Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
alun alun tahun 80 an
Alun-Alun Tahun 80
Matahari sinarnya cukup terik. Langit biru bersih, nggak ada polusi. Tapi nggak bikin semangat bocah 4 tahun luntur. Justru makin nyala.
Siangnya Anna beneran bawa Cikal ke alun-alun. Taun 80-an. Nggak banyak kendaraan lalu-lalang. Nggak ada motor seliweran, nggak ada klakson berantem. Cuma delman _klok-klok-klok_ sama becak _ting-ting_ yang jadi transportasi umum. Bunyinya adem, bukan bising.
Mata Cikal keliling. Nggak berhenti. Kepala muter kiri-kanan kaya antena. Bukan cuma liat ruko-ruko, plang bioskop, sama perpustakaan daerah. Kali ini semuanya keliatan. Tukang gulali, balon gas warna-warni, komedi puter, tukang foto polaroid.
Dunia baru buat anak umur 4 tahun yang dari lahir ngabisin waktu di lahan kosong belakang rumah orang. Di pasar, di klinik kumuh, di bedeng triplek. Dunianya cuma selokan sama dagangan.
Bau tahun 80-an masih betul-betul kentara. Bau aspal panas, bau minyak angin, bau kacang rebus, bau cat tembok baru. Bau yang nggak ada di 2026.
Nggak cuma Cikal. Anna juga nggak kalah senengnya. Matanya nyala.
Di abad 21, Anna cuma neliti barang-barang yang udah jadi rongsokan. Telepon umum karatan. Kaset pitak. Majalah Bobo lecek. Semua masuk museum.
Tapi sekarang? Anna liat barang itu lagi jalan, hidup, kepake. Telepon umum dipake nelpon, kaset diputer di toko, Majalah Bobo masih anget dari percetakan. Kaya nemu harta karun. Masih baru, masih nyala, padahal puluhan tahun ke depan barang itu cuma tinggal nama, tinggal foto di Google.
Anna ajak Cikal banyak hal. Daftarnya panjang. Baca buku di perpusda — gratis, nggak lolos, sampe petugasnya bilang “Udah, Dik, besok lagi”. Makan es krim M*_s cuma 100 perak, leleh-leleh belepotan. Naik delman keliling alun-alun, kudanya namanya Bento, Cikal nyapa-nyapa kaya kenal lama.
Pulangnya nggak pake Jeep dinas. Nggak mau. Anna milih dibuntutin becak. Keringetan, tapi ketawa. Di belakang, tetep ada 2 tentara naik Jeep, jaga jarak, tugas ngawal Ibu Negara sama calon pewaris. Tapi Anna cuek. Biarin. Hari ini dia mau jadi ibu biasa.
Memorinya kaya direset. Memory cache tentang pintu kebuka, sutra merah, poci pecah — ketimpa semua. Diganti kenangan manis: ibu dan anak jalan-jalan, jajan, ketawa sampe sakit perut.
Sampe rumah, Anna turun dari becak. Nggak langsung masuk ke rumah utama. Kakinya belok, nuntun tangan Cikal ke halaman belakang.
Ada danau kecil. Airnya jernih, dasarnya keliatan. Di seberangnya, suguhan pemandangan kebun teh yang luas, hijau, sampe ke kaki gunung. Anginnya beda. Dingin, bersih.
Anna bawa Cikal ke bawah pohon mangga. Gede, rindang. Di bawahnya ada gazebo kecil dari kayu, catnya udah ngelupas. Tempat nyantai Komandan Rangga kalo lagi mumet. Sekarang jadi tempat ngadem ibu dan anak setelah seharian jalan-jalan.
Angin nyapu muka. Adem. Cikal selonjoran, kaki kecilnya goyang-goyang. Pipinya merah kebakar matahari, tapi senyumnya lebar.
"Cikal lebih suka di sini atau di rumah Kakek Arjuna?" tanya Anna. Sambil masih ketawa-ketawa kecil, puas abis jalan-jalan. Tangannya ngipas-ngipas pake Majalah Bobo bekas.
Cikal diem dulu. Mikir. Ngupil dikit, terus, "Suka di sini," jawabnya. Jujur. "Anginnya enak. Mangga-nya banyak. Kakek Rangga lucu."
Terus wajahnya yang tadi sumringah, pelan-pelan lesu. Bibirnya manyun. "Tapi di sini... nggak ada Paman Jahat."
Satu kalimat. Pelan. Tapi nampol ulu hati Anna.
Anna diem. Kipasnya berhenti.
Biarpun bukan jadi bapak, biarpun belum dipanggil Ayah, biarpun kelakuannya minggu lalu kaya setan, tapi Chandra udah ada di hati anaknya. Nyempil. Nggak bisa dihapus pake es krim atau odong-odong.
Andai Chandra nggak gegabah. Andai malam itu dia tutup pintu. Andai dia tahan nafsu 5 menit. Nggak akan sulit buat Cikal ganti panggilan. Dari “Paman Jahat” ke “Ayah”. Mungkin tinggal satu kali gendong, satu kali dongeng.
Tapi sekarang? Pangkat “Ayah” kerasa jauhnya kaya Jakarta-Papua. Jalan kaki.
Anna narik napas. Ngelus rambut Cikal yang lepek. "Paman Jahat lagi dinas, Le," bohongnya. Boong putih. "Nanti kalo dia udah... pinter, dia nyusul ke sini."
Cikal ngangguk. Percaya aja. Terus nyender ke paha Anna, matanya merem. Capek. Kenyang. Bahagia, tapi ada bolongnya.
Di atas mereka, daun mangga goyang kena angin. Rontok satu, jatuh di samping gazebo.
Anna natap danau. Tenang di permukaan, tapi dia tau di dalemnya dalem. Kaya hati dia sekarang.
lnjut thor