi bagi Aleta, semua itu terasa seperti gema yang jauh. Fokusnya hanya satu, Clara. Dia memerlukan informasi tentang gadis itu agar bisa membuat keputusan untuk balas dendam.

"Aku hanya ingin tahu alasannya," lanjut Aleta, nada suaranya lebih rendah. "Tidak mungkin seseorang membenci orang lain tanpa sebab."

Serena terdiam sejenak, tampak ragu.

"Kalau kau benar-benar ingin tahu…" Serena menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar, lalu mendekat sedikit. "Katanya… Clara mulai berubah sejak kau pindah ke sini."

Aleta menghentikan langkahnya. "Berubah?" ulangnya pelan.

Serena mengangguk. "Dia itu dulunya cukup biasa saja. Tidak sejahat sekarang. Tapi sejak kau masuk… entah kenapa dia jadi sering memperhatikanmu. Bahkan..."

Serena menggigit bibirnya, ragu untuk melanjutkan.

"Bahkan apa?" desak Aleta, sorot matanya tajam.

"Dia pernah bilang… kau terlalu mencolok sebagai murid baru," bisik Serena. "Katanya semua orang mulai membicarakanmu, bahkan guru-guru juga memperhatikanmu. Dia tidak suka itu, lebih tepatnya dia iri."

"Hanya karena itu?" gumamnya lirih.

Di dalam benaknya, Aleta merasa geli. Di kehidupan sebelumnya, dia hidup di tengah intrik, pengkhianatan, dan darah. Dibandingkan itu, alasan seperti ini terasa… kekanak-kanakan.

Namun, bukan berarti dia akan membiarkannya.

"Tapi itu bukan alasan untuk membully seseorang," lanjut Serena cepat. "Aku rasa… ada hal lain."

"Apa?" tanya Aleta.

Serena menggeleng. "Aku tidak yakin. Tapi aku pernah melihat Clara berbicara dengan seseorang dari luar sekolah. Pria itu… terlihat mencurigakan."

Langkah Aleta kembali terhenti.

"Pria?" ulangnya pelan.

"Iya. Tinggi, berpakaian rapi, tapi… auranya tidak seperti orang biasa." Serena merinding sendiri mengingatnya. "Aku tidak sengaja melihat mereka di belakang gedung sekolah beberapa hari lalu."

Aleta menatap lurus ke depan. Tatapannya berubah. Bukan lagi tatapan seorang siswi biasa, melainkan seseorang yang sedang menyusun potongan puzzle di dalam kepalanya.

"Menarik…" gumamnya hampir tak terdengar.

Serena menatapnya bingung. "Apa?"

Aleta menggeleng, lalu kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

"Tidak ada," ujarnya ringan. "Aku hanya berpikir… mungkin aku harus berbicara langsung dengan Clara."

Serena langsung panik. "Apa?! Jangan! Dia tidak akan bicara baik-baik, Let! Dia itu..."

"Tenang saja," potong Aleta.

Angin siang berhembus pelan, mengibaskan rambutnya yang tergerai. Mata Aleta menyipit sedikit, seolah sudah menentukan sesuatu.

"Aku tidak akan kalah hanya karena seseorang seperti dia."

"Aleta…" panggil Serena lirih.

Aleta menoleh, lalu tersenyum tipis. "Kau ke kantin dulu. Aku akan menyusul."

"Memangnya kau mau ke mana?"

Aleta tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap ke arah belakang gedung sekolah tempat yang tadi disebut Serena. Tempat di mana Clara terakhir kali terlihat… bersama pria misterius itu.

"Aku ingin memastikan sesuatu."

1
Muft Smoker
makin kesini ,, selalu ad tekateki ny kak ,,


dtggu kelanjutan ny yx kak
Nur Hayati
seruuu... up yg banyak dong kak👍
Muft Smoker
lanjuut kak ,, lanjuut kak ,,
/Grin//Grin//Grin/
merry
Rick obesi dpt in let,, dia pikir gmpng
Ma Em
Semoga Aleta selalu selamat dari orang2 yg akan mencelakainya , untuk Clara kamu terima saja akibat dari perbuatannya yg selalu mengganggu Aleta .
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak ,,
Ma Em
Semangat Aleta tunjukan pada orang yg suka membuly mu dan balas perbuatan mereka , Aleta sekarang tdk bisa ditindas karena Aleta sekarang wanita pemberani , Ravian saja sekarang jadi penasaran sama Aleta
Pa Muhsid
sebentar lagi aroma bucin akan tercium, bukannya aleta tunangan yang dianggap pajangan Sama ravian itu 🤔🤔🤔
Muft Smoker
next kaaak ,,


aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
next
Muft Smoker
next kak ,,


waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut, dan semangat thor💪
Nur Hayati
up kak, ayooo..💪
azka aldric Pratama
ini masih di tahun yg sAma gk Ama si penghianat Thor 🤔🤔🤔
CaH KangKung,
👣👣
Muft Smoker
next kaaak ,,
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor, dan semangat
Muft Smoker
aleta udh sfrekuensi dg km ravian ,, kuat , dingiin , Dan cerdas ,,
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁
Abdul Rosyid294
lanjut ya
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
thor lanjut, dan semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!