NovelToon NovelToon
Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Transmigrasi
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Di sebuah gang sempit yang teduh, Shen Yu berdiri sejenak. Tangannya bergerak cepat dan terampil – hanya dengan beberapa kali tepukan dan tarikan pada kain jubahnya...

Wush!

Dalam sekejap, penampilannya berubah total. Jubah merah darah yang mencolok dan berisik itu lenyap, berganti dengan sebuah Hangfu berwarna hitam pekat yang terlihat jauh lebih tenang namun tetap elegan.

Di bagian dada dan ujung lengan baju terdapat sulaman benang perak berbentuk bunga yang indah, memberikan sentuhan misterius namun tidak berlebihan.

Topeng rubahnya pun sudah ia simpan dengan aman ke dalam dimensi penyimpanannya. Kini wajahnya tampak biasa saja, tenang, dan tidak akan dikenali oleh siapa pun.

"Bagus... sekarang kembali ke mode 'orang biasa'," gumamnya sambil merapikan kerah bajunya. "Lebih aman begini."

Shen Yu melangkah keluar menuju jalan utama yang biasanya sangat sibuk. Namun hari ini, anehnya jalanan itu terlihat sangat sepi dan lengang – hampir tidak ada orang yang lalu lalang, dan toko-toko pun tampak lebih sepi dari biasanya.

Shen Yu mendengus pelan sambil melihat ke kiri dan kanan.

"Wajar saja sepi... semua orang pasti masih berkumpul di sana atau terjebak macet di jalanan dekat gedung lelang," pikirnya. "Mereka sibuk membahas siapa Li Huangfu dan siapa pemilik misterius itu, jadi lupa untuk beraktivitas biasa."

Ini justru sangat menguntungkan Shen Yu. Ia bisa berjalan dengan santai menyusuri pasar besar itu tanpa perlu berdesakan atau dicurigai orang.

Angin sore berhembus pelan membelai wajahnya. Shen Yu memasukkan tangan ke dalam lengan bajunya, berjalan santai menikmati suasana kota yang tenang ini.

"Enak juga jadi orang kaya... hati jadi tenang, pikiran jadi jernih," bisiknya dengan senyum."Sekarang... mari kita cari tempat makan yang enak buat merayakan keberhasilan hari ini."

Shen Yu tidak membuang waktu. Perutnya sudah mulai berbunyi minta diisi, dan pikirannya pun sudah tertuju pada rencana selanjutnya: menetap dengan nyaman.

Ia melihat sebuah kedai makan yang cukup besar dan bersih di ujung jalan. Meskipun sepi pengunjung, aromanya sangat menggugah selera. Shen Yu pun melangkah masuk dan memilih duduk di meja yang dekat jendela.

"Pelayan! Beri saya nasi putih, sup iga panas, dan tumis sayuran hijau. Jangan lupa tambahkan acar," pesannya dengan santai.

Sambil menunggu makanan datang, matanya memperhatikan sekeliling. Benar saja, bahkan di sini pun topik pembicaraan para pelayan dan sedikit tamu yang ada masih membahas soal lelang tadi.

"Hebat ya Tuan Li Huangfu... 20.000 tael emas hanya buat membeli kaca."

"Tapi katanya pemiliknya orang misterius,bukan permata kaca biasa."

Shen Yu hanya tersenyum tipis mendengarnya, lalu mengambil cangkir teh dan menyesapnya perlahan.

Setelah kenyang dan membayar dengan selembar uang perak kecil (yang bagi orang lain berharga, tapi baginya cuma receh), Shen Yu melanjutkan tujuannya.

Ia tidak ingin terus menginap di penginapan selamanya – itu merepotkan dan boros. Ia butuh tempat tinggal sendiri, tempat di mana ia bisa melakukan apa saja tanpa diawasi orang lain.

Shen Yu berjalan menuju arah kawasan perumahan dan tanah yang dijual. Di sana, biasanya terdapat papan pengumuman atau agen properti yang bisa membantunya.

"Kalau mau beli rumah... yang penting ada halaman luas buat taman, dan ada lantai atas buat ruang bacaanku," gumamnya sambil berjalan. "Jangan yang terlalu mewah sampai mencolok, tapi jangan yang terlalu kecil sampai pengap."

Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah papan kayu besar yang tertancap dipingiran jalan. Dia mendekati dan melihat informasi disana.Mata Shen Yu berbinar dengan senang.

"Wah... pas sekali. Lokasinya strategis, tidak terlalu di pusat kota tapi dekat dengan pasar. Dan harganya pasti masih masuk akal karena butuh uang cepat."

Shen Yu melangkah mendekat untuk melihat lebih detail, siap untuk melakukan pembelian besar pertamanya di kota ini sebagai orang kaya baru.

Setelah perut kenyang dan hati senang, Shen Yu tidak berlama-lama. Ia langsung menuju arah Balai Administrasi yang mengurus segala surat menyurat dan sertifikat kepemilikan tanah.

Meskipun gedung ini biasanya sibuk, hari ini terlihat lebih lengang karena sebagian besar pegawai dan pejabat kecil juga mungkin tertarik atau terlibat dalam keramaian lelang tadi.

Namun, petugas administrasi tetap ada yang berjaga.

Shen Yu melangkah masuk dengan santai namun sopan. Ia mendatangi meja pencatatan.

"Selamat siang, saya ingin bertanya," ucap Shen Yu ramah. "Bagaimana prosedur yang sah untuk membeli tanah dan rumah secara langsung? Dokumen apa saja yang harus saya siapkan dan bagaimana cara memindahkan nama pemiliknya?"

Petugas di balik meja itu menatap Shen Yu. Meskipun pemuda ini berpakaian sederhana, tatapan matanya tenang dan suaranya jelas.

"Oh, Tuan ingin membeli properti ya?" tanya petugas itu sambil merapikan tinta dan kertas. "Caranya mudah Tuan. Pertama, Tuan harus pastikan bahwa surat jamin tanah itu asli dan tidak sengketa. Lalu, kedua belah pihak membuat perjanjian jual beli di atas kertas bermaterai resmi."

Ia menjelaskan dengan sabar.

"Setelah harga disepakati dan uang ditransfer atau diserahkan, kalian berdua harus datang ke sini untuk melapor. Kami akan memeriksa keabsahan surat, mencatat perubahan kepemilikan, dan membuatkan Sertifikat Hak Milik yang baru atas nama Tuan. Itu yang membuat pembelian itu sah dan diakui hukum negara."

Shen Yu mengangguk-angguk mendengarkan dengan seksama.

"Jadi intinya... pastikan surat asli, buat perjanjian, lalu datang ke sini cap sidik jari dan dapat surat baru ya?" simpulnya cepat.

"Betul sekali, Tuan. Itu prosedur standarnya agar aman dan tidak ada masalah dikemudian hari."

"Baiklah, terima kasih infonya. Sangat membantu," ucap Shen Yu tersenyum lalu berpamitan.

Sekarang ia sudah paham jalannya. Tidak sulit ternyata.

'Bagus, rencana berjalan lancar. Besok atau lusa aku bisa langsung beli rumah impianku dan jadi tuan tanah resmi di Ibu Kota ini,' batinnya penuh semangat.

"Sudah punya uang, sekarang punya rumah. Hidup semakin sempurna."

Shen Yu tidak membuang waktu. Ia langsung menuju alamat yang tertera, sebuah perumahan yang cukup bergengsi namun tenang. Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu gerbang dengan sopan.

Tidak lama kemudian, seorang kepala pelayan keluar menyambut. Saat mendengar Shen Yu bermaksud membeli rumah tersebut, wajah pelayan itu langsung berseri-seri dan segera mempersilakannya masuk menunggu di ruang tamu.

Tak lama, datanglah seorang pria tua yang gagah namun terlihat sedikit lelah dan murung – ia adalah Tuan Xie, pemilik asli tanah tersebut.

Awalnya, saat melihat Shen Yu yang masih sangat muda dan berpakaian sederhana, Tuan Xie sedikit ragu.

'Masa anak muda segini sudah punya uang banyak buat beli rumah sebesar ini?' batinnya curiga. "Mungkin dia cuma anak orang kaya yang iseng main-main atau mau menawar murah."

Namun, saat mereka mulai berbincang, keraguan itu perlahan hilang. Shen Yu berbicara dengan bahasa yang sangat santun, logis, dan matanya tajam melihat detail properti itu. Ia bertanya soal struktur bangunan, batas tanah, hingga aliran air dengan sangat cerdas.

Tuan Xie pun mulai menaruh hormat. "Anak muda ini pasti bukan orang sembarangan. Pintar dan bijaksana."

"Baiklah, karena Tuan sungguh-sungguh," ucap Tuan Xie akhirnya, "Saya pasang harganya 120 tael emas. Itu harga yang sangat wajar untuk rumah sebesar dan seluas ini di lokasi strategis."

Shen Yu mengangguk tanpa berpikir lama.

"Sepakat. 1.200 tael emas. Saya bayar tunai sekarang juga," ucap Shen Yu dengan tegas.

Tuan Xie terkejut bukan main. "Baik! Cepat dan tegas! Saya suka berbisnis dengan orang sepertimu!"

Mereka pun langsung berangkat bersama ke Balai Kota untuk mengurus surat menyurat secara resmi dan sah. Prosesnya berjalan lancar. Setelah memeriksa batas tanah dan memastikan tidak ada sengketa, petugas mencatat perubahan nama pemilik.

"PROK!"

Cap sidik jari ditekankan di atas kertas merah. Sertifikat tanah kini resmi tertulis atas nama Shen Yu.

Saat urusan administrasi selesai, Shen Yu dengan santai mengambil dari ruang penyimpanannya dan mengeluarkan tumpukan emas batangan pas 120 tael tepat di meja.

KLIRING!

Tuan Xie menatap emas itu dengan mata berbinar, napasnya lega karena hutang keluarganya kini bisa terbayar lunas.

"Terima kasih, Tuan Shen! Selamat menempati rumah baru!" serunya penuh senang.

Mereka pun berpisah di depan gedung dengan hubungan yang sangat baik.

Shen Yu tidak langsung pulang ke penginapan. Ia berjalan menuju alamat barunya – rumah yang kini benar-benar miliknya sendiri!

Ia mendorong pintu gerbang kayu besar itu dan masuk ke dalam halaman.

Mata Shen Yu berbinar takjub melihat kondisi di dalamnya.

"Wow... sungguh luar biasa!" gumamnya takjub.

Rumah itu terdiri dari dua lantai, bangunannya kokoh dan arsitekturnya indah. Halamannya sangat luas, tertata rapi dengan beberapa pohon buah tua yang rindang. Dan yang paling penting, di bagian belakang terdapat sebuah sumur tua yang airnya jernih dan segar.

"Tempat ini sempurna!" Shen Yu berjalan mondar-mandir di halaman dengan wajah bahagia. "Ada ruang luas buat aku latihan atau sekadar bersantai, ada tempat buat kebun sayur dan bunga, dan sumurnya ada... jadi tidak perlu repot minta air ke orang lain."

Shen Yu tersenyum lebar menatap bangunan itu.

"Selamat Datang, Rumah Baru... Mulai hari ini, ini adalah istanaku sendiri!"

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!