Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-06
Ruangan rapat yang luas dan dingin itu kini dipenuhi oleh para manajer dan kepala divisi. Suasana terasa sangat tegang. Di ujung meja yang paling besar, duduklah Arkan dengan wajah datar namun tatapannya sedingin es.
Nara berdiri di sampingnya, memegang tumpukan berkas dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia berusaha tampil profesional, meski jantungnya sudah berdegup kencang memprediksi bencana.
"Baik, kita mulai rapatnya," ucap Arkan dingin. Ia menoleh sedikit ke arah Nara. "Berkas presentasi untuk proyek Greenwood, berikan ke saya."
Nara segera menyerahkan map tebal itu dengan sigap. "Ini, Pak."
Arkan membuka map tersebut, lalu matanya menyapu isi kertas di sana. Hening... hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibalik.
Semua orang di ruangan itu menahan napas. Mereka tahu, kalau Bos sedang bad mood, satu kesalahan kecil saja akan bisa jadi bencana besar.
Tiba-tiba...
Brak!
Arkan menutup map itu dengan keras hingga membuat semua orang tersentak. Wajahnya berubah masam, alisnya terangkat tinggi menatap Nara dengan tatapan tajam yang membunuh.
"Nara..." panggilnya pelan, tapi suaranya bergema di seluruh ruangan.
"I-iya, Pak?" jawab Nara takut-takut.
"Apa ini?" tanya Arkan sambil menunjuk salah satu halaman. "Saya suruh cetak yang berwarna, kenapa ini hitam putih? Apa mata kamu buta atau saya yang kurang jelas bicara?!"
Nara terbelalak. "E-eh? Tadi kan Bapak bilang cetak biasa aja biar hemat kertas, Pak..."
"JANGAN BANTAH!!!" bentak Arkan membuat dinding ruangan seakan bergetar. "Saya bilang cetak yang jelas! Grafik ini kan gelap semua! Bagaimana saya mau jelaskan ke direksi kalau bahannya aja berantakan begini?! Kamu ini kerja pakai hati atau pakai kaki sih?!"
Nara terdiam, pipinya memerah menahan malu. Rasanya ingin masuk ke lubang tikus saja. Padahal ini kan kesalahan sepele, cuma soal warna cetakan, tapi Arkan bisa-bisanya membesar-besarkannya di depan semua staf.
"Maafkan saya, Pak... saya perbaiki sekarang juga," ucap Nara lirih, menunduk dalam.
"Sudah telat! Rapat mau dimulai sekarang!" Arkan mendengus kasar, lalu melempar map itu ke atas meja sembarangan. "Dasar ceroboh! Sudah tua tapi pikiran masih kekanak-kanakan. Gak bisa diandelin sama sekali! Cuma di suruh gini doang tetap salah!"
Para karyawan lain hanya bisa saling pandang, tak ada yang berani bersuara. Mereka juga kasihan pada Bu Nara, tapi siapa yang berani melawan sang Raja Es itu?
Air mata Nara hampir tumpah, tapi ia kuat menahannya. Iya... iya... aku ceroboh... aku tidak becus... yang penting gaji aman... yang penting gaji aman... batinnya berulang-ulang seperti mantra.
"Ambil ini! Salin lagi sekarang! Cepat! Jangan sampai lima menit belum ada di meja saya!" tunjuk Arkan ketus.
"Siap, Pak!"
Dengan langkah gontai dan hati yang panas, Nara mengambil kembali berkas itu dan berbalik badan keluar dari ruangan rapat. Begitu pintu tertutup, ia menghentakkan kakinya kesal.
"Sialan! Sialan! Dasar bos aneh! Masalah cetak mencet aja bisa ngamuk! Orang tua katanya...hah! emang dia muda banget apa! Umur 35 tahun kelakuan kayak preman pasar!" gerutunya sambil berjalan cepat menuju ruang fotokopi.
________
rapat kembali berjalan dengan lancar tanpa ada kesalahan lagi.
Beruntung, cetakan kedua yang dibawa Nara sudah sesuai dengan keinginan si Bos. Grafik terlihat jelas, data tersusun rapi, sehingga Arkan bisa memaparkan strategi perusahaan dengan penuh percaya diri.
Suasana yang tadinya mencekam, perlahan berubah menjadi profesional. Arkan berbicara dengan logika yang tajam, pandai menjawab segala pertanyaan dari kepala divisi, dan memberikan arahan yang tegas. Meskipun galak dan pemarah, tak bisa dipungkiri bahwa pria ini memang jenius dan sangat pantas memimpin perusahaan sebesar ini.
Nara berdiri di sudut ruangan, memegang clipboard dan pulpen, siap sedia jika ada yang diminta. Matanya sesekali melirik tajam ke arah punggung lebar itu.
Hmph, pamer aja tuh kemampuan. Padahal tadi nyari masalah terus', batinnya mendengus kesal. Namun diam-diam ia mengakui, saat Arkan serius bekerja, pesona ketampanannya memang memancar luar biasa. Sayang sekali, sayang sekali... sifatnya yang menyebalkan itu menjadi nilai minum dimata Nara.
Rapat pun usai tepat waktu.
"Baik, saya rasa cukup sampai di sini. kerjakan tugas kalian masing-masing dengan baik. Saya tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun di tahap eksekusi," ucap Arkan penutup sambil merapikan berkas di tangannya.
"Siap, Pak!" serempak semua karyawan.
Para manajer dan staf satu per satu keluar dari ruangan rapat dengan langkah cepat, seolah-olah baru saja lolos dari bahaya. Beberapa di antaranya menyempatkan diri mengangguk hormat dan memberikan senyum simpati pada Nara, yang hanya dibalas dengan senyum kecut oleh wanita itu.
Hingga akhirnya, ruangan itu hanya menyisakan Nara dan Arkan.
Nara segera bergerak sigap membereskan sisa-sisa dokumen di meja rapat yang panjang itu. Ia berniat ingin cepat-cepat kabur sebelum bosnya menemukan kesalahan baru lagi dan mengomelinya lagi,sudah cukup untuk hari ini ia di omeli terus.
Namun, baru saja ia memungut satu map, suara berat itu kembali terdengar.
"Nara..."
Jantung Nara berdegup kencang. Ya Allah... kenapa lagi sih? Rapat kan udah selesai! batinnya menjerit. Ia menoleh dengan wajah pasrah, siap menerima perintah yang membuat darahnya naik.
"Iya, Pak? Ada yang kurang?" tanyanya hati-hati.
Arkan sedang berdiri membelakangi jendela kaca besar, memasukkan tangan ke dalam saku celana bahan nya. Wajahnya kembali datar, tidak semarah tadi, tapi tatapannya masih sulit ditebak.
"Kopi..." ucapnya singkat.
"Hah?"
"Kopi... buatin yang baru. Yang manis. Dan kali ini... jangan salah takarannya," ucap Arkan dengan nada yang terdengar lebih santai, meski masih terdengar ketus.
Nara mengatupkan rahangnya. Dasar manusia tak pernah puas! Baru aja dimarahin gara-gara kurang manis, sekarang minta manis lagi!
"Siap, Pak. Kopi manis spesial segera datang," jawab Nara dengan senyum terpaksa.
Arkan berjalan melewati Nara, tapi tiba-tiba ia berhenti tepat di samping bahu wanita itu. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi tubuh pria itu menyeruak indra penciuman Nara.
"Oh iya..." bisik Arkan pelan, tepat di telinga Nara, membuat wanita itu tersentak. "Terima kasih... rapatnya lancar."
Deg!
Nara terpaku diam. Matanya membelalak tak percaya.
Barusan... barusan dia bilang terima kasih?!
Sebelum Nara sempat memproses apa yang baru saja terjadi, Arkan sudah melangkah keluar ruangan dengan langkah santai dan angkuh, meninggalkan Nara yang masih mematung memegang map di tangannya.
"Dia... dia bilang makasih? Atau telinga aku yang rusak gara-gara sering denger teriakan dia?" gumam Nara bingung, campur aduk antara kesal dan anehnya jantung berdebar tak karuan.
BERSAMBUNG...