NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 8: Sang Paku Bumi yang Dirindukan

Setelah pertempuran besar semalam, Kyai Ahmad memerintahkan Faris untuk melakukan ziarah ke salah satu makam wali di pinggiran Surabaya. Faris berangkat dengan hati yang masih dipenuhi tanda tanya soal potongan topeng kayu dan ancaman Herman.

Sesampainya di area pemakaman yang tenang dan dikelilingi pohon kamboja tua, Faris melihat sesosok pria duduk bersila di bawah pohon beringin. Pria itu memakai jubah putih bersih, wajahnya tenang namun memancarkan wibawa yang sangat besar—jauh melampaui wibawa Faris sebagai Panglima Terminal.

Jantung Faris berdegup kencang. Ia mengenali siluet itu. Ia mengenali cara pria itu duduk.

"Kangmas... Arjuna Hidayat?" puji Faris lirih.

Pria itu membuka mata, lalu tersenyum tipis. "Lama tidak bertemu, Dikmas Faris. Kamu sudah tumbuh besar... dan sudah memakai sarung dengan benar."

Faris langsung mendekat dan bersimpuh di depan kakaknya. Air mata yang selama ini ia tahan di depan anak buahnya, kini tumpah. Di depan Arjuna Hidayat, Faris bukan lagi Panglima Terminal yang ditakuti, ia hanyalah seorang Dikmas yang merindukan sosok pelindungnya.

"Kangmas... kenapa baru muncul sekarang? Faris sendirian menjaga warisan Bapak," ucap Faris tersedu.

Faris bisa merasakan aura yang sangat kuat dari kakaknya. Ia sadar, jika dirinya adalah penjaga pesantren, maka Arjuna Hidayat adalah sosok yang lebih besar—dialah sang Paku Bumi Sidoarjo yang sebenarnya, penjaga keseimbangan gaib di seluruh wilayah Sidoarjo.

"Tugas kita berbeda, Dikmas. Aku harus menjaga pondasi di alam yang tidak terlihat agar kalian yang di pesantren bisa berjuang di alam nyata," jawab Arjuna Hidayat sambil mengusap kepala adiknya.

Faris kemudian teringat sesuatu yang membuatnya cemas. "Kangmas... ayo pulang. Simbok sedang sakit di rumah. Beliau terus memanggil namamu. Insyaallah kalau Kangmas pulang, Simbok langsung sembuh. Beliau cuma rindu, Kang."

Arjuna Hidayat terdiam sejenak, menatap langit yang mulai jingga. "Simbok... maafkan aku yang terlalu lama mengembara dalam tugas ini."

"Ayo Kang, terminal bisa menunggu, pesantren sudah aman untuk sementara. Tapi Simbok tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Mari kita pulang ke Gedangan," ajak Faris dengan nada memohon.

Arjuna Hidayat berdiri, jubah putihnya berkibar ditiup angin sore yang wangi melati. "Baiklah, Dikmas. Mari kita temui Simbok. Tapi ingat, kepulanganku mungkin akan membawa badai yang lebih besar dari semalam. Karena para pengejar Paku Bumi tidak akan membiarkan kita berkumpul dalam damai."

Faris mengangguk mantap. Ia tidak takut lagi. Kini, dua bersaudara "Panglima" itu telah bersatu. Sidoarjo dan Al-Huda memiliki dua penjaga yang tak akan terkalahkan.

Perjalanan dari makam wali menuju kediaman Simbok di Gedangan terasa begitu singkat bagi Faris. Di sampingnya, Kangmas Arjuna Hidayat berjalan dengan langkah yang seolah-olah tidak menyentuh tanah. Setiap orang yang berpapasan dengan mereka secara tidak sadar menunduk, seolah merasakan aura sejuk yang memancar dari sang Paku Bumi Sidoarjo itu.

Begitu sampai di gerbang pesantren, Jono dan Brewok yang sedang berjaga sambil mengunyah kacang rebus langsung tersedak. Mereka melihat Faris datang bersama pria berjubah putih yang auranya bikin merinding.

"Waduh Mas Jono! Itu siapa yang bareng Mas Faris? Kok mukanya mirip, tapi yang itu kayak bercahaya gitu?" bisik Brewok sambil buru-buru memakai sandalnya yang tinggal sebelah.

"Lho, itu kan... itu kan Mas Arjuna Hidayat! Kakak kandungnya Mas Faris sing jarene dadi 'Wong Pilihan' tingkat tinggi!" Jono langsung berdiri tegak, membuang kacangnya, dan memasang posisi hormat yang sangat kaku.

Faris hanya tersenyum tipis melihat tingkah anak buahnya. "Jon, Brewok, ini Kangmasku. Tolong jaga gerbang lebih ketat. Aku mau bawa Kangmas menemui Simbok."

"Siap, Panglima Besar! Eh, Panglima-Panglima!" sahut Brewok kacau saking groginya.

Faris dan Arjuna Hidayat terus melangkah menuju rumah kayu kecil di belakang komplek pesantren. Begitu pintu kayu tua itu berderit terbuka, bau minyak kayu putih dan aroma ramuan herbal menyeruak. Di atas tempat tidur bambu, sosok Simbok terbaring lemah dengan wajah yang pucat pasi.

"Simbok... Faris pulang. Faris bawa kejutan buat Simbok," bisik Faris sambil berlutut di samping tempat tidur.

Simbok membuka matanya perlahan, suaranya parau hampir tak terdengar. "Faris... Dikmas... Kangmasmu mana? Simbok mimpi dia datang..."

Arjuna Hidayat melangkah maju, ia berlutut di sisi lain tempat tidur dan menggenggam tangan Simbok yang sudah keriput. "Simbok... ini Arjuna. Arjuna pulang, Mbok."

Seketika, suasana di dalam kamar itu berubah. Suhu udara yang tadinya pengap menjadi sejuk dan segar. Arjuna Hidayat membisikkan sesuatu ke telinga Simbok, sebuah doa rahasia yang hanya dimiliki oleh sang Paku Bumi. Tangan kanannya mengeluarkan cahaya putih lembut yang perlahan merambat ke tubuh Simbok.

Keajaiban terjadi. Warna merah di pipi Simbok kembali muncul. Nafasnya yang tadi tersengal-sengal kini menjadi teratur dan dalam. Simbok tiba-tiba bisa duduk tegak, matanya berbinar melihat kedua putra kebanggaannya ada di depannya.

"Arjuna? Benar ini kamu, Le? Ya Allah... Simbok rasanya langsung sehat lihat kalian berdua rukun begini," ucap Simbok sambil memeluk kedua anaknya.

Faris menangis bahagia di pelukan Simbok. Inilah obat yang sesungguhnya. Namun, di tengah momen haru itu, Arjuna Hidayat tiba-tiba menoleh ke arah jendela yang tertutup. Matanya menajam.

"Dikmas, sepertinya kita tidak bisa lama-lama melepas rindu," bisik Arjuna Hidayat pelan agar tidak menakuti Simbok. "Ada hawa busuk yang mengikuti kepulanganku. Herman tidak sendirian, dia membawa 'Guru' yang sebenarnya."

Faris langsung menghapus air matanya. Ia meraba tasbih di sakunya. "Biarkan mereka datang, Kang. Kita selesaikan ini sebagai keluarga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!