NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

POV: WAHYU

Senin pagi pukul tujuh kurang lima belas, Wahyu sudah duduk di bangku panjang di lobi Pengadilan Negeri. Dia datang lebih awal dari biasanya—bukan karena sidangnya dimajukan, tapi karena dia tidak bisa tidur sejak subuh.

Malam tadi pikirannya terlalu penuh.

Translation project sudah selesai Sabtu sore—terkirim tepat waktu, klien puas, pembayaran dijanjikan dua hari kerja. Ujian Hukum Perdata kemarin hasilnya belum keluar, tapi Wahyu cukup yakin nilainya tidak mengecewakan. Secara teknis, semua urusan minggu ini berjalan sesuai rencana.

Tapi hari ini bukan tentang translation atau ujian.

Hari ini tentang sidang.

Dan kali ini, sidang yang berbeda dari biasanya.

Pak Hendra kemarin menelepon dengan nada yang lebih serius dari biasanya. Direktur Operasional lama perusahaan—yang selama ini menghindari panggilan pengadilan dengan berbagai dalih—akhirnya diwajibkan hadir oleh hakim. Kesaksiannya bisa menjadi titik balik.

Atau tidak.

Wahyu tidak mau terlalu berharap.

Delapan tahun mengajarkannya satu hal: berharap terlalu besar hanya membuat jatuhnya lebih sakit.

Pintu lobi terbuka. Ibunya masuk, diikuti ayahnya yang berjalan pelan dengan baju kemeja putih—baju terbaik yang masih mereka miliki. Di belakang mereka, Pak Hendra dengan koper dokumen besarnya.

Ibu Wahyu melihatnya, langsung tersenyum lega. "Yu, sudah lama di sini?"

"Belum lama, Bu." Wahyu berdiri, mencium tangan ibunya. "Bapak gimana?"

Ayahnya menepuk bahu Wahyu. "Bapak baik. Kamu sudah makan?"

"Sudah." Bohong lagi. Wahyu tidak sempat sarapan.

Pak Hendra menjabat tangan Wahyu. "Pagi, Wahyu. Kamu hadir juga bagus. Kehadiran keluarga memberikan dampak psikologis yang positif."

"Bagaimana kemungkinannya hari ini, Pak?" Wahyu langsung ke poin.

Pak Hendra menurunkan suaranya. "Kesaksian Direktur Operasional sangat krusial. Kalau dia bersaksi jujur—mengakui bahwa pemilihan vendor subkontraktor itu keputusan dia, bukan Bapak—maka posisi kita sangat kuat. Hakim tidak bisa mengabaikan itu."

"Dan kalau dia tidak jujur?"

Pak Hendra menatap Wahyu dengan tatapan yang... hati-hati. "Kita punya dokumen internal yang bisa mengkontradiksikan kesaksiannya. Email, notulensi rapat, memo resmi. Semua menunjukkan bahwa arahan penggunaan vendor itu datang dari atas, bukan dari Bapak."

Wahyu mengangguk. "Oke."

Mereka masuk ke ruang sidang nomor tiga yang sudah familiar. Bangku penonton sebagian sudah terisi—beberapa wajah yang Wahyu tidak kenal, mungkin pihak perusahaan atau wartawan. Pihak perusahaan terlihat percaya diri—mereka duduk dengan postur tegak, berbisik dengan pengacara mereka yang berjas mahal.

Wahyu mengenali satu dari mereka—pria berkacamata bingkai emas yang pernah hadir di sidang-sidang sebelumnya. Selalu dengan senyum tipis yang menyebalkan. Selalu terlihat seperti orang yang tahu dia akan menang.

Wahyu menelan rasa benci yang naik ke tenggorokan.

Sabar.

Hakim masuk. Semua berdiri, lalu duduk kembali.

Sidang dibuka.

Jaksa membacakan agenda hari ini: pemeriksaan saksi bernama Ir. Hendra Kusuma, mantan Direktur Operasional PT Maju Sejahtera periode 2015-2020.

Pintu ruang sidang terbuka. Seorang pria paruh baya berambut putih keperakan masuk—tinggi, berpakaian rapi, wajah yang terlatih untuk tidak menunjukkan emosi. Dia berjalan ke mimbar saksi tanpa menatap siapa pun di ruangan.

Saksi disumpah.

Lalu jaksa mulai bertanya.

Pertanyaan pertama: tentang jabatan dan tanggung jawabnya di perusahaan.

Jawaban lancar, formal, terstruktur.

Pertanyaan kedua: tentang proses pengadaan vendor subkontraktor di periode yang dimaksud.

Dan di sinilah Wahyu mulai merasakan sesuatu berubah.

Hendra Kusuma—sang mantan direktur—menjawab dengan hati-hati sekali. Terlalu hati-hati. Setiap kalimat dipilih dengan presisi, setiap kata ditimbang. Bukan ciri-ciri orang yang bersaksi jujur. Lebih seperti seseorang yang sedang menavigasi ladang ranjau.

"Proses pengadaan vendor," jawabnya pelan, "mengikuti prosedur standar perusahaan. Setiap rekomendasi diproses melalui departemen yang bersangkutan."

"Departemen yang bersangkutan itu berarti departemen logistik? Yang dipimpin oleh terdakwa Aditama Setiawan?" jaksa bertanya.

"Antara lain, ya."

Wahyu mengepalkan tangannya.

"Antara lain" berarti tidak sepenuhnya membela, tapi juga tidak sepenuhnya menyalahkan. Posisi aman yang licin.

Pak Hendra berdiri untuk bertanya. "Yang Mulia, izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada saksi."

Hakim mengangguk.

Pak Hendra membuka map dokumennya. "Saksi Hendra Kusuma, saya akan menunjukkan sebuah dokumen. Ini adalah email internal bertanggal 12 Maret 2019, yang dikirimkan dari akun email resmi Bapak kepada bagian keuangan, menyatakan bahwa pemilihan PT Jaya Abadi sebagai vendor subkontraktor telah mendapat persetujuan direksi. Apakah Bapak mengenali email ini?"

Hening.

Hendra Kusuma menatap dokumen yang diberikan panitera. Wajahnya tidak berubah, tapi Wahyu—yang sedang mengamati dengan sangat seksama—melihat otot rahangnya mengeras sedikit.

"Saya perlu waktu untuk mempelajari dokumen ini."

"Tentu. Tapi izinkan saya bertanya terlebih dahulu: apakah Bapak pernah mengirimkan email dengan konten serupa kepada bagian keuangan terkait vendor PT Jaya Abadi?"

Jeda panjang.

"Ada kemungkinan. Saya mengirimkan banyak email dalam kapasitas jabatan saya."

"Dokumen ini juga asli dari server email perusahaan, yang telah diverifikasi oleh tim IT forensik." Pak Hendra mengedarkan pandangan ke hakim. "Yang Mulia, email ini membuktikan bahwa persetujuan penggunaan vendor bukan hanya berasal dari level manajer logistik, melainkan dari level direksi yang lebih tinggi. Ini secara langsung melemahkan dakwaan bahwa terdakwa bertindak sendiri."

Pengacara perusahaan langsung berdiri. Protes. Argumen balik.

Ruang sidang menjadi ramai sesaat sebelum hakim mengetuk palu.

Wahyu tidak mendengarkan perdebatan itu sepenuhnya. Matanya terpaku pada Hendra Kusuma yang masih duduk di mimbar saksi—pria itu sekarang menatap suatu titik di depannya dengan ekspresi yang, untuk pertama kalinya, terlihat... retak.

Satu jam lebih sidang berlangsung.

Pak Hendra berhasil menghadirkan tiga dokumen tambahan—semua diperoleh melalui permintaan resmi ke pengadilan untuk membuka dokumen internal perusahaan yang sebelumnya ditahan. Email, notulensi rapat direksi, dan satu memo yang paling krusial: dokumen persetujuan anggaran untuk vendor yang ditandatangani oleh Hendra Kusuma sendiri.

Ketika hakim akhirnya mengetuk palu untuk menutup sidang hari ini—dengan catatan bahwa putusan akan dijadwalkan setelah semua bukti dievaluasi—seisi ruang sidang seperti menghembuskan napas yang sama.

Di bangku terdakwa, ayah Wahyu duduk dengan kepala sedikit lebih tegak dari biasanya.

Di bangku penonton, ibu Wahyu menggenggam tangan Wahyu erat.

Dan Wahyu—untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—merasakan sesuatu yang hampir terlupakan rasanya.

Harapan.

Di luar ruang sidang, Pak Hendra berbicara dengan suara pelan tapi matanya berbinar.

"Ini perkembangan yang sangat signifikan. Dokumen-dokumen itu tidak bisa diabaikan. Saya yakin hakim akan mempertimbangkannya dengan serius."

"Berapa lama sampai putusan?" tanya Wahyu langsung.

"Dengan kondisi ini... mungkin tiga sampai enam bulan lagi. Tergantung apakah pihak perusahaan mengajukan bukti baru atau saksi tambahan."

Tiga sampai enam bulan.

Wahyu mengangguk. Bisa diterima.

Ayahnya merangkul bahu Wahyu dari samping. "Terima kasih sudah datang, Yu."

"Aku yang harusnya berterima kasih, Pak. Bapak yang sudah bertahan selama ini."

Ayahnya terdiam sebentar. Matanya sedikit berkaca. "Kamu itu... terlalu banyak menanggung untuk usiamu."

"Bapak juga."

Hening sebentar di antara mereka.

Lalu ayahnya menepuk punggung Wahyu—tepukan yang singkat tapi penuh makna. "Kita akan melewati ini bersama. Ya?"

Wahyu menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.

"Ya, Pak."

Dalam perjalanan pulang ke kost, Wahyu naik motor melewati jalanan yang mulai ramai di siang hari. Di setiap lampu merah, pikirannya masih di ruang sidang tadi.

Dokumen email. Tanda tangan Hendra Kusuma. Wajah retak sang mantan direktur.

Tiga sampai enam bulan.

Bisa jadi lebih cepat dari yang selama ini mereka prediksi.

Wahyu berhenti di lampu merah. Di sebelahnya, seorang bapak-bapak mengendarai motor bebek dengan anak kecil duduk di depan—anak itu tertawa, memegang stang dengan serius seperti dia yang mengemudikan motor.

Wahyu menatap mereka.

Dulu, dia pernah begitu.

Duduk di depan motor ayahnya, memegang stang dengan serius, merasa seperti jagoan. Ayahnya akan tertawa dan bilang, "Hati-hati, pilot, jangan sampai kecelakaan."

Kapan terakhir kali hal seperti itu terjadi?

Wahyu tidak ingat.

Lampu hijau menyala. Dia melajukan motor.

Sesampainya di kost, dia duduk di kasur, meletakkan helm, dan meraih ponselnya—bukan dengan tujuan yang jelas, hanya karena tangan refleks bergerak ke sana.

Notifikasi: satu pesan dari Riani. Masuk dua jam lalu, saat Wahyu di ruang sidang.

Riani: "Hari ini sidang kan? Semoga lancar, Wahyu. Apapun hasilnya, kamu sudah berjuang keras. Aku di sini kalau kamu mau cerita."

Wahyu membaca pesan itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Kamu sudah berjuang keras.

Dia mengetik balasan.

Wahyu: "Ada perkembangan hari ini. Dokumen baru yang menguntungkan kami berhasil dihadirkan. Pengacara bilang putusan mungkin tiga sampai enam bulan lagi."

Send.

Balasan Riani datang dalam dua menit.

Riani: "Wahyu, ini kabar bagus banget! Alhamdulillah! Kamu pasti lega ya?"

Wahyu: "Sedikit. Tapi belum mau terlalu berharap sebelum ada putusan resmi."

Riani: "Itu wajar. Tapi tetap, ini progress yang nyata. Kamu boleh sedikit bernapas hari ini."

Wahyu membaca itu.

Boleh sedikit bernapas.

Kapan terakhir kali dia melakukan itu?

Dia berbaring di kasur, menatap langit-langit. Untuk sekali ini, tidak langsung membuka laptop atau menyiapkan buku pelajaran.

Hanya berbaring.

Bernapas.

Dan membiarkan hari ini terasa seperti apa adanya—bukan sempurna, tapi lebih baik dari kemarin.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!