Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13
Dua hari setelah pertemuan negosiasi yang menegangkan dengan Nadia Pramudya, Yvone menemukan dirinya duduk di sudut sebuah kafe eksklusif di kawasan Senopati. Di hadapannya terbentang draf kontrak kerja sama setebal dua puluh halaman dengan biro arsitektur milik Rangga Susilo.
"Kau yakin tidak ingin membawa kontrak ini ke tim legal suamimu dulu?" Rangga bertanya dengan nada setengah bercanda sambil menyerahkan sebuah pena fountain ke arah Yvone. Pria itu tampak santai dengan kemeja flanel yang digulung, memancarkan aura easy-going yang selalu menenangkan suasana.
Yvone tersenyum tipis, mengambil pena tersebut. "Alexander Group mengurus proyek triliunan, Rangga. Aku meragukan tim legal mereka punya waktu untuk membaca kontrak desain interior butik hotel."
Lebih dari itu, Yvone ingin ini menjadi pencapaiannya sendiri. Sesuatu yang berada di luar cengkeraman kekuasaan Dylan, meskipun suaminya sendirilah yang menyuruhnya mengambil langkah ini.
Dengan tarikan napas mantap, Yvone menggoreskan tanda tangannya. Ia kini resmi menjadi kepala desainer interior untuk proyek tersebut.
"Selamat bergabung di tim utama, Yvone," Rangga tersenyum lebar, menjabat tangan Yvone dengan hangat. "Kita akan meninjau pemilihan material marmer lusa. Aku akan—"
"Wah, wah. Pemandangan yang sangat menyentuh. Nyonya Dylan Alexander Hartono sedang bermain proyek kecil-kecilan di kafe."
Sebuah suara pria yang sangat familiar dan sangat tidak ingin Yvone dengar lagi seumur hidupnya memotong ucapan Rangga.
Yvone mendongak. Tubuhnya seketika menegang.
Berdiri hanya beberapa langkah dari meja mereka adalah Kevin Pratama. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu mengenakan kemeja branded yang pas badan, rambutnya ditata dengan pomade mahal, dan senyum sinis tersungging di bibirnya. Kevin adalah pengusaha rintisan (startup) di bidang logistik. Dan yang lebih penting... ia adalah mantan kekasih Yvone.
Pria yang mencampakkannya melalui pesan teks tepat satu jam setelah berita penangkapan Budi Larasati meledak di media, dengan alasan 'tidak ingin reputasi perusahaannya terseret skandal korupsi'.
"Kevin," sebut Yvone, suaranya mendingin. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Jakarta ini sempit, Yvone," Kevin menarik kursi di meja sebelah dan memutar posisinya agar bisa menatap Yvone terang-terangan. Matanya memindai penampilan Yvone yang kini dibalut barang-barang mewah. Kilat kecemburuan dan kegetiran terpancar jelas dari matanya. "Dan kau... kau melesat terlalu cepat. Satu bulan yang lalu kau menangis memohon padaku untuk meminjamkan uang jaminan ayahmu. Bulan ini, kau sudah memakai gaun desainer dan dijaga oleh bodyguard di luar sana. Berapa harga yang kau berikan pada si brengsek Hartono itu untuk menebusmu?"
"Jaga bicaramu!" Yvone menggebrak meja, amarahnya seketika tersulut.
Rangga, yang menyadari situasi memanas, langsung berdiri dan menempatkan tubuhnya di antara Kevin dan Yvone. Sorot mata ramah sang arsitek lenyap, digantikan oleh ketegasan protektif.
"Maaf, Kawan. Aku tidak tahu siapa kau, tapi kau mengganggu rekan kerjaku. Silakan tinggalkan meja ini sebelum aku memanggil pihak keamanan," ucap Rangga dengan nada rendah yang memperingatkan.
Kevin mendecak remeh, menatap Rangga dari atas ke bawah. "Rekan kerja? Oh, jadi kau adalah mainan barunya saat suaminya yang miliarder itu sedang sibuk? Yvone, seleramu rupanya mudah ditebak. Kau selalu suka pria yang bisa kau manfaatkan."
Yvone berdiri, wajahnya memerah padam, tangannya gemetar menahan dorongan untuk menampar wajah arogan itu. Ia mengingat bagaimana ia dulu pernah mencintai pria pengecut ini. Kini, melihat Kevin hanya membuatnya merasa jijik.
"Satu-satunya orang yang memanfaatkanku adalah kau, Kevin," desis Yvone, melangkah maju dari balik punggung Rangga. Ia menegakkan dagunya, mengingat kembali zirah sutra yang diajarkan Tara dan Dylan. "Kau pergi saat aku berada di titik terendah. Jangan berani-berani muncul sekarang dan bersikap seolah kau memiliki hak untuk menilai hidupku."
Kevin menyeringai jahat. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Yvone. "Kau pikir kau sudah aman di menara kaca Alexander Group? Kau hanyalah perisai, Yvone. Seseorang yang jauh lebih berkuasa dari suamimu menghubungiku kemarin. Mereka sangat tertarik mendengarkan cerita tentang 'Nona Larasati yang sesungguhnya'."
Darah Yvone berdesir dingin. Nadia Pramudya. Wanita itu tidak main-main. Ia telah menggali masa lalu Yvone dan merekrut Kevin sebagai anjing penyerangnya.
Sebelum Kevin sempat membuka mulut lagi, dua sosok besar berjas hitam bergerak serempak memasuki kafe. Tim pengawal Yvone. Mereka melangkah cepat, wajah mereka sedingin batu, dan langsung berdiri menjulang di kedua sisi Kevin.
"Ada masalah, Nyonya?" tanya salah satu pengawal, matanya mengunci Kevin dengan tatapan intimidasi yang membuat nyali pria itu seketika menciut.
Yvone menelan ludah, menatap Kevin yang kini menegang di kursinya. "Tidak ada. Tuan ini baru saja akan pergi."
Kevin buru-buru berdiri, merapikan kerah kemejanya yang tidak kusut untuk menutupi kegugupannya. Ia menatap Yvone dengan kebencian yang nyata. "Kita belum selesai, Vone. Sangkar emasmu itu tidak akan bisa melindungimu dari kehancuran."
Pria itu berbalik dan setengah berlari keluar dari kafe, dikawal ketat oleh pandangan mengancam dari kedua bodyguard Dylan.
Rangga membuang napas panjang, menatap Yvone dengan penuh simpati. "Kau baik-baik saja? Siapa pria brengsek itu?"
"Hantu dari masa lalu," bisik Yvone, tangannya masih sedikit gemetar saat ia memegang sandaran kursi. "Maafkan aku, Rangga. Aku telah membawa drama pribadiku ke dalam pekerjaan kita."
"Hei, tidak perlu meminta maaf," Rangga menyentuh bahu Yvone pelan, mencoba menenangkan. "Di dunia ini, siapa yang tidak punya hantu? Jika dia mengganggumu lagi, biarkan aku yang menghadapinya."
Yvone memaksakan seulas senyum, meski hatinya diliputi kepanikan yang luar biasa. Jika Nadia sudah menjangkau Kevin, apa lagi yang sedang direncanakan oleh putri politik itu?
Dua jam kemudian, Yvone kembali ke penthouse.
Ruang tengah yang luas itu tidak kosong. Dylan sedang berdiri di depan dinding kaca raksasa, menatap pemandangan kota yang mulai temaram. Pria itu sudah melepaskan jas dan dasinya. Lengan kemejanya digulung, dan di tangan kanannya terdapat segelas whiskey yang isinya tinggal setengah.
Atmosfer di dalam ruangan itu begitu berat, seolah udara dipompa keluar hingga sulit untuk bernapas.
Mendengar suara langkah kaki Yvone, Dylan memutar tubuhnya perlahan. Matanya yang tajam dan kelam langsung menusuk Yvone.
"Kevin Pratama," ucap Dylan. Dua kata itu meluncur dari bibirnya layaknya vonis mati.
Langkah Yvone terhenti. Ia tidak terkejut pria itu sudah tahu pengawalnya pasti langsung melaporkan insiden di kafe tadi secara real-time.
"Dia mantan pacarku," Yvone mengakui dengan suara pelan, meletakkan tasnya di atas meja konsol. "Dia mencampakkanku saat kasus Ayah meledak."
"Aku tahu siapa dia," Dylan mengambil langkah panjang mendekati Yvone. Rahangnya mengeras. "Yang aku tidak suka adalah fakta bahwa pria rendahan seperti dia bisa berada dalam jarak kurang dari satu meter darimu, berteriak di depan umum, sementara arsitek kesayanganmu itu bermain pahlawan kesiangan."
"Rangga hanya mencoba menolong," Yvone membela diri, yang ternyata merupakan sebuah kesalahan.
Mata Dylan seketika menggelap. Pria itu meletakkan gelas whiskey-nya ke atas meja terdekat dengan bunyi dentingan keras, lalu memangkas sisa jarak di antara mereka. Ia berdiri menjulang di hadapan Yvone, auranya memancarkan posesivitas yang mengintimidasi.
"Kau adalah istriku," desis Dylan tepat di depan wajah Yvone. "Tidak ada pria lain yang boleh bermain pahlawan untukmu. Pengawalkulah yang akan membereskan hama seperti Kevin. Bukan Rangga Susilo."
Yvone mendongak, menolak untuk gentar. "Kenapa kau marah pada Rangga? Kevin adalah masalah sebenarnya! Dia bilang seseorang yang berkuasa menghubunginya. Itu pasti Nadia, Dylan. Nadia menggunakan Kevin untuk menjatuhkanku."
"Aku tahu itu Nadia!" Dylan membentak, suaranya menggema di seluruh penthouse.
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, tampak frustrasi. "Nadia menyuntikkan dana sebesar lima miliar ke startup Kevin yang sedang sekarat pagi ini. Sebagai imbalannya, Kevin bersedia memberikan wawancara eksklusif ke sebuah tabloid kuning akhir pekan ini. Dia akan menyebarkan cerita bahwa kau meninggalkannya demi uang Alexander Group, dan bahwa kau mendanai proyek fiktif ayahmu menggunakan uang perusahaanku."
Wajah Yvone seketika memucat. "Itu bohong! Itu akan menghancurkan citramu dan membuat Ayah terlihat semakin bersalah!"
"Aku bisa mengurus Kevin. Aku bisa memblokir media mana pun yang berani menerbitkan wawancara itu," Dylan menatap Yvone lekat-lekat, kilat kemarahan di matanya mulai tergantikan oleh kewaspadaan yang sangat dalam. "Tapi ini bukan hanya tentang Kevin, Yvone. Nadia tidak menembak dengan satu peluru. Serangannya terkoordinasi."
Tiba-tiba, ponsel khusus di saku celana Dylan bergetar hebat. Itu bukan nada dering biasa; itu adalah saluran darurat yang dienkripsi.
Dylan segera mengambilnya. "Marco. Ada apa?"
Yvone memperhatikan wajah suaminya. Dalam hitungan detik, ekspresi Dylan berubah dari tegang menjadi sangat dingin sebuah kekosongan mematikan yang jauh lebih menakutkan daripada amarahnya yang meledak-ledak.
"Kapan?" tanya Dylan pelan, matanya tidak lepas dari Yvone. "...Amankan koridornya. Pindahkan perawatnya ke safe house. Jangan biarkan satu informasi pun bocor ke pihak sipir lapas."
Dylan mematikan sambungan telepon itu. Ia menatap ponsel di tangannya sejenak sebelum memasukkannya kembali ke saku.
"Apa yang terjadi?" suara Yvone bergetar. Firasat buruk mencekik lehernya. "Dylan, katakan padaku."
Pria itu melangkah maju. Tangannya yang besar dan hangat terangkat, memegang kedua bahu Yvone dengan erat. Bukan cengkeraman peringatan, melainkan cengkeraman untuk menopang.
"Setengah jam yang lalu," ucap Dylan lambat-lambat, "tim keamananku di rutan mencegat sebuah nampan makanan yang ditujukan untuk ayahmu."
Mata Yvone melebar. Napasnya tertahan.
"Nampan itu dibawa oleh perawat pengganti," lanjut Dylan, suaranya memberat. "Ada dosis mematikan obat pengencer darah yang dilarutkan ke dalam sup ayahmu. Jika dimakan... itu akan memicu pendarahan internal yang akan terlihat seperti serangan jantung alami dalam hitungan menit."
Dunia di sekeliling Yvone seolah berhenti berputar. Udara tersedot habis dari paru-parunya.
"Ayah..." Yvone terhuyung mundur, namun cengkeraman kuat Dylan menahan tubuhnya agar tidak ambruk. Air mata kepanikan langsung merebak di pelupuk matanya. "Mereka mencoba membunuhnya. Nadia... Hadi... mereka mencoba membunuh ayahku!"
"Ayahmu selamat, Yvone. Orang-orangku bekerja tepat waktu," Dylan mengguncang bahu Yvone pelan, memaksa wanita itu fokus pada matanya. "Tatap aku."
Yvone mendongak, wajahnya basah oleh air mata, tubuhnya bergetar hebat.
"Selama aku bernapas, tidak akan ada yang bisa menyentuh keluargamu," sumpah Dylan, matanya menyala dengan tekad baja yang tak tergoyahkan. Itu bukan janji dari seorang CEO, melainkan janji dari seorang pelindung.
Pria itu menarik Yvone ke dalam pelukannya. Tangannya yang besar mengusap rambut Yvone, mendekap kepala wanita itu ke dada bidangnya. Yvone bisa mendengar detak jantung Dylan yang berpacu kencang di balik kemejanya. Aroma maskulin pria itu menjadi satu-satunya hal yang terasa nyata di tengah mimpi buruk yang mengepungnya.
"Jakarta sudah tidak aman," gumam Dylan, dagunya bersandar di puncak kepala Yvone, matanya menatap tajam ke luar jendela menembus kegelapan malam.
"Nadia telah mengubah pertempuran politik ini menjadi ancaman fisik. Mereka mulai putus asa, dan orang putus asa adalah orang yang paling berbahaya."
Dylan melepaskan pelukannya perlahan, menangkup wajah Yvone yang basah oleh air mata dengan kedua tangannya. Ibu jarinya menghapus jejak air mata itu dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kepribadiannya.
"Kita akan mempercepat rencana," ucap Dylan mutlak.
"R-Rencana apa?" Yvone terisak pelan.
"Proyek Bali. Kita tidak akan menunggunya dari sini," Dylan menatap lurus ke dalam mata Yvone, matanya menyiratkan keputusan final. "Pak Joko sedang mengemasi barang-barangmu. Jet pribadi sudah disiapkan di Halim. Besok pagi, kita pindah ke Bali."
Yvone terkesiap. "Ke... Bali? Tapi bagaimana dengan proyekku? Bagaimana dengan Ayah?"
"Ayahmu akan dipindahkan malam ini juga ke fasilitas medis privat kita di bawah penjagaan pasukan taktis. Mereka tidak akan bisa menemukannya. Dan proyek desainmu... kau akan mengerjakannya dari sana," jawab Dylan tanpa celah.
Pria itu menunduk sedikit, hidungnya nyaris bersentuhan dengan hidung Yvone. Napasnya yang hangat menerpa bibir Yvone yang bergetar.
"Di Jakarta, mereka mengira bisa memburu kita," bisik Dylan dengan suara serak yang mematikan. "Tapi di Bali, itu adalah wilayah kekuasaanku. Aku akan mengurungmu di sana hingga badai ini selesai. Tidak akan ada Nadia, tidak ada Sinta, dan sama sekali tidak ada Kevin atau arsitekmu itu."
Ketegangan di udara kembali berubah. Dari ketakutan, bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih intens, lebih memabukkan. Dominasi posesif pria itu seolah mengikat Yvone dalam rantai pelindung yang tak kasatmata.
"Kau milikku, Yvone," tegas Dylan, tatapannya menyapu bibir Yvone sebelum kembali ke matanya. "Dan aku tidak membiarkan siapa pun menyentuh milikku."