NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Maskulin dan Antiseptik

​Bunyi kunci elektronik yang terbuka di tengah malam buta mengejutkan Briella dari tidurnya yang tidak tenang. Ia segera bangkit, merapatkan gaun tidur sutranya yang licin saat pintu kamar terbuka lebar. Sosok Geovani muncul di ambang pintu, namun penampilannya jauh dari kesan rapi yang biasanya ia tunjukkan setiap pagi.

​Geovani masih mengenakan kemeja bedah berwarna biru tua yang sedikit berkerut, dengan jas putih yang disampirkan sembarangan di bahunya. Aroma tajam antiseptik rumah sakit langsung menyerbu masuk ke dalam ruangan, bercampur dengan bau maskulin khas pria itu yang kini terasa lebih berat. Wajahnya tampak pucat di bawah temaram lampu nakas, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menandakan kelelahan ekstrem.

​"Kau baru kembali? Ini sudah hampir jam tiga pagi," ujar Briella sambil memperhatikan gerak-gerik Geovani yang terlihat kaku.

​Geovani tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru menutup pintu dengan hentakan yang cukup keras dan menguncinya. Pria itu melemparkan jas putihnya ke atas lantai, lalu melangkah mendekati tempat tidur dengan tatapan yang sangat intens. Briella bisa merasakan aura ketegangan yang berbeda malam ini; bukan otoritas dingin seorang dokter, melainkan rasa lapar yang tidak terkendali.

​"Aku baru saja menyelesaikan operasi darurat selama sepuluh jam tanpa jeda. Kepalaku terasa seperti akan meledak oleh suara mesin monitor," suara Geovani terdengar serak dan rendah, hampir menyerupai geraman.

​"Kalau begitu kau harus istirahat, Geovani. Kau tampak sangat berantakan," Briella mencoba memberikan saran rasional, meskipun jantungnya mulai berdegup kencang saat Geovani berhenti tepat di depannya.

​Geovani menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang terlihat berbahaya di tengah kelelahan yang nyata. "Aku tidak butuh tidur. Aku butuh sesuatu untuk mengalihkan saraf-sarafku dari bayangan kematian di meja operasi tadi. Dan kau adalah satu-satunya pelarianku."

​"Apa maksudmu? Aku bukan pelayan yang bisa kau panggil setiap kali kau merasa stres," sahut Briella, ia mencoba berdiri namun Geovani segera menekan bahunya agar tetap terduduk di tepi ranjang.

​"Aku tidak memintamu menjadi pelayan. Aku menuntutmu untuk melayaniku sebagai pelepas stres yang liar. Kau adalah milikku, Briella, dan malam ini aku ingin mengambil hakku tanpa ada batasan medis yang biasanya aku terapkan," Geovani mencengkeram rahang Briella dengan lembut namun penuh tekanan.

​Briella bisa merasakan panas yang menguar dari tubuh Geovani. Aroma antiseptik yang biasanya menenangkan kini terasa mencekam saat bercampur dengan keringat dan gairah pria itu. Ia tahu Geovani sedang berada di titik nadir kewarasannya setelah bekerja di bawah tekanan tinggi di rumah sakit, dan ia adalah sasaran empuk untuk pelampiasan tersebut.

​"Kau sedang tidak sadar, Geovani. Lepaskan aku!" rintih Briella, namun tangannya justru terjebak dalam genggaman Geovani yang kuat.

​"Aku sangat sadar, Little One. Aku sadar betapa harumnya kulitmu dibandingkan bau darah yang seharian ini menempel padaku. Jangan mencoba melawan, karena setiap perlawananmu hanya akan membuatku semakin tidak sabar," bisik Geovani di depan bibir Briella.

​Tanpa menunggu persetujuan, Geovani mencium Briella dengan cara yang sangat kasar dan menuntut. Tidak ada kelembutan dalam sentuhannya kali ini; hanya ada kebutuhan mendesak untuk melepaskan beban yang menghimpit jiwanya. Briella merasa kewalahan oleh dominasi Geovani yang meluap-luap, namun anehnya, ada bagian dari dirinya yang merespons gairah liar tersebut.

​Geovani melepaskan kancing kemeja bedahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengunci tubuh Briella agar tidak menjauh. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Briella, menghirup aroma tubuh gadis itu seolah-olah sedang menghirup oksigen setelah tenggelam dalam waktu lama. Briella bisa merasakan napas panas Geovani yang tidak beraturan menyapu kulitnya.

​"Kau harus melakukan tugasmu malam ini. Buat aku melupakan semua suara denyut nadi pasien itu di telingaku," perintah Geovani sambil menarik bahu gaun tidur Briella hingga merosot jatuh.

​"Kau memperlakukanku seperti binatang peliharaan, Geovani! Ini bukan cara seorang manusia memperlakukan manusia lainnya!" teriak Briella, namun suaranya segera teredam oleh ciuman Geovani yang kembali membungkamnya.

​Di bawah remang kamar yang hanya diterangi lampu nakas, perdebatan itu berubah menjadi pergulatan fisik yang penuh dengan ketegangan seksual. Geovani bertindak tanpa mempedulikan protokol medis yang biasanya ia agung-agungkan. Ia tidak memeriksa denyut nadi atau tekanan darah Briella kali ini; ia hanya ingin merasakan kehidupan yang nyata di bawah jemarinya yang kasar.

​"Hanya malam ini, Briella. Biarkan aku kehilangan kendali hanya padamu," gumam Geovani di tengah cumbuan mereka yang semakin panas.

​Briella merasa dirinya seperti terseret dalam badai yang tidak bisa ia hentikan. Meskipun hatinya dipenuhi kemarahan atas perlakuan Geovani yang tidak adil, tubuhnya tidak bisa berbohong pada gairah yang ditularkan oleh pria itu. Ia melihat Geovani yang biasanya rapi dan terkontrol kini tampak begitu rapuh dalam keinginannya sendiri, sebuah sisi manusiawi yang sangat jarang ia tunjukkan.

​Ruangan itu dipenuhi oleh suara napas yang memburu dan gesekan kain sutra yang terlepas dari tubuh. Aroma antiseptik yang tadi menyengat kini mulai memudar, digantikan oleh aroma gairah yang memenuhi udara. Geovani memperlakukan Briella dengan cara yang liar, seolah-olah sedang berusaha membuktikan bahwa meskipun ia bisa menyelamatkan nyawa orang lain, ia tetaplah seorang pria yang memiliki sisi gelap yang tak tersentuh.

​"Kau milikku... kau adalah milikku seutuhnya," Geovani terus membisikkan kata-kata itu di telinga Briella, seolah sedang merapal mantra untuk meyakinkan dirinya sendiri.

​Briella memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelampiasan emosi pria itu. Ia merasakan cengkeraman Geovani di pinggangnya yang sangat kuat, meninggalkan tanda kemerahan yang menunjukkan betapa posesifnya sang dokter. Malam ini, Geovani tidak bertindak sebagai penyelamat, melainkan sebagai seorang penakluk yang haus akan pengakuan.

​Beberapa waktu berlalu hingga akhirnya badai itu mereda. Geovani merebahkan tubuhnya di samping Briella dengan napas yang masih terdengar berat. Kelelahan yang tadi ia bawa tampaknya mulai berubah menjadi ketenangan yang hampa. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Briella, sebuah gerakan yang kontras dengan keliaran yang baru saja ia tunjukkan.

​"Apakah kau sudah merasa lebih baik sekarang? Apakah stresmu sudah hilang?" tanya Briella dengan suara yang parau dan penuh sindiran.

​Geovani tidak segera menjawab. Ia menatap langit-langit kamar dalam diam, dengan satu tangan masih melingkari pinggang Briella seolah tidak mau melepaskannya meskipun dalam keadaan tidur. Cahaya bulan yang masuk dari celah tirai menyinari profil wajahnya yang kini tampak lebih tenang namun tetap keras.

​"Aku sudah mendapatkan apa yang aku butuhkan untuk kembali bekerja besok pagi. Dan kau, kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik," sahut Geovani dengan nada yang kembali datar dan tanpa emosi.

​"Aku membencimu, Geovani. Aku membenci setiap bagian dari rumah ini dan setiap sentuhan yang kau paksakan padaku," bisik Briella sambil membelakangi pria itu.

​Geovani hanya mendengus pelan, seolah kebencian Briella adalah bumbu yang membuat permainannya semakin menarik. "Bencilah aku sesukamu, Little One. Tapi jangan pernah lupa bahwa malam ini, kau adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa benar-benar hidup setelah melihat kematian di depan mataku."

​Briella terdiam, merasakan kehangatan tubuh Geovani di punggungnya. Ada rasa getir yang menyelinap di hatinya; ia sadar bahwa ia telah menjadi lebih dari sekadar objek penelitian bagi Geovani. Ia telah menjadi pelepas stres, pelindung jiwanya yang lelah, dan sasaran dari obsesi gelap yang tidak akan pernah berakhir.

​Di dalam kesunyian malam itu, aroma maskulin Geovani dan sisa-sisa bau antiseptik seolah-olah menyatu, menjadi bau permanen yang akan selalu mengingatkan Briella pada malam yang melelahkan ini. Ia tahu bahwa esok pagi Geovani akan kembali menjadi dokter bedah saraf yang brilian dan dingin, sementara ia akan tetap menjadi tawanan yang terbungkus dalam gaun sutra di sangkar emas ini.

​"Tidurlah, Briella. Besok adalah hari yang panjang untuk kita berdua," ucap Geovani sebelum akhirnya ia terlelap dalam tidur yang dalam akibat kelelahan luar biasa.

​Briella tetap terjaga, mendengarkan detak jantung Geovani yang kini mulai teratur. Ia menatap tangan pria itu yang masih mendekapnya dengan posesif. Di tengah kegelapan, ia menyadari bahwa perjuangannya untuk bertahan hidup di mansion ini akan semakin sulit seiring dengan semakin dalam keterlibatan emosional dan fisik yang Geovani tuntut darinya.

​Salju turun dengan tenang di luar jendela, menutupi bukit Etheria dengan warna putih yang dingin, persis seperti suasana di dalam kamar itu yang dipenuhi oleh sisa-sisa badai emosi. Briella memejamkan mata, mencoba mencari sedikit kedamaian dalam pikirannya sebelum fajar menyingsing dan membawa kenyataan pahit lainnya dari hidupnya sebagai tawanan sang iblis.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!