Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar pergi.
Bukan karena kita tidak berusaha melupakannya. Tapi karena beberapa luka memilih tinggal, diam-diam, di sudut yang paling jarang kita sentuh.
Carisa terbangun saat matahari sudah hampir tinggi. Entah kenapa, tidurnya terasa sangat pulas, tidak seperti biasanya, ia hampir tidak pernah bangun sesiang itu.
Suasana kamar kosnya terasa sunyi.
Bukan sunyi yang biasa. Bukan sunyi kamar kos di hari Minggu. Ini sunyi yang berbeda, sunyi yang terasa seperti ada sesuatu yang hilang.
Ia mengulurkan tangan ke sisi ranjang di sebelahnya. Seperti mencari-cari sesuatu yang jelas tidak ada.
Carisa duduk perlahan. Rambutnya kusut, matanya masih berat, tapi ada sesuatu di dadanya yang tiba-tiba berdenyut tidak enak. Ia menatap sisi kamar yang biasanya penuh dengan sepatu, jaket, dan tumpukan buku milik Reynanda. Semua nya kosong, tidak ada apa-apa lagi di sana.
Carisa berdiri. Kakinya melangkah ke lemari, tidak ada apa-apa. Ke meja belajar, kosong juga. Ke gantungan jaket di belakang pintu, tetap sama, tak ada yang tersisa.
Ia mendorong pintu kamar mandi. Sikat gigi Reynanda sudah tidak ada. Botol sabun yang biasanya selalu di sudut kiri juga hilang.
"Nanda." Carisa memanggil namanya pelan, seperti orang yang tidak yakin apakah suaranya akan terdengar. Tidak ada jawaban. Hanya suara kipas angin yang berputar malas di langit-langit, dan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan.
Ia kembali ke ranjang. Duduk di tepi kasur yang masih menyimpan lekukan tubuh lelaki itu dan untuk pertama kalinya sejak terbangun, Carisa benar-benar diam.
Ia mengecek ponselnya. Tidak ada pesan di ponselnya. Tidak ada catatan juga di meja. Tidak ada apa-apa, yang bisa menjelaskan situasi saat itu.
Hanya aroma parfumnya yang masih menempel samar di sprei, lembut, hangat, seperti ia masih ada. Tapi sosoknya tidak ada.
Tiga minggu kemudian, Carisa berdiri di depan cermin kamar mandi kosnya yang sama.
Di tangannya, sebuah alat tes kehamilan.
"Dua garis." gumamnya.
Ia menatap hasil itu lama sekali, sampai matanya perih, sampai tangannya gemetar, sampai lantai terasa seperti sedang bergerak di bawah kakinya. Ia sudah menghitung ulang. Sudah memeriksa dua kali dengan alat yang berbeda. Hasilnya sama.
Dua garis.
Carisa perlahan merosot ke lantai. Punggungnya bersandar ke dinding kamar mandi yang dingin. Dan untuk pertama kalinya sejak Reynanda pergi, ia menangis. Bukan isak kecil lagi. Bukan tangis yang bisa ditahan. Tapi tangis yang keluar dari tempat yang sangat dalam, dari bagian dirinya yang bahkan tidak tahu kata-kata untuk menjelaskan apa yang sedang ia rasakan.
Ia hamil.
Dan lelaki yang seharusnya ada di sini, yang seharusnya mendengar kabar ini bersamanya, sudah pergi tanpa meninggalkan satu kata pun.
Carisa memeluk lututnya sendiri di lantai kamar mandi itu.
Di luar, dunia berjalan seperti biasa. Mahasiswi lalu lalang di lorong kos. Seseorang memutar musik keras di kamar sebelah. Matahari bersinar terang di luar jendela kecil yang setengah terbuka.
Tapi di dalam kamar mandi itu, seorang perempuan duduk sendirian, menggenggam alat tes kehamilan dengan dua garis yang mengubah segalanya, tanpa satu pun orang yang bisa ia mintai tolong.
Reynanda.
Namanya terucap seperti doa. Seperti kutukan. Seperti keduanya sekaligus.
Kamu pergi ke mana?
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak