NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Sisa Manis dan Riak di Penghujung Hari

Sisa-sisa manis es krim vanila dan cokelat itu mengiringi langkah mereka meninggalkan gerobak Pak Dirman. Matahari kian condong ke peraduannya, menyisakan pendar lembayung yang melukis langit senja dengan sapuan warna persik dan keemasan. Sinaca berjalan dalam diam, masih berusaha keras menormalkan ritme jantungnya setelah insiden kecil yang membuat wajahnya bersemu merah tadi.

Di sisinya, Jenawa melangkah dengan kedua tangan yang tertaut santai di belakang kepala. Pemuda itu sesekali melirik ke arah Sinaca, menikmati raut salah tingkah yang coba disembunyikan oleh sang gadis di balik ekspresi datarnya yang khas.

"Kau tahu, Sinaca," Jenawa memecah keheningan yang mengambang di antara mereka, suaranya mengalun pelan namun penuh godaan. "Sikap diammu ini jauh lebih memekakkan telinga daripada rentetan teguranmu. Apakah sisa es krim tadi sedemikian membekas di benakmu?"

Sinaca menghentikan langkahnya sejenak, memutar bola matanya meski ujung bibirnya berkedut menahan senyum. "Berhentilah membanggakan diri, Jenawa. Aku hanya sedang menyusun kembali perbendaharaan kataku yang sempat berserakan karena kelancanganmu memutarbalikkan kalimatku."

Jenawa tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang jarang sekali terdengar di lingkungan sekolah maupun jalanan. Tawa itu mengudara bebas, menghangatkan udara sore yang mulai terasa mendingin.

"Baiklah, baiklah. Aku menyerah untuk sore ini," ucap Jenawa seraya mengangkat kedua tangannya, pura-pura takluk. "Namun aku tak akan pernah menarik kembali rasa terima kasihku atas kebersamaan kita hari ini."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di depan pagar besi bercat putih gading. Pohon tanjung yang setia berdiri di sudut pekarangan seolah menyambut kepulangan mereka, memberikan keteduhan yang memisahkan dunia luar yang bising dengan ketenangan rumah Sinaca.

Sinaca membalikkan badannya, menatap Jenawa yang kini berdiri mematung di luar pagar. Sisa-sisa senja menyorot wajah pemuda itu, menonjolkan rahangnya yang tegas namun melembutkan sorot matanya yang kelam.

"Terima kasih atas es krim dan pengawalanmu sore ini, Jenawa," ucap Sinaca, suaranya mengalun tulus. "Ini adalah sebuah perjalanan pulang yang... jauh lebih menyenangkan dari yang kuduga."

"Pintu dan waktuku akan selalu terbuka jika kau menginginkan pengawalan yang sama di hari-hari esok," balas Jenawa tak kalah tulus. Pemuda itu menundukkan kepalanya sedikit, memberikan sebuah penghormatan kecil yang jenaka. "Masuklah. Udara malam mulai turun, dan aku tak ingin esok hari kau absen karena serangan flu."

Sinaca mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan pulang. Jangan singgah ke tempat yang memancing keributan."

Sebuah senyum tipis terukir di wajah Jenawa. "Aku telah berjanji, bukan?"

Sinaca membuka pagar, melangkah masuk, dan memberikan lambaian kecil sebelum menghilang di balik pintu kayu rumahnya. Jenawa berdiri di sana untuk beberapa saat, membiarkan aroma melati dan bunga tanjung meresap ke dalam ingatannya, sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah pergi.

Langkah kaki Jenawa terasa ringan saat ia menyusuri kembali jalanan perumahan. Namun, ketenangan yang baru saja ia cecap tak bertahan lama.

Baru beberapa ratus meter ia berjalan menjauhi kawasan perumahan Sinaca, dari arah persimpangan jalan, sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi dan mengerem mendadak tepat di hadapan Jenawa. Suara decit ban yang bergesekan dengan aspal memecah kesunyian petang.

Itu Seno. Wajah kawan karibnya itu merah padam, napasnya memburu, dan seragamnya tampak berantakan.

Insting jalanan Jenawa seketika mengambil alih. Aura lembut yang sedari tadi menyelimutinya menguap tanpa sisa, digantikan oleh sorot mata dingin seorang panglima yang siap menghadapi badai.

"Ada apa, Seno? Bukankah aku sudah berpesan untuk menungguku di kedai, atau pulang jika hari sudah larut?" tegur Jenawa dengan suara baritonnya yang menajam.

Seno turun dari motornya dengan tergesa. "Kita kecolongan, Wa! Agam benar-benar pengecut!"

Rahang Jenawa mengeras. "Bicara yang jelas. Apa yang terjadi?"

"Mereka memang tidak memblokir jalan utama seperti bualan mereka," Seno mengatur napasnya yang tersengal. "Namun saat kau sibuk mengawal siswi baru itu, komplotan Agam mencegat Bimo dan dua anak kelas sepuluh di gang utara dekat rel kereta. Mereka dikeroyok habis-habisan! Bimo saat ini ada di klinik Pak Husin dengan pelipis robek."

Darah di sekujur tubuh Jenawa seakan mendidih hingga ke ubun-ubun. Tangannya yang sempat menggenggam kehangatan kini mengepal sekeras batu bata. Ia telah menahan diri, menurunkan egonya demi menepati janji untuk tidak menyulut api. Namun Agam justru memanfaatkan keabsenannya untuk menikam barisannya dari belakang.

"Di mana mereka sekarang?" desis Jenawa, suaranya terdengar begitu pelan namun mengandung ancaman yang mematikan.

"Anak-anak Pelita sudah mundur setelah warga keluar," lapor Seno. "Tapi anak-anak kita di kedai sudah kalap, Wa. Mereka sudah menyiapkan balok dan rantai. Jika kau tidak segera mengambil alih, mereka akan menyerbu markas Pelita malam ini juga tanpa siasat."

Jenawa menengadah menatap langit senja yang kini telah sepenuhnya berganti menjadi malam yang kelam. Di dalam benaknya, wajah tenang Sinaca dan janjinya terbayang dengan jelas, berbenturan keras dengan wajah babak belur kawan-kawannya yang mengabdi padanya.

Sebuah pertentangan batin yang hebat menghantam dada Jenawa. Namun, sebagai seorang pemimpin, ia tahu tak ada pilihan untuk berpaling saat barisannya terluka.

"Nyalakan mesin motormu, Seno," perintah Jenawa mutlak. Ia melangkah naik ke boncengan motor kawan karibnya itu. "Kita ke klinik Pak Husin sekarang, setelah itu kita hentikan anak-anak di kedai sebelum mereka bertindak bodoh. Jika Agam menginginkan perang kotor, maka aku sendiri yang akan memastikan ia tak akan pernah bisa berdiri lagi."

Motor itu pun menderu membelah malam, membawa Jenawa menjauh dari janji kedamaian yang baru saja ia ukir, kembali menuju pusaran kerasnya jalanan yang menolak untuk melepaskannya.

1
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!