NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Setelah Mimpi Buruk

Subuh datang seperti kabar baik yang ditunggu-tunggu. Bambang tidak pernah merasa sebahagia ini melihat langit berubah dari hitam menjadi abu-abu, lalu perlahan-lahan cerah. Jam menunjukkan pukul setengah enam ketika sinar matahari pertama mulai menembus jendela pos satpam. Bambang masih duduk di kursi plastik yang sama sejak jam dua belas malam. Badannya kaku. Matanya perih. Tapi dia tidak berani memejamkan mata sedetik pun setelah kejadian dengan monitor nomor delapan.

Setelah mematikan monitor itu atas perintah Ucok, Bambang tidak berani menyalakannya kembali. Dia hanya menatap sembilan monitor lainnya yang masih menyala. Semuanya menunjukkan pemandangan yang sama: kosong, sepi, tidak ada gerakan. Tapi pikirannya tidak bisa berhenti membayangkan apa yang mungkin terjadi di monitor yang mati itu. Apakah makhluk tinggi dengan lengan panjang itu masih di halaman belakang? Apakah dia sudah melewati pagar? Apakah dia sedang berdiri di balik pintu pos satpam sekarang?

Bambang menoleh ke pintu. Pintu kayu pos satpam tertutup rapat. Dia menguncinya dari dalam sejak jam tiga lewat dua belas menit. Tapi apakah kunci kayu sederhana itu cukup untuk menghentikan sesuatu yang tingginya lebih dari dua meter? Sesuatu yang terbuat dari karet hitam? Sesuatu yang bisa berubah bentuk?

Dia tidak tahu. Dan dia tidak ingin mencari tahu.

Sepanjang sisa shift-nya, Bambang hanya duduk diam. Radio di tangannya tidak pernah berbunyi lagi setelah peringatan Ucok. Tombol merah di bawah meja tidak pernah dia tekan lagi. Dia hanya menunggu. Menunggu waktu berlalu. Menunggu matahari terbit. Menunggu keselamatan yang dia yakini hanya datang bersama cahaya.

Sekarang matahari sudah terbit. Bambang berdiri dengan kaki sempoyongan. Sendi-sendinya terasa sakit karena terlalu lama duduk di kursi plastik yang keras. Dia merenggangkan tangan dan kaki, lalu berjalan ke pintu. Tangannya berhenti di gagang pintu. Dia menarik napas panjang, membuangnya perlahan, lalu membuka pintu.

Udara pagi menyambutnya. Dingin. Lembab. Tapi terasa seperti napas kehidupan. Bambang menatap halaman depan pabrik. Rumput-rumput tinggi masih sama seperti kemarin. Genangan air masih ada di sudut-sudut halaman. Tidak ada yang berubah. Tidak ada makhluk tinggi dengan lengan panjang. Tidak ada jejak kaki aneh. Tidak ada tanda-tanda bahwa sesuatu yang mengerikan pernah ada di sini tadi malam.

Apakah itu hanya halusinasi? Bambang mulai meragukan dirinya sendiri. Mungkin dia terlalu lelah. Mungkin matanya sudah tidak bisa dipercaya setelah berjam-jam menatap monitor CCTV. Mungkin bayangan yang dia lihat hanya tikus atau kucing yang berlarian di koridor. Mungkin makhluk di hutan hanya pohon yang tertiup angin dan terlihat seperti sesuatu yang lain karena pencahayaan yang buruk.

Tapi kenapa Ucok menyuruhnya mematikan monitor nomor delapan? Kenapa Ucok berkata, Jangan pernah menatapnya terlalu lama. Dia akan datang? Itu bukan kalimat yang biasa diucapkan untuk sekadar tikus atau pohon tertiup angin.

Bambang berjalan menuju blok satpam. Langkahnya berat. Sepatu pantofelnya basah karena embun pagi. Tas ranselnya masih ada di kamar. Dia ingin sekali merebahkan diri di ranjang dan melupakan semua yang terjadi tadi malam. Tapi dia tahu dia tidak akan bisa tidur. Gambar makhluk di monitor nomor delapan sudah terpatri di kepalanya.

Begitu sampai di blok satpam, Bambang melihat Herman sedang duduk di teras sambil minum kopi. Wajah Herman sama lelahnya seperti kemarin. Mungkin lebih lelah. Lingkar hitam di bawah matanya semakin tebal.

"Shift selesai?" tanya Herman tanpa menoleh.

"Iya."

"Ada masalah?"

Bambang ragu. Haruskah dia cerita tentang bayangan di koridor dan makhluk di hutan? Herman bisa saja menganggapnya gila. Atau lebih buruk, Herman bisa saja marah karena dia menekan tombol darurat hanya untuk bayangan.

"Enggak, Aman. Lancar aja."

Herman meneguk kopinya. "Bagus. Sekarang istirahat. Nanti malam shift lagi."

"Shift lagi? Bukannya shift malam cuma sekali?"

"Kita kekurangan orang. Dul masih sakit. Ucok juga mulai nggak enak badan. Jadi kamu ganti shift mereka. Kamu jaga malam lagi nanti."

Bambang ingin protes. Tapi dia ingat kontrak. Denda lima ratus juta jika melanggar aturan. Melanggar aturan termasuk menolak tugas. Dia menggigit bibirnya. "Baik."

Dia masuk ke dalam blok satpam. Joni sedang tidur di sofa ruang tamu. Selimut tipis menutupi separuh badannya. Mulutnya setengah terbuka. Dia terlihat damai, seperti orang yang tidak pernah diganggu mimpi buruk. Bambang iri.

Kamar nomor tujuh masih sama seperti yang dia tinggalkan kemarin. Dinding lembab. Bau jamur. Ranjang besi dengan kasur keras. Bambang melepas sepatunya dan berbaring. Dia memejamkan mata, tapi yang muncul bukanlah kegelapan. Yang muncul adalah gambar makhluk itu. Tinggi. Lengan panjang. Karet hitam. Bergerak mendekati pagar.

Dia membuka mata. Tidak bisa tidur. Dia menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Plafonnya terbuat dari tripleks tipis. Ada suara tikus di atas sana. Atau mungkin bukan tikus.

Bambang memutuskan untuk tidak memaksakan tidur. Dia duduk di ranjang dan mengambil ponselnya. Tidak ada sinyal. Sejak tiba di pabrik kemarin, ponselnya tidak pernah berdering. Tidak ada SMS masuk. Tidak ada panggilan masuk. Seolah-olah dia sudah terputus dari dunia luar.

Dia ingin menelepon Ibu. Ingin mendengar suara Ibu. Ingin bilang bahwa dia baik-baik saja meskipun sebenarnya tidak. Tapi tanpa sinyal, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia berbaring lagi. Matanya terasa berat. Perlahan-lahan, tanpa dia sadari, kegelapan mulai menyelimuti kesadarannya. Dia tertidur.

Bambang terbangun oleh suara ketukan pintu. Keras. Berulang-ulang. Dia membuka mata dan melihat cahaya sore masuk melalui celah-celah jendela. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul setengah lima. Dia tidur hampir sepuluh jam.

Ketukan terdengar lagi. "Bang Bambang! Bangun! Makan dulu!"

Suara Joni.

"Iya, gue bangun," jawab Bambang dengan suara serak.

Dia berdiri dan membuka pintu. Joni berdiri di lorong dengan senyum lebarnya. Wajahnya masih segar, tidak seperti orang yang semalam tidur di sofa dengan selimut tipis.

"Lu tidur kayak orang kesurupan, Bang. Gue udah ketuk dari tadi."

"Lelah. Tadi malam shift."

"Gue tahu. Herman cerita. Katanya lancar?"

Bambang mengangguk tanpa bicara. Dia tidak mau cerita pada Joni tentang monitor nomor delapan. Joni terlalu ceria untuk mendengar hal-hal seperti itu.

"Makan dulu, Bang. Mbah Yem masak rawon. Enak banget."

Mereka berjalan ke kantin bersama. Di jalan, Bambang melihat sekeliling. Pabrik di sore hari terlihat berbeda dari pagi atau malam. Cahaya matahari yang mulai meredup membuat bangunan-bangunan tua itu terlihat seperti latar film horor. Jendela-jendela yang tertutup papan kayu. Dinding yang kusam. Atap seng yang berkarat. Dan kamera CCTV di setiap sudut, selalu mengawasi.

Kantin sudah cukup ramai ketika mereka tiba. Herman sedang makan di meja pojok. Ucok duduk sendirian di meja dekat pintu. Wajah Ucok terlihat lebih pucat dari biasanya. Matanya sayu. Mungkin benar yang dikatakan Herman, Ucok sedang tidak enak badan.

Bambang mengambil sepiring rawon dan duduk di meja dekat jendela. Joni ikut duduk di seberangnya.

"Bang, nanti malam lu jaga lagi ya?" tanya Joni sambil menyendok nasi.

"Iya. Herman bilang kekurangan orang."

"Sabarlah. Nanti kalau Dul sembuh, shift kembali normal."

Bambang menatap Joni. "Joni, gue mau tanya serius."

"Apaan, Bang?"

"Pernah nggak lu lihat... sesuatu... di monitor CCTV? Sesuatu yang aneh?"

Joni berhenti mengunyah. Matanya berkedip cepat. "Sesuatu yang aneh maksudnya gimana?"

"Maksud gue... kayak bayangan. Atau makhluk. Atau apalah."

Joni menelan makanannya dengan susah payah. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti memastikan tidak ada yang mendengar. Suaranya tiba-tiba berubah menjadi lebih pelan. "Kenapa lu tanya gitu?"

"Gue cuma penasaran."

Joni meletakkan sendoknya. Dia menatap Bambang dengan mata yang berbeda dari biasanya. Tidak ada keceriaan di sana. Yang ada hanya ketakutan yang dia coba sembunyikan.

"Bang, gue mau kasih saran. Jangan pernah lihat terlalu lama ke monitor CCTV, apalagi yang menghadap ke hutan belakang. Kalau lu lihat sesuatu... sesuatu yang seharusnya nggak ada di sana... jangan diamkan. Langsung matiin monitornya. Jangan lihat. Jangan tatap. Jangan berusaha fokus. Karena kalau lu fokus, dia akan sadar kalau lu lihat dia. Dan kalau dia sadar..."

Joni tidak melanjutkan kalimat. Dia mengambil sendoknya kembali dan mulai makan dengan lebih cepat, seperti dia ingin segera menyelesaikan makanan dan pergi dari sana.

Bambang tidak mendesak. Dia sudah mendapatkan jawaban yang dia cari. Joni juga pernah melihat sesuatu di monitor. Mungkin semua satpam di sini pernah melihatnya. Mungkin itu sebabnya Dul sakit. Mungkin itu sebabnya Ucok pucat dan tidak enak badan. Mungkin itu sebabnya dua belas nama terpajang di dinding kantin.

Setelah makan, Bambang kembali ke kamarnya. Dia ingin istirahat sebelum shift malam dimulai. Tapi pikirannya tidak bisa tenang. Setiap kali dia memejamkan mata, yang muncul adalah monitor nomor delapan. Makhluk tinggi dengan lengan panjang. Bergerak mendekati pagar.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Bambang terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Dia mandi dengan air dingin di kamar mandi umum belakang blok satpam. Airnya keruh. Baunya seperti tanah. Tapi dia tidak punya pilihan.

Dia bersiap-siap untuk shift malam. Senter. Radio. Jaket tipis. Sepatu pantofel yang sudah mulai retak di bagian depan.

Sebelum berangkat ke pos satpam, Bambang berjalan ke ruang tamu. Herman sedang duduk di sofa sambil merokok. Ucok tidak ada. Joni juga tidak ada.

"Herman, gue mau tanya."

"Iya."

"Kenapa kita tidak boleh membuka gudang produksi jam sebelas sampai jam empat?"

Herman menghisap rokoknya lama-lama. Asap mengepul dari hidungnya. "Sudah saya jelaskan kemarin. Suhu tinggi. Tekanan uap tinggi. Bahaya ledakan."

"Tapi kenapa tidak ada satupun mesin yang terdengar? Pabrik ini sepi sekali. Tidak ada suara mesin. Tidak ada suara pekerja. Hanya kesunyian."

Herman membuang puntung rokoknya ke lantai dan menginjaknya. Dia menatap Bambang dengan mata lelah itu. "Kamu terlalu banyak bertanya, Bambang. Itu tidak baik."

"Tapi..."

"Sudah. Pergi jaga. Jangan lupa aturan. Dan jangan nyalakan monitor nomor delapan."

Herman berdiri dan berjalan ke kamarnya. Pintu ditutup. Bambang ditinggal sendirian di ruang tamu dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin banyak.

Dia berjalan ke pos satpam. Malam ini langit cerah. Bulan sabit tipis menggantung di atas pabrik. Bintang-bintang terlihat jelas karena tidak ada polusi cahaya. Tapi Bambang tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: monitor nomor delapan.

Sesampainya di pos satpam, Bambang duduk di kursi plastik yang sama. Dia menyalakan semua monitor kecuali nomor delapan. Layar itu dia biarkan gelap.

Jam menunjukkan pukul dua belas malam.

Shift malam kedua dimulai.

Bambang bertekad untuk tidak menatap monitor nomor delapan. Tidak akan menyalakannya. Tidak akan melihat ke arah itu. Dia akan fokus pada sebelas monitor lainnya yang aman.

Tapi seperti kata pepatah, rasa ingin tahu adalah awal dari malapetaka.

Jam satu malam. Sepi.

Jam dua malam. Sepi.

Jam tiga malam. Sepi.

Tapi mata Bambang tidak bisa berhenti menatap layar gelap monitor nomor delapan. Dia penasaran. Apa yang terjadi di halaman belakang sekarang? Apakah makhluk itu ada di sana? Apakah makhluk itu bergerak?

Dia menggigit bibirnya. Jangan, katanya pada diri sendiri. Jangan nyalakan.

Tangannya bergerak sendiri.

Dia menekan tombol power monitor nomor delapan.

Layar menyala.

Halaman belakang. Rumput-rumput tinggi. Pagar besi. Hutan gelap.

Tidak ada makhluk.

Bambang menghela napas lega. Mungkin makhluk itu hanya muncul di jam-jam tertentu. Mungkin hanya muncul saat ada yang menatap.

Tapi tepat saat dia hendak mematikan monitor itu lagi, dia melihat sesuatu.

Di dekat pagar. Ada sesuatu yang tergantung.

Bambang mendekatkan wajahnya ke monitor. Matanya berusaha fokus di tengah kegelapan.

Itu adalah jaket.

Jaket satpam.

Warna biru tua. Sama seperti yang dikenakan Herman, Joni, Ucok, dan Dul.

Jaket itu tergantung di pagar besi, tepat di tepi hutan.

Bambang meraih radio di sakunya. "Herman, ada sesuatu di halaman belakang."

Radio berderak. "Apa?"

"Jaket. Jaket satpam. Tergantung di pagar."

Diam sejenak. Terlalu lama. Kemudian suara Herman, lebih pelan dari sebelumnya. "Warnanya apa?"

"Biru tua."

"Ada nama di dada?"

Bambang memicingkan matanya. Di monitor, dia bisa melihat ada sesuatu yang tertulis di dada jaket itu. Huruf-huruf. Dia berusaha membaca.

D-U-L.

Dul.

Jaket Dul.

Tapi Dul sedang sakit di kamar. Bukan?

Bambang menelan ludah. "Herman, ini jaketnya Dul."

Radio tidak menjawab. Hanya derak suara statis.

Bambang menekan tombol radio lagi. "Herman? Herman!"

Tidak ada jawaban.

Dia menekan tombol merah di bawah meja. Bel di blok satpam berbunyi. Tapi tidak ada yang datang.

Dia sendirian.

Bambang menatap monitor nomor delapan lagi. Jaket itu masih tergantung di pagar. Tapi sekarang, sesuatu mulai bergerak di balik jaket itu. Dari balik hutan.

Bambang tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Sesuatu yang tinggi. Dengan lengan panjang. Keluar dari antara pepohonan.

Makhluk itu berjalan menuju pagar. Mendekati jaket Dul. Lalu berhenti.

Makhluk itu menoleh ke arah kamera.

Ke arah Bambang.

Dan makhluk itu tersenyum.

Bambang tidak tahu bahwa makhluk karet hitam bisa tersenyum. Tapi senyum itu ada. Lebar. Mengerikan. Mulut yang tidak seharusnya ada di wajah yang tidak seharusnya ada.

Bambang mematikan monitor nomor delapan.

Jantungnya terasa mau meledak.

Dia duduk di kursi plastik itu dengan tangan gemetar hebat. Dia ingin lari. Tapi kakinya tidak bisa digerakkan.

Radio di tangannya berderak. Suara Ucok.

"Kamu nyalakan monitor delapan, kan?"

Bambang tidak bisa menjawab.

"Kamu lihat dia tersenyum, kan?"

Masih tidak ada jawaban dari Bambang. Hanya suara napasnya yang tersengal-sengal.

Ucok berbicara lagi, dengan suara yang terdengar lelah dan pasrah. "Selamat datang di neraka, Bambang. Sekarang dia tahu kamu ada. Sekarang dia akan datang."

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!