Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Shaka menelan ludahnya dengan pelan, kedua kakinya bahkan sempat ragu untuk melangkah masuk. Bagaimana mungkin orang seperti dirinya berdiri di rumah Tuhan?
Orang yang hidup dari menjual obat obatan terlarang pada orang lain. Shaka merasakan dadanya semakin berat, namun sebelum pikirannya melayang semakin jauh, suara panggilan ustadz Haidar terdengar dari dalam mushola.
“Kenapa berdiri di situ?”
Shaka sedikit tersentak dan membuatnya mengangkat wajahnya perlahan. Ustadz Haidar sedang berdiri di dekat sajadah sambil menatapnya dan saat melihat Shaka memakai baju koko putih itu, senyum tipis langsung muncul di wajahnya.
“Nah…” ujar ustadz Haidar dengan senang. “Sekarang kamu terlihat jauh lebih baik.”
Shaka langsung menunduk canggung. Entah kenapa pujian sederhana itu membuat dadanya terasa hangat namun juga malu.
“Saya malah merasa aneh, ustadz...” gumam Shaka pelan dan membuat Ustadz Haidar tersenyum kecil.
“Itu karena kamu belum terbiasa, nak.”
Ia lalu berjalan menghampiri Shaka perlahan. Tatapannya terlihat hangat. Tidak ada rasa jijik ataupun penghinaan, dan itu masih terasa aneh bagi Shaka. Ustadz Haidar berhenti di depan pemuda itu lalu dengan lembut berkata,
“Ayo.” ajak ustadz Haidar sembari menunjuk ke arah sajadah di dalam mushola. “Kita mulai.”
Shaka menatap sajadah itu beberapa detik lalu perlahan mengangguk.Ia mengikuti langkah Ustadz Haidar masuk lebih dalam ke mushola. Langkahnya masih terasa ragu namun kali ini ia tetap berjalan. Di depan, dua sajadah sudah terbentang rapi. Ustadz Haidar berdiri di salah satunya lalu menoleh ke arah Shaka.
“Berdirilah di sini.”
Shaka menurut pelan. Ia berdiri di atas sajadah dengan tubuh sedikit tegang. Tangannya dingin, jantungnya berdegup cepat. Sudah lama sekali ia tidak berdiri untuk sholat. Bahkan ia hampir lupa rasanya. Ustadz Haidar memperhatikannya sebentar lalu berkata,
“Tenang saja. Kamu tidak perlu takut.”
Shaka menelan ludahnya dengan pelan. Ustadz Haidar lalu berdiri tegak di hadapannya.
“Sekarang dengarkan aku baik-baik.”
Shaka mengangguk. Dengan penuh kesabaran, Ustadz Haidar mulai membimbingnya pelan seperti seorang ayah yang sedang mengajari anaknya berjalan untuk pertama kali. Ia mulai mengajarkan niat sholat taubat. Mengucapkannya perlahan agar Shaka bisa mengikuti. Shaka mendengarkan dengan serius meski sesekali suaranya bergetar saat mencoba mengulanginya lalu Ustadz Haidar mulai mencontohkan gerakan sholat mulai dari takbir, rukuk hingga sujud.
Semua ustadz Haidar lakukan perlahan sambil menjelaskan dengan sabar. Shaka memperhatikan setiap gerakan itu dengan gugup. Ia berusaha mengingat dan mengikuti semua yang diajarkan oleh ustadz Haidar kepadanya. Beberapa saat kemudian lelaki paruh baya itu akhirnya selesai mencontohkan gerakan demi gerakan sholat taubat dari takbir hingga salam, dari bacaan niat sampai doa-doa pendek yang harus dibaca kepada Shaka. Membuat Shaka mengikutinya perlahan meski beberapa kali ia salah gerakan dan beberapa bacaan masih terbata-bata keluar dari bibirnya. Namun Ustadz Haidar tidak pernah memotong dengan kasar ataupun menunjukkan wajah kecewa. Ia hanya membimbing dengan sabar, membetulkan dengan pelan jika ada yang salah. Dan itu membuat sesuatu di dalam diri Shaka terasa semakin sesak. Karena sepanjang hidupnya, ia terlalu sering dimarahi saat melakukan kesalahan. Tapi malam ini ada seseorang yang tetap sabar bahkan ketika dirinya begitu berantakan. Ustadz Haidar menatap Shaka beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,
“Sekarang coba kamu lakukan sendiri, nak.” ujar ustadz Haidar yang membuat Shaka sedikit tersentak, matanya langsung terangkat menatap ustadz Haidar.
“S-sendiri, ustadz?”
Ustadz Haidar mengangguk kecil.
“Ustadz yakin kamu sudah mengingatnya dengan baik.”
“Tapi saya takut salah, ustadz” jawab Shaka yang terdengar lirih.
“Tidak apa-apa kalau masih salah.” Ustadz Haidar tersenyum tipis. “Yang Allah lihat itu niat dan kesungguhan hatimu, nak.”
Kalimat itu membuat Shaka terdiam. Dadanya kembali terasa penuh. Ia menunduk pelan menatap sajadah di bawah kakinya. Tangannya mulai terasa dingin lagi. Entah kenapa ia begitu takut. Bukan takut pada manusia, bukan takut pada polisi yang tadi mengejarnya, tapi takut pada Tuhan. Takut setelah semua dosa yang ia lakukan, dirinya tidak pantas untuk menghadap penciptanya.
Shaka menelan ludahnya dengan pelan, lalu Ustadz Haidar kembali berkata,
“Mulailah, nak.”
Keheningan kembali jatuh. Shaka menarik napas panjang. Perlahan ia memejamkan matanya beberapa detik. Dan di dalam hatinya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan, Shaka mencoba meniatkan sesuatu.
Aku mau berubah.
Kalimat itu bergema pelan di dalam dirinya. Napasnya terdengar bergetar, lalu perlahan Shaka mengangkat kedua tangannya sejajar dengan telinganya untuk melakukan takbir.
“Allahu Akbar...” Suara Shaka terdengar pelan dan gemetar namun tetap terdengar jelas di dalam mushola yang sunyi itu.
Ustadz Haidar berdiri beberapa langkah dibelakangnya sambil memperhatikan dalam diam. Shaka mulai menjalankan sholat taubatnya. Gerakannya masih kaku, kadang sedikit ragu. Namun ia berusaha mengikuti semua yang tadi diajarkan. Saat membaca Al-Fatihah, suara Shaka beberapa kali tersendat. Ada beberapa bacaan yang hampir lupa. Lidahnya terasa berat namun ia terus mencoba. Karena malam ini untuk pertama kalinya ia benar-benar ingin kembali.
Meskipun bacaan yang diucapkan Shaka masih tidak terlalu lancar, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa begitu berat sekaligus menyakitkan. Karena semakin ia membaca, semakin ia sadar betapa jauh dirinya dari Tuhan selama ini. Shaka kembali berdiri tegak lalu turun untuk bersujud. Dan saat dahinya menyentuh sajadah, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Tubuhnya langsung menegang, napasnya tercekat. Entah kenapa posisi sujud itu terasa berbeda.
Ia merasa begitu rendah dan hina. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Shaka benar-benar merasa kecil di hadapan Tuhan.
Bayangan masa lalunya mulai bermunculan satu per satu di kepalanya. Wajah-wajah orang yang pernah membeli barang haram darinya. Tatapan mata kosong para pecandu. Uang haram yang selama ini ia dapatkan dan gunakan, semuanya datang secara bersamaan, membuat dadanya sesak.
Tak lama kemudian air mata Shaka jatuh begitu saja. Awalnya hanya setetes lalu semakin deras. Bahu Shaka mulai bergetar. Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah saat dahinya masih menempel di sajadah. Suara isaknya terdengar pelan lalu semakin lama semakin tidak tertahan. Tubuhnya tampak gemetar hebat. Sujudnya berubah menjadi pelukan penuh kehancuran pada Tuhan yang selama ini ia tinggalkan.
“Ya Allah...” suara itu keluar di dalam hati Shaka dengan lirih di sela tangisnya. Shaka menangis seperti anak kecil yang tersesat terlalu jauh lalu akhirnya menemukan jalan pulang. Air matanya terus membasahi sajadah sementara tangannya mencengkeram kain sajadah itu kuat-kuat seolah takut jika dirinya kembali jatuh. “Aku mohon tolong ampuni aku...”
Ustadz Haidar yang berdiri tidak jauh darinya hanya bisa memandang Shaka dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak melihat pemuda itu. Melihat bagaimana seseorang yang tadi datang ke mushola dengan membawa narkoba dan kemarahan, kini menangis hancur di hadapan Tuhannya.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.