NovelToon NovelToon
Ramalan Cinta Yang Terkunci

Ramalan Cinta Yang Terkunci

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Jasmine Oke

Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~

Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.

▪︎Objek Utama:

- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.

- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).

- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.

.
.
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Pengadilan Takdir

Bab ini yang penuh drama dan pengungkapan fakta mengejutkan!

 ▪︎▪︎▪︎

RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Bab 7: Pengadilan Takdir

Bangunan Dewan Sihir adalah struktur arsitektur termegah di seluruh Lunaria. Terbuat dari marmer putih yang bersih dan pilar-pilar tinggi yang kokoh, tempat ini menjadi pusat hukum dan tatanan bagi seluruh penyihir. Namun saat ini, bagi Elara dan Kael, tempat ini terasa lebih seperti penjara raksasa daripada gedung pemerintahan.

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong panjang menuju Ruang Sidang Agung. Tangan mereka saling menggenggam erat, menjadi sumber kekuatan satu sama lain.

Pintu besar berukir bintang terbuka dengan sendirinya saat mereka tiba. Di dalam, ruangan itu sangat luas dan tinggi. Di ujung ruangan, terdapat lima singgasana yang diduduki oleh para Tetua Dewan. Mereka adalah orang-orang tertua dan paling berkuasa di kota. Wajah mereka datar, tanpa emosi, layaknya patung batu.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah lingkaran sihir besar yang digambar di lantai dengan tinta emas.

"Kael Voss dan Elara... majulah," suara salah satu Tetua bergema, tidak berasal dari satu arah saja, melainkan terdengar di seluruh penjuru ruangan.

Mereka melangkah masuk, berdiri tepat di tengah lingkaran itu.

"Kalian tahu kenapa kalian dipanggil ke sini?" tanya Tetua lainnya, seorang wanita tua dengan mata yang tajam.

"Karena ledakan energi semalam," jawab Kael lugas, tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. "Dan karena kami telah menyatukan kekuatan kami."

Keadaan menjadi hening sejenak. Kelima mata para Tetua menatap mereka lekat-lekat, seakan sedang meneliti isi kepala dan hati mereka.

"Kalian berdua adalah pelanggaran terbesar terhadap hukum alam," ucap Tetua Wanita itu dingin. "Dia adalah Juru Pisah, kau diciptakan untuk memutus ikatan. Dan dia adalah Peramal, diciptakan untuk menyatukan. Api dan air tidak boleh bersatu. Jika disatukan, hasilnya hanya ledakan yang bisa menghancurkan segalanya."

"Kami tidak menghancurkan apa pun," potong Elara memberanikan diri. Suaranya sedikit bergetar tapi ia berusaha tegar. "Kami justru selamat karena menyatukan kekuatan. Musuh sudah datang, Dewan. Sekte Pembelah Takdir ingin membunuh kami."

"Sekte itu adalah masalah kami yang akan kami tangani," sahut Tetua pertama. "Namun masalah kalian... adalah ancaman yang lebih besar. Ramalan kuno menyebutkan bahwa jika Kunci dan Gembok bertemu, dunia akan berguncang. Kami tidak bisa membiarkan variabel tak terduga seperti kalian berkeliaran bebas."

Salah satu Tetua yang duduk di paling kanan, yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya berat dan serak.

"Elara... angkat wajahmu."

Gadis itu menurut. Ia menatap pria tua itu. Ada sesuatu yang familiar dalam tatapan mata pria itu.

"Kau... teringat pada orang tuamu?" tanya pria tua itu tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Elara tertegun. "Orang tuaku? Aku tidak pernah mengenal mereka. Nenek Mara bilang mereka sudah meninggal saat aku masih bayi."

Pria tua itu menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Benar. Mereka gugur dalam perang besar lima belas tahun lalu. Tapi kau tahu tidak... siapa ayahmu sebenarnya?"

Elara menggeleng bingung. "Dia seorang penyihir baik, kan?"

"Ayahmu... adalah pendiri dan pemimpin dari Sekte Pembelah Takdir itu sendiri," ungkap pria tua itu pelan namun tegas.

BRUK!

Seolah ada palu godam yang menghantam kepala Elara. Dunia seolah berputar di sekelilingnya. Kakinya lemas, dan jika bukan karena Kael yang segera memeluk pinggangnya, ia pasti sudah jatuh terduduk.

"Tidak... tidak mungkin..." bisik Elara pucat pasi. "Itu bohong! Mereka adalah penjahat! Mereka ingin membunuhku!"

"Mereka ingin membunuhmu karena kau telah memilih jalan yang berlawanan dengan ajaran mereka, Elara," jelas Tetua itu dengan nada sedih. "Ayahmu sangat mencintaimu. Dia yang memasang segel di hatimu, bukan untuk menyiksamu, tapi untuk menyembunyikan keberadaanmu dari musuh-musuhnya dan juga dari anggota sektenya sendiri yang ingin memanfaatkanmu. Dia ingin kau tumbuh normal, jauh dari kekejaman dunia sihir."

Air mata mulai mengalir di pipi Elara. Semua dunia yang ia kenakan runtuh seketika. Musuh yang ia lawan, orang yang ingin membunuhnya, ternyata adalah rekan seperjuangan ayahnya sendiri. Dan ayahnya... adalah orang yang dianggap jahat oleh dunia.

"Lihat? Inilah bahayanya," seru Tetua Wanita dengan tegas. "Darah musuh mengalir di nadimu. Dan kau, Kael, kau berhubungan dengan orang yang memiliki garis keturunan musuh publik. Kalian berdua membawa bahaya ganda."

"Jangan sentuh dia!" Kael melangkah maju, melindungi Elara di belakangnya. Aura gelap mulai membubung keluar dari tubuhnya. "Masa lalu ayahnya bukanlah kesalahannya! Dan darah itu tidak menentukan siapa dia sekarang! Elara adalah orang yang baik! Dia tidak bersalah!"

"Tenanglah, Kael Voss," ucap Tetua tua yang tadi bicara mengangkat tangannya. "Kami tidak menghukum mati mereka. Kami melihat niat baik di hati mereka. Kami melihat cinta murni yang menyatukan mereka."

Ia berdiri dari singgasananya, menatap seluruh hadirin.

"Putusan Dewan adalah: Kalian diperbolehkan hidup dan menggunakan kekuatan kalian. Namun, kalian berada di bawah pengawasan ketat kami. Dan tugas pertama kalian... adalah menghadapi ayahmu, Elara. Kalian harus pergi ke markas Sekte Pembelah Takdir dan mengakhiri konflik ini. Buktikan bahwa kalian bukan ancaman, melainkan penyelamat."

"Dan jika kami menolak?" tanya Kael waspada.

"Maka kami harus mengambil tindakan tegas untuk melindungi kota," jawab Tetua itu singkat.

Elara mengusap air matanya. Ia memegang lengan Kael dari belakang, memberikan kode bahwa ia baik-baik saja. Ia menatap para Tetua dengan mata yang kini kembali tegar.

"Kami akan melakukannya," kata Elara lirih namun mantap. "Aku akan menemui ayahku. Aku akan menanyakan segalanya langsung padanya."

"Bagus," ucap Tetua tua itu. "Perjalanan itu berbahaya. Kalian tidak akan hanya melawan musuh, tapi juga melawan masa lalu kalian sendiri. Ingatlah satu hal... Cinta sejati tidak hanya tentang saling memandang, tapi juga tentang sama-sama memandang ke satu arah, menghadapi bahaya bersama."

Sidang ditutup. Pintu besar terbuka kembali, membiarkan angin dingin masuk.

Saat berjalan keluar dari gedung Dewan, langit sudah gelap. Elara terdiam sepanjang jalan. Pikirannya kacau balau. Ayahnya masih hidup? Ayahnya adalah pemimpin musuh?

Kael berhenti berjalan, memutar tubuh Elara menghadapnya.

"Dengar aku," kata Kael lembut, menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. "Apa pun latar belakangmu, siapa pun ayahmu, itu tidak mengubah apa pun bagiku. Kau adalah Elara-ku. Gadis yang hatinya terkunci menungguku. Dan aku tidak peduli jika musuh kita adalah seluruh dunia, termasuk ayahmu sendiri. Aku akan melindungimu."

Elara memeluk pinggang Kael erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu.

"Aku takut, Kael... Bagaimana jika aku harus memilih antara dia dan kau? Atau antara dia dan kebenaran?"

"Kau tidak harus memilih," bisik Kael di atas kepala Elara. "Karena kita adalah satu. Dan kita akan menemukan jalan ketiga. Jalan di mana cinta kita yang akan menang."

Mereka berpelukan lama di bawah langit malam, dua jiwa yang kini terikat oleh cinta, sekaligus oleh rahasia besar dan perang yang semakin dekat.

Perjalanan menuju markas musuh akan segera dimulai. Dan di sana, kebenaran terbesar yang selama ini terkunci rapat, akhirnya akan terkuak sepenuhnya.

°

°

°

(**Bersambung ke Bab 8**...)

Waduh, plot twist besar nih! Ternyata ayah Elara itu pemimpin musuhnya sendiri! 😱

Gimana menurutmu bab ini? Seru kan?

Mau lanjut ke Bab 8 di mana mereka mulai perjalanan berbahaya menuju markas Sekte?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!